NovelToon NovelToon
Pembalasan Untuk Para Penghianat

Pembalasan Untuk Para Penghianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pelakor / Ibu Tiri / Saudara palsu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Leni Anita

Setelah kepergian sang ayah untuk selama nya, Clarisa mendapati satu kenyataan pahit bahwa suami nya telah mendua kan diri nya. Hal yang lebih menyakitkan adalah wanita yang menjadi selingkuhan nya adalah adik tiri nya.

Sang suami lebih memilih sang adik dan hal itu di dukung oleh ibu tiri nya, Clarisa kembali ke kampung halaman ibu nya dan tinggal bersama sang nenek setelah dia memilih berpisah dari pada di madu.

Tapi ternyata takdir berkata lain, Clarisa bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah bos dari sang mantan suami. Pria itu jatuh cinta pada Clarisa kemudian menikahi nya.

Suami baru Clarisa membawa nya kembali ke kota tempat di mana sang mantan suami dan keluarga nya berada, kedatangan Clarisa kali ini membuat dia mengetahui rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya puluhan tahun yang lalu.

Ikutan kisah Clarisa yang membalas perbuatan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh ibu hingga membuat sang ibu meregang nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Pov Alvian

Aku tidak bisa tidur malam ini, bayangan wajah cantik nan teduh milik Risa begitu mengganggu ku. Aku segera bersiap, walaupun saat ini masih terlalu pagi untuk aku datang ke rumah nya.

"Risa, aku akan datang, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakiti mu!" Aku berguman sambil meraih kunci mobil yang semalam aku letak kan di atas nakas.

Aku sengaja pergi sendiri, aku tidak menunggu sopir ku lagi. Aku ingin secepat nya bertemu dengan wanita yang selama ini mengisi relung hati ku.

"Risa, aku akan membalas semua rasa sakit yamg telah mereka berikan pada mu. Aku janji Risa!" Aku berjanji pada diri ku sendiri sambil mengemudikan mobil ku dengan kecepatan tinggi.

Aku mampir sebentar untuk membeli sarapan untuk Risa dan nek Asih, tapi karena aku tidak tahu apa sarapan yang di sukai oleh Risa jadi aku membeli berbagai jenis makanan yang di jual pada salah satu lapak di pinggir jalan.

"Assalam mu'alaikum!" Aku mengucapkan kan salam sambil mengetuk pintu rumah nenek nya Risa yang masih tertutup rapat.

Wajar saja jika pintu rumah nya belum terbuka, karena aku memang datang nya terlalu pagi. Jam di pergelangan tangan ku menunjuk kan jam enam kurang 15 menit.

"Wa'alaikum salam!" Aku mendengar suara seorang wanita yang menjawab salam ku dari dalam rumah.

Pintu pun terbuka dan aku melihat wanita yang aku ketahui sebagai nenek nya Risa membuka pintu untuk ku.

"Nak Alvian, silah kan masuk nak!" Nek Asih mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumah nya.

"Keadaan Risa bagai mana nek?" Aku yang sangat mencemas kan Risa langsung bertanya pada nek Asih.

"Risa tidak bisa tidur tadi malam nak, kaki nya terasa sakit sekali!" Nek Asih memberi tahu Alvian keadaan Risa tadi malam.

"Nek, orang yang mencelakai Risa sekarang sudah di tangkap, kalian tidak usah takut lagi!" Aku berkata pada nek Asih.

"Pak Alvian, ada apa ya pagi- pagi sudah datang kemari?" Risa langsung keheranan ketika dia keluar dari dalam kamar nya dia melihat ku sudah duduk dan bicara dengan nek Asih di ruang tamu.

Risa mendorong kursi roda nya sendiri mendekati nek Asih dan juga aku yang masih berbincang- bincang.

"Risa, bagai mana keadaan mu?" Tanya ku sambil berdiri dan mendekati kursi roda Risa.

"Alhamdulillah, sudah tidak begitu sakit lagi pak seperti semalam!" Risa menjawab pertanyaan dari ku sambil tersenyum.

"Kalian bicara saja dulu, nenek siap kan sarapan untuk kita semua!" Nek Asih segera berdiri dan beranjak pergi ke dapur.

"Tunggu nek, tadi aku udah beli sarapan di jalan untuk kita semua!" Aku berjalan keluar rumah menuju di mana mobil milik ku sedang terparkir.

Aku pun mengeluarkan kan beberapa kantong kresek besar dan juga kotak berisi berbagai jenis sarapan dan juga makanan yang aku beli tadi dalam perjalanan, aku membawa nya masuk dan memberikan nya pada nek Asih.

"Ya Allah nak, kamu beli nya sebanyak ini. Seperti mau hajatan saja!" Nek Asih terkejut melihat begitu banyak nya makanan yang aku beli

"Habis nya aku tidak tahu apa yang di ingin kan oleh nenek dan juga Risa, jadi aku beli saja semua nya!" Aku menjawab sambil tersenyum.

Risa sendiri menatap ku dengan dengan tatapan yang tidak aku mengerti maksud nya, seperti nya Risa memindai diri ku dari atas hingga bawah.

"Pak Alvian, saya tidak ingin kedatangan bapak kemari membuat semua nya menjadi salah paham!" Risa berkata pada ku setelah nek Asih pergi ke dapur.

"Tidak ada yang akan salah paham lagi Risa, apalagi Erlin. Saat ini dia sudah di tangkap!" Aku berkata dengan serius agar Risa tidak lagi merasa takut.

"Maaf pak Alvian, saya merepotkan bapak!" Risa menunduk kan kepala nya.

Belum sempat aku berucap lagi, nek Asih sudah kembali dari dapur dan mengajak kami untuk sarapan bersama.

"Nak Alvian, Risa. Ayo kota sarapan dulu!" Ajak Nek Asih sambil tersenyum.

"Iya nek!" Dengan sigap aku mendorong kursi roda milik Risa menuju ke meja makan sederhana milik nek Asih.

Di atas meja sudah terhidang banyak sekali makanan yang tadi di beli oleh ku, itu hanya sebagian kecil yang di keluar kan oleh nenek Asih. Sisa nya masih tersimpan rapi di dalam tempat nya masing - masing.

Risa dan aku sarapan dengan bubur ayam sedang kan nek Asih memilih sarapan dengan lantang sayur, kami menikmati sarapan masing - masing dalam diam tanpa berminat untuk saling berbicara satu sama lain.

Sambil menikmati makanan nya, sesekali aku bisa melihat Risa melirik ke arah diri ku, aku merasa bahwa Risa sedang memperhatikan diri ku. Mungkin saja Risa berusaha mengingat kapan kami pernah bertemu sebelum nya, aku tersenyum kecil sambil memperhatikan gerak - gerak Risa

"Nak Alvian memang tinggal di kota ini ya?" Nek Asih bertanya pada ku setelah kami selesai sarapan.

"Tidak nek, saya di sini cuma sedang mengurus proyek saja!" Aku menjawab degan jujur.

"Nak Alvian berasal dari kota mana kalau nenek boleh tahu?" Nek Asih bertanya lebih lanjut lagi.

"Saya berasal dari kota J nek!" Aku menjawab lagi.

Seketika wajah nenek Asih langsung berubah, dia tampak terlihat sangat sedih. Aku tidak tahu apa yang sedang dia fikir kan, mungkin dia teringat bahwa di kota itu juga lah Risa di khianati oleh suami dan juga adik tiri nya.

"Ada apa nek?" Tanya ku pada nek Asih setelah melihat perubahan dari raut wajah nya.

"Tidak papa nak, bawa Risa keluar nak. Biar kan nenek membereskan meja makan dulu!" Nek Asih meminta ku membawa Risa keluar.

Aku pun mendorong kursi roda milik Risa pergi dari dapur, sendi kaki nya yang geser membuat Risa belum bisa berjalan dan harus duduk di kursi roda.

"Pak Alvian, tolong bawa aku ke halaman. Aku mau berjemur!" Risa meminta ku membawa diri nya ke halaman.

"Iya baik lah!" Aku pun mendorong kursi roda Risa dengan perlahan membawa nya ke halaman rumah nenek Asih yang begitu luas.

Halaman depan rumah nek Asih di tanami berbagai jenis bunga dan sayuran, seperti nya nek Asih sangat suka berkebun. Sinar matahari pagi yang berwarna keemasan menyinari tanaman yang ada di halaman.

"Nak Alvian, nenek boleh minta tolong sebentar?" Tiba - tiba nek Asih muncul dari dalam rumah.

"Boleh nek, ada yang bisa saya bantu?" Aku bertanya pada nek Asih.

"Nak, tolong jaga Risa sebentar nenek akan mengantar kan makanan ini pada tetangga di sekitar sini!" Nek Asih berkata sambil menunjuk kan berbagai jenis kue yang aku beli tadi pagi.

"Iya nek, nenek pergi saja!" Aku pun mengangguk kan kepala ku sambil tersenyum senang.

Aku ingin bicara lebih banyak pada Risa, jadi aku setuju saja nek Asih meminta ku menjaga Risa. Tanpa dia suruh pun, aku pasti akan menjaga nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!