Sering dibully oleh keluarga sang suami, serta mertua dan ipar yang mulai ikut campur dalam rumah tangganya. Pernikahan impian yang semula tergambar indah, seketika berubah.
Memiliki suami yang mulai dingin, membuat Tari tergoda untuk berpaling.
Bermula dari reuni, Tari mulai bermain api. Akankah api itu menghangatkan atau justru membuatnya terbakar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Bicara
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 16
Oleh Sept
Saat terbangun jelas saja Tari langsung terperanjat, ia menatap sekeliling dan kaget karena ada di dalam sebuah kamar hotel. Tari yakin itu hotel karena sangat suasana di dalam sana.
Sembari menegangkan pikiran agar bisa berpikir jernih, Tari mengingat apa yang terjadi. Ia langsung memukul kepalanya. Mencengkram rambutnya dengan penuh penyesalan.
"Tari apa yang kamu lakukan?" gerutu Tari kemudian langsung turun.
Tanpa alas kaki, di ruangan yang sepi itu dia mencari sosok lain. Matanya kemudian menatap kamar mandi. Kosong, dia berada di sana seorang diri.
Masih pakai pakaian yang ia kenakan sebelumnya. Meski jalannya agak sempoyongan karena pusing, Tari mencoba mencari tas dan ponselnya. Lalu menelpon Rio.
Tut tut tut
"Ya." Suara berat Rio terdengar.
"Rio. Kamu di mana? Mengapa aku di kamar hotel?" tanya Tari dan lupa bersikap formal. Mungkin karena ini di luar jam kantor.
"Rupanya kamu sudah bangun?"
"Ya. Kamu di mana? Aku ingin keluar, tapi pintunya seperti dikunci dari luar!" kata Tari sambil mengerakkan knop pintunya.
"Aku di kamar sebelah. Tunggu sebentar!"
"Hem."
Tari kemudian mondar-mandir, masih mencoba mengumpulkan kepingan memori saat dia minum tadi.
Untung saja ada Rio, jika tidak entah apa yang akan terjadi padanya.
KLEK
Tiba-tiba pintu terbuka, Tari langsung menatap sosok pria yang masuk dari balik pintu.
"Minum ini, biar meredakan sakit kepalamu!" celetuk Rio yang sepertinya paham kondisi Tari.
"Tidak usah!" tolak Tari sambil menggeleng.
"Kau mau tetap di sini? Tidak balik?"
Tari menelan ludah, buru-buru dia minum obat agar pusingnya reda. Kemudian duduk di sofa. Benar kata Rio, dia memang agak pusing. Ini pasti gara-gara minuman. Padahal Tari tidak pernah kenal minuman seperti itu. Mencicipi pun baru tadi pas acara. Karena jengkel pada suaminya.
"Bagaimana? Masih pusing?"
"Sedikit."
"Lain kali, jangan lakukan lagi!" kata Rio yang masih berdiri sambil melipat tangan. Matanya tegas menatap wanita yang duduk seperti murid yang kena skorsing.
"Ya. Sorry."
"Apapun masalahmu, jangan pernah minum?"
"Ya." Tari tertunduk.
Tari tidak membantah, mungkin karena dia memang salah. Menjadi tidak profesional ketika punya masalah.
"Ya sudah, kemasi barang-barangmu. Awas ada yang ketinggalan, HP, dompet!"
"Iya."
Melihat Tari pasrah, kok Rio jadi kasian juga. Pasti Tari menyimpan beban berat di pundaknya.
Mereka pun pergi bersama, Tari diajak ke hotel yang masih satu gedung dengan acara tadi. Sedangkan Rio saat ini ingin mereka kembali ke hotel mereka sebelumnya.
Akan tetapi, melihat Tari yang diam saja. Rio pun mengajak Tari ke sebuah taman kota. Mobil berhenti di tepi taman khusus parkir, kemudian dia meminta Tari keluar dari mobil.
"Sepertinya kamu butuh udara segar," kata Rio sambil membuka pintu mobil.
Tari tidak langsung keluar, dia memang sepanjang jalan lebih banyak murung dan melamun.
"Tari ... kau dengar aku tidak?"
Seketika Tari mendongak, melihat pintu yang sudah terbuka lebar.
"Boleh tidak aku tetap di sini? Kalau kamu mau mencari udara segar, aku akan menunggu di dalam mobil," ucap Tari yang memang suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Baiklah!" kata Rio kemudian pria itu menjauh.
Rio duduk di salah satu bangku taman, sambil menyalakan sesuatu dan mulai berteman dengan asap.
Tidak hanya Tari yang memiliki beban pikiran, bahkan laki-laki itu pun memiliki masalah juga.
Sesekali ia melirik Tari, karena pintunya ia biarkan terbuka. Sementara itu, Tari mengusap wajahnya, melihat ponsel. Menatap wajah Ibel. Kemudian melihat wajah suaminya di foto.
Dalam benaknya, kembali terngiang suara wanita yang sering kali ia dengar saat menelpon Dewa. Tari masih dalam tahapan mengelak, mencoba bertahan entah sampai kapan.
Tap tap tap
Rio datang mendekat sambil membawa air mineral kemasan. Lalu mengulurkan pada Tari.
"Minumlah!"
"Terima kasih," ucap Tari.
Rio lalu masuk mobil, pintunya masih dibiarkan terbuka agar tidak pengap.
"Kau punya masalah apa? Kau bisa cerita padaku," kata Rio tiba-tiba.
Tari menggeleng tanpa menatap.
"Kau tidak percaya padaku?"
"Maaf, tapi ini masalah pribadi." Tari masih menjaga jarak.
"Tari ..."
Ketika suara Rio lembut memanggil namanya, Tari mulai gelisah. Apalagi lewat ekor matanya, Tari melihat tangan Rio mulai bergerak. Siapa menyentuh tangannya. Dan buru-buru Tari menarik tangannya, pura-pura membetulkan poni.
Sedangkan Rio, dia tersenyum getir. Susah sekali mendapatkan wanita ini.
"Untuk yang tadi, aku minta maaf," kata Tari mengalihkan perhatian.
"Yang mana?"
"Saat aku minum."
"Hemm."
"Aku tidak akan mengulanginya."
"Oke."
Melihat Rio tidak protes apa-apa, Tari pun lega. Kemudian memasang sabuk pengaman. Sebagai kode agar mobilnya jalan.
"Lalu bagaimana saat kau menciyuum ku tadi?" tanya Rio tiba-tiba sambil mulai menyalakan mesin. Matanya lurus ke depan, sambil menunggu reaksi Tari.
"Apa?"