Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh Serigala Chandravatya part 1
Kabar kembalinya Panca Taraka membawa kemenangan pahit segera menyebar ke seluruh penjuru Kerajaan Chandravatya. Namun, kedamaian itu hanya seumur jagung. Di gerbang utara, debu beterbangan tinggi saat sepuluh penunggang kuda dengan baju zirah hitam legam memacu kuda mereka masuk ke pelataran istana.
Mereka adalah Dasa Durjana (Sepuluh Pendosa), sepupu dari Panca Taraka. Mereka baru saja pulang dari Perang Karakal, sebuah pertempuran berdarah di perbatasan gurun utara untuk memadamkan pemberontakan suku nomaden.
Sepuluh bersaudara ini dikenal haus darah dan sangat ambisius. Nama-nama mereka mencerminkan kegelapan hati mereka:
Duryasa (Si Sulung yang haus tahta)
Dushara (tangan kanan Duryasa yang licik)
Vikarna (Ahli taktik yang dingin)
Jalasandha (Si ahli tombak)
Suhasta (Si pemanah tanpa ampun)
Durmada (Si sombong)
Durviga (Si penghasut)
Vindha (Si kembar penyerang)
Anuvindha (Si kembar penyerang)
Dharmananda (Si bungsu yang munafik)
Duryasa melompat dari kudanya. Matanya yang merah karena kurang tidur dan amarah langsung menatap ke arah singgasana kosong di mana Gada Vajra Barata seharusnya berada. Namun, kotak pusaka itu kosong.
"Apa yang kudengar ini benar, Dharmasara?" geram Duryasa, suaranya parau. "Kalian memberikan pusaka tertinggi kerajaan kita—Gada Vajra Barata—kepada seorang pengemis asing dari tanah Jawa? Seorang kasta rendah?"
Dharmasara berdiri tegak. "Dia bukan pengemis, Duryasa. Dia adalah penyelamat nyawa kami dan penjaga kehormatan Chandravatya dari tangan Bhirawa Hitam."
"CUKUP!" Duryasa menghunus pedangnya. "Bertahun-tahun kami berdarah-darah di Perang Karakal demi martabat kerajaan ini, sementara kalian dengan bodohnya menyerahkan simbol kekuasaan kepada orang asing yang bahkan tidak beralas kaki! Aku sudah lama mengincar Gada itu untuk menyatukan seluruh daratan ini di bawah kakiku!"
Balavikra maju ke depan, tubuh raksasanya membayangi Duryasa. Dadanya yang masih dibalut perban bergetar hebat. "Kau menginginkan Gada itu hanya untuk memuaskan nafsu kekuasaanmu, Duryasa. Satya, pemuda asing itu, memegangnya dengan jiwa. Kau tidak akan pernah pantas menyentuhnya!"
"Kau bicara soal pantas, Raksasa Bodoh?" Dushara, adik Duryasa, meludah ke samping. "Kasta rendah yang kau puji itu telah menghina prajurit kita di pasar. Dan kalian malah menjadikannya pahlawan? Ini adalah penghinaan bagi darah ksatria kita!"
Di sebuah paviliun gelap yang menghadap ke istana, seorang pria tua dengan jubah ungu tua dan jemari yang tak henti-hentinya memainkan biji dadu emas memperhatikan keributan itu. Ia adalah Paman Shakunardana, adik dari mendiang ratu, yang memiliki lidah seberingas ular berbisa.
Ia memanggil kesepuluh keponakannya, Dasa Durjana, ke kediamannya malam itu.
"Keponakanku yang gagah..." bisik Shakunardana dengan nada manis yang memuakkan. "Lihatlah bagaimana Panca Taraka telah mengkhianati kalian. Mereka memberikan Gada Vajra kepada orang luar agar kalian tidak bisa menggunakannya untuk merebut tahta yang seharusnya milik Duryasa."
Duryasa mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih. "Mereka bilang itu kehendak Dewata, Paman."
Shakunardana tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas kering. "Dewata hanya berpihak pada mereka yang memegang senjata. Dharmasara terlalu kaku pada aturan, sementara kalian punya keberanian. Jika Gada itu sudah dibawa pergi ke Tanah Jawa, maka singgasana Chandravatya adalah satu-satunya kompensasi yang layak bagi kalian."
Ia mendekat ke telinga Duryasa. "Ingatlah, Yudistira kehilangan segalanya karena kejujuran yang bodoh. Dharmasara adalah Yudistira-mu. Dan kau, Duryasa... kau adalah pemenang yang tertunda. Rebut tahtanya, atau kalian akan selamanya menjadi pelayan bagi sepupu-sepupu kalian yang 'suci' itu."
Keesokan harinya, suasana istana menjadi sangat dingin. Hubungan antara Panca Taraka dan Dasa Durjana benar-benar pecah, persis seperti api yang siap menyulut tumpukan jerami kering.
Duryasa secara terbuka menyatakan tantangan: Jika Panca Taraka tidak bisa membawa kembali Gada Vajra Barata dalam waktu satu purnama, maka mereka dianggap tidak kompeten memimpin dan harus menyerahkan hak perwalian militer kepada Dasa Durjana.
"Kami akan mengejar pemuda Jawa itu," desis Duryasa di depan Resi Agastyamurti. "Bukan untuk meminta kembali dengan sopan, tapi untuk mengambil kepalanya dan juga Gada vajra Barata. Dan setelah itu, Chandravatya akan tahu siapa raja yang sebenarnya."
Di ruang rahasia menara istana yang hanya diterangi oleh nyala api tungku suci, kelima pangeran Panca Taraka berkumpul dengan wajah tegang. Aroma dupa cendana yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan karena hawa permusuhan yang ditinggalkan oleh Dasa Durjana.
Pangeran Balavikra menggebrak meja batu hingga retak. Nafasnya memburu, luka-luka di tubuhnya seolah berdenyut mengikuti detak amarahnya.
"Aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi!" geram Balavikra. "Duryasa itu... dia bukan ksatria, dia adalah lintah yang memakai zirah! Selama kita berdarah-darah menjaga jantung kerajaan, dia dan kesembilan saudaranya hanya memikirkan bagaimana cara merebut tahta dari Kakak Dharmasara."
Ia menoleh ke arah Dharmasara yang duduk tenang namun dengan mata yang menyiratkan beban berat. "Kakak, tahta Chandravatya adalah hakmu berdasarkan garis hukum dan kebijaksanaan. Tapi si Duryasa itu, dia menginginkan Gada Vajra Barata bukan untuk melindungi rakyat, tapi untuk memaksa semua orang berlutut di bawah kakinya!"
Pangeran Indrajit menghela napas, jemarinya memetik tali busur peraknya dengan gelisah. "Dia memanfaatkan keberangkatan Satya sebagai alasan untuk menuduh kita berkhianat. Paman Shakunardana pasti berada di balik ini semua. Dialah yang meracuni pikiran mereka dengan racun ambisi."
Pangeran Dharmasara akhirnya angkat bicara, suaranya rendah namun berwibawa. "Kekuasaan yang diperebutkan dengan darah saudara hanya akan menghasilkan kerajaan abu, Balavikra. Namun, kau benar. Duryasa tidak akan berhenti. Dia akan mengejar Satya ke tanah Jawa, dan itu artinya kita telah mengirimkan badai ke rumah sahabat kita sendiri."
Di sudut ruangan, Resi Agastyamurti duduk bersila dalam posisi teratai sempurna. Ia telah mendengar semua keluh kesah murid-muridnya. Matanya terpejam, namun aura di sekelilingnya bergetar hebat. Ia tahu bahwa hukum duniawi tak lagi bisa membendung ambisi Dasa Durjana.
"Duryasa telah memanggil kapal-kapal perang tercepat dari pelabuhan utara," ucap Sang Resi tanpa membuka mata. "Mereka akan berangkat sebelum fajar menyingsing. Target mereka bukan hanya Gada itu, tapi juga nyawa Satya sebagai bukti 'kemenangan' mereka atas kasta rendah."
Resi Agastyamurti kemudian merentangkan tangannya. Ruangan itu mendadak sunyi, seolah-olah suara angin dan api terhenti. Inilah Ilmu Sambung Rasa (Aji Pameling), sebuah kesaktian batin tingkat tinggi yang mampu menghubungkan sukma melewati batas jarak dan waktu.
Sang Resi memfokuskan seluruh energinya, mencari frekuensi batin sahabat lamanya di belahan bumi lain.
Di Lereng Gunung Kelud, Tanah Jawa
Eyang Sableng Jati yang sedang asyik menggoda seekor monyet hutan tiba-tiba terdiam. Wajahnya yang konyol mendadak berubah sangat serius. Ia memegang dadanya, lalu telinganya seolah menangkap bisikan angin yang hanya bisa didengar olehnya.
"Sableng... Sahabatku..." suara Resi Agastyamurti menggema di dalam kesadaran batinnya. "Sepuluh serigala hitam dari Chandravatya telah turun ke laut. Mereka dipimpin oleh Duryasa, manusia yang hatinya lebih gelap dari kitab Bhirawa. Mereka mengejar muridmu, Satya. Mereka menginginkan Gada Vajra Barata dan nyawa muridmu sebagai tumbal tahta. Waspadalah... badai dari Barat sedang menuju Timur."
Eyang Sableng Jati berdiri, debu di pakaian kumalnya rontok seketika saat auranya meledak kecil. Ia menatap ke arah laut selatan dengan tatapan tajam yang mampu membelah kabut.
"Heh... Agastya, kau masih saja kaku seperti dulu," gumam Eyang Sableng Jati, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecut. "Sepuluh bocah ingusan ingin bermain di tanah Jawa? Baiklah. Akan kusambut mereka dengan 'keramahtamahan' gunung berapi."
Eyang Sableng Jati segera memanggil Satya yang sedang berlatih mengalirkan energi ke selendang kuning gadingnya.
"Satya! Berhenti memutar-mutar kain itu!" teriak Eyang Sableng Jati. "Gunakan waktumu untuk mengasah batinmu lebih dalam. Sepupu-sepupu para pangeran itu sedang menuju ke sini. Mereka bukan ksatria yang punya rasa hormat seperti Balavikra. Mereka adalah pembunuh yang akan menusukmu dari belakang saat kau berkedip."
Satya terkejut. "Dasa Durjana? Pangeran Balavikra pernah bercerita tentang kekejaman mereka di Perang Karakal. Jadi mereka benar-benar mengejar Gada ini, Guru?"
"Bukan cuma Gada itu, cah bagus," sela Ki Ageng Menyan yang muncul dari balik pepohonan. "Mereka ingin membuktikan bahwa kasta mereka lebih tinggi dari kesaktianmu. Mereka akan membawa pasukan dan sihir hitam yang berbeda dari yang kau lihat di India."
Satya mengepalkan tangannya. Toya Emasnya bersinar redup, sementara Gada Vajra di pinggangnya bergetar, seolah merasakan kehadiran calon tuannya yang haus darah.
"Jika mereka datang sebagai tamu, saya sambut dengan kopi," ujar Satya tegas. "Tapi jika mereka datang sebagai perampok kehormatan, maka bumi Majapahit akan menjadi kuburan bagi kesombongan mereka."
Sementara di kerajaan Chandravatya di India Suasana di pelataran istana semakin memanas. Duryasa baru saja memerintahkan pasukannya untuk menaikkan jangkar armada hitam, namun sebuah suara menggelegar dari puncak tangga marmer menghentikan segalanya.
Raja Dridharastra, ayah dari para Dasa Durjana, melangkah maju dengan jubah kebesaran yang berat. Meskipun ia memegang tahta sebagai Raja Sementara setelah kematian saudaranya (ayah dari Panca Taraka), gurat kecemasan tampak jelas di wajahnya yang mulai renta.
"HENTIKAN!" teriak Raja Dridharastra. Tongkat kekuasaannya menghantam lantai, suaranya menggema hingga ke gerbang luar.
Duryasa menoleh dengan tatapan tidak puas. "Ayahanda? Mengapa kau menghalangi kami mengambil kembali hak kerajaan kita?"
"Kau bodoh atau hanya buta oleh ambisi, Duryasa?" Raja Dridharastra berjalan mendekat, matanya menatap tajam kesepuluh putranya satu per satu. "Apakah kau tahu siapa pemuda asing itu sebenarnya? Dia bukan sekadar pengembara. Dia adalah putra dari tanah Majapahit."
Mendengar nama itu, beberapa menteri istana tampak saling berbisik dengan wajah pucat.
"Majapahit adalah kekaisaran raksasa di Timur," lanjut Sang Raja dengan suara berat. "Armada laut mereka menguasai samudra, dan pendekar-pendekarnya dikenal memiliki kesaktian yang tak masuk akal. Jika kau membunuh Satya, kau bukan hanya mengambil nyawa satu orang, kau sedang mengundang ribuan kapal perang Majapahit untuk meratakan Chandravatya dengan tanah!"
Dushara, si tangan kanan yang licik, mencoba menyela. "Tapi Ayah, dia hanya kasta rendah di sana. Majapahit tidak akan peduli."
"Kau salah, Dushara!" potong Pangeran Dharmasara dari sisi lain. "Di Majapahit, martabat seorang warga negara adalah harga diri kerajaan. Raja mereka tidak akan membiarkan satu pun rakyatnya dianiaya di negeri asing."
Duryasa tertawa meremehkan. "Jadi, kita membiarkan pusaka leluhur kita dibawa pergi hanya karena takut pada perang? Di mana darah ksatria kalian? Aku, Duryasa, lebih baik mati dalam perang besar daripada hidup dalam kehinaan karena membiarkan seorang 'orang kecil' membawa Gada Vajra Barata!"
"Ini bukan soal ketakutan," Raja Dridharastra memegang bahu sulungnya. "Ini soal kelangsungan hidup bangsa kita. Aku memerintah di sini sebagai pemegang amanah sementara sampai penerus tahta yang sah diputuskan. Aku tidak akan membiarkan Chandravatya hancur dalam api perang hanya karena egomu."
Namun, di balik bayang-bayang pilar, Paman Shakunardana tersenyum licik. Ia mendekati Raja Dridharastra dan berbisik dengan suara seperti desis ular.
"Paduka Raja... bukankah justru ini kesempatannya? Jika Duryasa pergi secara 'pribadi' tanpa membawa panji kerajaan, dan ia berhasil merebut Gada itu, maka Chandravatya akan memiliki kekuatan tak tertandingi. Jika ia gagal... Paduka tinggal mengatakan bahwa itu adalah tindakan putra yang membangkang. Chandravatya tetap aman, tapi Gada itu tetap bisa kembali ke tangan kita."
Hasutan itu membuat Raja Dridharastra terdiam sejenak. Keragu-raguan muncul di matanya.
Melihat ayahnya bimbang, Duryasa memberi isyarat kepada kesembilan saudaranya.
Vikarna (Si ahli taktik) mulai menghitung rute laut yang tidak terdeteksi oleh radar patroli kerajaan.
Jalasandha (Si ahli tombak) dan Suhasta (Si pemanah) menyiapkan senjata rahasia yang telah diolesi racun gurun Karakal.
Dharmananda (Si bungsu yang munafik) bersujud di depan ayahnya, berpura-pura patuh. "Ayahanda benar, kami tidak akan memicu perang. Kami hanya akan melakukan 'kunjungan kehormatan' untuk membujuknya kembali."
Namun, begitu mereka membelakangi Sang Raja, mata Duryasa berkilat penuh kebencian. Ia menatap Panca Taraka dengan dendam yang mendalam.
"Dharmasara, Balavikra... kalian boleh bersembunyi di balik ketiak Ayahanda dan aturan Majapahit," bisik Duryasa saat melewati sepupunya. "Tapi ingat ini: Saat aku kembali dengan kepala pemuda itu dan Gada vajra Barata di tanganku, akulah yang akan duduk di singgasana itu secara permanen. Dan kalian... akan menjadi pelayan di istanaku sendiri."
Di saat yang sama, di Tanah Jawa, Satya yang sedang bermeditasi di bawah bimbingan Ki Ageng Menyan tiba-tiba membuka mata. Ia merasakan ada riak besar di air samudra.
"Mereka berangkat, Ki Ageng," ucap Satya tenang. "Bukan sebagai diplomat, tapi sebagai pemburu."
Ki Ageng Menyan mengangguk. "Raja mereka mencoba menahan, tapi ambisi sepuluh pangeran itu sudah melampaui logika. Mereka akan menggunakan cara-cara kotor. Satya, bersiaplah. Majapahit memang besar, tapi musuh yang datang kali ini adalah mereka yang merasa tidak punya beban untuk kalah."
Dasa Durjana secara diam-diam berangkat pada malam hari, melanggar perintah Raja Dridharastra. Mereka membawa seorang dukun sakti dari pegunungan utara India untuk melawan ilmu batin Satya.