NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20.Api Yang Kita Jaga Bersama

Malam di Kota Karasu semakin larut, kesunyiannya hanya dipecah oleh deburan ombak yang terdengar dari kejauhan dan suara desis lembut kayu bakau yang terbakar dengan stabil di tungku batu dapur belakang Ren’s Cuisine. Ruangan hanya diterangi cahaya remang dari satu lampu gantung bertulang besi, membuat bayangan nyala api menari-nari di dinding tembok yang tertutup cat putih pudar. Di tengah ruangan, sebuah kuali tembaga besar berdiri kokoh di atas tungku—uap tipis beraroma laut yang segar dan sedikit manis perlahan merayap memenuhi setiap sudut, tidak ada sedikit pun aroma amis yang biasanya menyertai teripang mentah.

Ren duduk di kursi kayu kecil yang sudah lapuk, matanya terpaku pada gerakan nyala api yang naik turun di bawah kuali. Tangannya sesekali menyeka butiran keringat yang menetes di dahinya, namun fokusnya tidak sedikit pun goyah. Di dalam kuali, teripang pasir hitam sedang menjalani proses transformasi yang lambat namun pasti—suatu hal yang hanya bisa dicapai melalui kesabaran dan perhatian manusia, bukan oleh mesin yang bekerja dengan kecepatan instan.

Langkah kaki yang lembut menghampiri dari arah pintu. Hana datang membawa dua cangkir keramik berisi teh melati hangat, uapnya juga ikut menyatu dengan aroma dari kuali. Jaket tebalnya terbuka dan disandarkan di bahunya, wajahnya menunjukkan rasa kelelahan yang jelas namun matanya bersinar dengan cahaya lembut saat menatap punggung Ren yang tegap.

"Minum dulu sedikit, Ren. Kamu sudah duduk diam di situ selama empat jam lebih tanpa sekali pun bergerak jauh," bisiknya dengan suara yang lembut, kemudian duduk di bangku kayu kecil yang terletak tepat di samping pemuda itu.

Ren menerima cangkir dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang menyebar perlahan dari permukaan keramik ke telapak tangannya yang sedikit dingin. "Setiap teripang punya ritme 'denyut' sendiri, Hana. Seolah mereka masih bernapas meskipun sudah keluar dari laut. Jika nyala api ini sedikit saja padam atau suhu air turun sebelum kolagen di dalamnya melunak secara alami, seratnya akan mengeras dan mengunci seperti karet yang kaku. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi."

Hana menatap ke dalam kuali, melihat permukaan air yang sedikit bergelombang akibat panas dari bawah. Kemudian matanya beralih menatap wajah Ren yang diterangi oleh kilauan api—garis-garis kelelahan jelas terlihat di sekitar matanya dan bibirnya yang sedikit mengering, namun di balik itu ada keteguhan yang membuatnya merasa tenang dan aman. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan kanannya, ragu sejenak di udara sebelum akhirnya jemari-jemarinya dengan lembut menyentuh bagian belakang tangan Ren yang sedang menggenggam cangkir teh.

"Kenapa kamu selalu ingin memikul semua beban sendiri?" suara Hana sedikit bergetar, penuh dengan perhatian yang tulus. "Aku dan Yuki ada di sini denganmu, kan? Kami adalah tim kamu, Ren. Kamu tidak perlu selalu jadi orang yang kuat tanpa lelah, seperti pahlawan yang tidak pernah bisa beristirahat."

Ren menoleh perlahan, matanya yang biasanya terlihat dingin kini menatap mata cokelat Hana dengan ekspresi yang lembut. Untuk sesaat, semua dinding yang ia bangun untuk melindungi diri terasa lenyap. Ia menyadari bahwa di balik hasratnya untuk mengalahkan Asuka Jaya dan membuktikan nilai masakan tradisional, ada rasa takut yang tersembunyi dalam dirinya—takut bahwa semua usaha akan sia-sia dan membuat orang-orang yang mulai ia anggap sebagai keluarga merasa kecewa.

"Aku hanya... tidak ingin kalian merasa bahwa semua yang kita jalani selama ini tidak berarti," jawab Ren dengan suara yang pelan dan lembut—sangat berbeda dari kesan koki jenius yang sering ia tunjukkan di depan orang lain. "Ryuji memiliki semua yang dibutuhkan untuk menang—modal besar, teknologi canggih, bahkan informasi yang tidak adil. Jika kita gagal dalam persiapan malam ini, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri karena membuat perjuangan kalian berakhir dengan sia-sia."

Hana tersenyum kecil, kemudian merapatkan dudukannya hingga bahu mereka saling bersentuhan—kehangatan tubuhnya menyebar ke tubuh Ren yang sedikit dingin. "Kemenangan memang penting bagi kita semua, terutama bagi masa depan Ren's Cuisine. Tapi untukku, yang lebih berharga adalah saat-saat seperti ini—saat kita berjuang bersama, sambil merasakan setiap detik prosesnya. Kau tahu tidak? Bau dapur yang penuh dengan kayu bakar dan aroma laut ini... membuatku merasa seperti di rumah. Sesuatu yang sungguhan dan jujur, tidak ada kepura-puraan sedikit pun."

Di sudut lain ruangan, Yuki keluar dari ruang penyimpanan dengan tangan yang membawa tumpukan serbet bersih dan beberapa bungkus rempah kering. Ia berhenti sejenak saat melihat kedekatan antara Ren dan Hana—ada sedikit rasa sesak yang menyentuh hatinya, namun ia segera menelannya dengan sikap dewasa. Ia tahu bahwa ikatan yang terbentuk di antara mereka bertiga bukanlah tentang persaingan apa pun; ini adalah tentang saling mendukung dan membangun sesuatu yang berarti untuk Kota Karasu.

"Bahan pelengkap sudah siap seperti yang kamu minta, Ren," ucapnya sambil mendekat dan bergabung dengan mereka berdua. Ia duduk di sisi lain Ren, membuat mereka membentuk lingkaran kecil yang menghadap tungku batu yang hangat. "Aku sudah merendam jamur shiitake dalam air hangat selama dua jam agar teksturnya tetap kenyal, dan juga menyiapkan irisan jahe tua yang sudah dipanggang sedikit untuk menyeimbangkan energi dingin yang ada di dalam teripang."

Ren mengangguk dengan senyum hangat. "Terima kasih banyak, Yuki. Tanpa kamu dan Hana, aku pasti sudah membuat kesalahan dari lama, atau bahkan sudah membiarkan kuali ini mendingin karena kelupaan."

Ketiganya kemudian duduk dalam diam yang nyaman dan hangat, hanya menyimak suara kayu yang berderak dan gelembung kecil yang muncul di permukaan air kuali. Tidak ada kata-kata besar atau pidato yang penuh semangat—hanya ada kemistri yang kental di antara mereka, sebuah rasa saling percaya dan menghargai yang terbentuk dari keringat yang sama, kelelahan yang sama, dan tujuan yang sama.

Ren mengamati kedua gadis di sisinya dengan pandangan yang penuh rasa syukur. Ia menyadari betapa berbeda mereka namun begitu komplementer: Hana selalu menjadi seperti nyala api yang menghangatkan suasana dan memberikan semangat, sementara Yuki adalah seperti air yang tenang yang memberikan keseimbangan dan kejernihan pikiran. Dan di tengah keduanya, Ren merasa seperti bejana yang mampu menampung segala sesuatu—menyatukan elemen-elemen yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh.

"Kalian tidurlah sebentar saja," ucap Ren dengan suara yang lembut setelah beberapa lama. "Aku akan menjaga api dan membangunkan kalian saat fajar mulai menyingsing—saatnya kita lakukan proses pengukusan terakhir yang akan menentukan rasa akhir dari hidangan ini."

Hana menggeleng dengan tegas meskipun matanya sudah mulai menyipit karena kantuk yang menyerang. "Tidak mungkin aku pergi tidur dan meninggalkanmu sendirian di malam yang begitu penting ini. Aku akan tetap di sini, membantumu menjaga api ini."

Yuki juga tersenyum dan mengangguk setuju, kemudian menyandarkan kepalanya dengan lembut pada tiang kayu yang menyangga atap dapur. "Kami tidak akan pernah membiarkan kapten tim kami berjaga sendirian di malam yang akan menentukan masa depan kita semua."

Menjelang subuh, saat kabut tipis seperti kain tipis mulai menyelimuti pelabuhan Kota Karasu dan langit mulai menunjukkan warna keemasan muda di ufuk timur, isi kuali akhirnya siap. Teripang yang tadinya keras dan kaku kini telah berubah menjadi tekstur yang sempurna—melunak namun tidak hancur, memancarkan aroma gurih yang dalam dan kaya dengan rasa laut yang autentik. Ren mengambil sepotong kecil dengan hati-hati menggunakan sumpit kayu, membelahnya dengan mudah, dan melihat bagian dalam yang tampak lembut namun tetap memiliki struktur yang jelas.

Ia menghembuskan napas lega yang panjang, rasa lega dan kebanggaan menyebar ke seluruh tubuhnya. Kemudian matanya melihat ke sisi kanannya—Hana sudah tertidur dengan kepala bersandar di bahunya, wajahnya tenang dengan bibir yang sedikit terbuka. Di sisi kirinya, Yuki juga terlelap dengan kepalanya bersandar di bahunya, napasnya teratur dan damai. Ren tidak bergerak sedikit pun, ingin memberikan kesempatan bagi mereka untuk beristirahat sejenak di dalam kehangatan fajar yang mulai menyingsing perlahan.

Di luar sana, Menara Asuka mungkin sedang bersiap dengan mesin-mesin canggih dan tim ahli yang siap bekerja dengan cepat. Namun di dapur kecil yang penuh dengan aroma kayu bakar dan cinta ini, Ren tahu bahwa mereka telah mencapai sesuatu yang tidak akan pernah bisa diukur oleh angka atau algoritma manapun: Sebuah masakan yang tidak hanya mengenyangkan perut, tapi juga memiliki nyawa yang akan menyentuh hati setiap orang yang mencicipinya.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!