Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part Dua Puluh Tujuh
mMikhasa membungkus kacamata itu dengan sapu tangannya, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas dengan sangat hati-hati, takut napasnya sendiri bisa merusak kaca mata itu.
Tas itu kemudian ia pangku, tenang. Di dalam tas ini ada tiga miliar. Ya tiga miliar.
Ia mengambil ponselnya kembali. Membuka aplikasi jual beli. Tanpa ragu, ia segera menghapus postingan.
“Bisa heboh ini…” gumamnya merasa lucu karena memberikan harga seratus juta.
Setibanya di perusahaan, Mikhasa menggendong tasnya di depan dengan lembut penuh kasih sayang, seolah tengah menggendong seorang bayi.
Ia tidak berbelok ke arah kantin seperti biasanya. Langkahnya lurus masuk ke dalam gedung.
Tak jauh dari meja resepsionis, ia bertemu dengan Pak Bayu yang berdiri di sana.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Mikhasa sopan dengan senyum ramah.
“Selamat pagi, Nona,” jawab Pak Bayu dengan nada hangat. “Mari saya antar,” ujarnya sambil mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Mikhasa melangkah lebih dulu.
Mikhasa menggeleng halus. “Bapak boleh kembali ke ruangan kerja Bapak. Saya bisa sendiri.”
“Tapi, Nona—”
“Ruangan makan eksklusif, kan?” Mikhasa tersenyum tipis, seolah sudah memahami kekhawatiran Pak Bayu.
Pria itu mengangguk. “Benar, Nona. Saya harus memastikan Anda sampai di ruangan itu.”
“Iya, saya mengerti,” jawab Mikhasa tenang. “Namun hari ini dan hari-hari selanjutnya, Bapak tidak perlu repot menunggu atau mengantar saya ke sana. Saya pasti akan langsung ke sana.”
Pak Bayu menatapnya sejenak, ragu. “Apakah saya bisa mempercayai ucapan Anda ini, Nona?”
“Tentu, Pak,” jawab Mikhasa tanpa ragu. Senyumnya mengembang ringan. “Bapak tidak perlu khawatir.” Ia menambahkan dengan nada bercanda halus, “Sarapan pagi di tempat eksklusif, sayang banget kalau dilewatkan, ya kan, Pak?”
Pak Bayu akhirnya tersenyum dan mengangguk. “Benar,” ujarnya. “Syukurlah kalau Anda sudah memahami hal itu.”
Mikhasa mengangguk balik, lalu membungkuk sopan sebelum melangkah masuk ke dalam lift menuju lantai ruang makan eksklusif.
Sesampainya di sana, Mikhasa menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.
Dalam pelukannya, ada tiga miliar. Pelan, ia membuka pintu ruangan itu dan melangkah masuk. Seperti biasa, Axel sudah duduk tenang di sana, menunggunya dengan sikap santai seolah dunia selalu berjalan sesuai kehendaknya.
“Pagi, Axel,” sapa Mikhasa ramah. Keramahan itu justru membuat kening Axel berkerut heran. Tatapannya menyapu wajah Mikhasa singkat.
“Kau demam?” tanyanya curiga.
“Hm? Enggak,” jawab Mikhasa. Ia duduk di kursinya. “Wajahku pucat, ya?”
“Tidak,” sahut Axel. “Hanya… aneh.”
Mikhasa langsung manyun sebal. “Mirip alien? Kau jahat sekali,” keluhnya kesal.
Axel mendengus kecil, nyaris seperti menahan senyum.
Mikhasa tak mempedulikannya lagi. Ia segera meraih peralatan makan dan menatap hidangan di hadapannya.
'Uh… menu apa lagi ini… Dari aromanya saja sudah seperti perintah halus agar segera makan dan patuh.'
“Biasanya jam segini kamu sudah siap debat. Sekarang malah ramah. Aneh," komentar Axel.
Mikhasa menyendok makanannya tanpa menatap Axel.
“Lama-lama capek debat terus sama kamu,” jawabnya santai. “Lagian aku nggak bakal menang. Jadi ya udah, diterima aja dengan senang hati.” Ia mengangkat bahu ringan, lalu kembali fokus pada piringnya.
Axel memperhatikannya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Keputusan yang bagus, Sweetheart.”
Mikhasa berhenti sebentar, meliriknya sekilas. “Jadi… kapan kita mulai makan?” tanyanya datar.
Axel meletakkan cangkirnya. “Silakan.”
“Oke.”
Mikhasa langsung makan, seolah tidak ada CEO menyebalkan di hadapannya hanya makanan enak yang sayang dilewatkan.
Setelah selesai sarapan, Mikhasa mengangkat pandangan, menatap Axel.
“Sudah minum vitamin?” tanyanya.
Axel yang tengah menyesap minumannya menoleh pelan. “Kenapa belakangan ini kamu obsesif sama vitamin?”
Mikhasa mengangkat bahu. Cepat-cepat mencari alasan. “Ya biar kamu punya perut kotak-kotak kayak di manhwa,” jawabnya santai. “Ganteng doang nggak cukup. Harus sixpack.”
Axel tertawa kecil. “Kemarin short drama, sekarang manhwa,” gumamnya. “Kamu rajin juga konsumsi hal-hal nggak penting.”
“Penting,” sanggah Mikhasa cepat. “Pria di manhwa itu gantengnya nggak ada obat, dengan perut kotak-kotak yang terlihat seksi. Obat pusing seharian kerja."
Axel bersandar santai di kursinya, satu alis terangkat. “Kalau begitu, bagaimana caranya aku menunjukkan padamu kalau aku punya tubuh sixpack? Sesuai keinginanmu."
Mikhasa langsung menoleh, berkedip cepat dengan panik. Apakah dia salah memberi alasan. Dia berdeham. “Nggak perlu ditunjukkan,” jawabnya cepat. “Dan aku juga nggak mau lihat. Males banget,” lanjutnya sambil menusuk buah, lalu memakannya seolah topik itu sama sekali tidak menarik.
Axel terkekeh merasa terhibur. “Padahal kamu yang mulai topiknya.”
“Ngomong boleh,” balas Mikhasa. “Lihat enggak perlu."
Mikhasa segera mengulurkan tangan pada Axel. “Sini vitaminnya,” pintanya. “Mulai sekarang, setiap pagi aku harus lihat kamu minum vitamin.”
Tanpa banyak komentar, Axel merogoh saku dalam jasnya. Ia benar-benar mengeluarkan botol kecil berwarna gelap lalu meletakkannya di telapak tangan Mikhasa.
Mikhasa menerimanya. 'Botolnya beda sama yang kemarin. Jadi yang mana vitamin? Atau jangan-jangan dua-duanya obat?' pikirnya.
Pelan, Mikhasa membuka tutup botol, menuangkan satu kapsul ke telapak tangannya, lalu menyodorkannya pada Axel.
Axel tidak mengambilnya dengan tangan. Ia langsung membuka mulut, menerima kapsul itu begitu saja, lalu meneguk air dan menelannya dengan patuh.
Mikhasa menatapnya sesaat, lalu tersenyum kecil. “Pintar,” ujarnya ringan.
Senyum itu tidak selebar senyumnya pada orang lain, tapi justru terasa manis bagi Axel. Pria itu mengalihkan pandangan sejenak, lalu kembali menatap Mikhasa.
“Sering-seringlah tersenyum seperti itu, Sweetheart,” katanya santai. “Biar wajahmu nggak mirip pulu-pulu.”
Mikhasa langsung mendelik. “Axel!!!"
Axel tertawa. “Lihat? Itu dia. Pulu-pulu mode aktif.”
"Ish." Mikhasa manyun.
Setelah sarapan, mereka kembali ke ruangan kerja.
Mikhasa masih setia menggendong tas miliknya dengan penuh kasih sayang. Tiga miliar…
Mikhasa bimbang, haruskah ia mengembalikan kacamata itu pada Axel? Atau menjualnya saja buat bayar utang, beli mobil, dan mengakhiri hidup naik taksi berjam-jam? Ah. Pusing.
Kerja hari ini dimulai dengan menghafal struktur jaringan hotel internasional ini.
Belum lima menit Mikhasa duduk dan mulai bekerja, suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan. Refleks, ia mengangkat wajah melihat siapa yang datang. Dia pikir itu adalah Pak Edo seperti hari-hari sebelumnya tapi ternyata bukan.
Yang datang adalah seorang wanita dengan pakaian elegan dan aura profesional melangkah masuk. Rambutnya tertata rapi, riasannya tipis tapi berkelas. Wajahnya ramah, tapi matanya tajam dan penuh perhitungan.
Wanita itu langsung menuju meja Axel. Mereka berbincang singkat. Suaranya pelan, tidak sampai ke telinga Mikhasa. Axel mengangguk beberapa kali, sesekali menjawab singkat tanpa banyak ekspresi.
Tak lama kemudian, wanita itu berbalik dan melangkah ke arah Mikhasa.
“Hai, selamat pagi,” sapanya ramah. “Salam kenal. Saya Maura, salah satu asisten Tuan Axel. Bisa kita bicara sebentar?”
Mikhasa segera berdiri, lalu tersenyum sopan.
“Selamat pagi, Bu Maura. Saya Mikhasa. Mohon bimbingannya.”
Maura mengangguk kecil. “Bisa kita bicara di sofa saja?”
Alis Mikhasa berkerut tipis. Ia melirik ke arah Axel, pria itu sudah kembali fokus pada layar laptopnya, seolah dunia sekitar tidak ada.
“Baik,” jawab Mikhasa akhirnya.
Mereka berjalan ke sofa dan duduk berdampingan.
Maura duduk dengan posisi santai. “Tenang saja, Mikhasa. Ini bukan obrolan formal.” ucapnya lembut dengan pandangan teduh.
Mikhasa tersenyum kecil, refleks. “Iya, Bu.”
Maura memperhatikan senyum Mikhasa. Sebuah senyum yang terlihat santai. Lebih mirip… topeng yang sudah terlalu sering dipakai.
Maura menyilangkan kaki, lalu menatap Mikhasa dengan sorot mata yang hangat.
“Aku ingin bertanya sesuatu. Tidak ada jawaban benar atau salah. Kau boleh tidak menjawab kalau tidak nyaman.”
Mikhasa mengangguk mengerti.
Bu Maura bertanya dengan tenang. "Saat kamu sendiri, kamu suka duduk di mana? Dekat pintu atau jendela?"
"Saya tidak suka keduanya," jawab Mikhasa.
"Oh ya?" Maura masih menatapnya dengan kelembutan. Memahami pilihan Mikhasa karena tidak menyukai dua pilihan yang ia berikan. "Jadi kau suka duduk di mana?"
"Pojok ruangan," jawab Mikhasa.
Bu Maura mengangguk. "Iya, di sana lebih tenang sepertinya," katanya hati-hati.
Mikhasa mengangguk membenarkan.
ciee..yg udh mulai suka sama Axel,mulai senyum senyum walaupun kesel