Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Kepengecutan Laki-laki
Toni menarik ujung daster Sukma. Mata bocah empat tahun itu layu.
"Bude, ibuku ndak sayang Toni lagi ya?"
Sukma menunduk. Tangan kecil itu meremas kain kusam dasternya dengan gemetar. Rambut Toni lepek oleh keringat bercampur debu rumah sakit.
"Sopo sing ngomong ngono, Le?"
"Bik Jamilah. Katanya kalau adik lahir, Toni dibuang."
Dada Sukma bergemuruh. Siluman betina itu benar-benar meracuni pikiran anak kecil tanpa ampun. Otaknya mendidih membayangkan wajah Jamilah yang selalu memancing keributan di rumah tua mertuanya.
Ia mengangkat tubuh Toni, memeluknya erat-erat sampai bocah itu menyembunyikan wajah di ceruk lehernya.
"Bik Jamilah iku lambene lamis, Le. Ibumu taruhan nyawa buat ngelahirin adik, biar Koen punya teman main. Adikmu perempuan. Koen mas-nya. Koen sing jagain."
Toni mengusap ingusnya ke bahu Sukma. "Toni ndak dibuang, Bude?"
"Ndak bakal." Sukma mengelus punggung kurus itu ritmis. "Adik bayi butuh Mas Toni."
Dengkuran halus terdengar dari kursi plastik di seberang ranjang. Priyambodo tertidur pulas dengan kepala bersandar di tembok keramik putih yang dingin. Gurat kelelahan tercetak jelas di wajah pria itu. Rambutnya acak-acakan, kemejanya lecek penuh noda tanah.
Sukma membiarkan adik iparnya istirahat. Ia terus menepuk-nepuk punggung Toni sampai napas bocah itu teratur dan kelopak matanya tertutup rapat.
Satu kedipan mata, konsentrasinya beralih penuh.
Tangannya menyusup ke ruang spasial. Ia mulai menyiapkan makanan bergizi tinggi untuk ibu menyusui dan suaminya yang kelelahan. Semangkuk bubur ayam kampung panas dengan kuah kaldu pekat berpindah ke tangannya. Sengaja ia letakkan di dalam rantang susun enamel bermotif bunga kusam agar tak mencolok.
Aroma kaldu ayam asli, tumisan bawang putih, dan minyak wijen langsung menguar tajam, mengusir bau karbol menyengat di ruangan itu.
Hidung Priyambodo kembang kempis. Kelopak matanya terbuka perlahan.
Pria itu gelagapan melihat Sukma sedang menaruh rantang di atas meja nakas kecil, sementara di ranjang Wati tertidur pulas dengan bayi mungil di sisinya.
"Mbakyu Sukma, kulo mawon sing jaga." Priyambodo bergegas bangkit, mengusap wajahnya yang kusut masai. "Mbakyu istirahat disek."
"Ndak usah." Sukma menunjuk mangkuk mi di dalam rantang.
"Makan itu. Kuahnya masih panas. Kalau Wati dan Toni bangun, suapin. Tadi aku jalan ke depan RSUD, beli dari janda yang gerobaknya tumpah, kasihan jualan malam-malam."
Priyambodo menatap uap panas yang mengepul dari kaldu itu, lalu beralih menatap Sukma.
Rasa bersalah dan haru mencekik tenggorokannya. Tangan kasarnya merogoh saku celana kainnya dalam-dalam.
Gulungan uang kertas lusuh bernilai puluhan ribu ditarik keluar. Ia menyodorkan semuanya ke hadapan Sukma.
"Iki sisa gajiku dua bulan nguli nang kota, Mbakyu." Suara Priyambodo bergetar hebat.
"Cekelen kabeh. Paling Yo ngga cukup buat bayar rumah sakit, buat ganti biaya makan Wati sama Toni selama di sini. Aku ndak mau duit ini dipalak Ibu lagi. Sisanya catet mbakyu, itungen jadi utangku."
Sukma menyambar uang itu tanpa basa-basi. Menyimpannya rapat di balik saku dasternya.
Menitipkan uang pada orang lemah dan mudah diinjak seperti Priyambodo sama saja menyerahkan daging segar pada anjing lapar bernama Lasmi.
Sukma tidak akan membiarkan hasil keringat adik iparnya masuk ke kantong ibu mertuanya semua, sementara istri dan anaknya hanya dapat ampas sisa-sisa.
Tiga hari berlalu.
Roda kayu gerobak sapi Paklik Karto berdecit nyaring membelah jalanan tanah desa. Sinar matahari sore menerobos sela-sela rimbunan daun jati di pinggir jalan.
Pekarangan rumah tua keluarga Priyanto sudah ramai. Beberapa tetangga berkerumun, mengintip dari balik pagar anyaman bambu.
Lasmi berdiri di barisan paling depan. Wajahnya dihiasi senyum palsu selebar telinga. Rambutnya disisir rapi berminyak, kain jariknya dililit kencang.
"Putuku wes datang! Ya ampun, ganteng tenan pasti!" Lasmi berseru lantang, sengaja mencari perhatian ibu-ibu di sekitarnya. "Wati iku, masio mantu Yo tak eman-eman. Biar cuma pendarahan sitik koyo ngono, aku sing nyuruh bawa ke rumah sakit kabupaten! Keselamatan nomor satu!"
Priyambodo melompat turun dari gerobak. Wajahnya datar tak berekspresi melihat sandiwara ibunya.
"Anakku wedok, Bu."
Senyum Lasmi rontok seketika. Bibirnya berkedut menahan jijik.
"Wedok?!" Lasmi meludah ke tanah persis di dekat sendal jepit usang Priyambodo.
"Ngentekne duit kanggo nginep Nang rumah sakit, cuma buat ngeluarin bayi wedok?! Bikin rugi bandar! Ra sudi aku gendong!"
Jamilah mencibir keras dari ambang pintu. "Tuh kan, Bu. Aku wes bilang. Cuma nambah beban keluarga iki. Perempuan ujung-ujungnya masuk dapur orang, ra iso disuruh kerja berat bawa duit."
Sukma turun dari gerobak membawa bungkusan kertas berisi permen kacang. Ia membagikannya ke tangan tetangga yang berkerumun, sengaja memutari Lasmi dan Jamilah yang sudah menengadahkan tangan siap menerima.
"Lho, gawe aku endi?!" bentak Lasmi melotot.
"Ngga enek." Sukma melempar senyum meremehkan. Ia berbalik mengawal Wati perlahan masuk ke kamarnya.
Bau apek kamar itu belum sepenuhnya hilang, tapi Wati langsung merebahkan diri dengan helaan napas lega.
Priyambodo duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan istrinya erat-erat. Jari-jari Wati masih dingin pucat.
"Dek," bisik Priyambodo parau. Matanya mengunci tatapan Wati lekat-lekat.
"Habis Koen sehat, kita pisah rumah. Aku mau bawa Koen sama anak-anak pindah. Bikin gubuk bambu pinggir kali juga ndak apa-apa. Sing penting ndak serumah sama Ibu lagi."
Air mata Wati menetes membasahi pelipisnya. "Mas Dodo serius? Ibu iso ngamuk kalau denger kita mau pisah."
"Mbakyu Sukma benar. Aku ndak mau jadi kacung seumur hidup. Anakku butuh bapak, yang kuat Dudu sing lembek."
Di tempat lain, Sukma mendorong pintu pagar rumahnya sendiri. Engsel karatan itu berderit pelan.
Halaman bersih tak ada daun kering berserakan. Pintu terkunci rapat dari luar.
Bulik Karto benar-benar menjalankan tugas menjaga rumahnya dengan sangat teliti. Tak ada tanda-tanda invasi dari Lasmi.
Syaiful yang sedang bermain gundu di teras rumah sebelah langsung membuang mainannya.
Bocah kecil itu berlari menubruk kaki ibunya, menangis sekencang-kencangnya.
"Ibuuu! Iful ndak mau ditinggal lagi!"
Sukma mengangkat anak bungsunya tinggi-tinggi. Ia menciumi pipi gembulnya bertubi-tubi sampai bocah itu kegelian dan tertawa kegirangan.
"Ibu cuma bantu Bulik Wati bentar, Le. Wes, ojo nangis. Malam ini Ibu masakkan telur dadar tebal kesukaanmu."
Keesokan sorenya, Sukma mengayuh sepeda onthelnya menembus jalan berbatu menuju desa seberang.
Rumah orang tuanya berdinding anyaman bambu reyot yang nyaris rubuh diterjang angin kencang. Atap rumbianya sudah banyak yang bolong.
Keluarga Purnomo sedang berkumpul di teras depan. Pak Purnomo sibuk menganyam keranjang bambu, tangannya kasar dipenuhi kapalan.
Mak Karman menumbuk singkong di lumpang batu. Minto asyik membersihkan sabit berkarat dengan batu asah.
"Bapak, Mak." Sukma menstandarkan sepedanya di dekat sumur. Tangannya merogoh saku daster, mengeluarkan secarik kertas buram bercap stempel biru pabrik.
"Surat jalan dari pabrik genteng sama bata merah. Aku wes bayar lunas kabeh. Nek WIS teko, Bapak tinggal cari tukang. Omah iki kudu cepat direnovasi sebelum musim hujan datang."
Mak Karman melempar alu kayunya ke tanah. Matanya melotot tajam menatap kertas berharga itu.
"Nduk! Koen gila?! Duit teko ngendi maneh iki?!" Mak Karman menarik tangan Sukma menjauh dari teras, suaranya dipelankan panik.
"Bapakmu wes ngomong, ndak mau nambah bebanmu! Duit sing wingi Koen kasih ae wes cukup buat beli tiang kayu. Ojo ngeruk harta suamimu terus, nanti Koen diusir mertuamu piye?!"
Sukma menarik tangannya perlahan. Senyum tenangnya tak goyah.
"Duitku dewe, Mak. Aman. Mas Trisno lak wes ngirim wesel bulan ini dari Jakarta. Bapak sama Mak tinggal mikir biaya tukangnya saja. Biar tetangga ndak mandang rendah keluarga kita lagi."
Sukma berbohong mulus tanpa ragu sedikit pun.
Ia tahu, malam ini ia harus membongkar ruang spasialnya lagi. Mungkin menarik berkarung-karung gabah hasil panen instan di sawah ruang ajaibnya, untuk dijual ke tengkulak kota besok pagi.
Satu jam kemudian, Sukma baru saja mengayuh sepedanya kembali memasuki wilayah desa mertuanya.
Telinganya tiba-tiba menangkap raungan melengking memekakkan telinga.
Bukan sembarang suara jeritan. Itu raungan histeris dari arah pekarangan rumah Paklik Karto.
Sukma membelokkan setang sepedanya tajam. Debu tanah beterbangan saat ia mengerem mendadak di depan pagar bambu keluarga Karto yang sudah rubuh sebagian.
Bulik Karto duduk ngedeprok di atas tanah berdebu. Wanita paruh baya itu memukuli dadanya sendiri sambil menangis meraung-raung meratapi nasib. Urat lehernya menonjol keluar.
"Maling! Menantu siluman! Balikin duit simpanan anakku! Gusti Pangeran, Koen ndak duwe ati!"
Di depannya, Surti berdiri tegap berkacak pinggang. Rambut wanita itu acak-acakan penuh serpihan jerami, matanya melotot galak menantang ibu mertuanya sendiri.
Gulungan uang kertas lusuh bernilai puluhan ribu yang diikat kuat dengan karet gelang merah tergenggam erat di tangan kanan Surti.
Uang itu dikumpulkan Bulik Karto lembar demi lembar, sisa hasil memburuh cuci dan menahan lapar berbulan-bulan, murni demi membelikan kasur kapuk tebal untuk pernikahan Sri bulan depan.
"Duit iki nemu nang ngisor kasur! Berarti punya aku! Ibu ae pelit, ngasih barang bagus cuma buat anak wedoke sing mau kawin! Lah aku?! Aku mantu tertua dikasih apa?! Kasur tipis bau pesing!" teriak Surti membalas tak tahu malu. Ludahnya menyembur ke mana-mana.
Karyo hanya berdiri mematung di dekat pintu kayu. Tangannya gemetar memegang gagang cangkul. Bibir pria itu terkunci rapat melihat ibunya sendiri dihina dan diinjak-injak harga dirinya oleh sang istri.
Sri menangis tersedu-sedu di pelukan adiknya di teras samping.
"Mas Karyo! Mbok ya bojomu dikandhani! Itu duit simpanan gae tumbas kasur nikahanku, Mas! Ibu sampai tahan-tahan ngelumpukno setahun iku!"
Karyo menunduk dalam, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kepengecutan mengakar terlalu kuat di tulang punggung pria itu. Ia melangkah mundur, berusaha berlindung di balik bayangan pintu.
Darah Sukma mendidih naik ke ubun-ubun.
Kejahatan orang serakah adalah satu hal, tapi kepengecutan laki-laki yang membiarkan ibunya dianiaya istri sendiri adalah dosa tak terampuni di mata Sukma.
Ia menyandarkan sepedanya kasar ke batang pohon mangga. Langkah kakinya terayun lebar, membelah kerumunan tetangga yang hanya berani berbisik-bisik menonton tanpa ada yang berani melerai.