NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Hannah Masih Ragu

Malam itu, Jakarta diguyur hujan rintik-rintik yang awet. Udara terasa lembap dan sejuk, kontras dengan hiruk-pikuk kota yang biasanya panas. Mobil SUV hitam milik Akbar meluncur pelan membelah jalanan basah, membawa sepasang suami istri itu menuju sebuah destinasi makan malam.

Bukan hotel bintang lima yang mewah, bukan pula rooftop kekinian yang bising. Akbar membawa Hannah ke sebuah restoran klasik bernama "Menteng Heritage".

Restoran itu menempati sebuah bangunan tua peninggalan Belanda yang terawat apik. Dindingnya bercat putih gading dengan jendela-jendela tinggi berteralis kayu. Di dalamnya, lantai tegel bermotif kuno memberikan kesan vintage yang kental. Lampu-lampu gantung dengan cahaya kuning redup menciptakan atmosfer hangat dan privat. Alunan musik instrumental piano yang lembut mengalun samar, menyempurnakan suasana.

"Suka tempatnya?" tanya Akbar saat mereka dipandu pelayan menuju meja di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap taman basah.

Hannah mengangguk, matanya berbinar mengagumi interior ruangan. "Suka banget, Mas. Tenang. Nggak berisik kayak kafe-kafe deket kampus."

"Mas tahu kamu nggak suka tempat yang terlalu ramai. Di sini makanannya juga enak, masakan rumahan versi upgrade," jelas Akbar sambil menarik kursi untuk Hannah.

Makan malam itu berjalan dengan santai. Mereka memesan Bistik Lidah dan Sup Buntut, menu andalan restoran itu. Tidak ada pembicaraan berat soal pekerjaan atau kuliah. Mereka hanya membahas hal-hal remeh: tentang kucing liar yang sering mampir ke teras rumah, tentang Rere yang heboh, atau tentang rencana Akbar menanam pohon mangga di halaman belakang.

Hannah merasa nyaman. Sangat nyaman.

Ia menatap suaminya yang sedang memotong daging bistik dengan telaten. Di bawah cahaya lampu temaram, garis wajah Akbar terlihat lebih lembut. Kerutan lelah di dahinya seolah menghilang. Pria ini, yang tiga bulan lalu adalah orang asing baginya, kini menjadi poros dunianya.

"Kenapa lihatin Mas begitu?" tanya Akbar tiba-tiba, menangkap basah tatapan istrinya.

Hannah tersentak, pipinya merona. "Eh... enggak. Cuma mikir, Mas Akbar rapi banget makannya."

Akbar terkekeh. Ia meletakkan pisau dan garpunya, lalu menatap Hannah lekat-lekat. Tatapan itu berubah. Dari tatapan santai menjadi tatapan yang dalam dan intens, membuat jantung Hannah berdegup kencang.

Akbar mengulurkan tangannya melintasi meja, meraih tangan kiri Hannah yang tergeletak di atas taplak meja putih. Ia menggenggamnya lembut namun posesif.

"Dek," panggil Akbar, suaranya rendah.

"Iya, Mas?"

"Terima kasih ya," ucap Akbar.

"Buat apa?"

"Buat semuanya. Buat hari ini kamu mau ke kantor, buat senyum kamu pas ngadepin Annisa tadi siang... Mas bangga punya istri yang hatinya seluas kamu."

Hannah menunduk, memainkan ujung taplak meja dengan tangan kanannya. "Itu kan kewajiban Hannah, Mas."

"Bukan sekadar kewajiban," bantah Akbar halus. "Itu karena kamu memang orang baik."

Akbar mengelus punggung tangan Hannah dengan ibu jarinya. Gerakan yang sederhana, namun mengirimkan aliran listrik ke sekujur tubuh Hannah.

"Hannah..." Akbar menyebut namanya dengan nada yang berbeda. Lebih serius. "Mas mau bilang ini lagi, dan Mas harap kali ini kamu benar-benar mendengarkannya dengan hati, bukan dengan ketakutanmu."

Napas Hannah tercekat. Ia tahu apa yang akan keluar dari bibir suaminya.

"I love you," ucap Akbar mantap. Matanya mengunci manik mata Hannah, mencari celah untuk masuk ke dalam jiwa istrinya. "Mas mencintaimu, Humaira. Bukan karena terpaksa, bukan karena kasihan, tapi karena itu kamu."

Hening. Hanya suara denting sendok dari meja jauh dan alunan piano yang terdengar.

Hannah terdiam. Tiga kata itu kembali menggema di telinganya. Indah. Sangat indah. Siapa wanita yang tidak ingin dicintai suaminya?

Namun, di saat yang sama, tembok keraguan di hati Hannah kembali berdiri kokoh.

Hannah melepaskan genggaman tangan Akbar perlahan. Ia menarik tangannya, meletakkannya di pangkuan. Ia tidak berani menatap mata Akbar.

"Mas..." cicit Hannah, suaranya bergetar. "Mas yakin?"

"Sangat yakin. Kenapa kamu masih ragu?" tanya Akbar, ada nada frustrasi yang tertahan di sana, namun ia tetap sabar.

Hannah mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.

"Karena kita dijodohkan, Mas," jawab Hannah jujur. Akhirnya ia menyuarakan ketakutan terbesarnya. "Kita nikah karena janji Abah sama Papanya Mas Akbar. Kita nikah tanpa proses pacaran, tanpa saling kenal sifat asli masing-masing."

Hannah menelan ludah, menahan isak tangis agar tidak merusak suasana restoran.

"Hannah takut... Hannah takut perasaan Mas itu bukan cinta. Tapi cuma rasa tanggung jawab. Mas itu orangnya amanah banget. Mas nggak mungkin ngecewain orang tua. Jadi Mas 'memaksa' hati Mas buat nerima Hannah, buat bersikap manis sama Hannah, supaya kewajiban Mas sebagai suami gugur."

Air mata Hannah menetes satu.

"Hannah takut kalau suatu hari nanti, saat rasa tanggung jawab itu mulai berat, atau saat Mas ketemu perempuan yang beneran Mas cinta secara alami... Mas bakal sadar kalau Hannah cuma beban."

Mendengar pengakuan itu, Akbar tertegun. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang. Ternyata akar masalahnya ada di sana. Perjodohan. Hannah merasa dirinya adalah "proyek tugas" yang harus diselesaikan Akbar dengan baik, bukan sebagai "pasangan jiwa" yang dipilih.

Akbar tidak marah. Ia justru merasa kasihan. Istrinya ini terlalu banyak berpikir, terlalu takut terluka.

"Dek," panggil Akbar tenang. "Coba lihat Mas."

Hannah menatapnya dengan mata basah.

"Kamu benar. Kita memang dijodohkan. Mas nggak akan menyangkal kalau awalnya Mas menikahi kamu karena bakti sama orang tua. Itu fakta," aku Akbar jujur.

Hati Hannah mencelos mendengar pengakuan itu. Tuh kan, benar, batinnya.

"Tapi," lanjut Akbar cepat, menekan suaranya. "Itu cuma di hari pertama, Hannah. Cuma pas ijab kabul."

Akbar condong ke depan lagi.

"Cinta itu bisa tumbuh dari mana saja, Dek. Ada yang dari pacaran bertahun-tahun tapi putus juga. Ada yang dari pandangan pertama. Dan ada yang tumbuh karena kebersamaan."

"Mas..."

"Dengerin dulu," potong Akbar lembut. "Mas ini laki-laki dewasa. Mas tahu bedanya kewajiban sama keinginan. Kalau Mas cuma anggap kamu kewajiban, Mas cukup kasih kamu uang belanja, rumah, dan nafkah batin seperlunya. Selesai. Mas nggak perlu repot-repot jemput kamu ke kampus, nggak perlu nemenin kamu ngerjain tugas, nggak perlu makan cumi asin kamu sampai habis padahal perut Mas kenyang."

Akbar tersenyum tipis, teringat kejadian kotak bekal.

"Mas melakukan semua itu bukan karena disuruh Abah. Mas lakuin itu karena Mas mau lihat kamu senyum. Mas mau kamu ada di deket Mas. Perasaan ingin membahagiakan kamu itu tumbuh alami, Dek. Bukan dipaksa."

Penjelasan Akbar terdengar sangat logis dan tulus. Logika Hannah menerimanya, tapi hatinya yang peragu masih butuh waktu. Luka insecure-nya terlalu dalam untuk disembuhkan dalam satu malam makan malam.

"Beri Hannah waktu ya, Mas," pinta Hannah lirih. "Hannah mau percaya. Hannah mau banget percaya. Tapi Hannah butuh waktu buat meyakinkan diri Hannah sendiri kalau Hannah pantas buat Mas."

Akbar mengangguk mantap. Ia tidak akan memaksa. Ia tahu, memaksa bunga mekar sebelum waktunya hanya akan merusak kelopaknya.

"Ambil waktumu sebanyak yang kamu butuh, Humaira," jawab Akbar sabar. "Mas nggak akan kemana-mana. Mas akan tetap di sini, ngucapin I love you setiap hari sampai kamu bosen, sampai kamu percaya kalau itu nyata."

Akbar mengambil tisu, lalu dengan lembut menyeka air mata di pipi Hannah.

"Udah, jangan nangis. Nanti dikira pelayan Mas ngomelin kamu gara-gara tagihan makanannya mahal," canda Akbar mencoba mencairkan suasana.

Hannah tertawa kecil di sela tangisnya. "Mas Akbar ih..."

"Nah, gitu dong ketawa. Cantik," puji Akbar. "Habisin sup buntutnya, keburu dingin. Sayang lho."

Sisa makan malam itu mereka habiskan dengan suasana yang lebih ringan, meski residu pembicaraan berat tadi masih terasa.

Dalam perjalanan pulang, Hannah memandang keluar jendela mobil. Hujan sudah berhenti, menyisakan aspal yang berkilau.

Di dalam hatinya, Hannah mengakui satu hal: Akbar adalah pria terbaik yang pernah ia temui. Kesabaran suaminya nyaris tak masuk akal. Dan malam ini, meski ia belum bisa membalas ucapan cinta itu dengan lisan, Hannah berjanji dalam hati untuk mulai belajar membuka gerbang hatinya lebih lebar.

Mungkin benar kata Mas Akbar, batin Hannah. Cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Dan aku... sepertinya sudah mulai terbiasa mencintainya.

Malam itu, di kamar tidur mereka, Hannah tidak lagi memunggungi Akbar saat tidur. Ia tidur menghadap suaminya, menatap wajah lelap Akbar dalam keremangan lampu tidur, mencari jawaban atas keraguannya di setiap tarikan napas pria itu.

1
Khairanur
bagus..saya suka alur ceritanya...lanjut thor❤️
Ayusha
cinta sehidup semati udah biasa, cinta sehidup sesurga itu yang luar biasa 😍
Ayusha
hebat Annisa
Ayusha
ini yang selalu Ummahat tuntut buat para suami😄
Ayusha
wanita dengan segala prasangka nya😄
Ayusha
beraaatt mas Akbar.. yang belum Halal si Annisa sudah berani mencintai dalam diam, yang sudah halal masih harus berhati-hati dalam menjaga hati. 🤭
Ayusha
makanya Allah melarang "jangan dekati zina" termasuk zina mata dan zina hati, zina hati ini yg paling berat untuk di jauhi.
gapapa Annisa, yakinlah bahwa wanita baik untuk laki2 yg baik pula. jd tetap jaga hati hanya untuk sang Maha pemilik hati, agar hatimu tetap terjaga dari kekecewaan.😍
Ayusha
justru cinta karena landasan takwa kepada Allah ini lah yg paling kuat Hanna, mungkin dg kamu sadar akan kewajiban seorang istri kpd suami itu akan lebih mempererat tali pernikahan itu sendiri. jd jangan cuma minta dimengerti, seorang istri pun harus bisa mengerti akan suami. 👍
Ayusha
/Drool/
Ayusha
kenapa tulisan bagus, romansa tanpa melanggar syariat begini malahh sedikit yg like ya.
tetep semangat buat othor, jangan berhenti ditengah jalan yah 👍
Ayusha
begitulah wanita, jika melihat wanita lain yg dirasa lebih dari pada dia rasa insecure hadir sendiri /Shhh/
melda melta
kok lama update nya
Juwitha Arianty Ibrahim
up lagi dong, doble up klo. bisa, penasaran banget sma kelanjutan nyaw/Smile//Smile/
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!