Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 16
Dengan kecepatan penuh Doni melajukan mobil yang dikendarainya, dia terus sibuk menghubungi nomor Lin Fengyin, yang saat ini tengah terlelap dalam tidurnya.
Begitu pintu lift terbuka, Doni segera lari menuju ruang rawat Putri dimana tuannya itu berada. Dengan hati-hati Doni menepuk bahu Lin untuk membangunkannya.
" Tuan.. Tuan.. " Panggilnya lirih.
Merasakan ada yang memanggilnya, Lin segera membuka kedua matanya dan mengerjapkannya.
" Maaf tuan, saya mengganggu waktu istirahat tuan. Tapi... " Kata Doni terpotong.
" Saya tertidur ? Jam berapa sekarang ?" Tanya Lin memotong pembicaraan Doni.
" Jam 02.00 pagi tuan, maaf ada keadaan darurat, tuan. " Jawab Doni menjelaskan.
" Ah.. Saatnya pulang ya ?" Kata Lin mengabaikan perkataan Doni.
" Bar kita didaerah selatan diserang geng Ular Suci, tuan. " Ujar Doni berusaha menjelaskan keadaan yang sedang terjadi saat ini.
" Apa ?! Sial !! Bagaimana keadaan sekarang ?" Tanya Lin panik.
" Kita sudah terdesak. Bahkan Wang Chunying tertembak. Mereka ingin merebut posisi Wang Chunying. " Jelas Doni.
Lin menundukkan kepalanya lalu membelai rambut Putri.
" Saya harus pergi sekarang, kamu istirhtlah. " Ujarnya kemudian. " Ayo kita berangkat. " Kata Lin seraya melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
Sesampainya di Bar, Lin dan Doni segera turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam Bar yang sudah porak poranda itu. Diluar sudah dijaga oleh orang-orang dari geng Ular Suci.
" Tuan Sheng sudah menunggu kalian didalam. " Kata penjaga itu meremehkan.
" Huh !!"
Doni yang geram hanya bisa menahan amarhnya karena ditahn oleh Lin. Jika tidak, mungkin kedua orang itu sudah harus segera dimakamkan.
Didalam hedung itu keadaannya sudah sangta kacau dan berantakan. Anak buahnya tertunduk ketakutan dengan luka-luka ditubuh mereka. Sementara orang-orang dari Ular Suci tersenyum penuh ejek dan meremehkan sambil memegang botol bir ataupun anggur ditangan mereka.
Terdengar suara tawa menghina dari lantai dua yang sangat memuakkan. Dengan tenang Lin menaiki anak tangga satu persatu untuk menemui orang yang memiliki suara tersebut.
Seorang pria paruh baya dengan setelan serba putih dari topi sampai sepatu, duduk dengan sombongnya dihadapan Lin. Dikanan kirinya dua orang wanita penghibur duduk dengan wajah ketakutan.
Melihat kedatangan Lin, pria baruh baya yang bernama Sheng Kong yang merupakan ketua geng Ular Suci, segera berdiri dan merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar penuh kesombongan.
" Tuan muda Lin Fengyin, akhirnya anda datang juga. " Serunya penuh kepercayaan diri.
" Apa maksudmu ini ?!" Tanya Lin dingin.
" Maksud ? Kau menanyakan maksudku ?" Tanyanya sambil menunjuk Lin dengan cerutu yang terselip diantara jarinya. " Tentu saja untuk bertemu denganmu. " Lanjutnya.
" Inikah cara orang-orang suci bertamu ?" Sindir Lin.
" Hahahahaa.. Kau masih saja dingin, Lin. Duduklah, mari kita mengobrol-ngobrol. " Katanya sok berkuasa.
Setelah mengatakan itu, anak buahnya menyediakan kursi untuk Lin duduki. Kemudian Lin duduk dengan menyilangkan kakinya. Diliriknya Wang Chunying yang berdiri disampingnya meringis kesakitan. Nampaknya akibat luka tembak dilengan kirinya.
" Ah. Maafkan anak buahku yang terlalu kasar saat menyapa. " Ujar Sheng Kong kemudian.
" Apa geng Cacing mu itu sudah sangat miskin sampai harus merampas usaha orang lain ?" Tanya Lin tajam.
" Kata-katamu sungguh tajam sekali, Lin. Saya sangat terhina. " Jawab Sheng sinis. " Saya sangat menyukai bir kalian, anggur kalian, wanita-wanita ini, dan karena bar ini berada di daerah selatan yang merupakan termasuk kedalam daerah saya, jadi saya memutuskan untuk mengambil alih bar ini. " Jawab Sheng sombong.
" Bar ini sudah saya bangun dari 10 tahun lalu sejak saya masih kuliah, dan saya sudah mendapatkan izin dari kelompok pemimpin daerah selatan ini. Jadi menurut saya, anda tidak memiliki hak untuk merebut kepemilikan atas bar ini. " Jawab Lin tegas.
" Hahahahaha... Itu sudah 10 tahun lalu. Sekarang, Ular Suci lah pemimpin daerah selatan ini. Dan saya berhak memilikinya. " Banth Sheng.
" Saya menolak. " Jawab Lin tegas.
" Kau ? Kau tidak bisa menolakku, bocah !!" Bentak Sheng sambil menggebrak meja.
" Saya bisa !" Balas Lin.
" Kau jangan sombong, anak buahmu sudah tunduk dibawah kaki kami, dengan apa kau mau melawan kami, hah !?" Teriaknya
Seketika anak buah buah Sheng dibelakang Lin langsung menodongkan pistol kearah Lin dan Doni, juga Wang Chunying. Tapi Lin hanya tersenyum dingin.
" Jangan bermimpi untuk mengalahkanku, meski hanya tinggal kami berdua saja, tuan Sheng. " Ujar Lin dingin.
Dengan cepat Doni langsung melayangkan tinju dan tendangannya untuk anak buah Sheng tanpa bisa berkutik.
Mendengar suara perkelahian, anak buah Sheng dilantai bawah bermaksud naik keatas, namun tanpa disangka, ank buah Lin yang sedari tadi menunduk ketakutan telah mendapatkan semangat mereka lagi dan menghadang mereka yang ingin kelantai atas untuk menyerang tuan mereka.
Pertarungan pun kembali terjadi diantara bawahan kedua pemimpin ini. Tak terkecuali Donk dan Wang Chunying yang meski telah terluka namun tetap masuk kedalam pertarungan.
Sebagai tameng pertahanan, Doni dan Wang Chunyin harus memastikan keselamatan tuan mereka dan mempertaruhkan nyawa bila perlu.
Merasa mulai terdesak, Sheng memerintahkan salah satu bodyguardnya yang sedari tadi hanya berdiri dibelakangnya untuk turun tangan menghajar Lin.
Mendapat lawan tangguh, bukan berarti membiat Lin gentar. Dia menghadapi bodyguard yang bertubuh dua kali lebih kekar dari tubuhnya dengan tenang dan pasti. Pada akhirnya Lin memenangkan pertarungan itu.
Tak sampai disitu, Sheng kembali memerintahkan bodyguard keduanya untuk turun tangan. Namun lagi-lagi Lin mampu mengalahkannya.
" Anda sudah kalah, tuan Sheng. " Ujar Lin sembari mengusap darah dibibirnya.
" Tidak ! Aku tidak pernah kalah !" Teriak Sheng tak terima.
" Lihatlah. " Ujar Lin sambil merentangkan tangannya untuk menunjukkan bahwa anak buah yang Sheng bawa telah kalah.
" Sial !" Umpat Sheng geram.
Lin tersenyum dingin sembari mengulurkan tangannya kearah pintu untuk mempersilahkan Sheng pergi.
" Saya akan menganggap kejadian hari ini impas dengan anda tak perlu lagi mengusik saya ataupun usaha saya yang lainnya. " Ujar Lin memperingati.
" Jangan terlalu sombong kau bocah !" Bentak Sheng.
" Hahaha.. Saya bisa saja membunuhmu sekarang, disini. Saya juga bisa memastikan takkan ada yang bisa mengorek tentang kematianmu. " Jawab Lin mengancam.
Dengan membawa amarah dan takut, Sheng pergi meninggalkan tempat itu diikuti anak buahnya yang terluka yang masih mampu berjalan. Sisanya tergeletak tak berdaya dilantai.
Meski banyak yang terluka, tapi akhirnya masalah dini hari ini pun selesi dengan kemenangan. Akan tetapi..
" DOR !!"
Terima kasih sudah mampir dan baca, sobat readers.. Jangan lupa like komen dan votenya ya 😘😘😘