Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aura menyadari sesuatu
Kilatan lampu flash kamera dari belasan wartawan menyambar-nyambar tanpa ampun, menyilaukan pandangan Devan dan Aura di tengah taman kampus.
Suara cecaran pertanyaan tentang tuduhan pencucian uang internasional milik keluarga Devan di London menggema riuh, memancing perhatian ratusan mahasiswa yang langsung menyemut di sekitar mereka.
Devan seketika berdiri tegak. Dengan refleks yang tenang namun dingin, ia merentangkan tangan tingginya, pasang badan menutupi tubuh Aura dari sorotan kamera wartawan.
"Tidak ada komentar. Silakan tinggalkan area kampus!" bentak Devan tajam, suaranya yang berat memotong bisingnya pertanyaan para reporter.
Bimo dan Rian bersama beberapa petugas keamanan kampus berlari cepat menerobos kerumunan wartawan. Mereka membantu memblokir barisan wartawan agar Devan dan Aura bisa menerobos masuk ke dalam gedung rektorat yang aman dari jangkauan media.
"Dev, Aura! Masuk lewat pintu samping!" teriak Bimo sambil menahan mikrofon seorang wartawan.
Devan menggenggam erat jemari Aura yang terasa makin dingin, membimbing gadis itu berlari menelusuri lorong sepi di lantai tiga gedung rektorat hingga sampai di ruang kelas kosong yang tenang.
Devan mengunci pintu kayu kelas tersebut rapat-rapat, lalu menghela napas panjang yang amat berat.
Di dalam ruangan yang hening itu, Aura terduduk lemas di salah satu kursi kayu. Napasnya masih terengah-engah usai berlari, tapi matanya tidak lepas menatap punggung Devan yang bersandar kaku di pintu.
"Devan..." panggil Aura pelan, suaranya bergetar. "Berita yang dibilang wartawan tadi... soal ayah kamu... itu beneran?"
Devan perlahan membalikkan badannya. Wajahnya tampak begitu lelah dan terluka. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di atas meja kayu tepat di depan Aura. Devan menatap mata jernih Aura dengan kepasrahan yang mendalam.
"Sebagian benar, Aura," jawab Devan tulus, "Ayahku terlibat skandal bisnis besar di London. Itu alasan kenapa aku kabur ke Indonesia dan menolak menyentuh uang keluargaku lagi. Aku nggak mau hidup dari uang kotor itu."
Aura menatap Devan dengan rasa iba yang membuncah di dadanya. Ia makin paham betapa beratnya beban yang selama ini disimpan cowok ini sendirian di balik jaket kulit hitamnya.
"Maafkan aku ya, Ra..." bisik Devan, menyentuh lembut jemari Aura di atas meja. "Gara-gara aku, kamu harus ikut dikejar-kejar wartawan kayak tadi."
Aura menggelengkan kepala mantap. Ia membalas genggaman tangan Devan dengan erat, memberikan kehangatan yang amat tulus.
"Aku nggak peduli sama wartawan atau berita itu, Devan. Yang aku pedulikan cuma kamu."
Devan tertegun, matanya bergetar menahan keharuan yang luar biasa mendengar ucapan tulus dari cewek di depannya.
Sore harinya, setelah situasi kampus mereda dan para wartawan berhasil ditertibkan oleh keamanan rektorat, Aura dan Devan duduk berdua di sudut perpustakaan pusat yang sepi.
Aura merogoh ponselnya, kembali membuka foto story kampus yang sempat bikin heboh tadi siang—foto Momen saat Devan menyelamatkan Aura dari papan dekorasi yang jatuh di panggung festival. Aura memperhatikan foto itu lebih teliti di layar ponselnya yang jernih.
Aura mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang janggal namun sangat menarik perhatiannya dari foto tersebut.
Di dalam foto itu, sudut pencahayaan (angle) yang tercipta begitu sempurna. Bayangan pendar lampu taman melingkari wajah Aura dengan sangat halus, dan sudut pengambilannya sangat presisi—diambil persis dari arah kiri bawah panggung, dari ketinggian sudut pandang seseorang yang berdiri tegak di dekat tiang lampu nomor empat.
Aura mendongak, menatap Devan yang sedang duduk bersandar sambil sibuk membersihkan lensa kameranya pakai kain lap khusus.
"Devan..." panggil Aura pelan.
Devan menoleh, mengangkat alisnya tipis. "Kenapa, Ra?"
Aura menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan foto tersebut ke hadapan Devan.
"Foto ini... foto yang ke-upload di story kampus tadi siang... ini bukan foto yang diambil sama Bimo atau panitia dokumentasi lainnya, kan?"
Devan terdiam sejenak, mengerjap bingung. "Bimo kan yang nge-upload dari folder umum, Ra. Kenapa memangnya?"
Aura menggelengkan kepala, lalu memperbesar (zoom in) bagian pojok kanan bawah foto tersebut. Di sana, terlihat sedikit pantulan bayangan kamera DSLR dengan tali strap khas warna merah hitam—strap kamera yang persis sama dengan milik Devan!
Aura menatap Devan lurus-lurus, matanya berbinar penuh rasa takjub.
"Aura menyadari detail kecil di foto itu hanya bisa diambil dari arah tempat Devan berdiri."
Devan seketika membeku. Jarinya yang sedang memegang kain lap lensa terhenti di udara. Wajah Devan yang biasanya tenang mendadak berubah agak merona merah karena ketahuan!
"T-tempat aku berdiri gimana maksudnya?" tanyanya salah tingkah, berpura-pura sibuk mengelap lensanya kembali.
Aura tersenyum manis, mengikis jarak duduk mereka hingga bahu mereka bersentuhan.
"Pas papan dekorasi itu mau jatuh, kamu kan berdiri di dekat tiang lampu nomor empat sambil memegang kamera kamu. Dan sudut pengambilan foto ini... tinggi lensanya, pencahayaannya, bahkan garis bayangannya... ini murni teknik fotografi kamu, Devan!"
Aura memandangi Devan dengan tatapan gemas. "Jadi... pas kamu lari menolong aku dari papan dekorasi itu... kamu sempat-sempatnya menekan tombol shutter kamera kamu pakai satu tangan sebelum kamu merengkuh aku?!"
Devan membuang mukanya ke samping dengan cepat, telinganya memerah panas karena malu setengah mati. Rahasianya terbongkar total di depan Aura!
"Aku... aku cuma refleks," gumam Devan serak, suaranya sangat pelan karena salah tingkah yang luar biasa. "Insting fotografer aja. Kamera kan menggantung di leher aku waktu itu."
"Refleks tapi hasilnya seindah ini?" pancing Aura sambil tertawa kecil yang renyah.
"Di tengah situasi bahaya kayak gitu, pikiran kamu masih sempat-sempatnya mengabadikan wajah aku dengan sudut paling cantik?"
Devan berdeham keras-keras, mengusap leher belakangnya yang terasa panas.
"Ya... ya karena bagi aku, wajah kamu pas lagi panik pun tetap kelihatan paling cantik dari sudut mana saja."
DEG.
Kalimat jujur dan polos yang keluar dari bibir Devan seketika membuat ganti Aura yang merona hebat! Tawa kecil di bibir Aura terhenti, berganti dengan rasa hangat dan debar jantung yang bergemuruh liar di dalam dadanya.
Aura menundukkan kepalanya bermalu-malu, menyembunyikan senyuman indahnya di balik helai rambut cokelatnya. "Kamu ini... pintar banget bikin aku kehabisan kata-kata."
Devan melirik Aura dari sudut matanya. Melihat reaksi manis gadis itu, Devan perlahan menurunkan kameranya ke meja. Dengan gerakan pelan dan ragu, Devan memberanikan diri menggenggam tangan kiri Aura yang tergeletak di atas meja kayu.
Aura tersentak kecil, namun tidak menarik tangannya. Ia justru membalas genggaman jemari tegap Devan yang terasa hangat dan protektif.
"Aura..." panggil Devan lembut, suaranya berat dan sarat akan ketulusan.
"Iya, Devan?"
"Mulai hari ini..." Devan menatap lurus mata jernih Aura dengan kepastian mutlak, "...aku nggak akan biarkan foto kamu diambil dari jauh lagi secara rahasia. Semua momen indah kamu... bakal aku abadikan dari jarak terdekat, dari samping kamu."
Pipi Aura makin merona panas, matanya berbinar bahagia. "Janji ya?"
"Janji," jawab Devan mantap.
Namun, di tengah momen paling romantis dan manis yang terjalin di antara mereka di sudut perpustakaan yang sepi itu...
BZZZZZT!
Layar televisi gantung di atas sudut perpustakaan yang sedang menyiarkan siaran berita mendadak berganti tampilan menjadi layar merah menyala.
Suara sirine bahaya melengking nyaring dari speaker televisi, memecah keheningan perpustakaan dan membuat seluruh mahasiswa yang ada di ruangan itu berdiri kaget.
Teks berita darurat berukuran raksasa muncul di layar televisi:
[BREAKING NEWS: ALANDRA CORPORATION LONDON RESMI MENYATAKAN KEBANGKRUTAN TOTAL. SELURUH ASET DAN ANGGOTA KELUARGA ALANDRA DIJADIKAN TAHANAN EKSTRADISI INTERNASIONAL!]
Lalu, gambar berikutnya yang terpampang di layar televisi adalah foto wajah Devan Alandra yang dipasang sebagai foto BURONAN UTAMA oleh Kepolisian Internasional (Interpol)!
Ponsel Devan di meja mendadak bergetar hebat. Panggilan masuk dari Pak Surya muncul di layar dengan pesan singkat yang teramat panik:
'Devan! Lari sekarang dari kampus! Tiga mobil Interpol sudah masuk ke gerbang utama buat menangkap kamu!'
Aura dan Devan terperanjat kaget setengah mati, berdiri terpaku menatap layar televisi dan jendela luar perpustakaan yang mulai dipenuhi sorotan lampu merah-biru mobil polisi!
Bersambung...