Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bohong Tuh 04
"Best, kamu mau kemana?"
Suara Dewananta menggema memenuhi ruangan ketika memanggil sang putri. Putri satu-satunya itu tampak sedang membawa secangkir kopi yang baru diseduh nya dengan nampak. Dewa tentu bertanya-tanya, mau dibawa kemana kopi itu sekarang. Jika hanya untuk dinikmati sendiri, tidak mungkin dibawa dengan memakai nampan.
"Pak, bisa nggak sih manggilnya jangan best. Yang kumplit apa, Pak. Bestari gitu. Bast best bas best," sahut gadis berkulit kuning langsat dengan mata bulat kesal.
"Biar gaul kayak anak-anak sekarang. Best, bestieeee gitu. Itu kopi mau dibawa kemana?" tanya pria paruh baya namun wajahnya masih tampak segar dan tubuhnya juga gagah. Sungguh tidak sesuai dengan usianya yang sudah 57 tahun.
"Mau dibawa ke tempat Om Dud. Suruh ngicipin. Orang kota biasanya suka sama kopi-kopi lokal gini," sahut Bestari.
"Emang iya?" tanya Dewa lagi.
"Nggak tahu, kan baru mau dicoba Bapak!" pekik Bestari kesal.
"Ya udah kalau gitu, bawain lauk tuh. Tadi bapak masak ayam rica banyakan. Biar dimakan sama Rohan, kan mayan dia nggak usah masak lagi."
Belum sempat Bestari menjawab, sang bapak sudah masuk ke dalam dapur dan keluar sambil membawa semangkok ayam rica buatannya. Bestari hanya bisa pasrah menerima itu. Ia lalu melenggang pergi menuju ke rumah Rohan yang hanya berjarak 15 meter dari rumahnya.
"Aduh, ngetok pake apa ini ya. Pake jidat aja kali ya," ucap Bestari saat menyadari tangannya penuh karena memegang nampan.
Dan benar saja, dia mengetuk pintu rumah Rohan dengan keningnya sendiri. Gadis berusia 24 tahun itu benar-benar absurd kelakuannya.
Setelah mengetuk pintu, Bestari tersenyum mendengar suara Rohan yang meminta anak laki-lakinya membuka pintu.
Cekleek
"Kakak cantik, ayo masuk," ucap Rishi.
"Makasih sayang. Lagi apa hmm? Halo Riesha, lagi main apa?" bestari menyapa Riesha yang tengah asik bermain.
"Main boneka kakak," sahut Reisha.
Bestari tersenyum, melihat dua anak kecil itu. Sepintas dia merasa iba dengan kedua anak yang masih kecil itu. Bagaimana bisa anak-anak kecil itu hidup tanpa seorang ibu.
Aaahh
Seketika Bestari ingat, bahwa dirinya juga besar tanpa seorang ibu. Dan hanya ada ayah saja.
"Oh Bestari, ada apa?" tanya Rohan yang muncul dari dalam dapur dengan tangan yang masih terselubung tepung.
"Ini Om Dud, ada lauk dari Bapak. Dan saya bawa kopi juga. Kopi ini panen sendiri dari kebun kami. Apa Om Dud bisa ngicipin?" jawab Bestari sambil tersenyum lebar.
"Maaf Bestari, tapi saya nggak suka kopi," sahut Rohan dengan senyum tipisnya.
Aaah
Bestari tampak kecewa. Feeling nya selama ini tidak pernah salah. Tapi kali ino dia salah. Padahal Bestari sudah merasa sangat yakin bahwa Rohan adalah pecinta kopi.
Akan tetapi Bestari langsung tersenyum, dia sadar bahwa dirinya tidak boleh kecewa. Lagi pula dia juga yang salah karena tidak mencari tahu dan hanya bermodalkan feeling.
"Oh gitu. Maaf ya Om Dud, saya nggak tahu. Saya pikir Om Dud suka, soalnya orang-orang kota tuh kalau di media sosial pada suka gitu ngopi. Ya udah deh kalau gitu, saya minum sendiri aja,"jawab Bestari.
Dan benar saja, saat itu juga gadis itu meminum kopi buatannya yang sebenarnya ingin diberikan kepada Rohan.
"Sial!"
"Ya? Ada apa Om Dud? Om Dud ada ngomong sesuatu ya?"
Bestari langsung menatap ke arah Rohan. Dia yakin pria beranak dua itu baru saja mengatakan sesuatu, tapi hanya sama-samar di dengarnya.
"Oh nggak, nggak saya nggak ngomong apa-apa. Kalau gitu, lauknya saya terima ya. Dan maaf saya harus masak dulu buat anak-anak,"jawab Rohan, dia mengambil mangkok berisi ayam rica dan segera membawanya ke dapur.
"Saya di sini deh nemenin Rishi dan Reisa main!" teriak Bestari.
"Ya, terimakasih,"sahut Rohan. "Sial, kopinya kayaknya enak tuh. Kopi lokalan begini emang rasanya seger. Aduuh,"gumamnya lirih sambil memejamkan matanya sejenak.
Rohan tidak pernah menyangka bahwa godaan kopi begitu berat baginya sekarang ini.
Huuuf
Pria itu mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia kembali fokus dengan masakannya. Dan itu berhasil untuk melupakan kopi tersebut.
"Om Dud, saya pulang ya. Maaf nggak bisa nemenin anak-anak lebih lama lagi,"ucap Bestari dengan sedikit keras. Dia tidak menghampiri Rohan yang ada di dapur karena merasa itu tidak sopan.
"Ya makasih ya, Bestari. Sampaikan terimakasih saya ke Pak Dewa juga,"sahut Rohan. Dia keluar dari dapur sambil membawa makan siang untuk anak-anaknya dan menatanya di meja makan.
Bestari mengangguk dan bergegas pergi. Tapi agaknya dia melupakan sesuatu karena terlalu terburu-buru.
"Bestari ini~" teriak Rohan saat melihat nampan yang berisi cangkir kopi itu masih ada di atas meja.
"Abang, apa Kak Bestari buru-buru sampai lupa bawa cangkirnya?" tanya Rohan kepada putranya.
"Kayaknya sih gitu, Yah. Tadi pas main, hape kakak cantik bunyi. Terus dia angkat telpon lalu pergi,"jawan Rishi.
Rohan tersenyum sambil mengusap kepala putranya. Dia lalu mengajak kedua anaknya untuk bersiap makan siang. Tapi sebelumnya, Rohan membawa nampan itu ke dapur lebih dulu.
Dia melihat kopi yang pekat tersebut masih lumayan panas, meski kepulan asapnya sudah tak lagi ada, tapi aromanya masih menguar.
Suuur
"Sayang banget, tapi aku harus tahan. Kamu pasti bisa Rohan,"ucapnya sambil menuang kopi itu ke wastafel dan kemudian mencuci cangkirnya.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah Pak RT, Bestari datang dengan sedikit terburu-buru. Telpon yang diterimanya tadi adalah telepon dari sang ayah yang menyuruhnya segera pulang karena ada tamu. Dan saat ini Dewa sedang duduk berhadapan dengan tamu tersebut.
"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Bestari dengan nada sengit.
"Bestari, aku ke sini karena ada yang mau aku omongin sama kamu. Jadi mari kita bicara ya?" jawab orang tersebut, wajahnya menunjukkan ekspresi memelas.
Gadis yang tadi begitu ceria saat hendak mengantarkan kopi ke rumah Rohan itu, kini tampak dingin. Matanya menatap dengan tajam, dan ekspresinya juga datar.
"Kayaknya udah nggak ada yang bisa kita omongin lagi. Semuanya udah selesai kan? Lantas mau apa lagi,"ucap Bestari dingin, dia sungguh enggan bicara dengan pria yang memiliki wajah tampan tersebut.
Ya tak dapat dipungkiri bahwa pria yang duduk di ruang tamunya adalah sosok pria yang sempurna. Tampan, berwibawa, memiliki postur tubuh yang tinggi, pekerjaan yang bagus dan juga materi yang cukup. Sungguh sempurna dan idaman setiap wanita. Tapi bagi Bestari, pria itu tak lebih dari pria yang menjijikkan.
"Bestari, aku mohon. Mari bicara sejenak, aku sungguh ingin menjelaskan semuanya padamu." Agaknya pria itu tak akan berhenti sampai Bestari menuruti keinginannya.
"Oke, mari kita bicara. Sepuluh menit, nggak lebih dari itu."
TBC