NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serasi Dari Hati

Lampu kristal raksasa di ballroom salah satu hotel termewah di Seoul itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun sorotan utama malam itu tetap tertuju pada dua sosok yang melangkah masuk dengan sinkronisasi yang sempurna. Perayaan ulang tahun Sinclair Group bukan sekadar pesta, melainkan panggung unjuk kekuatan bagi dinasti bisnis mereka.

Alessia tampil memukau dengan gaun hitam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan presisi yang elegan. Gaun itu memiliki tali tipis yang seolah nyaris tak terlihat di bahu mulusnya, memberikan kesan rapuh sekaligus berkuasa. Di lehernya, selembar kain hitam kecil tersampir dengan gaya klasik, menambah aksen kemewahan yang tidak berlebihan. Riasan wajahnya yang tajam namun anggun membuatnya tampak seperti ratu malam itu.

Di sampingnya, Nathaniel berdiri tegak dengan jas hitam yang memiliki pola blink-blink tipis, sebuah sentuhan glamor yang jarang ia kenakan, namun entah bagaimana justru memperkuat aura dominannya. Jas itu menangkap cahaya setiap kali ia bergerak, membuatnya tampak seperti bintang yang tenang namun sangat terang.

"Jangan menjauh dariku malam ini," bisik Nathaniel rendah saat mereka berhenti di puncak tangga sebelum turun ke area utama. Matanya menyapu ruangan, memastikan keamanan dan posisi para kolega penting.

Alessia melirik Nathaniel dari balik bulu matanya, lalu tersenyum tipis. "Kenapa, Kak? Takut aku tersesat atau takut ada yang mengajakku berdansa?"

Nathaniel tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menawarkan lengannya agar Alessia bisa menggandengnya. "Keduanya. Dan ingat, gaun ini sedikit lebih terbuka dari yang aku sarankan kemarin. Tetaplah di dekatku."

Begitu mereka menuruni tangga, gumaman kagum terdengar dari para tamu undangan. Para kolega bisnis dan petinggi perusahaan segera merapat, namun posisi Nathaniel yang selalu berdiri setengah langkah di depan Alessia memberikan pesan jelas kepada siapa pun: untuk mencapai sang putri Sinclair, mereka harus melewati 'Lentera' pelindungnya terlebih dahulu.

Di sudut ruangan, William dan Rosetta memperhatikan mereka dengan bangga. William mengangkat gelas sampanyenya ke arah Nathaniel, sebuah tanda penghargaan rahasia di antara dua pria yang sama-sama mendedikasikan hidupnya untuk wanita di samping mereka.

Tiba-tiba, dari kerumunan tamu, Noah muncul dengan setelan jas abu-abu metalik yang modern. Ia melangkah mendekat dengan senyum yang tidak luntur, meski ia bisa merasakan aura "peringatan" yang memancar kuat dari arah Nathaniel.

"Selamat ulang tahun untuk Sinclair Group," ucap Noah sopan, namun matanya tak lepas dari Alessia. "Dan Alessia... malam ini kamu benar-benar membuat standar kecantikan di ruangan ini menjadi tidak relevan."

Nathaniel mempererat pegangannya pada gelas minumannya, rahangnya mengeras sesaat. Pertarungan pengaruh malam ini baru saja dimulai di bawah indahnya dekorasi ballroom Seoul.

Aula besar itu seketika hening saat lampu sorot perlahan terpusat ke tengah lantai dansa. Alunan biola mulai mengalun lembut, memainkan melodi waltz yang megah namun romantis. Sebagai pembuka acara malam itu, sang pembawa acara dengan penuh hormat mempersilakan pewaris Sinclair dan pelindungnya untuk memulai tradisi dansa pertama.

William memberikan anggukan kecil penuh restu dari kejauhan, sebelum ia sendiri menarik Rosetta ke dalam dekapannya untuk berdansa.

Nathaniel menarik napas panjang, mencoba menetralkan kegugupan yang jarang sekali ia rasakan. Dengan gerakan yang sangat sopan dan sedikit sungkan, ia melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping Alessia. Sementara itu, tangan kirinya menyambut jemari Alessia yang mungil dengan genggaman yang mantap namun lembut.

"Jangan tegang begitu, Kak. Semua orang melihat kita," bisik Alessia sambil tersenyum manis, menatap tepat ke manik mata Nathaniel.

"Aku hanya tidak ingin menginjak sepatumu, Al," sahut Nathaniel rendah, suaranya nyaris tenggelam dalam musik.

Namun, begitu langkah pertama dimulai, semua keraguan itu sirna. Mereka bergerak seirama dengan musik yang mengalun indah. Nathaniel memimpin dengan sangat presisi, setiap langkahnya memberikan ruang bagi Alessia untuk berputar dengan anggun. Gaun panjang yang dikenakan Alessia yang kali ini lebih tertutup namun tetap memancarkan kemewahan berayun mengikuti gerakan tubuh mereka.

Di bawah pendar lampu kristal, mereka tampak seperti pusat semesta. Para tamu undangan berdecak kagum melihat betapa serasinya pasangan ini; kekuatan yang tenang dari Nathaniel bersatu dengan keanggunan Alessia yang bersinar.

"Kak Nathan ternyata penari yang hebat," gumam Alessia, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari dada Nathaniel. Ia bisa mencium aroma maskulin yang khas dari parfum Nathaniel, bercampur dengan aroma sampanye yang samar di udara.

Nathaniel tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mempererat sedikit dekapannya di pinggang Alessia, memastikan gadis itu tetap stabil dalam setiap putaran. Baginya, momen ini terasa seperti waktu yang berhenti. Ia tidak lagi memikirkan laporan bulanan atau persaingan bisnis. Di lantai dansa ini, hanya ada dia dan Alessia, bergerak dalam harmoni yang sempurna seolah mereka memang ditakdirkan untuk saling melengkapi.

Dari sudut ruangan, mata Noah mengikuti setiap gerak-gerik mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sadar, chemistry yang terpancar dari Nathaniel dan Alessia bukanlah sesuatu yang bisa dibangun hanya dalam satu malam, itu adalah hasil dari perlindungan dan kepercayaan selama bertahun-tahun.

Musik waltz masih mengalun, namun bagi Nathaniel, nadanya kini terasa sedikit sumbang. Noah melangkah maju dengan percaya diri, memberikan bungkukan hormat yang sempurna sebelum mengulurkan tangannya pada Alessia.

Alessia melirik Nathaniel sejenak, seolah meminta izin tanpa kata, sebelum akhirnya meletakkan jemarinya di telapak tangan Noah. Mereka pun mulai bergerak mengikuti irama, meninggalkan Nathaniel yang kini berdiri sendirian di tepi lantai dansa.

Nathaniel melangkah mundur, mengambil segelas red wine dari nampan pelayan yang melintas. Ia menyesap cairan merah pekat itu perlahan, matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari sosok Alessia yang kini berputar dalam dekapan Noah.

"Pantas," gumamnya sangat rendah, hampir tertelan oleh suara gesekan biola.

Dalam benak Nathaniel, ada sebuah standar kaku yang sulit ia runtuhkan. Meskipun ia adalah "anak laki-laki" kesayangan William, ia sadar bahwa darah yang mengalir di tubuhnya tidak sama dengan darah biru para konglomerat ini. Ia melihat Noah, pria yang kaya sejak lahir, terbiasa dengan kemewahan tanpa harus berdarah-darah membangunnya dari nol, dan memiliki nama besar keluarga di belakangnya.

Pria seperti itulah yang ada di bayangan Nathaniel sebagai pendamping yang setara untuk sang Putri Sinclair. Pria yang tidak memiliki hutang budi pada masa lalu, pria yang bisa memberikan Alessia dunia yang sudah biasa ia tinggali sejak bayi.

Namun, ada rasa perih yang asing saat melihat tangan Noah berada di pinggang yang beberapa menit lalu ia dekap sendiri. Nathaniel menggenggam batang gelas kristalnya sedikit lebih erat. Ia tahu tugasnya adalah menjadi "lentera" yang menerangi jalan Alessia menuju kebahagiaan, bahkan jika kebahagiaan itu berarti harus melepaskannya ke tangan pria lain yang dianggapnya "pantas".

Noah tampak membisikkan sesuatu yang membuat Alessia tertawa kecil. Pemandangan itu seharusnya melegakan Nathaniel, namun entah mengapa, rasa wine di lidahnya mendadak terasa jauh lebih pahit dari seharusnya.

"Jangan hanya melihat dari jauh, Nathan. Kamu terlihat seperti pengawal yang sedang patah hati," suara William tiba-tiba terdengar di sampingnya, membuat Nathaniel hampir tersedak.

Nathaniel segera memperbaiki posturnya, kembali ke mode kaku. "Saya hanya memastikan keamanan Alessia, Ayah. Noah terlihat... cukup serasi dengannya."

William menyesap minumannya sendiri, matanya menatap tajam ke arah lantai dansa. "Serasi di mata orang banyak belum tentu serasi di hati, Nathan. Kamu yang paling tahu itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!