Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Resmi bercerai
"Papa...!" panggil Zayn lirih. Bocah lelaki berusia tiga tahun setengah itu berdiri di tengah pintu kamar, menatap sang ayah dengan mata bulat dan polos. Kebingungan terpancar jelas di wajahnya.
Darrel tersentak dan segera mengusap kasar wajahnya. Dia lantas menarik napas dalam-dalam berusaha mengendalikan diri, lalu berbalik dan memasang senyum di wajahnya.
"Ya, Sayang. Papa di sini," ucapnya dengan lembut.
"Kenapa bangun, hmm?" imbuhnya bertanya, berusaha menyembunyikan kesedihan yang menggerogoti hatinya. Dia berjongkok di hadapan Zayn, menyamakan tinggi badannya dengan sang putra.
"Kok, Papa nangis?" Tangan Zayn menyentuh pipi sang ayah dan mengusapnya dengan lembut.
Darrel tidak tahan, lalu menggenggam tangan mungil itu dan menciumnya berkali-kali. "Di luar angin kencang, mata papa terkena debu jadi berair," jawab Darrel.
"Papa serius...? Papa nggak bertengkar sama Mama dan mengusirnya kaya yang di film-film itu, kan?" kembali Zayn bertanya. Mungkin bocah itu mengutip adegan dari film yang mungkin pernah ditontonnya.
Darrel tertegun. Pertanyaan Zayn bagaikan sembilu yang menghujam kalbunya. Dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada sang putra bahwa ibunya telah pergi demi menggapai impiannya. Dirinya bahkan tidak tahu dari mana Zayn belajar tentang adegan pertengkaran dan pengusiran itu, tetapi dia merasa bersalah karena telah membuat putranya berpikir seperti itu.
"Tidak, Sayang. Papa tidak bertengkar dengan Mama," jawab Darrel terbata-bata, berusaha mencari kata-kata yang tepat.
"Lalu Mama ke mana?" Mata beningnya mencari-cari keberadaan Nancy, bahkan masuk ke dalam kamar orangtuanya demi menemukan sang ibu.
Darrel menatap nanar putranya. "Maaf, Mama sudah pergi dan tidak sempat pamit pada Zayn. Mama pergi untuk bekerja ke tempat yang jauh dan pekerjaan itu sangat penting buat Mama."
Zayn mengerutkan kening. "Bekerja di tempat yang jauh dan sangat penting? Memangnya kali ini Mama pergi ke mana?" tanya Zayn lagi, dia memang tahu bahwa ibunya seorang model karena wajahnya sering muncul di televisi sebagai bintang iklan.
Darrel menggigit bibirnya, dia tidak bisa berbohong kepada putranya, tetapi juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Darrel tidak ingin membuat Zayn sedih dan kecewa karena ibunya lebih mementingkan kariernya daripada keluarganya.
"Mama mungkin pergi ke luar negeri, Sayang," jawab Darrel, berusaha meyakinkan Zayn. "Kali ini Mama harus bekerja di sana untuk sementara waktu. Tapi nanti jika pekerjaannya sudah selesai, Mama pasti akan pulang dan bersama dengan kita lagi."
Zayn tampak ragu, tetapi bocah itu akhirnya mengangguk. "Papa janji Mama akan pulang?" tanyanya seraya mengulurkan jari kelingkingnya.
Darrel tersenyum getir lalu menautkan jari kelingkingnya dengan jari mungil Zayn. "Janji," ucapnya dengan ragu.
Sebuah janji yang Darrel tahu mungkin tak akan pernah bisa ditepati. Namun, dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Nancy akan kembali suatu saat nanti, meskipun di lubuk hatinya itu hanyalah harapan kosong.
Setelah itu, Darrel memeluk Zayn erat-erat, menyalurkan semua kasih sayang dan kekuatannya kepada sang putra. Dia berjanji akan melakukan apa saja untuk melindungi Zayn dan Zoey, apapun yang terjadi. Darrel akan menjadi ibu sekaligus ayah bagi kedua buah hatinya, meskipun hatinya diliputi keraguan. Namun, dia akan memastikan bahwa mereka tetap bahagia, walau dirinya sendiri sedang dilanda kesedihan yang mendalam.
Darrel menyadari bahwa semuanya kini tidak akan pernah sama lagi. Nancy telah pergi, dan membawa serta sebagian dari dirinya. Dia merasa seperti sedang berjalan di atas tanah yang retak, menunggu saatnya akan terjatuh ke dalam jurang yang gelap dan tak berujung.
.
.
.
Udara di ruang tunggu pengadilan terasa pengap dan dingin, seolah menyerap semua harapan yang tersisa. Darrel duduk di kursi kayu yang keras, memandangi lantai marmer yang kusam. Dia sudah tidak ingat lagi berapa lama berada di sana, menunggu namanya dipanggil. Waktu terasa berjalan begitu lambat, tetapi di saat yang sama, dia merasa seolah hidupnya melaju terlalu cepat, menuju kehancuran yang tak terhindarkan.
Sebulan setelah kepergian Nancy, surat gugatan cerai itu datang. Darrel yang awalnya masih menyimpan secercah harapan bahwa Nancy akan kembali, kini harus menerima kenyataan pahit. Nancy benar-benar ingin meninggalkannya, dan menghapus semua kenangan tentang mereka. Ia ingin memulai hidup baru tanpa dirinya dan anak-anak.
Dulu, Darrel selalu mengira pengadilan adalah tempat mencari keadilan. Akan tetapi, sekarang dia merasa pengadilan hanyalah tempat untuk meresmikan sebuah perpisahan, tempat untuk mengakhiri impiannya membangun keluarga yang bahagia seperti orangtua dan kedua adiknya.
"Darrel Naratama," sebuah suara memanggil namanya, memecah lamunannya.
Darrel tersentak dan menoleh ke arah suara itu. Seorang petugas pengadilan berdiri di depan pintu, menatapnya dengan datar.
"Sidang Anda akan segera dimulai," ucap petugas itu dengan singkat.
Darrel mengangguk, lalu bangkit dari kursinya dengan langkah gontai. Dia berjalan menuju pintu, mengikuti petugas itu memasuki ruang sidang.
Di dalam ruangan itu dipenuhi dengan orang-orang yang tidak Darrel kenal: pengacara, saksi, dan beberapa wartawan yang ingin meliput kasus perceraiannya. Dia merasa seperti sedang berada di sebuah panggung, menjadi tontonan bagi semua orang.
Darrel duduk di kursinya, dia melihat Nancy duduk dengan tenang, mengenakan pakaian yang rapi dan elegan. Tatapan mereka bertemu sejenak, tetapi tidak ada lagi cinta atau kehangatan di mata wanita itu. Yang ada hanya kekosongan.
Nancy tampak begitu berbeda, begitu asing. Bukan lagi Nancy yang Darrel kenal dan cintai. Ia adalah Nancy Feriawan, seorang model papan atas yang siap menaklukkan dunia.
Hakim memasuki ruang sidang dan duduk di kursinya. Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju padanya. "Sidang perceraian antara Saudara Darrel Naratama dengan Saudari Nancy Feriawan dibuka," ucapnya dengan suara lantang.
Sidang pun kemudian dimulai dengan pembacaan surat gugatan cerai oleh pengacara masing-masing. Darrel mendengarkan dengan seksama, mencoba untuk tidak terpancing emosi. Dia harus tetap tenang dan profesional, demi kebaikan dirinya dan anak-anak.
Setelah mendengarkan argumen dari kedua belah pihak, hakim bertanya kepada Darrel, "Apakah Anda setuju dengan perceraian ini?"
Darrel terdiam sejenak, menimbang-nimbang keputusannya. Dia sadar jika menyetujui perceraian itu, maka akan kehilangan Nancy untuk selamanya. Darrel menatap Nancy dengan harapan wanita itu akan mengatakan tidak, bahwa ia masih mencintainya, dan mereka bisa memperbaiki semuanya.
Namun, Nancy justru membuang muka dan tidak mengatakan apapun. Maka Darrel pun tidak bisa memaksa Nancy untuk tetap bersamanya jika wanita itu memang tidak menginginkannya.
Darrel menghela napas dalam-dalam sambil menundukkan kepala. Dengan berat hati akhirnya dia menjawab, "Iya, Yang Mulia. Saya tidak ingin mempertahankan pernikahan ini lagi." Suaranya bahkan nyaris tak terdengar.
Hakim mengangguk dan meraih palunya. "Dengan ini, sidang perceraian antara Saudara Darrel Naratama dan Saudari Nancy Feriawan dinyatakan selesai, dan keduanya resmi bercerai," ucapnya tegas, lalu mengetuk palunya dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
Suara palu hakim itu bergema memenuhi seluruh ruangan sidang, menandai akhir dari pernikahan Darrel dan Nancy. Darrel terdiam membeku di tempat duduknya. Dia merasa seolah ada sesuatu yang patah di dalam dirinya dan telah kehilangan segalanya.
Nancy bangkit dari kursinya, berjalan dengan angkuh melewati Darrel tanpa menoleh sedikit pun. Ia seolah tidak mengenalinya, dan tidak pernah memiliki hubungan apapun.