NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Kenyataan adalah sesuatu yang sering kali terlalu tajam untuk disentuh dengan tangan telanjang. Itulah sebabnya manusia menciptakan kebohongan; sebuah lapisan lembut yang membungkus kebenaran agar kita bisa saling bersentuhan tanpa harus terluka. Di Aethelgard, kebohongan adalah mata uang yang paling berharga. Ia lebih dicari daripada emas Vandellia, lebih dijaga daripada rahasia militer. Karena di sini, kejujuran hanyalah jalan pintas menuju kehancuran, dan Arlo Valerius baru saja mempelajari cara mencetak mata uang itu dengan sangat sempurna.

Arlo berdiri di depan cermin besar, membiarkan dua pelayan merapikan selempang perak yang melintang di dadanya. Hari ini adalah hari kunjungan resmi ke proyek renovasi Sayap Utara bersama Putri Helena dan para menteri. Ini bukan lagi soal "melarikan diri". Ini adalah panggung sandiwara di mana ia harus menjadi bintang utamanya.

"Pastikan mahkotanya tidak miring, Cedric," ucap Arlo, suaranya terdengar hambar. Ia menatap pantulannya; mata birunya kini sedingin es, tidak ada lagi kilatan pemberontakan yang biasanya menghiasi wajahnya.

Cedric mendekat, jemarinya yang keriput memperbaiki posisi lingkaran emas di kepala Arlo. "Anda terlihat... berbeda hari ini, Yang Mulia."

"Bukankah ini yang kalian inginkan? Seorang pangeran yang tahu tempatnya?" Arlo mengambil sarung tangan putih dari meja, memakainya dengan gerakan yang sangat terkontrol. Ia tidak lagi meraba saku jaket kulitnya. Jaket itu sudah ia kunci rapat di dalam lemari paling gelap.

Di luar kamar, Putri Helena sudah menunggu dengan gaun berwarna biru pucat yang senada dengan warna mata Arlo. Ia tampak sangat puas melihat Arlo yang tampil rapi tanpa noda debu sedikit pun. Helena menggamit lengan Arlo dengan kebanggaan yang meluap, seolah-olah ia baru saja menjinakkan seekor singa liar dan memakaikannya kalung permata.

"Nah, ini baru pangeranku," Helena berbisik, aroma melatinya yang kuat segera menyerbu indra penciuman Arlo. "Aku senang kau akhirnya sadar bahwa Sayap Utara adalah aset penting, bukan sekadar tempat bermain."

Arlo hanya memberikan senyum tipis yang terlatih. "Mari kita lihat apakah pekerjaan mereka cukup layak untuk matamu yang indah, Helena."

Rombongan kerajaan mulai bergerak. Derap sepatu bot para pengawal di lantai marmer menciptakan irama yang kaku. Mereka melewati koridor demi koridor, semakin mendekati wilayah yang udaranya mulai tercampur dengan debu konstruksi. Arlo bisa merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, namun wajahnya tetap datar, tak tergoyahkan seperti patung di taman.

Saat mereka memasuki area Sayap Utara, suasana seketika menjadi sunyi. Para pekerja yang tadinya sibuk berteriak dan memalu, serentak berhenti dan berlutut di sisi jalan yang akan dilewati rombongan. Kepala mereka menunduk dalam, tidak berani menatap langsung ke arah sang calon penguasa.

Arlo berjalan dengan dagu terangkat. Matanya menyisir barisan punggung yang membungkuk itu. Ia mencari satu sosok yang ia kenal.

Ia menemukannya di dekat pilar ketiga.

Kalea sedang berlutut di sana, mengenakan pakaian kerja yang terlihat lebih bersih dari biasanya—mungkin perintah dari pengawas untuk menyambut kunjungan kerajaan. Tangannya yang kasar terjalin di depan dada, dan kepalanya menunduk begitu dalam hingga Arlo hanya bisa melihat ikatan rambutnya yang rapi.

Arlo tidak melambat. Ia tidak berhenti. Ia terus berjalan di samping Helena, melewati Kalea seolah-olah gadis itu hanyalah bagian dari dekorasi dinding yang belum selesai.

"Lihat ukiran singa itu, Arlo," Helena menunjuk ke atas gerbang utama Sayap Utara. "Bagus, tapi sepertinya ada sedikit sisa semen di bagian sudutnya. Benar-benar ceroboh."

Arlo mendongak. Itu adalah singa yang dibersihkan Kalea kemarin. Singa yang menurut Kalea sedang merasa lelah. Arlo bisa melihat betapa bersihnya batu itu sekarang, hasil dari kerja keras yang hampir merenggut nyawa seseorang.

"Itu sudah sangat bersih, Helena. Kau saja yang terlalu teliti," Arlo berkata tanpa emosi.

"Ketelitian adalah standar kita, sayangku," Helena menoleh ke arah pengawas renovasi yang berdiri gemetar di belakang mereka. "Pastikan orang yang mengerjakan bagian ini diberikan peringatan. Aku tidak suka ada noda pada lambang kerajaan."

Arlo melihat bahu Kalea yang bergetar sedikit di kejauhan. Gadis itu pasti mendengar ucapan Helena. Kemarahan mulai membakar ulu hati Arlo, namun ia meremas gagang pedang upacaranya dengan kuat, mengingatkan dirinya sendiri pada ancaman ayahnya semalam. Satu langkah salah, dan seluruh tim renovasi ini akan dibuang ke penjara bawah tanah.

"Aku akan mengurusnya nanti, Helena. Jangan biarkan hal kecil seperti itu merusak suasana hatimu," Arlo menarik perhatian Helena kembali, mengajaknya menuju balkon utama yang menghadap ke arah laut.

Sepanjang inspeksi itu, Arlo bertindak seperti pangeran paling sombong di Aethelgard. Ia memberikan kritik-kritik tajam yang tidak perlu, ia mengabaikan sapaan para mandor, dan ia sama sekali tidak melirik ke arah para pekerja. Ia adalah perwujudan dari segala hal yang Kalea benci. Ia sedang membangun tembok yang lebih tinggi daripada dinding Sayap Utara itu sendiri.

Dua jam kemudian, rombongan mulai membubarkan diri. Helena kembali ke paviliunnya untuk beristirahat, sementara para menteri kembali ke ruang rapat. Arlo berjalan menuju kamarnya, namun begitu ia merasa tidak ada lagi mata yang mengawasi, ia berbelok tajam menuju koridor belakang yang menuju ke sumur tua—tempat ia bertemu Kalea pagi tadi.

Ia tahu Kalea pasti di sana untuk mencuci peralatannya sebelum shift sore dimulai.

Benar saja. Kalea sedang berdiri di depan sumur, namun ia tidak sedang menimba air. Ia hanya berdiri mematung, menatap pantulan dirinya di dalam air sumur yang gelap. Bahunya tampak layu, dan seluruh semangat yang biasanya memancar dari matanya seolah telah padam.

Arlo mendekat dengan langkah yang sengaja ia buat terdengar. Kalea tidak menoleh. Ia hanya menarik napas panjang, sebuah napas yang terdengar seperti luka yang terbuka kembali.

"Sudah selesai berpura-puranya, Yang Mulia?" suara Kalea terdengar hambar, jauh lebih menyakitkan daripada teriakannya kemarin.

Arlo berhenti dua langkah di belakangnya. "Aku harus melakukannya, Kalea."

Kalea perlahan berbalik. Matanya tidak lagi merah karena air mata. Matanya kini kosong, seolah-olah ia telah memutuskan untuk berhenti merasakan apa pun. "Anda melakukannya dengan sangat baik. Anda berjalan melewati saya seolah-olah saya adalah kotoran yang menempel di sepatu bot Anda. Bahkan Putri Helena terlihat lebih manusiawi karena dia setidaknya menyadari keberadaan saya, meskipun hanya untuk menghina."

"Ayahku mengancam akan membuang kalian semua jika aku terus mencampuri urusan renovasi ini," Arlo berbisik, suaranya sarat dengan keputusasaan yang tertahan. "Aku sedang melindungimu dengan cara ini."

Kalea tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat dingin di udara siang yang terik. "Melindungi saya? Dengan cara menginjak harga diri saya di depan semua orang? Jangan bercanda, Arlo. Anda melakukannya untuk melindungi posisi Anda sendiri. Anda takut kehilangan mahkota itu, dan Anda menggunakan alasan 'melindungi saya' agar Anda tidak merasa seperti pengecut."

Kalea melangkah maju, menatap langsung ke mata biru Arlo yang kini tampak goyah. "Tahu tidak apa yang paling menyedihkan? Ayah saya meminum obat itu pagi ini. Dia bilang dia merasa jauh lebih baik. Dia berterima kasih pada 'tuhan' karena telah mengirimkan bantuan. Dan saya harus berdiri di sana, tersenyum padanya, sambil tahu bahwa obat itu dibeli dengan harga diri anaknya yang sedang dipermainkan oleh seorang pangeran yang sedang bosan."

"Aku tidak mempermainkanmu!" Arlo meraih bahu Kalea, namun gadis itu segera menyentakkan tangan Arlo dengan kasar.

"Jangan sentuh saya!" Kalea berteriak kecil, matanya mulai berkilat lagi. "Pergilah kembali ke istana emasmu. Pakailah sarung tangan putihmu itu agar tanganmu tidak ternoda oleh debu kapur saya. Anda benar, Arlo. Kita memang tidak pernah berteman. Anda adalah pangeran, dan saya adalah tikus. Dan tikus seharusnya tahu tempatnya di dalam lubang gelap, bukan di bawah cahaya lampu gantung kristal."

Kalea menyambar embernya dan berjalan pergi tanpa memberikan kesempatan bagi Arlo untuk membalas. Ia melangkah dengan kepala terangkat, namun Arlo bisa melihat punggung gadis itu yang bergetar.

Arlo berdiri sendirian di dekat sumur. Ia menatap telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan sutra putih. Ia menarik sarung tangan itu dengan kasar, membuangnya ke dalam sumur hingga tenggelam ke dasar yang gelap.

Ia merasa sangat kotor di dalam pakaian yang paling bersih.

Sore itu, Arlo dipanggil oleh ayahnya ke ruang kerja utama. Raja Valerius sedang duduk di belakang meja besarnya, menyesap anggur merah.

"Aku bangga padamu hari ini, Arlo," ucap Raja dengan suara beratnya. "Kau bersikap sebagaimana mestinya. Helena sangat senang dengan perhatianmu terhadap detail renovasi. Itulah cara kita memerintah. Berikan mereka perintah, bukan empati."

Arlo menatap ayahnya, pria yang telah menghabiskan seluruh hidupnya membangun dinding di sekeliling hati mereka sendiri. "Apakah itu yang membuat Ayah bahagia? Melihat orang-orang di bawah sana membungkuk karena takut, bukan karena hormat?"

Raja meletakkan gelasnya, matanya menyipit. "Rasa hormat adalah sesuatu yang kau dapatkan setelah kau memiliki kekuasaan mutlak. Sampai saat itu tiba, rasa takut adalah pengganti yang paling efisien."

"Kalau begitu, aku tidak ingin menjadi efisien," gumam Arlo.

"Kau akan berubah seiring berjalannya waktu, anakku. Besok, kita akan mengadakan upacara penyematan tiara untuk Helena. Pastikan kau berdiri di sampingnya sepanjang waktu. Tidak ada lagi kunjungan ke Sayap Utara. Renovasi itu hampir selesai."

Arlo keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang semakin hampa. Renovasi hampir selesai. Itu berarti Kalea akan segera pergi dari istana ini. Ia akan kembali ke perkampungan pekerja di kaki bukit, menghilang di antara ribuan rakyat jelata lainnya, dan Arlo akan terjebak selamanya di balik tembok emas ini bersama Helena.

Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Malam itu, Arlo menyelinap keluar lagi. Namun kali ini ia tidak pergi ke Sayap Utara. Ia pergi ke perpustakaan tua di menara barat, mencari arsip-arsip lama tentang hukum pertanahan Aethelgard. Jika ia tidak bisa melawan ayahnya dengan kekuatan, ia akan melawan dengan hukum yang ayahnya ciptakan sendiri.

Ia menghabiskan waktu berjam-jam di antara tumpukan kertas yang menguning. Debu perpustakaan itu masuk ke hidungnya, membuatnya bersin, namun ia tidak peduli. Ia merasa debu ini jauh lebih terhormat daripada aroma melati Helena.

Di tengah tumpukan arsip itu, ia menemukan sesuatu. Sebuah maklumat kuno dari pendiri Aethelgard yang menyatakan bahwa "tanah di mana keringat pekerja tumpah untuk membangun fondasi kerajaan, tidak boleh dimiliki oleh satu orang pun kecuali untuk kesejahteraan umum."

Arlo tersenyum tipis. Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya. Sebuah pemberontakan yang jauh lebih besar daripada sekadar membolos dari pesta dansa.

Namun, saat ia sedang asyik membaca, ia mendengar suara langkah kaki di luar perpustakaan. Bukan langkah kaki pengawal yang berat, melainkan langkah kaki yang ringan dan berirama.

Pintu perpustakaan terbuka sedikit. Helena berdiri di sana, memegang lilin. Wajahnya tampak aneh di bawah cahaya remang—seperti topeng porselen yang retak.

"Apa yang kau cari di sini, Arlo?" tanya Helena, suaranya terdengar sangat manis namun ada nada ancaman yang nyata di sana. "Apakah kau sedang mencari cara untuk membatalkan pernikahan kita?"

Arlo menutup bukunya dengan tenang. "Aku sedang mencari sejarah, Helena. Sesuatu yang sepertinya sudah kau lupakan."

Helena melangkah masuk, membiarkan cahaya lilinnya menyinari meja Arlo. "Sejarah adalah milik para pemenang, Arlo. Dan di Aethelgard, pemenangnya adalah kita. Berhenti bermain-main dengan kertas tua ini. Kau hanya akan membuat dirimu terlihat semakin tidak stabil di mata ayahmu."

Helena mendekat, jemarinya membelai kerah kemeja Arlo. "Aku tahu tentang gadis itu."

Darah Arlo seolah berhenti mengalir. Ia tetap diam, menatap mata biru Helena yang kini berkilat penuh kemenangan.

"Si tukang cat kecil dengan mata cokelat yang menyedihkan itu," Helena melanjutkan, tawa kecilnya terdengar sangat tajam. "Aku melihat bagaimana kau menatapnya tadi siang. Kau pikir kau sangat pandai berakting? Kau mungkin bisa menipu ayahmu, tapi kau tidak bisa menipu wanita yang akan berbagi ranjang dengannya."

"Dia tidak ada hubungannya dengan ini, Helena," Arlo berkata dengan nada yang sangat datar, meskipun di dalamnya ia sedang berteriak.

"Oh, dia memiliki segalanya dengan ini," Helena menarik tangannya dari kerah Arlo. "Dia adalah noda di pakaianmu, Arlo. Dan aku benci noda. Jika kau tidak segera melupakannya, aku akan memastikan dia dan ayahnya tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan hak untuk bernapas di kerajaan ini."

Helena berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Arlo dalam kegelapan yang semakin pekat.

Arlo mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Ancaman Helena bukan sekadar gertakan. Wanita itu mampu melakukannya. Dan sekarang, Arlo tahu bahwa ia sedang berpacu dengan waktu.

Ia menatap arsip di depannya. Retakan itu bukan lagi soal perasaan. Ini adalah soal nyawa. Dan untuk pertama kalinya, Arlo Valerius benar-benar mengerti apa artinya menjadi seorang raja: yaitu keberanian untuk menghancurkan istana demi menyelamatkan satu orang yang ada di dalamnya.

Di Sayap Utara yang gelap, Kalea Elara sedang duduk di atas perancah yang sunyi, menatap bintang-bintang yang tampak jauh lebih cerah daripada masa depannya. Ia menyentuh pipinya yang tadi siang terasa sangat panas karena amarah. Ia membenci Arlo. Ia membenci Aethelgard. Tapi di sela-sela kebencian itu, ada rasa nyeri yang tidak bisa ia jelaskan—rasa nyeri karena menyadari bahwa pangeran yang ia hina adalah satu-satunya orang yang pernah melihatnya bukan sebagai tikus, melainkan sebagai manusia, bahkan jika itu hanya dalam satu menit kebohongan.

Peperangan yang sesungguhnya telah dimulai, dan kali ini, tidak ada cat mana pun yang sanggup menutupi noda darah yang mungkin akan tumpah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!