Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Hari-hari Dera sejak mulai bekerja dipenuhi dengan rutinitas yang seharusnya membuatnya sibuk. Pagi berangkat, siang menyelesaikan laporan, sore pulang dengan tubuh lelah. Tapi di sela-sela itu, pikirannya sering mengembara jauh. Ia bisa duduk di meja kerja selama berjam-jam, menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca apa pun. Atau diam di dapur kosan sambil memegang gelas teh yang sudah dingin, matanya kosong menatap dinding.
Rere yang tinggal seatap dengannya semakin khawatir. Ia sudah beberapa kali melihat Dera terdiam di tengah percakapan, atau tiba-tiba meneteskan air mata tanpa alasan yang jelas. Bahkan suatu malam, Rere menemukan temannya duduk di teras hingga larut, hanya memeluk lututnya sambil menatap langit Jakarta yang gelap.
Suatu sore, setelah Dera pulang kerja Rere memutuskan untuk berbicara.
Mereka duduk di ruang tamu kecil. Rere meletakkan dua gelas teh di meja, lalu menatap Dera yang sedang mengusap pelipisnya.
“Lebih baik kamu ke psikolog, Der,” kata Rere pelan tapi tegas. “Biar kamu tidak seperti ini terus. Aku lihat kamu semakin sering melamun. Kadang kamu bahkan tidak mendengar aku bicara.”
Dera mengangkat wajahnya. Senyum tipis yang dipaksakan muncul di bibirnya. “Aku tidak apa-apa, Re. Aku hanya belum bisa melupakannya saja. Biasa. Semua orang butuh waktu.”
“Bukan cuma waktu,” sahut Rere. Ia menghela napas, suaranya sedikit naik. “Ini sudah lebih dari itu. Kamu sering melamun sampai jari terluka waktu masak. Di kerja, kamu bilang sempat ditanya kenapa kelihatan tidak fokus. Tapi nanti bakal mengganggu pekerjaanmu. Aku tidak mau melihat kamu kehilangan kesempatan yang baru saja kamu dapatkan hanya karena masih membawa luka itu sendirian.” bujuknya.
Dera terdiam. Kata-kata Rere menusuk lebih dalam dari yang ia duga. Ia menunduk, memandang jari telunjuknya yang masih menyisakan bekas luka tipis dari kejadian beberapa hari lalu. Di balik dadanya, rasa lelah yang selama ini ditahannya mulai naik ke permukaan.
Ia sudah mencoba. Benar-benar mencoba. Setiap pagi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengingat Galih, tidak mengingat Vivian, tidak mengingat orang tuanya. Tapi bayangan itu datang tanpa diundang, saat antre kopi di kantor, saat mendengar tawa pasangan di jalan, saat malam terlalu sunyi.
“Aku takut,” bisik Dera akhirnya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Aku takut kalau cerita ke orang lain, mereka akan bilang aku lemah. Atau bilang aku berlebihan.”
Rere meraih tangan temannya. Genggamannya hangat. “Kamu tidak lemah. Kamu sudah cukup kuat sampai bisa sampai di sini. Tapi kuat bukan berarti harus memikul semuanya sendiri. Aku bisa temani kamu ke sana, kalau kamu mau.” tawarnya.
Dera menggigit bibir. Ia menatap wajah Rere yang penuh ketulusan. Di dalam hati, ia tahu temannya benar. Jika terus seperti ini, pekerjaan barunya yang susah payah ia dapatkan bisa terancam hilang. Dan ia tidak ingin kembali menjadi perempuan yang hanya bisa mengalah dan menangis diam-diam.
Mau tak mau, Dera mengangguk pelan.
“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lirih tapi pasti. “Aku akan mencobanya. Tapi kamu temani aku, ya?”
Rere tersenyum lega, lalu menarik Dera ke dalam pelukan singkat. “Tentu. Aku tidak akan tinggal diam melihat kamu hancur pelan-pelan.”
Kini Dera merasa ada sedikit harapan bahwa luka yang selama ini ia pendam mungkin suatu hari bisa mulai sembuh. Bukan karena waktu semata, melainkan karena ia akhirnya berani meminta bantuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Dera dan Rere berangkat bersama menuju klinik psikologi. Gedungnya tidak terlalu besar, tetapi bersih dan tenang. Di ruang tunggu, aroma lavender tipis menguar dari diffuser di sudut ruangan. Ada beberapa tanaman hijau dan majalah yang tersusun rapi di meja. Dera duduk dengan punggung kaku, jari-jarinya saling menggenggam erat di pangkuan. Rere sesekali mengelus punggungnya pelan, memberi isyarat bahwa ia tidak sendirian.
Nama Dera dipanggil.
Ruang konsultasi berukuran sedang, dindingnya dicat warna krem lembut. Ada dua kursi nyaman yang saling berhadapan, meja kecil di tengah, dan jendela yang membiarkan cahaya matahari masuk secukupnya. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan tersenyum hangat saat mereka masuk. Rambutnya dikuncir rendah, wajahnya tenang, dan matanya terlihat penuh perhatian.
“Selamat pagi. Saya Gio, psikolog yang akan mendampingi anda hari ini. Silakan duduk.”
Rere menunggu di luar sesuai permintaan Dera. Pintu ditutup pelan. Keheningan sesaat memenuhi ruangan.
Gio membuka catatan kecil, lalu menatap Dera dengan lembut. “Boleh cerita, apa yang membuat anda datang ke sini hari ini?”
Dera menarik napas panjang. Kerongkongannya terasa kering. Ia menunduk sejenak, lalu mulai berbicara dengan suara yang pelan dan sedikit bergetar.
“Saya… sering melamun. Tidak fokus. Kadang tiba-tiba sedih tanpa alasan yang jelas. Teman saya bilang ini sudah mengganggu. Saya baru mulai kerja di Jakarta, dan saya takut kalau terus seperti ini, saya akan gagal lagi.”
Gio mengangguk pelan, memberi ruang. “Boleh lebih dalam? Apa yang biasanya muncul di pikiran anda saat melamun?”
Dera terdiam cukup lama. Air matanya sudah menggenang di pelupuk sebelum ia sempat menahannya.
“Saya dikhianati,” katanya akhirnya. Suaranya pecah. “Tunangan saya, Galih, selingkuh dengan kakak kandung saya sendiri, Vivian. Mereka menikah karena kakak saya hamil. Orang tua saya mendukung mereka. Bahkan pernikahan itu memakai uang saya, uang yang seharusnya untuk pernikahan saya. Gaun pengantin yang saya pesan, dekorasi, semuanya milik saya. Tapi orang tua saya justru meminta saya untuk marah"
Air mata mulai mengalir. Dera mengusapnya dengan cepat, malu.
Gio menyodorkan kotak tisu tanpa memotong cerita Dera. “Terima kasih sudah berani menceritakan. Bagaimana perasaan mu saat itu terjadi?” tanya Gio.
“Saya merasa tidak berharga,” jawab Dera lirih. “Sejak kecil saya selalu diminta mengerti. Semua yang bagus selalu untuk kakak saya. Kalau dia menangis, mereka langsung datang. Kalau saya menangis, saya disuruh kuat. Saya anak kandung, tapi sering merasa seperti anak angkat. Seperti orang asing di rumah sendiri.”
Gio mencatat sebentar, lalu menatap Dera lagi. “Kamu merasa ditolak oleh keluarga sendiri. Dan pengkhianatan itu bukan hanya dari pasangan, tapi juga dari orang-orang yang seharusnya melindungimu. Itu luka yang berlapis.”
Dera mengangguk, terisak pelan. “Saya menjual cincin pertunangan saya. Mereka marah. Ayah bilang saya tidak berhak. Lalu saya memutuskan pergi ke Jakarta. Saya pikir kalau jauh, saya bisa lupa. Tapi ternyata tidak. Setiap kali lihat orang lain berpasangan, atau malam terlalu sunyi, semuanya kembali membuat saya sakit hati. Saya jadi takut pada laki-laki. Saya bahkan melukai jari sendiri karena melamun waktu masak.”
Gio mengangguk pelan, suaranya tetap tenang dan hangat. “Yang kamu alami disebut trauma kompleks. Bukan hanya satu kejadian, tapi pola panjang di mana kebutuhan emosional kamu tidak terpenuhi, ditambah pengkhianatan besar. Otak kamu masih dalam mode bertahan. Melamun, kehilangan fokus, rasa kosong, itu cara tubuh melindungi diri dari rasa sakit yang terlalu besar.”
Dera menatapnya, mata masih basah. “Saya lemah, ya, dok?”
“Tidak,” jawab Gio tegas namun lembut. “Kamu justru sangat kuat. Kamu berhasil keluar dari lingkungan yang menyakitimu, mencari kerja, bertahan di kota baru. Tapi kuat bukan berarti harus menanggung semuanya sendirian. Meminta bantuan justru tanda keberanian.”
Sesi berlanjut hampir satu jam. Gio membimbing Dera untuk mengenali perasaannya yang selama ini ditekan, mengajarkan teknik pernapasan sederhana saat pikiran mulai kacau, dan menekankan bahwa proses menyembuhkan butuh waktu. Ia tidak memaksa Dera memaafkan siapa pun. Yang utama adalah Dera mulai belajar memvalidasi rasa sakitnya sendiri.
Ketika sesi hampir berakhir, Gio tersenyum kecil. “Kita akan bertemu lagi minggu depan, jika kamu berkenan. Hari ini sudah sangat bagus. Kamu sudah mengambil langkah pertama yang penting.”
Dera mengangguk. Ia merasa lelah luar biasa, seolah baru saja mengeluarkan beban yang bertahun-tahun dipikul. Tapi di antara kelelahan itu, ada rasa lega yang tipis, seperti jendela yang sedikit dibuka setelah lama tertutup rapat.
Saat keluar ruangan, tanpa sengaja Dera berpapasan dengan seorang pria.
"Cantik"
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa