Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Luka masa lalu
Di luar kamar utama yang kini terasa lebih dingin dari kamar mayat, Ayden menyandarkan punggungnya pada dinding lorong. Ia merosot perlahan hingga terduduk di lantai marmer, membiarkan memori kelam dari belasan tahun silam kembali merayap, menggerogoti kewarasannya yang mulai rapuh. Ingatan itu selalu sama, berbau anyir darah dan keputusasaan.
***
"Lepaskan aku! Biarkan aku masuk ke dalam!" jerit Ayden. Tubuh remajanya yang berusia lima belas tahun meronta hebat di pelukan Pak Darma, pengacara keluarga sekaligus tangan kanan ayahnya.
"Tuan Muda, kumohon, jangan masuk ke sana! Polisi masih melakukan olah tempat kejadian perkara," tahan Pak Darma, air mata mengalir di wajah tuanya yang keriput.
"Minggir! Mereka orang tuaku! Aku berhak melihat mereka!" bantah Ayden dengan tenaga yang tak terduga, berhasil melepaskan diri dan menerobos garis polisi di ambang pintu ruang kerja ayahnya.
Langkahnya terhenti seketika. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Tuan Muda... jangan ditatap," isak Pak Darma, kembali memeluk Ayden dari belakang.
"Ayah... Ibu..." bisik Ayden dengan suara bergetar hebat. Di atas karpet tebal itu, kedua orang tuanya terbaring kaku bersimbah darah. Sebuah pistol tergeletak tak jauh dari tangan ayahnya yang kaku.
"Mereka sudah tiada, Nak. Ayahmu meminumkan racun pada ibumu sebelum ia menembak kepalanya sendiri," ucap Pak Darma, suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis.
"Bohong! Apa yang terjadi?! Kenapa mereka melakukan ini?! Kemarin kita masih makan malam bersama!" raung Ayden, meronta mencoba mendekati kedua mayat itu.
"Perusahaan ayahmu hancur dalam semalam, Ayden. Hermawan... sahabat yang paling dipercayai ayahmu, telah memanipulasi laporan keuangan dan membawa kabur seluruh dana cadangan kita," jelas Pak Darma dengan nada penuh kepahitan. "Ayahmu tak sanggup menanggung kebangkrutan, jeratan utang, dan aib pengkhianatan ini."
"Hermawan? Paman Hermawan?!" teriak Ayden, matanya membelalak tak percaya.
"Ya, pria itu yang merancang kejatuhan kita. Rumah ini, mobil, dan semua aset kita akan disita bank besok pagi," jawab Pak Darma.
"Ini tidak adil! Kenapa dia menghancurkan keluargaku?!" jerit Ayden histeris, jatuh berlutut di lantai dengan air mata yang tumpah tak terbendung. "Aku akan membunuhnya! Aku akan membunuhnya, Pak Darma!"
Dua hari setelah kejadian tragis itu, hujan deras mengguyur area pemakaman. Ayden berdiri mematung dalam balutan setelan hitam yang basah kuyup, menatap dua gundukan tanah merah di hadapannya.
"Hujan semakin deras, Ayden. Mari kita pergi dari sini," ajak Pak Darma, memayungi remaja yang sudah kehilangan segalanya itu.
"Pergi ke mana? Kita sudah tidak punya rumah, Pak Darma. Hermawan telah merampas setiap jengkal kehidupan yang kumiliki," desis Ayden, suaranya lebih dingin dari hujan yang membasahi mereka.
"Relakan mereka, Nak. Kau harus mencoba melanjutkan hidupmu. Memulai lembaran yang baru," bujuk Pak Darma dengan nada memelas.
"Melanjutkan hidup? Tanpa keadilan?!" bantah Ayden, perlahan menoleh menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata yang menyala-nyala oleh amarah. "Dengarkan aku, Pak Darma. Catat kata-kataku hari ini."
"Ayden..."
"Aku bersumpah di atas tanah kuburan ayah dan ibuku hari ini!" teriak Ayden memecah derai hujan. "Aku akan membalas perbuatan Hermawan! Aku akan merebut kembali semua yang ia curi! Aku akan menghancurkan perusahaannya perlahan-lahan, dan membuat keluarganya merasakan neraka yang sama!"
"Nak, dendam adalah racun. Itu hanya akan membakarmu dari dalam dan menghancurkan masa depanmu," peringat Pak Darma, merasa ngeri melihat tatapan mata Ayden.
"Biarkan aku terbakar! Asalkan keluarga Hermawan menjadi abu di tanganku!" raung Ayden. "Aku akan mengejarnya sampai titik darah penghabisan! Sampai keturunannya mengemis kematian di bawah kakiku!"
***
Sepuluh tahun berlalu sejak sumpah itu diucapkan. Di sebuah ruang rapat eksklusif di gedung pencakar langit, Ayden yang kini telah menjelma menjadi miliarder muda duduk di kursi kebesaran. Wajahnya keras, matanya tajam dan penuh kalkulasi.
"Bagaimana laporan progres akuisisi aset Hermawan Group hari ini, Baskoro?" tanya Ayden, menyalakan sebatang cerutu.
Baskoro, asisten kepercayaannya, menyerahkan sebuah tablet. "Sesuai dengan grand design Anda, Tuan. Saham mereka anjlok lima puluh persen dalam satu minggu terakhir. Investor utama telah menarik dana mereka setelah kita membocorkan isu manipulasi pajak."
"Hanya lima puluh persen?" tanya Ayden dengan nada tak puas. "Beri tekanan lebih pada kreditornya. Aku ingin tidak ada satu pun bank di negara ini yang mau memberinya restrukturisasi utang."
"Tuan, jika kita mencekik likuiditas mereka sekarang, Hermawan akan gulung tikar bulan ini. Beliau bisa dipenjara, atau bahkan..." ucap Baskoro menggantung kalimatnya.
"Atau bunuh diri? Seperti yang dilakukan ayahku?" potong Ayden dengan senyum sinis yang mengiris. "Itulah tujuannya, Baskoro. Dia membiarkan orang tuaku mati demi keserakahannya, maka dia harus merasakan hal yang persis sama. Bagaimana dengan keluarganya? Istrinya? Putrinya yang bernama Aisyah?"
"Istrinya mulai sakit-sakitan karena tekanan dari para penagih utang," lapor Baskoro. "Sedangkan putrinya, Aisyah, dia sama sekali tidak tahu-menahu tentang kebusukan bisnis ayahnya. Dia gadis yang polos. Baru saja lulus kuliah seni dan kebetulan besok akan menghadiri pameran tunggal di Galeri Nasional."
"Polos? Tidak ada keturunan pengkhianat yang benar-benar polos," dengus Ayden. Ia mematikan cerutunya di asbak dengan kasar. "Siapkan jadwalku besok siang. Kosongkan semua pertemuan."
"Anda berniat menemuinya langsung, Tuan?" tanya Baskoro sedikit terkejut.
"Ya. Menghancurkan ayahnya saja tidak cukup untuk membayar darah orang tuaku. Aku sendiri yang akan menemui gadis itu. Aku akan menjadi malaikat penyelamatnya, membuatnya bergantung padaku, mencintaiku, sebelum akhirnya aku menyeretnya ke neraka terdalam," seringai Ayden penuh kemenangan.
Keesokan harinya, di bawah tata cahaya temaram Galeri Nasional, Ayden melangkah pelan mendekati sosok gadis yang tengah terpaku di depan sebuah lukisan abstrak beraliran ekspresionisme. Gadis itu—Aisyah—terlihat begitu murni, sangat kontras dengan dunia gelap yang selama ini dihidupi Ayden.
"Kau menatap lukisan itu seolah bisa mendengarnya menangis," sapa Ayden dengan nada suara bariton yang dibuat selembut mungkin.
Aisyah sedikit terkesiap, lalu menoleh. "Oh, maaf... Ya, Anda benar. Warna-warnanya cerah, tapi goresan kuasnya terasa sangat... menyakitkan. Seperti ada luka yang disembunyikan."
"Analisis yang sangat tajam dan empatik," ucap Ayden, melangkah sejajar di samping Aisyah. "Kebanyakan orang hanya melihat keindahannya tanpa peduli pada penderitaan pelukisnya. Siapa namamu?"
"Saya Aisyah. Dan Anda?" tanya Aisyah, tersenyum sopan.
"Ayden. Ayden Khana," jawab Ayden, mengulurkan tangannya. "Aku jarang melihat seseorang yang bisa memahami seni setulus dirimu, Aisyah."
"Anda terlalu memuji, Tuan Ayden. Saya hanya penikmat seni biasa," balas Aisyah, menerima uluran tangan itu. Tangan yang hangat, pikir Aisyah saat itu.
"Hanya Ayden. Tidak perlu seformal itu," kekeh Ayden renyah. "Kau sendirian di sini? Tidak ada yang menemani?"
"Ya, ayah saya sedang sibuk dengan urusan perusahaannya akhir-akhir ini. Jadi saya mencari ketenangan di sini," jawab Aisyah dengan sedikit raut sedih yang tak luput dari pengamatan Ayden.
"Kalau begitu, maukah kau menemaniku minum kopi di kafe seberang? Kurasa kita memiliki banyak kesamaan dalam menilai sebuah karya," ajak Ayden, mengeluarkan pesona memikat yang telah ia rancang dengan sempurna.
"Minum kopi? Dengan orang yang baru saya kenal?" tanya Aisyah ragu, pipinya sedikit merona.
"Hanya kopi, Aisyah. Dan diskusi tentang seni," bujuk Ayden. "Apakah itu terlalu merepotkan waktumu?"
"Tidak... sama sekali tidak," jawab Aisyah akhirnya.
"Bagus. Bagiku, pertemuan kita hari ini terasa seperti sebuah takdir yang sudah lama kutunggu," ucap Ayden, menyembunyikan seringai beracun di balik senyuman tulusnya.
Bagi Aisyah, hari itu adalah awal mula ia menemukan cinta pertamanya. Namun bagi Ayden, hari itu adalah hari di mana ia berhasil memasang jerat kematian di leher mangsanya.
****