Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Utang Yang Tak Ditagih
Tiga hari setelah operasi itu, barulah Naya bisa menyempatkan diri datang ke rumah sakit. Bukan karena ia lupa, melainkan karena hari-harinya benar-benar tersita. Urusan rumah, rapat kecil terkait pembangunan kos, serta beberapa hal administratif menyita hampir seluruh waktunya.
Namun setiap malam, di sela lelah yang menumpuk, bayangan tentang Mira dan anak kecil itu selalu muncul tanpa diminta.
Naya berdiri sejenak di depan pintu ruang perawatan anak sebelum masuk. Ia menarik napas pelan, seolah sedang menyiapkan hatinya. Perasaannya terasa berbeda dibandingkan saat ia datang ke rumah sakit untuk urusannya sendiri beberapa hari lalu. Kali ini, langkahnya lebih berat—namun juga hangat.
Begitu pintu dibuka, Naya melihat Mira duduk di samping ranjang kecil. Rafi terbaring dengan infus di tangan, wajahnya jauh lebih tenang dibandingkan terakhir kali Naya melihatnya. Tidak ada lagi raut kesakitan yang dulu membuat dadanya sesak. Anak itu tertidur pulas, meski tubuhnya masih lemah.
“Mbak Naya…” suara Mira terdengar pelan, penuh kelegaan.
Mira segera berdiri. Wajahnya memancarkan rasa terima kasih yang seolah tak pernah habis. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena haru yang belum reda.
“Maaf ya, baru bisa ke sini,” ujar Naya sambil mendekat. Suaranya lembut, tanpa dibuat-buat. “Bagaimana Rafi?”
“Alhamdulillah, Mbak,” jawab Mira. “Dokter bilang operasinya berhasil. Sekarang tinggal pemulihan.”
Naya menatap wajah Rafi cukup lama. Rasa lega perlahan merayap di dadanya. Ia duduk di kursi, lalu kembali berdiri karena merasa tak tega melihat Mira berdiri terus.
“Duduk saja,” katanya singkat.
Mira menurut. Raut sungkannya masih terlihat jelas.
“Terima kasih, Mbak… kalau bukan karena Mbak, saya benar-benar nggak tahu harus bagaimana.”
Naya hanya tersenyum kecil. Dalam benaknya, justru muncul bayangan lain.
Bagaimana kalau posisi Mira adalah dirinya?
Bagaimana kalau suatu hari ia duduk di rumah sakit, menggendong anaknya yang sakit, sendirian, tanpa tahu harus meminta tolong ke siapa?
Bayangan itu membuat Naya tanpa sadar menghela napas panjang.
“Mbak capek ya?” tanya Mira pelan.
“Sedikit,” jawab Naya jujur. “Tapi nggak apa-apa.”
Hening menyelimuti ruangan. Hanya suara alat medis dan langkah perawat di luar yang sesekali terdengar. Mira tampak gelisah, seolah menyimpan sesuatu yang ingin disampaikan.
“Mbak…” panggilnya ragu.
“Iya?”
“Soal biaya rumah sakit Rafi…” Mira menunduk. Jarinyasaling meremas. “Jumlahnya besar, Mbak. Saya nggak tahu harus membayar dengan apa.”
Naya menoleh, memperhatikan wajah Mira yang dipenuhi kecemasan. Bukan sekadar takut soal uang—melainkan rasa tidak berdaya.
“Mira,” ucap Naya pelan, “nggak usah mikirin itu.”
Mira mengangkat wajahnya. “Tapi Mbak—”
“Kalau memang mau membalas,” potong Naya tenang, “cukup doakan saya saja.”
“Doakan apa, Mbak?” tanya Mira refleks.
Naya terdiam sejenak, lalu menjawab tanpa ragu, seolah kalimat itu sudah lama ingin keluar.
“Doakan saya cepat punya keturunan.”
Mira tercekat.
“Mb… Mbak belum punya anak?”
Naya mengangguk pelan. “Sudah empat tahun menikah.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka, sunyi namun berat. Mira menunduk, dadanya terasa penuh oleh perasaan yang tak terucap.
“Yang penting sekarang Rafi sembuh dulu,” ucap Naya pelan, menatap anak kecil itu.
Beberapa saat kemudian, Naya duduk kembali. Pandangannya masih tertuju pada Rafi yang tertidur.
“Rafi anak yang kuat,” katanya.
“Iya, Mbak,” jawab Mira. “Dari kecil memang jarang ngeluh.”
Hening kembali turun.
“Mira,” panggil Naya hati-hati. “Boleh saya tanya satu hal?”
“Iya, Mbak.”
“Kamu sendiri terus di sini,” ucap Naya pelan. “Suami kamu ke mana?”
Mira membeku. Tangannya meremas ujung bajunya lebih kuat.
“Saya memang nggak punya suami,” jawabnya akhirnya. “Suami saya… sudah meninggal.”
Naya terdiam.
Namun bagi Mira, lelaki itu sudah lama mati—bukan karena kematian, melainkan karena memilih pergi dan hidup lain. Menghilang tanpa tanggung jawab, meninggalkan Mira dan anak yang bahkan nyaris tidak diakui.
Dalam hidupnya, ia berdiri sendiri, tanpa status, tanpa perlindungan, hanya membawa Rafi dan sisa keberanian.
“Maaf,” suara Naya terdengar pelan. “Saya nggak bermaksud—”
“Nggak apa-apa, Mbak,” potong Mira. “Saya sudah biasa.”
Kalimat itu justru membuat dada Naya semakin sesak. Sudah biasa bukan berarti tidak sakit.
Pandangan Naya kembali tertuju pada Rafi. Ada rasa aneh yang sulit ia jelaskan.
“Rafi mirip kamu,” ucapnya akhirnya.
Mira tersenyum kecil. “Banyak yang bilang begitu.”
Namun dalam hatinya, ia tahu: Rafi sangat mirip ayahnya.
Naya melihat jam di ponselnya. Ia berdiri perlahan.
“Saya harus pulang.”
“Terima kasih, Mbak,” ucap Mira lirih.
Sebelum pergi, Naya mendekat ke ranjang kecil itu. Tangannya mengusap lembut kepala Rafi.
“Cepat sembuh ya, Nak.”
Di parkiran rumah sakit, Naya duduk lama di dalam mobil sebelum menyalakan mesin. Bayangan wajah Rafi kembali muncul.
“Kenapa aku begini…” gumamnya pelan.
Mobil melaju meninggalkan rumah sakit. Dalam perjalanan pulang, pikirannya penuh—tentang anak, tentang kehilangan, tentang doa yang ia titipkan pada orang asing.
Di ruang perawatan, Mira menggenggam tangan kecil Rafi dengan erat.
“Terima kasih, Mbak Naya,” bisiknya.
Di tempat lain, Sagara duduk di ruang kerjanya, menatap kosong ke luar jendela. Nama Naya kembali terlintas di kepalanya—bukan sebagai rasa penasaran, melainkan perasaan bahwa ada sesuatu yang belum selesai.
Malam itu, Naya tiba di rumah dalam keadaan lelah. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan. Tangannya refleks menyentuh perutnya sendiri, lalu segera ia turunkan.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya, doa itu terasa lebih berat dari biasanya.
...****************...
Selamat siang readers selamat membaca...
Like komennya dong terimakasih..