NovelToon NovelToon
Cegil Merajut Luka Hatinya

Cegil Merajut Luka Hatinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."

Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.

Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.

Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Keysha Nekat Datang, (Revisi)

Ziva tidak menjawab. Lidahnya mendadak kelu, terasa seperti membeku di langit-langit mulut. Pertanyaan Rian yang bernada heran itu mengambang di udara, memantul di antara dinding kamar yang sempit dan pengap.

"Ziv?" Rian memanggil lagi, kali ini dengan nada yang lebih cemas. Dia mencoba menegakkan punggungnya, mengabaikan nyeri yang kembali menusuk ulu hatinya. "Lo... kenapa bisa tahu nama rumah sakit itu? Padahal di foto ini gak ada plang namanya sama sekali."

Ziva menarik napas pendek dan tajam. Jari-jarinya gemetar hebat saat meletakkan kembali bingkai foto itu ke meja kayu dengan posisi tengkurap. Dia tidak sanggup melihat pita merah di latar belakang foto itu lagi. Pita merah itu adalah miliknya.

Milik mendiang adiknya yang meninggal di rumah sakit yang sama, di koridor yang sama, pada musim yang sama tiga tahun lalu.

"Gak usah dibahas. Cuma nebak," jawab Ziva ketus. Suaranya kembali dingin, topeng defensifnya yang sempat retak kini terpasang lagi dengan lebih rapat. Dia langsung berbalik memunggungi Rian, meraih gunting dan sterofoam dengan gerakan yang dipaksakan cepat. "Fokus sama tugas lo aja. Tempel yang perlu ditempel."

Rian mengatupkan bibirnya. Dia tahu Ziva sedang berbohong. Ekspresi syok di wajah cewek itu tadi terlalu nyata untuk disebut sebagai 'cuma nebak'. Tapi Rian cukup tahu diri untuk tidak mendesak. Di sekolah, Ziva adalah tamengnya.

Tanpa Ziva, Rian mungkin sudah dikeluarkan dari sekolah karena menjadi samsak hidup Marvel dan gengnya.

**

Dua puluh menit berikutnya berlalu dalam keheningan yang mencekik.

Hanya ada suara gunting yang beradu dengan sterofoam dan deru angin sore dari ventilasi kamar.

Tepat saat Ziva sedang menuangkan lem tembak ke maket mereka, sebuah kecerobohan terjadi. Cairan lem panas yang meleleh berlebih tak sengaja menetes langsung ke punggung tangan Ziva.

"Akh!" Ziva memekik pelan, refleks menjatuhkan lem tembak itu ke lantai. Kulit putih di punggung tangannya langsung memerah, melepuh kecil karena panas yang menyengat.

"Ziv! Lo gak apa-apa?" Rian panik. Dia langsung turun dari kasur busanya, melupakan rasa sakit di perutnya sendiri. "Bentar, gue ambil air atau salep—"

"Gak usah, Rian. Gak apa-apa, cuma dikit," potong Ziva, menahan perih. Tapi seragam sekolahnya yang berwarna putih kini ketumpahan sisa lem dan noda cat maket yang belum kering akibat gerakan refleksnya tadi. Seragam itu kotor total di bagian depan.

Rian melihat baju Ziva dengan perasaan bersalah yang makin menumpuk. "Baju lo kotor banget, Ziv. Dan itu lengket banget kalau kering. Gini aja... lo ganti baju dulu. Pakai baju gue. Gak usah nolak, daripada lo pulang naik angkot pakai seragam penuh lem kayak gitu."

Ziva menatap noda di dadanya, lalu mendesah pasrah. Rian benar. Lem tembak kalau sudah menyatu dengan kain akan sangat mengganggu.

Rian berjalan tertatih ke arah lemari plastik di sudut kamar. Dia mengeluarkan sebuah kaos hitam polos berkerah bulat. Kaos katun sederhana yang ukurannya pasti akan tenggelam di tubuh Ziva yang ramping.

"Ini bersih, udah dicuci kok. Kamar mandi di sebelah dapur, lo lurus aja ke belakang," kata Rian sambil menyerahkan kaos itu.

Ziva menerimanya tanpa banyak protes. "Thanks."

"Oh iya, gue ke warung depan dulu"

"Iya yan"

Ziva keluar dari kamar menuju kamar mandi. Di ruang tengah, dia sempat berpapasan dengan Ibu tiri Rian yang sedang fokus menjahit di bawah pendar lampu neon yang temaram. Wanita itu hanya tersenyum ramah dan mengangguk saat Ziva meminta izin ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi yang sederhana berdinding batako, Ziva melepas seragam sekolahnya. Dia membasuh luka bakar di tangannya dengan air dingin, lalu memakai kaos hitam milik Rian.

Benar dugaannya, kaos itu kebesaran, jatuh melandai hingga separuh paha Ziva, memberikan kesan oversized yang santai namun sangat kontras dengan penampilan formalnya yang biasa di sekolah.

Ziva menggulung lengan kaosnya yang kepanjangan hingga menyerupai baju tanpa lengan, mengikat rambutnya asal-asalan menjadi cepol atas, lalu keluar sambil membawa seragam kotornya yang sudah dilipat.

Saat Ziva baru saja menginjakkan kaki kembali di ruang tengah menuju kamar Rian, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan.

Ketukan itu terdengar terburu-buru, diiringi suara napas yang terengah-engah.

"Permisi... Rian? Tante?"

Ziva menghentikan langkahnya. Jantungnya berdesir tajam. Dia sangat mengenali suara cewek itu. Suara yang lembut, penuh kecemasan, dan selalu terdengar canggung.

Keysha.

Ibu tiri Rian buru-buru meletakkan kain jahitannya dan berjalan membuka pintu depan. "Eh, iya, nyari siapa ya, Neng?"

Di ambang pintu, berdiri Keysha dengan napas yang masih memburu. Dia memakai jaket rajut mahal berwarna pastel di atas seragam sekolahnya.

Kedua tangannya memeluk dua kotak besar berisi paket makanan premium dari restoran terkenal dan sekotak obat-obatan. Wajah cantiknya tampak sangat khawatir.

"Halo, Tante. Saya Keysha, teman sekelas Rian juga," ujar Keysha cepat, suaranya agak bergetar. "Saya... saya ke sini mau antar makanan buat Rian. Tadi di sekolah saya dengar Rian sakit karena habis tanding basket. Saya sekalian mau ikut kerja kelompok, Tante."

Ibu tiri Rian tampak bingung, namun buru-buru tersenyum hangat. "Oh, temannya Rian lagi? Tapi... bukannya Rian cuma sekelompok sama Nduk Ziva ya? Tadi Ziva bilangnya gitu."

Mendengar nama Ziva disebut, gerakan Keysha langsung terkunci. Matanya melebar. "Ziva? Ziva ada di sini?"

"Iya, ada di dalam dari tadi. Masuk dulu, Neng," ajak Ibu tiri Rian ramah, menggeser tubuhnya memberi jalan.

Keysha melangkah masuk ke dalam rumah yang sempit itu dengan perasaan campur aduk.

Rasa bersalahnya pada Rian karena perbuatan Marvel membuat dia nekat mencari alamat rumah ini sendirian tanpa memedulikan larangan Marvel.

Dia ingin meminta maaf atas kesalahannya. Dia ingin berada di sini untuk menunjukkan bahwa tidak semua orang kaya di sekolah mereka berengsek.

Namun, langkah kaki Keysha mendadak terpaku di lantai semen ruang tamu.

Kotak makanan di pelukannya hampir saja merosot jatuh.

Di lorong sempit menuju dapur, tepat di bawah remang-remang lampu rumah, berdiri seorang cewek yang sangat dia kenali.

Ziva.

Tapi itu bukan Ziva yang biasa Keysha lihat di koridor sekolah dengan seragam ketat, dasi rapi, dan tatapan angkuh yang mengintimidasi.

Ziva berdiri di sana dengan rambut yang dicepol berantakan. Lehernya yang jenjang terekspos jelas. Dan yang paling membuat otak Keysha mendadak mogok berpikir adalah pakaian yang dikenakan Ziva.

Cewek itu memakai kaos katun hitam polos yang sangat longgar. Kaos laki-laki. Kaos yang baunya—meski dari jarak dua meter—sangat khas dengan aroma ruangan ini.

Keysha tahu persis itu bukan kaos milik Ziva. Itu adalah kaos milik Rian. Di tangan Ziva, terdapat lipatan seragam putih abu-abu yang sudah kotor.

Tensi di ruangan itu mendadak drop ke titik nadir.

Keysha menatap Ziva dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tidak percaya, syok, dan ada sengatan rasa tidak nyaman yang mendadak menusuk dadanya.

Mengapa Ziva bisa se-santai itu di rumah Rian? Mengapa Ziva memakai baju Rian? Seberapa dekat hubungan mereka di belakang semua orang selama ini?

Ziva, di sisi lain, hanya menatap Keysha datar. Tidak ada kepanikan di matanya.

Hanya ada tatapan dingin yang seolah berkata,

Lo salah masuk wilayah, Keysha.

"Ziv... lo..." Suara Keysha tercekat di tenggorokan, matanya tertuju lurus pada kaos hitam yang membungkus tubuh Ziva.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
akhirnya si Keysa waras juga,,, siapa tau nanti muncul jodoh mu sya🤭,
Rofiwan: akan kukabulkan jodoh untuk keysha yang... setara🤭
total 1 replies
falea sezi
bagus
falea sezi
uda ziva jauhin pindah sekolah😕 laki. oon. g ba nrima takdir ya😓
falea sezi
jangan ampe nyesel lu rian kehilangan ziva😓 buat ziva pergi aja thor rian bego malah nyalahin ziva
Luna
udah ziva menjauh aja dari cowok yang GK bisa terima takdir , siapa juga yg mau nabrak orang ,,,egois sekali ,,jadi GK respect sama Rian ,
falea sezi
malah nyalahin Ziva🤣 oon bgt ini Riyan plin plan
falea sezi
🤣🤣 si plin plan mending pergi aja ziv laki! gk tau diri cocok sama sampah kayak. keysa
Luna
GK respect sama Rian ,,, ujung ujungnya nanti marahan lagi sama ziva,,,,apa GK ada cowok lain yg bantu Keysa ,atau emang sengaja citra pengen ngerusak hubungan orang,
Luna
makin bodoh yg seharusnya minta tolong om nya dong buat klarifikasi,,,😑
falea sezi
😒 gila ini keysa
Luna
kan itu sudah jadi pilihan kamu sya dari awal ,,, jangan menyesal,cowok idaman mu ternyata tak sempurna seperti halusinasi mu🤣🤣🤣🤣🤣 terima takdir,Marvel memang kaya tapi sifatnya kek psikopat dan kamu sendiri yg membangkitkan nya keysa🤣🤣🤣🤣🤣
Queen Aisyah
🥰🥰
falea sezi
🤣🤣 Riyan ttep. bego uda lah ziv g usa dket cowok plin plan kayak riyan🤭 gk tau diri
Luna
GK salah sih marven dapat cewek lain dia kaya duit banyak,,,kalo ada yg lebih baik dari kamu yh GK mungkin lah di lewat kan , sedangkan Rian dia udah capek banget di PHP in terus ada cewek yg ngasih dia perhatian yh GK mungkin dilewatkan Rian ,,, sekarang elu sendiri GK dapat dua duanya,
Luna
untung si Marvel atau marven sudah putus sama nih cewek,,,,🤣🤣🤣🤣🤣🤣 semoga ada cewek gila lain untuk mantan Keysa 🤣🤣🤣🤣🤣
falea sezi
awas aja lu rian oleng🤣 Ziva gue suruh pindah sekolah
falea sezi
jauhin aja ziv laki gk tau diri🤣 uda ma kesya aja cocok😒 sampah sama sampah
Luna
dalam mimpi sya,,,,,🤣🤣🤣
Luna
Marvel sebelas dua belas sama si Naya yh Thor🤣🤣🤣🤣🤣🤣,agak gila ,,,,gituloh
Rofiwan: Naya versi lanang
total 1 replies
Luna
Rian ,,,, kayaknya yg nolongin kamu bukan Keysa deh ,,,, orang kek dajal gitu nolongin orang kayaknya enggak deh,kaya tapi miskin etika🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!