"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pagi pun tiba. Sinar matahari mulai memantul di atas permukaan laut Mediterania yang tenang, menembus kaca jendela kabin yang mewah. Namun, di dalam kamar, suasana masih sangat sunyi. Arkan, yang biasanya sudah berdiri tegak dengan seragam lengkap pada pukul enam pagi, kini masih terbungkus selimut tebal, tidur dengan posisi memeluk guling sangat erat.
Di depan pintu kabin, Gerald sudah berdiri dengan wajah gelisah.
Ia melirik jam tangannya berkali-kali. Para perwira navigasi sudah menunggu di anjungan untuk rapat koordinasi jalur pelayaran menuju pelabuhan berikutnya.
Tok! Tok! Tok!
"Kapten? Maaf mengganggu, Kapten. Rapat navigasi sudah akan dimulai sepuluh menit lagi," panggil Gerald dengan suara yang ditinggikan.
Tidak ada jawaban. Gerald menghela napas dan mencoba mengetuk lebih keras.
"Kapten, ayo bangun! Semua perwira sudah menunggu di atas!"
Di dalam kabin, Arkan hanya bergumam tidak jelas. Efek makan tiga porsi ikan bakar pada jam tiga pagi dan begadang menjaga istrinya membuat tidurnya kali ini sangat pulas.
Ia benar-benar terbuai dalam mimpi, mungkin sedang bermimpi menjadi nelayan yang memanen mangga muda di tengah laut.
Gladis, yang sebenarnya sudah bangun lebih dulu dan merasa jauh lebih segar setelah makan besar semalam, menatap suaminya dengan rasa kasihan sekaligus geli.
Ia mencoba mengguncang bahu Arkan pelan.
"Arkan, bangun, Gerald sudah memanggil," bisik Gladis.
Arkan hanya menarik selimutnya lebih tinggi, menutupi telinganya.
"Lima menit lagi, Sayang. Ikannya belum matang..." racau Arkan dalam tidurnya.
Gladis tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang sangat tidak
Ia kemudian beranjak dari tempat tidur, merapikan rambutnya, dan mengenakan bathrobe sutranya dengan anggun.
Ia melangkah menuju pintu dan membukanya sedikit.
Gerald tersentak saat melihat Gladis yang muncul, bukan Arkan.
"Oh, selamat pagi, Nyonya. Maaf jika saya membangunkan Anda, tapi Kapten harus segera ke anjungan," ucap Gerald dengan nada sungkan.
Gladis tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya Kaptenmu sedang 'pingsan' karena kekenyangan, Gerald. Dia baru tidur setelah subuh karena menemaniku mengidam."
Gerald terdiam, mencoba menahan tawa saat membayangkan Kapten Arkan yang disiplin bisa kalah oleh rasa kantuk akibat ikan bakar.
"Lalu bagaimana dengan rapatnya, Nyonya? Ada beberapa dokumen navigasi yang harus segera ditandatangani," tanya Gerald bingung.
Gladis menegakkan bahunya, matanya berbinar cerdas.
"Biarkan dia tidur satu jam lagi. Dia butuh itu. Baiklah, aku yang datang ke anjungan," ucap Gladis mantap.
"Aku akan membawa dokumennya ke sini setelah rapat, atau aku yang akan memimpin pembukaan rapatnya sementara. Sampaikan pada mereka, Nyonya Besar akan mewakili suaminya sebentar."
Gerald tertegun, lalu membungkuk hormat. "Tentu, Nyonya. Itu ide yang sangat bagus."
Gladis segera bersiap-siap. Ia ingin membuktikan bahwa istri seorang Kapten Arkan bukan hanya bisa bermanja-manja, tapi juga bisa diandalkan di saat suaminya sedang "tumbang" demi buah hati mereka.
Pintu anjungan yang berat bergeser terbuka secara otomatis.
Suasana yang tadinya bising dengan suara radio komunikasi dan gumaman para perwira navigasi seketika senyap. Semua mata tertuju ke arah pintu.
Bukan sosok Kapten Arkan dengan seragam putihnya yang gagah yang muncul, melainkan Gladis.
Ia mengenakan terusan blazer berwarna biru dongker yang rapi dengan rambut yang diikat simpul elegan ke belakang.
Meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan, sorot matanya tajam dan penuh ketenangan.
"Selamat pagi, Tuan-tuan," ucap Gladis dengan suara yang jernih namun penuh otoritas.
Para perwira, termasuk beberapa kru senior yang sudah bekerja belasan tahun di bawah komando Arkan, berdiri mematung.
Mereka saling berpandangan dengan wajah terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
"Nyonya Gladis? Di mana Kapten?" tanya salah satu perwira senior, Wakil Kapten Miller, sambil memperbaiki posisi topinya.
Gladis berjalan melangkah ke arah meja peta digital yang besar di tengah ruangan.
Ia tidak tampak canggung sedikit pun berada di antara alat-alat teknologi tinggi tersebut.
"Kapten sedang beristirahat setelah menangani urusan mendesak semalam. Saya di sini untuk mewakilinya membuka rapat pagi ini dan meninjau laporan sementara," jawab Gladis tenang.
"Gerald, tolong bagikan dokumen navigasinya."
Gerald yang berdiri di belakang Gladis segera bergerak sigap.
Ia merasa bangga melihat Nyonya besarnya menunjukkan wibawa yang luar biasa—sisi lain dari Gladis yang selama ini hanya dianggap sebagai gadis manis di samping Arkan.
"Tapi Nyonya, ini adalah teknis navigasi..." Miller mencoba menyela, ragu apakah Gladis mengerti apa yang akan dibahas.
Gladis menoleh, menatap Miller tepat di matanya tanpa rasa gentar.
"Saya tahu kita sedang menuju perairan yang memiliki arus bawah yang kuat sebelum sampai ke pelabuhan berikutnya. Saya juga tahu kita harus menyesuaikan kecepatan untuk efisiensi bahan bakar dan kenyamanan penumpang selama jam sarapan, bukan?"
Miller terdiam. Ia tidak menyangka Gladis tahu sedetail itu.
Ia lupa bahwa selama tiga bulan terakhir, Gladis sering menghabiskan waktu di samping Arkan saat suaminya sedang bekerja, mendengarkan dan belajar secara alami.
"Silakan lanjutkan presentasinya, Tuan Miller. Saya akan mencatat poin-poin penting untuk diputuskan Kapten saat ia bangun satu jam lagi. Kita tidak bisa membiarkan waktu terbuang hanya karena Kapten kita juga manusia yang butuh istirahat, benar?"
Mendengar ucapan Gladis yang tegas namun tetap menghargai suaminya, para perwira serentak membungkuk hormat.
"Baik, Nyonya. Silakan," ucap Miller akhirnya dengan nada yang kini penuh rasa hormat.
Selama empat puluh menit berikutnya, Gladis memimpin jalannya diskusi.
Ia mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan pertanyaan yang cerdas dan tepat sasaran.
Wibawanya hari itu membuktikan kepada seluruh kru anjungan bahwa ia bukan sekadar "istri Kapten", melainkan seorang wanita yang memiliki kekuatan untuk berdiri tegak di pusat kendali kapal raksasa tersebut.
Arkan tersentak bangun, jantungnya berdegup kencang saat melihat angka pada jam dinding.
"Delapan pagi?!" pekiknya tertahan.
Sebagai nakhoda yang terkenal dengan kedisiplinan tingkat tinggi, bangun di jam segini adalah sebuah "skandal" pribadi baginya.
Ia menoleh ke samping dan mendapati tempat tidurnya sudah kosong.
"Gladis? Sayang?" panggilnya, namun hanya kesunyian yang menjawab.
Dengan gerakan secepat kilat, Arkan melompat ke kamar mandi.
Ia membasuh tubuhnya dengan sabun aroma melon favorit Gladis secepat mungkin, lalu mengenakan seragam putih kebesarannya lengkap dengan tanda pangkat di bahu.
Sambil merapikan topinya, ia berlari kecil menyusuri koridor, pikirannya dipenuhi rasa bersalah sekaligus cemas tentang apa yang terjadi di anjungan tanpa kehadirannya.
Begitu sampai di pintu otomatis anjungan, Arkan memperlambat langkahnya.
Ia masuk dengan sangat tenang, hampir tanpa suara, bermaksud untuk langsung mengambil alih komando. Namun, pemandangan di depannya membuat langkah Arkan terhenti seketika.
Di tengah ruangan, dikelilingi oleh para perwira navigasi yang biasanya berwajah kaku dan sulit dibuat terkesan, berdiri Gladis.
Arkan terpaku di balik pilar kendali, menyelinap dari pandangan agar tidak mengganggu.
Dari kejauhan, ia melihat istrinya sedang menunjuk ke arah radar navigasi.
"Jika arus bawah di koordinat ini meningkat, kita harus mengambil jalur luar sejauh dua mil laut. Itu lebih aman bagi kestabilan kapal di dek bawah, terutama saat jam sarapan," suara Gladis terdengar tenang, namun penuh penekanan yang mutlak.
Arkan melihat Wakil Kapten Miller—orang yang paling sulit dibuat tunduk—mengangguk dengan raut wajah penuh hormat.
"Saran yang sangat masuk akal, Nyonya. Kami akan segera menyesuaikan plot jalur."
Melihat itu, Arkan tertegun. Ada rasa bangga yang membuncah di dadanya, jauh lebih besar daripada rasa bangga saat ia pertama kali mendapatkan lisensi kaptennya.
Istrinya, yang semalam menangis tanpa alasan di pelukannya dan yang jam tiga pagi tadi makan ikan bakar dengan lahap, kini berdiri seperti seorang ratu yang sedang mengendalikan kerajaan di tengah laut.
"Dia luar biasa," bisik Arkan pada dirinya sendiri. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Ia memutuskan untuk tetap diam di sana selama beberapa saat, menikmati pemandangan bagaimana Gladis, wanita yang tengah mengandung anaknya, menunjukkan wibawa yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Gerald yang menyadari kehadiran Arkan dari sudut mata, hendak mendekat, namun Arkan memberikan isyarat tangan agar Gerald tetap diam. Arkan ingin membiarkan Gladis menyelesaikan "panggungnya" sendiri.
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys