NovelToon NovelToon
Janda Cantik Kesayangan CEO Tampan

Janda Cantik Kesayangan CEO Tampan

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Janda / Tamat
Popularitas:807k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Dokter itu menghela napas berat, seolah memikul beban dunia di pundaknya. "Tapi kondisi Nona Nafiza sangat mengkhawatirkan. Kami menduga ada komplikasi serius akibat Gastritis Kronis atau peradangan lambung kronis yang dideritanya," jelasnya dengan nada serius, suaranya nyaris berbisik.

Umi Maryam mengerutkan kening, kebingungan terpancar jelas di wajahnya. "Gastritis? Nafiza memang punya riwayat sakit lambung, Dokter. Tapi, apa hubungannya dengan kondisinya sekarang?" tanyanya dengan suara cemas, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Dokter menjelaskan dengan lebih rinci, berusaha menyederhanakan istilah medis yang rumit. "Gastritis kronis bisa menyebabkan lapisan pelindung lambung menipis, sehingga lambung lebih rentan terhadap asam. Stres berat, pola makan yang tidak teratur, dan kurangnya istirahat bisa memicu produksi asam lambung berlebihan, yang akhirnya memperparah peradangan dan menyebabkan luka atau tukak pada lambung. Dalam kasus Nona Nafiza, kami menduga stres yang dialaminya telah memicu perdarahan internal akibat tukak lambung yang pecah. Stres adalah pemicu utama dalam kasus ini."

Abi Nafiza terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia mencerna informasi yang baru saja ia dengar, menyalahkan dirinya sendiri karena kurang memperhatikan putrinya. Ia teringat betapa sering putrinya mengeluh sakit perut dan mual, terutama saat menghadapi masalah. Sekarang, ia menyadari bahwa itu adalah sinyal bahaya yang diabaikannya.

"Perdarahan internal? Apa itu sangat berbahaya, Dokter?" tanya Abi Nafiza dengan nada khawatir, suaranya bergetar.

Dokter mengangguk, ekspresinya semakin serius. "Sangat berbahaya, Pak. Perdarahan internal bisa menyebabkan kehilangan darah yang signifikan, yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Kami juga menemukan adanya peritonitis atau peradangan pada lapisan perut, yang disebabkan oleh kebocoran isi lambung ke dalam rongga perut. Ini adalah situasi yang sangat kritis."

Zahra mengepalkan tangannya, menahan amarah yang membara di dadanya. Ia tahu betul penderitaan yang dialami kakaknya selama ini. Ia tahu betul bagaimana Farhan dan Riana telah menyakiti hati kakaknya, yang tanpa disadari memperburuk kondisi kesehatannya. Ia akan memberikan mereka pelajaran berharga atas apa yang telah mereka lakukan.

"Lalu, apa yang bisa kami lakukan, Dokter? Apa ada harapan untuk kesembuhan Nafiza?" tanya Umi Maryam dengan air mata yang kembali membasahi pipinya, suaranya tercekat.

Dokter mencoba memberikan semangat, meskipun hatinya sendiri merasa berat. "Kami akan melakukan transfusi darah untuk mengganti darah yang hilang. Kami juga akan memberikan obat-obatan untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi produksi asam lambung. Selain itu, kami akan melakukan operasi untuk memperbaiki tukak lambung yang pecah dan membersihkan rongga perut dari infeksi."

"Lakukan apa saja, Dokter. Asalkan putri kami bisa sembuh dan kembali tersenyum," kata Abi Nafiza dengan nada penuh tekad, matanya berkaca-kaca.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak, Bu. Tapi, kami juga harus realistis. Kondisinya sangat kritis dan operasi ini sangat berisiko. Ada kemungkinan terjadi komplikasi selama operasi, seperti infeksi, gagal organ, bahkan bisa mengancam nyawanya," jelas dokter dengan nada hati-hati, menyadari bahwa ia sedang menyampaikan kabar buruk.

Umi Maryam terisak mendengar penjelasan dokter. Ia memeluk Zahra erat-erat, mencoba mencari kekuatan di tengah keputusasaan. "Ya Allah, kuatkanlah kami. Selamatkanlah putri kami," bisik Umi Maryam dalam hati, berharap keajaiban akan datang dan menyelamatkan Nafiza dari maut.

Di luar, di ruang tunggu ICU, waktu seolah berhenti berputar. Jarum jam di dinding berdetak tanpa ampun, mengingatkan mereka akan detik-detik yang berharga. Lantai vinyl berwarna pucat memantulkan cahaya lampu yang dingin, menciptakan ilusi genangan air mata yang tak berujung. Suasana di ruangan itu terasa berat dan penuh dengan kecemasan.

Di sudut ruangan, seorang petugas kebersihan dengan lesu mengepel lantai, gerakan tangannya tampak tanpa semangat. Aroma karbol yang menyengat bercampur dengan bau obat-obatan yang menusuk hidung, menciptakan perpaduan aroma yang tidak menyenangkan. Seorang anak kecil menggenggam erat boneka beruangnya, matanya memerah karena menangis, sesekali terisak dalam pelukan ibunya. Mereka semua terjebak dalam labirin keputusasaan.

Di meja informasi, seorang perawat dengan wajah lelah menjawab pertanyaan dari keluarga pasien dengan nada datar, namun tetap berusaha memberikan senyuman yang menenangkan. Di balik kaca jendela, terlihat lalu lalang mobil ambulans dengan sirine yang meraung-raung, membawa harapan dan kecemasan bagi keluarga yang menanti. Setiap suara sirine adalah pengingat akan rapuhnya kehidupan.

Seorang dokter muda dengan stetoskop tergantung di lehernya berjalan tergesa-gesa, raut wajahnya menggambarkan beban tanggung jawab yang besar. Di papan pengumuman, tertempel kertas-kertas berisi informasi tentang jadwal besuk, peraturan rumah sakit, dan nomor telepon penting, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalam sana. Ruang tunggu ICU adalah tempat di mana harapan dan kecemasan bertemu.

Di dalam ruang ICU, Nafiza terbaring lemah tak berdaya. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya dipenuhi selang dan kabel yang terhubung ke mesin-mesin yang berkedip-kedip. Monitor di samping tempat tidurnya menampilkan grafik detak jantung dan tekanan darah yang naik turun, menandakan perjuangan keras yang sedang dilakukannya. Bau alkohol dan obat-obatan menusuk hidung, bercampur dengan bau darah dan keringat yang menyengat. Ia merasa tubuhnya semakin lemah, namun ia berusaha untuk tetap bertahan.

"Ya Allah, jika memang ini saatnya, aku ikhlas. Tapi, berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi semuanya," lirih Nafiza dalam hati, berharap ia bisa melewati cobaan ini dengan selamat. Ia memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.

Bersambung...

1
Myself 05
.
Farida Dalle
Nafiza, nda noleharah ke Zayn harus ya krn Zayn kan jg gak nyangka klu dpt pelukan, haha
Sustyaningtyas
iya, harusnya kan kaget si zyan
Nina Sani
hi kak, kenalin aku Nina Sani, Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik. Inget2 judul Novelnya ya kak MANISNYA SI BOS NARSIS.
Luvvv
Nurlaila Hasan
cakeeeep👍
Amiera Syaqilla
hello author👋🏻
riniandara: hy juga kak
total 1 replies
Titien Prawiro
Enak ya Farhan penyesalanmu seumur hidup. baru juga jadi manager saja sdh banyak tingkah. nikmati saja penyesalanmu.
Titien Prawiro
Ceritanya dipercepat.
Titien Prawiro
Terus gimana ceritanya setelah Larissa dibebaskan sama Zayn
Titien Prawiro
Kalau Larissa tdk km masukkan ke sel, dikiranya kamu kasihan, kasih pelajaran yg sakit buat Larissa. dia juga obral wc.
Titien Prawiro
Bawa pengawal4orang gitu
Titien Prawiro
Lebih bagus pakai jilbab, cadar bukannya dipakai d Arab?
Titien Prawiro
Bawa bodyguard Zayin.
Titien Prawiro
Nyesal kan, makanya jgan gagabah talak3, kamu pikir kamu pintar Farhan. percuma kerja kantoran otak didengkul.
Titien Prawiro
Farhan kamu cerdas dikit dong, sadap tuh HP nya Riana, Riana tdk dgn km saja tidurnya.
Titien Prawiro
Nafiza jodohkan sama Zayn thor
Titien Prawiro
Semangat Nafiza harus sembuh.
Titien Prawiro
Kenapa tdk menanyakan ke Umi Maryam saja, kenapa harus selidiki.
Titien Prawiro
Raini atau Riani namanya ganti2
Titien Prawiro
Nikah sama orang lain, terus dicerai, kalau suaminya yg baru mau ceraikan Nafiza, kalau tdk bagaimana,?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!