NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Ruang Ajaib / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:286.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

TAMAT SERI 1 - Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

NANTIKAN SERI 2 - Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Segera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konsekuensi dari Pilihan Logis

Di halaman tanah yang biasanya sepi, kini berkerumun ibu-ibu tetangga yang wajahnya familier.

Mereka adalah orang-orang yang sama yang seminggu lalu mencibir saat Sekar lewat membawa pupuk kandang.

Namun, pagi ini, wajah-wajah itu dihiasi senyum semanis madu, seolah topeng kebencian mereka luntur terkena air hujan semalam.

"Mbak Sekar! Oalah, Nduk, sudah bangun tho?" seru Bu Tejo, tetangga yang paling hobi membicarakan keburukan keluarga Rahayu.

Di tangannya, Bu Tejo menenteng rantang seng susun tiga.

"Ini lho, Bude bikin gudeg krecek. Ingat Ibu Rahayu, pasti suka."

Sekar melangkah keluar. Kakinya menapak tanah dingin tanpa alas.

Ia menatap kerumunan itu dengan tatapan datar.

Otak profesornya langsung bekerja, membedah fenomena sosial di hadapannya.

Fawning response.

Sebuah mekanisme pertahanan psikologis di mana seseorang berusaha menyenangkan pihak yang dianggap memiliki kekuasaan atau ancaman lebih besar demi keamanan diri.

Mobil sedan berplat Keraton kemarin sore jelas telah mengubah hierarki sosial di desa ini secara instan.

"Matur nuwun, Bu Tejo," jawab Sekar sopan, namun tanpa kehangatan. "Ibu sedang di belakang."

"Wah, hebat ya sekarang Sekar. Bisa kerja sama sama orang Keraton," timpal tetangga lain, Bu Warsi, sambil menyodorkan seplastik pisang goreng panas.

"Nanti kalau butuh tenaga buat panen, panggil anak saya saja ya, Nduk. Jangan sungkan."

Sekar menerima bungkusan plastik itu. Minyak gorengnya menempel di ujung jari, terasa licin dan sedikit menjijikkan.

"Inggih, Bu. Nanti saya pertimbangkan," jawab Sekar singkat.

Ia tidak mengusir mereka.

Dalam kalkulasi bisnis, musuh yang berubah menjadi penjilat lebih mudah dikendalikan daripada musuh yang menyerang terang-terangan.

Namun, euforia semu ini membuat perut Sekar mual.

Manusia bisa berubah 180 derajat hanya karena selembar stiker lambang keraton di kap mobil.

Di tengah kerumunan ibu-ibu yang berebut perhatian itu, sebuah Toyota Fortuner hitam perlahan menepi.

Sosok Aryasatya turun dari kursi pengemudi. Hari ini ia mengenakan kemeja linen berwarna beige yang digulung sesiku dan celana chino, terlihat santai namun tetap memancarkan aura 'orang kota' yang mahal. Kamera DSLR tergantung di lehernya.

Ibu-ibu desa seketika minggir, memberi jalan bak membelah lautan. Mereka menunduk malu-malu, terpesona pada ketampanan sang "konsultan".

"Selamat pagi," sapa Arya ramah pada warga, senyumnya sopan dan terukur.

"Pagi, Den Bagus..." jawab ibu-ibu itu serempak, nadanya mendayu.

Sekar menghela napas panjang. Ia meletakkan rantang dan pisang goreng di lincak bambu.

"Mas Arya," sapa Sekar. "Pagi-pagi sudah sampai sini?"

"Ada hal teknis soal kontrak yang harus kita bahas. Mumpung saya lewat," dusta Arya. Padahal ia sengaja memutar jalan lima kilometer hanya untuk melihat Sekar.

"Bisa bicara sebentar? Di tempat yang agak sepi?" tanya Arya, melirik kerumunan yang masih pasang telinga.

Sekar mengangguk. "Mari ke dekat pematang bukit."

Mereka berjalan menjauh dari gubuk, menuju area lahan tandus yang kini mulai menghijau oleh tanaman cabai rawit. Angin bukit berhembus kencang, menerbangkan ujung rambut Sekar yang diikat asal.

Arya mengeluarkan tablet dari tas selempangnya.

"Sekar, aku sudah hitung ulang kuota permintaan Keraton," Arya membuka percakapan, wajahnya berubah serius.

"Permintaan untuk bulan depan naik tiga kali lipat. Dapur istana mau Melon Crown dan Beras Mentik kamu jadi menu tetap jamuan tamu negara."

Sekar mengernyitkan dahi. "Tiga kali lipat? Lahan saya di sini cuma lima ratus meter, Mas. Tidak akan cukup untuk rotasi tanam."

Ia tahu kapasitas Ruang Spasialnya tak terbatas, tapi ia tidak mungkin mengeluarkan hasil panen berton-ton dari gubuk kecil tanpa menimbulkan kecurigaan.

Hukum kekekalan massa tetap berlaku di mata publik. Input dan output harus masuk akal.

"Nah, itu yang mau aku tawarkan," kata Arya antusias. Matanya berbinar, merasa punya solusi brilian.

"Aku punya kenalan dosen senior di Fakultas Pertanian UGM. Mereka punya laboratorium kultur jaringan dan greenhouse modern yang luasnya berhektar-hektar."

Jantung Sekar berhenti berdetak sedetik.

"Maksud Mas Arya?"

"Kita bisa kerja sama dengan lab universitas," jelas Arya, langkahnya semakin mendekat, antusiasmenya meluap.

"Kamu bawa sampel tanah racikanmu, kita analisis di lab. Kita cari tahu formula mikrobanya, lalu kita replikasi di lahan universitas."

Arya merasa ini ide jenius. "Dengan begitu, produksimu bisa massal. Kamu tidak perlu capek mencangkul di tanah berbatu ini. Kamu tinggal jadi supervisi. Kita bisa suplai bukan cuma Keraton, tapi seluruh hotel bintang lima di Jogja!"

Bagi Arya, ini adalah bentuk dukungan. Ia ingin mengangkat beban dari pundak gadis yang dikaguminya.

Namun, di telinga Sekar, tawaran itu terdengar seperti lonceng kematian.

Laboratorium? Analisis tanah? Mata Profesor Sekar menyipit tajam. Tanah di dalam Ruang Spasial memiliki komposisi unsur hara yang tidak ada di tabel periodik bumi biasa.

Jika tanah itu masuk ke bawah mikroskop elektron atau diuji dengan spektrometri massa, para ilmuwan akan menemukan anomali isotop yang tidak bisa dijelaskan secara logika bumi.

Unexplainable data.

Itu akan memicu pertanyaan. Penyelidikan.

Dan akhirnya, rahasia terbesarnya akan terancam. Dia bisa dianggap alien, atau dituduh melakukan bioterorisme.

"Tidak," potong Sekar cepat. Suaranya dingin dan keras, memutus antusiasme Arya seketika.

Arya terdiam, senyumnya menggantung canggung. "Sekar? Kenapa? Ini kesempatan besar. Biayanya aku yang tanggung."

"Saya bilang tidak, Mas," ulang Sekar, kali ini dengan penekanan di setiap suku kata.

Ia memutar tubuh, menghadap Arya sepenuhnya. Tubuh kecilnya menegang defensif.

"Tanah ini... metode saya... itu rahasia dagang saya. Saya tidak butuh laboratorium orang lain untuk mengacak-acak resep saya."

Arya mengerutkan kening, sedikit tersinggung. Niat baiknya disalahartikan.

"Sekar, aku bukan mau mencuri resepmu. Aku mau bantu. Kamu sendirian mengurus ini semua. Pak Man sudah tua. Ibumu sakit-sakitan. Sampai kapan kamu mau kerja manual seperti ini?"

"Itu urusan saya," sergah Sekar tajam.

Rasa takut rahasianya terbongkar memicu respons agresif pada dirinya.

"Mas Arya itu konsultan pembeli. Tugas Mas hanya memastikan barang sampai di dapur istana dengan kualitas baik. Bagaimana cara saya menanam, di mana saya menanam, itu otoritas saya."

Suasana menjadi hening dan tidak nyaman.

Desir angin yang tadi terasa sejuk, kini terasa menusuk.

Arya menatap gadis di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Ada tembok tebal yang tiba-tiba dibangun Sekar dalam hitungan detik.

"Aku pikir kita teman," ujar Arya pelan, nada suaranya menyiratkan kekecewaan. "Aku pikir aku partner kamu."

Sekar mengepalkan tangannya di samping tubuh. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, menciptakan rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa bersalah di hatinya.

Dia tahu Arya tulus.

Tapi ketulusan Arya adalah ancaman bagi kelangsungan hidupnya.

Sekar mengangkat dagunya, menatap mata Arya dengan sorot profesional yang dingin, mematikan segala bentuk kehangatan yang sempat tumbuh di antara mereka.

"Kita memang partner, Mas. Partner bisnis," ucap Sekar tegas.

"Ada kontrak yang mengikat kita. Di luar isi kertas itu... tolong jangan campuri urusan dapur saya. Dan jangan melewati batas."

Arya tertegun. Kalimat itu menohok ulu hatinya lebih keras daripada pukulan fisik.

Dia mundur selangkah, memberi jarak fisik yang mewakili jarak emosional yang baru saja tercipta.

Wajah tampan itu mengeras. Rahangnya mengatup rapat, menahan ego prianya yang terluka.

"Baik," kata Arya akhirnya. Suaranya formal, kehilangan nada jenaka yang biasa ia gunakan.

"Saya mengerti posisi saya, Nona Sekar. Maaf kalau saya lancang."

Arya memasukkan kembali tabletnya ke dalam tas dengan gerakan kaku.

"Kalau begitu, saya permisi. Truk pengangkut akan datang lusa sesuai jadwal."

Tanpa menunggu jawaban, Arya berbalik badan.

Ia berjalan cepat kembali menuju mobilnya, langkahnya lebar dan tegas, meninggalkan debu yang mengepul di belakang tumit sepatunya.

Sekar berdiri mematung di tengah ladang cabai. Ia melihat punggung tegap itu menjauh, lalu masuk ke dalam mobil. Mesin menderu, dan kendaraan besar itu melaju pergi tanpa klakson perpisahan.

Tangan Sekar perlahan melemas.

Rasa sesak menghimpit dadanya. Bukan karena asma, tapi karena konsekuensi dari pilihan logis yang harus ia ambil.

Profesor Sekar tahu dia baru saja melakukan langkah taktis yang benar untuk melindungi aset, tapi sisi manusiawi Sekar Wening merasa ada sesuatu yang retak di dalam sana.

"Lebih baik dianggap sombong daripada berakhir jadi objek penelitian di meja bedah," gumam Sekar lirih, meyakinkan dirinya sendiri.

1
hanachi_🌷
setau aku tehnik irigasi tetes memakai pompa air, jadi butuh listrik. dan jarang sekali dipakai di indonesia karena investasinya sangatlah mahal.
hanachi_🌷
kalau bilang begini lebih ga masuk akal lagi, Sekar. duuhh. sepetak tanah menghasilkan ratusan kilo beras ?
hanachi_🌷
ya tapi kan Arya sendiri sudah melihat berasnya dan dia juga yang pertama berani membeli dengan harga sangat tinggi.
hanachi_🌷
ga ditanya darimana beras ratusan kilo yang kemaren kemaren dijual ? ditanam di lahan mana kalau Sekar aja baru beli lahan ?
hanachi_🌷
ada akses jalan yang masih bisa dilewati SUV padahal lahannya terpencil tersembunyi.
hanachi_🌷
intinya kalau ga ada ruang rahasia, air spritual, Sekar akan tetap mengalami kesulitan dalam hidup barunya 😁
hanachi_🌷
tapi bambu itu kan ada ruas ruasnya. dan di ruas itu dalamnya buntu 🤔
hanachi_🌷
murah banget ya 200 meter persegi harganya cuma 50 juta.
hanachi_🌷
ah ga juga. kan di pasar tradisional juga banyak beras kualitas premium.
hanachi_🌷
mungkin aromanya mirip nasi dari beras menthik susu ya.
hanachi_🌷
soalnya dia ga perlu mikir gimana susahnya nyuci baju yang super kotor.
INeeTha: Bener juga🤣
total 1 replies
hanachi_🌷
kalau terjadi perubahan drastis hanya dalam waktu satu bulan, apa ga terlalu mencurigakan ?
hanachi_🌷
bukannya ada bintik kemerahan seperti batu delima di dalamnya. aku mikirnya bakal jadi kayak bubur beras merah kalau dimasak.
hanachi_🌷
solusi tercepat menyelamatkan ibunya kenapa ga dikasih minum air ajaib itu ? kan airnya bisa dibawa ke dunia nyata.
hanachi_🌷
menurutku tokoh yang paling bikin kesel di sini justru Rahayu.
hanachi_🌷
masih punya cincin kawin emas tapi memilih anaknya hidup kelaparan. padahal kalau dijual mungkin duitnya bisa untuk modal memulai hidup baru. minggat dari keluarga toxic. gila sih. secinta itu kah sama suami laknatnya.
hanachi_🌷
emang biji gabah yang ditanam itu dari jenis apa ?
hanachi_🌷
dih ngomongin dosa orang lain. ga punya kaca kah di rumah ?
hanachi_🌷
apakah seperti Le Mineral yang ada manis manisnya 😊
hanachi_🌷
ini jaman modern tapi kenapa masih pakai ember kayu ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!