Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.
• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.
Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.
"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"
"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"
Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.
Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.
~novel yang ku pindah dari wp ke sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iri?
THE ETERNALLY; our home
Happy reading....
...Gue bukan dia, dan gue nggak bisa jadi kayak dia!...
.......
........
.........
........
.......
...。◕‿◕。...
Brumm ... Brumm ...
Segerombolan motor masuk kedalam sebuah bangunan bertingkat dua, halaman luas mereka gunakan untuk memarkirkan motornya.
Terdapat juga satu pohon mangga yang terletak di pojok halaman, tengah berbunga dengan lebatnya.
Astra berserta keempat inti Arderos lainnya memasuki markas Arderos, banyak anggota Arderos yang berpencar-pencar di sana. Di halaman, di bawah pohon yang di alasi tikar, macam -macam hasil rombakan anggotanya sendiri.
Astra mendudukan tubuhnya ke sofa, matanya terpejam sejenak.
"Ekhem, bentar lagi ulang tahunnya dia loh Tra." ujar Satya memulai pembicaraan.
Astra membuka matanya menatap langit-langit markas, "Hmm, gue inget."
Tak ada lagi pembicaraan, mereka sama-sama terdiam.
"Makanan dateng!" seru Arka menggema di seluruh penjuru ruangan.
"Muka lo kenapa Sat? Kayak orang punya pinjol aja." ujar Jaya, dia melihat wajah lesu serta frustrasi Satya.
Satya berdecak sebal, "Iya gue punya pinjol! Mau lunasin hah." serunya ngegas.
"Santai kawan, mending makan dulu." Jaya menyodorkan makanan pada Satya.
Dengan sewot Satya menerima makanan itu, dan memakannya bersama yang lain.
Setelahnya mereka keluar dari markas menuju arena balapan sesuai permintaan Lion.
Kali ini kedua ketua geng itu akan bertanding, Lion sudah menunggu rivalnya tepat di garis start.
Astra yang baru sampai dengan motor hitam kesayangannya, dia langsung menyejajarkan motornya di samping Lion.
Lion membukakan kaca helem full face yang dia kenakan, "Bajingan, berani juga Lo dateng." desisnya pada Astra.
"Gue bukan pengecut," balasnya santai tak terpancing sedikitpun dengan ucapan Lion.
Lion menggerakkan genggamannya pada stang motornya, giginya mengerat karena gagal memancing emosi sang rival.
Balapan di mulai dengan sangat sengit, kemampuan Lion cukup baik hingga menyakitkan Astra untuk menang. Sesekali Lion mencoba berbuat curang dengan menendang body motor Astra.
Saat ini posisi mereka bersebelahan, Lion membuka helmnya lalu meneriakan sesuatu yang membuat Astra mengerem motor mendadak.
Citttt....
Lion tersenyum smirik, apa maksudnya? Jantung nya berdetak dengan kencang, tubuhnya mendadak terasa dingin, kepalanya menggeleng dengan kilasan -kilasan memori masa lalu.
Dengan bersusah payah Astra kembali melajukan motornya, meskipun kepalanya terasa pening namun dia harus tetep memenangkan balapan ini.
Dengan kecepatan tinggi Astra berusaha mengejar ketertinggalannya, meskipun itu terlihat seperti mustahil. Lion hanya tinggal beberapa centimeter saja dari garis finish.
Ke-empat inti Arderos menatap tak percaya, bagaimana Astra bisa kalah dengan si kampret Lion ini. Tak mungkin pasti ada yang tidak beres sudah terjadi.
"Woy! Lionjing lo pasti curang kan!" tuduh Satya menatap tajam Lion.
Lion yang tengah merayakan kemenangan tersenyum smirik pada mereka, "Ketua lo aja yang lemah!" sinisnya, membuat Satya semakin terpancing.
Satu bogeman hampir mendarat di wajah songong Lion, namin karena kedatangan Astra membuat atasi merek tertuju pada pemuda itu.
Dengan wajah merah menahan amarah, Astra mencengkeram baju Lion. "Apa maksud Lo?!" desisnya menata tajam Lion.
Pemuda itu tersenyum mengejek, "Kenapa? Fakta kan apa yang tadi gue bilang?"
"Lo nggak tau apapun tentang gue sialan!"
"Oh, ya?, but i know everything that you."
"Lo nggak tau!"
"Pecundang, lemah Aska," ucapnya dengan nada mengejek.
Tangan Astra terkepal, satu bogem mentah langsung mendarat di wajah songong Lion.
"Shut up your fucking mounth!" desisnya lalu pergi begitu saja dari sana, meninggalkan lion yang terduduk di tanah dengan tatapan songong masih sangat ketara di wajahnya.
"Yo~ Sampai jumpa Astra," serunya saat motor hitam milik rivalnya melintas di hadapannya.
Tatapan matanya berubah yang awalnya songong berubah menjadi tatapan tak terbaca.
...✧◝(⁰▿⁰)◜✧...
Dava mengacak rambutnya frustasi, semakin hari kondisi putra kesayangannya semakin menurun. Begitu juga dengan sang istri Diana dia semakin khawatir akan kondisi Lintang.
Tadi sore sepulang sekolah, Lintang mengalami sesak nafas lalu pingsan di ruang tamu. Diana yang melihat kejadian itu pun langsung panik, menelfon sang suami agar segera pulang.
Tak perlu rawat inap, dokter hanya menyarankan agar Lintang tak melakukan kegiatan terlalu berat, ataupun menguras banyak tenaga. Karena itu akan semakin memperburuk kesehatan nya.
Lintang yang mendengarkan pembicaraan antara sang dokter dan orangtuanya hanya memejamkan matanya lelah. Sampai kapan dia bisa hidup dengan kondisi seperti ini? Dia sudah lelah, setiap hari harus selalu mengonsumsi obat pahit itu.
Belum lagi kegiatan nya yang terlalu di batasi, tidak boleh melakukan ini, itu, semuanya tidak boleh. Hanya belajar dan berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun.
Terkadang dia iri dengan anak-anak seusianya yang bisa dengan bebas mengejar apa yang dia suka, tak seperti dirinya yang hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur.
Astra? Terkadang dia iri kepada adiknya, dia bisa memiliki teman yang sangat setia, baik, dan tak pernah meninggalkan nya dalam kondisi apapun.
Katakan saja dia kurang bersyukur, orang tuanya begitu menyayanginya hingga mengabaikan salah satu anaknya.
"Capek tuhann," keluhnya.
Di luar ruangan Lintang, kedua orang tuanya berbicara hal yang sangat serius, "Bagaimana dengan solusi itu?" ujar Dava.
"Aku tidak yakin, apakah anak sialan itu mau." balas Diana.
Dava mengerang frustasi, "Harus ada yang berkorban Diana!"
"Ya, aku tau! Tapi dia juga anak kita!"
Dava menggeleng, "Dia harus mau!" gumamnya, lalu meninggalkan Diana begitu saja di sana.
...(◠‿◕)...
...~TBC~...
...Bab nya pendek banget hehe....
...See you hihii....
...Ada yang mau kalian sampaikan? ...
...Diana? ...
...Dava?...
...Astra? ...
...Lintang? ...
...Satya?...