Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 - BAHU UNTUK BERSANDAR
Tangis Valeria nggak kunjung berhenti. Sumpah berdarah yang Kael ucapkan barusan memang berhasil mengusir keputusasaannya, tapi kata-kata itu juga sekaligus meruntuhkan bendungan emosi yang selama sepuluh tahun ini selalu Valeria tahan mati-matian.
Tembok es sang ratu mafia benar-benar luluh lantak. Valeria merosot ke depan, menubrukkan wajahnya ke dada bidang Kael. Tangannya mencengkeram erat kaus hitam yang dipakai pria itu, seolah Kael adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai yang sedang menenggelamkannya.
"Aku capek, Kael... aku bener-bener capek," isak Valeria pilu, suaranya teredam di dada Kael.
Kael mematung. Seluruh otot di tubuh raksasanya mendadak kaku persis seperti balok beton. Dia pernah menghadapi moncong senapan mesin, dia pernah disiksa berhari-hari, tapi menghadapi seorang wanita—terlebih lagi wanita yang paling dia puja—sedang menangis tersedu-sedu di pelukannya, benar-benar membuat otak sang monster *error* seketika.
Tangan besar Kael yang penuh kapalan dan bekas luka itu mengambang canggung di udara. Dia bingung harus berbuat apa. Di buku panduan keamanan klan, nggak ada bab yang ngajarin cara menenangkan bos yang sedang menangis parah.
Kael menelan ludah dengan susah payah. Perlahan, dia menurunkan lengan kirinya, ragu-ragu meletakkannya di punggung Valeria yang terus bergetar.
"Menangislah, Val. Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada saya," bisik Kael luar biasa canggung.
Bukannya menepuk punggung Valeria dengan luwes layaknya orang yang sedang menenangkan, tangan Kael malah bergerak kaku menepuk-nepuk pelan punggung wanita itu seperti sedang menepuk karung pasir. Sangat kaku, sangat amatir, tapi di saat yang sama... terasa sangat tulus.
Valeria yang sedang menangis sesenggukan perlahan menyadari betapa kakunya tubuh pria di bawahnya ini. Kael duduk tegak lurus seolah sedang dihukum baris-berbaris, napasnya ditahan, dan tepukan tangannya di punggung Valeria bener-bener nggak ada ritmenya sama sekali.
Di tengah tangisannya yang memilukan, sudut bibir Valeria tanpa sadar sedikit tertarik. Air matanya masih mengalir deras, tapi rasa hangat mulai menjalar di dadanya. Kekakuan Kael justru menjadi bukti paling nyata betapa pria ini sangat berhati-hati dan menghargainya.
"Kamu kaku banget sih," gumam Valeria di sela isakannya, memiringkan kepalanya agar telinganya bisa mendengar detak jantung Kael yang berdegup sangat kencang. "Masa nangkep peluru aja bisa, tapi disuruh meluk orang nangis malah kayak kanebo kering."
Mendengar sindiran itu, telinga Kael langsung memerah di balik keremangan lampu bunker.
"Maaf, Nyonya. Ini... di luar keahlian taktis saya," jawab Kael jujur dengan wajah datar andalannya, meski suaranya terdengar sedikit panik. "Apa saya menyakiti Anda? Atau posisi saya kurang nyaman?"
"Diam dan jangan banyak gerak," perintah Valeria pelan, mengeratkan pelukannya di pinggang Kael.
Valeria membiarkan sisa-sisa air matanya jatuh membasahi kaus Kael. Selama sepuluh tahun memimpin klan, dia tidak pernah diizinkan terlihat lemah. Di depan para tetua, dia harus bertindak layaknya iblis tanpa belas kasihan. Di depan musuh, dia harus tersenyum sinis meski nyawanya terancam. Nggak ada satu pun orang yang peduli apakah dia lelah atau ketakutan. Ayahnya sudah meninggal, dan Paman Surya yang dia pikir bisa menjadi pengganti sosok ayah ternyata adalah ular berbisa.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya sejak dia berumur tujuh belas tahun, Valeria merasa dia punya tempat untuk bersandar. Bukan bersandar pada uang, kekuasaan, atau status, melainkan pada sebuah bahu manusia yang nyata.
"Kael..." panggil Valeria serak, mengusapkan hidungnya yang berair ke kaus Kael dengan sembarangan, benar-benar nggak peduli lagi sama *image* ratu mafianya.
"Ya, Val?" sahut Kael cepat. Tangan pria itu pelan-pelan mulai terbiasa, kini beralih mengusap rambut panjang Valeria yang berantakan dengan gerakan yang jauh lebih lembut.
"Dari umur tujuh belas tahun, aku dipaksa duduk di kursi panas itu. Setiap hari aku harus mikir siapa yang bakal nusuk aku dari belakang. Aku harus ngebunuh orang-orang yang bahkan nggak aku kenal cuma buat ngebuktiin kalau aku pantas mimpin klan," cerita Valeria lirih, beban berat yang selama ini dia pikul sendirian akhirnya tumpah. "Kadang... kadang aku mikir, apa ayahku sengaja ngewarisin neraka ini buat aku karena dia tahu aku bisa jadi monster yang lebih kejam dari dia?"
Tangan Kael yang sedang mengusap rambut Valeria terhenti sejenak. Rahang pria itu mengeras mendengar keputusasaan dalam suara ratunya.
"Ayah Anda mewariskan klan itu bukan karena beliau ingin Anda menjadi monster, Val," bantah Kael pelan namun penuh keyakinan. "Beliau memberikannya pada Anda karena beliau tahu, hanya Anda yang memiliki hati cukup kuat untuk tidak membiarkan klan itu jatuh ke tangan iblis yang sebenarnya, seperti Paman Surya."
Valeria mendongak, menumpukan dagunya di dada Kael untuk menatap wajah pria itu. Mata cantiknya yang masih sembab tampak mencari kebohongan di mata Kael, tapi yang dia temukan hanyalah kejujuran mutlak.
"Kamu beneran mikir gitu?" tanya Valeria berbisik.
"Saya tahu itu, Val," jawab Kael menundukkan pandangannya, mempertemukan mata elangnya dengan mata Valeria. "Saya melihat bagaimana Anda diam-diam mengurus keluarga anak buah kita yang gugur. Saya melihat bagaimana Anda mengalihkan bisnis klan dari hal-hal kotor seperti narkotika, meskipun para tetua menentangnya. Anda mungkin memakai topeng iblis di luar sana, tapi di mata saya... Anda selalu menjadi cahaya yang menyelamatkan saya."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Kael, tanpa filter, tanpa keraguan.
Mendengar pengakuan setulus itu, pertahanan Valeria kembali goyah. Air mata baru kembali menggenang di pelupuk matanya. Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan, melainkan kelegaan yang luar biasa. Dia tidak sendirian. Kael melihatnya. Kael menyadari semua pengorbanannya yang selama ini tidak pernah dihargai oleh siapa pun di klan.
Tanpa sadar, Valeria memajukan wajahnya, menenggelamkan kembali wajahnya ke perpotongan leher Kael. Dia menangis lagi, tapi kali ini dengan suara yang jauh lebih tenang, melepaskan sisa-sisa racun stres yang menggerogoti mentalnya.
"Makasih... makasih, Kael," isak Valeria berkali-kali.
Kael tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu akhirnya menyingkirkan semua rasa canggung dan batasan status yang sejak tadi membelenggunya. Kael memiringkan tubuhnya sedikit, merengkuh punggung kecil Valeria dengan kedua tangannya yang besar, dan memeluk wanita itu sepenuhnya.
Sentuhan Kael tidak lagi kaku. Pelukan itu terasa sangat aman, posesif, dan melindungi. Kael membiarkan dadanya menjadi bantalan bagi air mata sang ratu. Pria itu menyandarkan rahangnya di puncak kepala Valeria, menghirup aroma rambut wanita itu dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri yang masih tidak karuan.
Ruangan bawah tanah itu kembali hening, hanya diisi oleh suara isak tangis Valeria yang semakin lama semakin pelan, tergantikan oleh suara napas yang mulai teratur. Kelelahan fisik dan emosional akhirnya benar-benar menumbangkan kesadaran sang ratu mafia.
Valeria jatuh tertidur di pelukan Kael. Wajahnya bersandar nyaman di dada Kael, tangannya masih mencengkeram erat kaus pria itu seolah takut Kael akan pergi meninggalkannya.
Menyadari napas Valeria sudah kembali tenang dan teratur, Kael tidak berani bergerak satu inci pun. Pria itu takut gerakannya akan membangunkan Valeria. Walaupun kakinya mulai terasa kesemutan dan bahu kanannya berdenyut nyeri karena menahan posisi, Kael rela duduk mematung seperti ini sampai besok pagi asalkan wanita di pelukannya ini bisa tidur nyenyak.
Kael menunduk, menatap wajah tidur Valeria yang kini terlihat begitu damai. Bekas air mata masih membekas di pipi pucatnya.
Dengan sangat hati-hati, Kael mengangkat tangan kanannya yang terluka. Ibu jarinya mengusap lembut sisa air mata di pipi Valeria.
"Malam ini adalah malam terakhir Anda menangis karena mereka, Ratuku," bisik Kael pada kesunyian bunker, matanya berkilat buas memancarkan aura kematian yang pekat. "Besok, giliran darah mereka yang akan mengalir untuk membayar setiap tetes air mata Anda."
Kael merebahkan punggungnya pelan-pelan ke sandaran kasur, menarik selimut dengan tangan kirinya untuk menutupi tubuh mereka berdua agar Valeria tidak kedinginan. Di tengah dunia yang telah membuang mereka, di bawah tanah yang gelap dan terisolasi ini, sang bayangan akhirnya menemukan tujuan hidupnya yang baru: bukan lagi sekadar mengabdi pada klan, melainkan hidup sepenuhnya untuk wanita yang tertidur di dadanya.