NovelToon NovelToon
Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romansa
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: jingrd24

"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.

Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!

Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Rencana yang Terhempas Batu

Tekad yang diucapkan Kate di balik tirai balkon kemarin bukan sekadar gertakan belaka. Sebagai Putri tunggal Duke Raventhal yang dibesarkan dalam gelimang kemewahan istana dan gengsi setinggi langit, kata "membuat Salvatore menyesal" tidak pernah berarti ia akan melabrak, berteriak, atau mengamuk konyol seperti wanita yang tidak berpendidikan.

Bagi Kate, itu sangat murah. Ia punya harga diri sebagai bangsawan tinggi yang harus dijaga rapat-rapat.

Maka dari itu, Kate memutuskan melancarkan sebuah strategi terukur: Pamer Kehadiran dan Superioritas Nyonya Rumah.

Rencanya sangat rapi di dalam kepala Kate. Ia tidak perlu mendatangi barak latihan atau bertingkah centil. Kate hanya perlu menunjukkan keanggunan mutlak dirinya sebagai istri sah dan pemilik kediaman ini. Ia ingin menegaskan batas wilayah kepada siapa pun—termasuk pada Lady Sonia—bahwa di mansion ini, aturan dan pesona seorang Putri Raventallah yang memegang kendali penuh.

Pagi itu, sejak fajar menyingsing, Kate sudah menyiksa Rhea dan para pelayan kamar untuk menyiapkannya.

Ia memilih gaun sutra terbaik berwarna biru malam berhias sulaman benang perak di bagian dadanya. Tatanan rambutnya disanggul halus dengan sisa helai yang jatuh lembut mengatai leher jenjangnya. Ia bahkan menyemprotkan parfum aroma mawar langka yang biasa ia pakai untuk menghadiri pesta dansa istana kerajaan.

Di depan cermin meja rias, Kate memoleskan pewarna bibir dengan gerakan jari yang amat teratur.

"Nona," panggil Rhea yang berdiri di samping lemari sembari memegang nampan porselen berukir emas. "Jika boleh saya tahu, apakah hari ini ada kunjungan mendadak dari Utusan Istana atau Anggota Dewan Kerajaan?"

Kate tidak menoleh, ia hanya menatap bayangannya di cermin dengan dagu terangkat bangga. "Tidak ada. Kenapa kau bertanya begitu?"

Rhea mengerjapkan matanya pelan, menatap gaun tiga lapis bertabur mutiara yang dikenakan majikannya. "Saya hanya heran. Biasanya jika hanya berdiam diri di rumah, Anda paling malas mengenakan korset kencang dan gaun berat seperti ini. Anda bahkan biasanya mengeluh gatal jika terkena debu koridor."

"Itu dulu, Rhea!" sahut Kate cepat, memutar tubuhnya dan menatap dayang pribadinya dengan pandangan tajam. "Hari ini aku ingin memastikan bahwa seluruh pelayanan di mansion ini berjalan sesuai standar tinggi keluarga Ravental. Aku tidak mau mansion Ardan yang megah ini terkesan kumuh dan acak-acakan gara-gara dipenuhi oleh para prajurit kaku yang cuma tahu bau keringat dan seragam besi!"

Rhea mengangguk-angguk paham, meski di dalam hatinya ia tahu betul alibi 'standar keanggunan' itu seratus persen adalah taktik gengsi majikannya untuk menyaingi keberadaan Lady Sonia di mata Salvatore.

"Baiklah, Nona. Lalu apa tugas saya sekarang?" tanya Rhea patuh.

Kate tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang sudah ia susun skenarionya.

"Aku minta koki menyiapkan kudapan teh sore kelas atas. Teh chamomile terbaik dan pancake lembut beroles sirup maple. Kita akan membawanya melewati koridor utama menuju ruang kerja lantai dua," perintah Kate mantap.

Dalam benak Kate, skenario indah ini akan berjalan sempurna: Ia akan berjalan anggun memimpin para pelayan membawa jamuan mewah, melewati area ruang kerja tempat Sal dan Sonia berdiskusi. Ia akan menyapa suaminya dengan keanggunan seorang istri bangsawan, membuat Sonia sadar akan posisinya sebagai tamu militer biasa, dan memancing rasa kagum dari Salvatore.

Namun, rencana anggun Kate yang sudah dirancang sedemikian rupa bahkan belum sempat mengepakkan sayapnya ketika takdir mempertemukannya dengan Salvatore di pertengahan koridor lantai dua.

Salvatore baru saja naik dari arah barak luar, berniat menuju ruang kerjanya untuk mengambil beberapa gulungan dokumen logistik sebelum jam makan siang.

Pria bertubuh tinggi tegap itu mengenakan kemeja latihan kelabu yang lengannya tergulung kencang hingga menunjukkan otot lengan bawahnya yang kokoh dan berurat. Wajah tampannya sedikit basah oleh peluh tipis, memancarkan aura ketampanan maskulin khas seorang Jenderal Perang yang terbiasa hidup keras di perbatasan.

Begitu melangkah di koridor lantai dua, langkah kaki Salvatore mendadak terhenti.

Mata elangnya yang tajam bergulir menatap pemandangan aneh di hadapannya: Istrinya, Kate Raventhal, sedang berdiri di tengah koridor dengan gaun pesta tiga lapis yang amat sangat mewah, dikelilingi oleh tiga orang pelayan yang membawa nampan porselen berisi cangkir-cangkir tebal berukir emas.

Salvatore mengerjapkan matanya pelan. Jujur saja, di dalam hati pria batu ini, ia selalu mengagumi betapa cantiknya Putri Ravental yang kini menjadi istrinya. Salvatore sangat menyayangi Kate, dan itulah alasan utama mengapa dulu ia tanpa ragu menerima perjodohan ini meski ia tahu dirinya sangat kaku. Pria itu selalu merasa Kate adalah sosok yang terlalu indah untuk kediamannya yang serba kaku.

Namun, masalah terbesar Salvatore Ardan sepanjang hidupnya adalah: Dia tidak pernah berhubungan dekat dengan wanita, tidak paham dunia asmara, dan otaknya terprogram murni secara logis-militer.

Bagi Sal, jika Kate mengenakan gaun seberat itu di tengah hari yang agak hangat, artinya istrinya pasti sedang merasa kerepotan dan kesusahan.

Dengan niat yang MURNI TULUS dan khawatir akan kenyamanan istrinya, Salvatore melangkah mendekat. Raut wajah tegasnya menatap Kate dengan sorot mata yang hangat dan tenang—sama sekali tidak ada niat untuk bersikap galak, apalagi menyerang.

"Kate?" panggil Sal dengan suara baritonnya yang rendah dan dalam. "Kau sedang apa di sini?"

Mendengar suara suaminya, jantung Kate sempat berdesir halus. Ia cepat-cepat membetulkan posisi berdirinya, menegakkan punggungnya kaku, dan memasang senyuman paling anggun dan mempesona di bibirnya.

"Oh, Jenderal," sahut Kate halus, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti nyonya rumah yang bijaksana. "Aku hanya sedang mengawasi pelayanan mansion. Aku membawakan teh jamuan dan kudapan mewah untukmu dan para tamu militermu di ruang kerja."

Kate menahan napasnya. Di balik topeng gengsinya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Kate menantikan reaksi Salvatore. Setidaknya pria itu akan terpana melihat gaun mewahnya, memuji perhatiannya, atau tersenyum kecil mendapati istrinya begitu repot menyiapkan teh.

Salvatore menatap cangkir porselen berukir emas di nampan Rhea, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Kate.

Mata polos sang Jenderal menangkap bulir keringat halus di pelipis Kate—akibat menahan beban korset dan gaun mewahnya di pertengahan hari. Otak polos Sal yang tidak peka langsung menarik kesimpulan: Istriku kasihan sekali, dia sampai kerepotan dan kepanasan begini cuma demi membawakan teh untuk para prajurit.

Karena merasa tidak ingin membuat istrinya makin kelelahan, Salvatore mengulurkan tangannya pelan, menyentuh bahu Kate dengan niat tulus untuk menyuruhnya beristirahat.

"Kate, kau tidak perlu merepotkan dirimu sampai seperti ini," ujar Sal dengan nada suara yang amat sangat lembut, jujur, dan polos tanpa dosa.

"Ransum dan minuman di markas kami sangat sederhana. Sonia dan para perwira militer lainnya sudah terbiasa minum dari cangkir kaleng di medan perang. Mereka bahkan tidak mengerti cara menikmati teh porselen seperti ini."

DEG.

Senyuman anggun di wajah Kate seketika membeku kaku di udara.

Sal yang sama sekali tidak menyadari bahwa kata-katanya baru saja menyenggol gengsi Kate, justru melanjutkan penjelasannya dengan raut wajah yang murni khawatir. Pria itu menyangka ia sedang membantu istrinya agar tidak perlu membuang-buang tenaga untuk urusan orang-orang barak yang kasar.

"Lagipula, Sonia tadi bilang padaku kalau mereka harus menyelesaikan draf jadwal patroli ini dengan cepat sebelum sore," tambah Sal dengan polosnya, menatap Kate dengan binar mata yang jujur.

"Gaya jamuan istana seperti ini membutuhkan waktu lama untuk dinikmati. Jadi daripada kau capek-capek berdandan berat dan berdiri di sini, lebih baik kau istirahat di kamar. Udara hari ini agak panas untukmu."

Rasanya ada hantaman godam besi yang tidak kasat mata meledak tepat di dada Kate Raventhal!

Darah di dalam tubuh Kate rasanya berhenti mengalir seketika. Seluruh keberanian, niat beraksi, dan harapan tersembunyi yang tadi membara di dalam kamarnya meluntur total dalam sekejap mata!

Salvatore MURNI TIDAK BERNIAT JAHAT. Pria itu melarang Kate karena kasihan melihat istrinya kerepotan berpakaian mewah di hari yang panas, dan ia menyebut urusan Sonia butuh cepat karena tidak ingin Kate terganggu oleh kebiasaan minum teh para prajurit yang kasar.

Namun, di dalam kepala Kate yang sedang dibakar rasa cemburu dan gengsi tinggi, kalimat Salvatore diterjemahkan secara brutal dan salah!

Bagi Kate, Salvatore baru saja mengatakan bahwa usahanya merepotkan, jamuan mewahnya memperlambat kerja Sonia, dan penampilannya yang sudah dirancang setengah mati ini dianggap tidak dibutuhkan!

Gengsi tingginya sebagai Putri Raventhal mendadak merasa ditelanjangi, diremehkan, dan dihantam begitu keras oleh kepolosan suaminya sendiri!

"K-kau..." bisik Kate dengan nada suara yang mendadak tercekat di tenggorokan.

Salvatore mengerjapkan matanya polos, bertaut alis tipis mendapati raut wajah istrinya yang mendadak pucat pasi. "Ada apa, Kate? Kaki atau badanmu ada yang sakit?" tanya Sal tulus, melangkah setengah tapak mendekat karena khawatir.

"Tidak!" potong Kate cepat, melangkah mundur satu tapak menghindari sentuhan Sal.

Wajah cantik Kate kini meletupkan warna merah padam, bukan karena malu, melainkan karena kombinasi antara rasa perih di dada, tengsin yang amat sangat berat, dan amarah yang tertekan hebat di balik tenggorokannya.

Ia merasa begitu bodoh. Sangat amat bodoh! Ia sudah membuang waktu jam-jaman memakai gaun berat ini, menurunkan gengsinya untuk menyiapkan teh, hanya untuk ditolak secara halus dan polos oleh pria yang bahkan tidak mengerti bedanya teh chamomile dan air mentah!

Kate meremas kain gaun mewahnya di balik lipatan tangan hingga jari-jarinya gemetar hebat.

"Aku... aku tidak apa-apa, Jenderal," ujar Kate dengan suara yang dipaksa tetap tenang, walau getaran di dadanya sudah di ambang batas. Ia memamerkan senyuman paling kaku dan paling dingin yang pernah ia miliki.

"Terima kasih atas kepedulianmu yang amat sangat 'pengertian' itu," lanjut Kate dengan nada yang mengandung racun kedinginan pekat, walau Sal tetap tidak menangkap artinya.

"Kate?" gumam Sal bingung.

"Rhea! Bawa kembali semua teh ini ke dapur!" perintah Kate tegas tanpa mau menatap mata Salvatore lagi.

"Nona?" panggil Rhea prihatin.

"Aku bilang bawa kembali!" seru Kate kaku, lalu berbalik cepat.

Gaun sutra mewahnya yang berat melambai tajam saat Kate menghentakkan kakinya lebar-lebar menyusuri koridor, melarikan diri dari rasa malu dan sakit hati yang menghimpit dadanya.

Salvatore berdiri sendirian di tengah koridor yang sepi. Pria bertubuh tegap itu mematung, menatap punggung istrinya yang makin menjauh dengan pandangan matanya yang amat sangat kebingungan.

Sal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, benar-benar tidak paham di mana letak kesalahannya.

‘Apa aku salah bicara?’ batin Salvatore dalam hati dengan kepolosan yang tragis. ‘Aku kan cuma tidak mau dia kelelahan membawa teh berat untuk anak-anak barak... Kenapa dia kelihatan marah sekali?’

Pria batu yang tidak pernah tahu cara memahami hati wanita itu menghela napas pendek. Karena otaknya tidak menemukan jawaban logis atas perubahan emosi Kate, Sal akhirnya memilih berbalik dan masuk ke ruang kerjanya—membiarkan kesalahpahaman itu menggantung tanpa pernah diluruskan.

Di dalam kamar utama.

Kate mendorong pintu kamar tidurnya dan menutupnya dengan rapat. Ia tidak melempar barang, tidak juga menjerit histeris. Ia hanya berdiri mematung di balik pintu kayu tebal itu, menempelkan telapak tangannya di dada kirinya yang terasa begitu sesak dan terbakar hebat.

Rhea melangkah masuk beberapa saat kemudian, menaruh nampan teh yang masih utuh di atas meja rias, lalu menatap majikannya dengan pancaran mata tanpa ledekan—murni rasa iba yang mendalam.

"Nona..." panggil Rhea pelan.

"Jangan katakan apa-apa, Rhea," bisik Kate dengan suara bergetar tipis, memejamkan matanya rapat-rapat saat air mata kekesalan dan ketidakterimaan menggenang di sudut matanya.

Rencana mewahnya untuk menunjukkan superioritas hari ini resmi hancur berkeping-keping. Dan kekecewaan mendalam atas ketidakpekaan Salvatore yang kelewat polos itu kini membeku menjadi dinding es yang tebal di hati Kate.

Jika usahanya untuk hadir dan berbuat baik hanya dianggap sebagai 'hal yang merepotkan' oleh suaminya, maka Kate Raventhal bersumpah tidak akan pernah lagi membuang satu detik pun perhatiannya untuk pria batu itu!

Kate membuka matanya kembali, memancarkan binar dingin yang dipenuhi rasa tersinggung dan gengsi tinggi.

Rencana mewahnya untuk menunjukkan kehadiran dan superioritas hari ini resmi hancur berkeping-keping. Dan kegagalan itulah yang menampar Kate dengan keras, menumbuhkan tekat konyol di dalam kepalanya bahwa ia tidak akan pernah lagi merendahkan dirinya untuk mendekati Salvatore duluan.

"Biarkan saja dia," gumam Kate kaku, membelakangi cermin dengan dagu terangkat.

"Aku tidak akan sudi pura-pura ramah atau peduli lagi padanya."

Rhea yang berdiri di balik meja hanya menghela napas pendek, menatap majikannya dengan pandangan yang sarat akan rasa maklum. Dayang pribadi itu sangat paham—bahkan bagian kecil di balik dada Kate sendiri pun tahu—bahwa janji "tidak mau peduli" milik Putri Raventhal adalah hal paling rapuh di muka bumi.

Sebab setebal apa pun benteng kedinginan dan gengsi yang coba dibangun Kate malam ini, rasa cemburu dan penasarannya yang tak tersampaikan hanya sedang menanti percikan kecil untuk kembali membakar seluruh pertahanan dirinya.

1
Iluvmacha
waduhhh, ketmu bos besar akhirny
Iluvmacha
kenapa harus marah?🙄 ih gregett, peka dong Salll
Iluvmacha
ini mah bukan ga peka lagii, udh nyebelin bngt!! Sal ngeh ga ya Kate pergi?
jinggaarundari: datang besok lagi ya kaa, jawabannya terungkap di bab selanjutnya 😍😍
total 1 replies
Iluvmacha
ihhh, Sal kan bisa nolak harusnya😠😠
jinggaarundari: Sal terlalu patuh peraturan kaa🫣🫣
total 1 replies
Iluvmacha
Upp!! banyakin update pliss🤩
jinggaarundari: ditunggu ya kaa😍😍
total 1 replies
Iluvmacha
bisa-bisany sibdiran sejlas itu masih ga peka😃
Iluvmacha
emng klo satunya g mau jujur, satunya g peka, susah bgtt😭😭
Iluvmacha
Kate tuh tsundere ya🤭
zhtlkv83
thoooor , penasaran lgi donk Thor 🤭🤭🤭mf y ngelunjak 😄😄
jinggaarundari: wahh, seneng banget. besok ya kaa😍😍
total 1 replies
zhtlkv83
thank's sooooo much ,,author ku yg dermawan ,, 💪💪💪
jinggaarundari: hehe, makasi banyak juga ka sudah support 😍😍
total 1 replies
zhtlkv83
banyakin donk author yg dermawan update nya 🤭🤭
jinggaarundari: iya kaa, harusnya satu hari satu bab hehe. nanti aku usahakan ya kaa😍😍
total 1 replies
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
keren. 😍
Iluvmacha
ga sabar Kate notice Sonia🤭
jinggaarundari: waduh bener lagi, tungguin bab selanjutnya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
btw, semangat kaka authorr💪💪 lanjut terus
jinggaarundari: 😍😍makasi banyak kaa, makin semangat disemangati kakakk
total 1 replies
otter_orange
Menunggu reaksi Kate kalau suaminya deket sama wanita lain🤣
jinggaarundari: sipp, tunggu update bab nya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
apaan sii, dia yg nunggu dia jg yg gengsi😭😭
jinggaarundari: emang kadang kidding🫣
total 1 replies
otter_orange
Akhirnya yg ditunggu-tunggu Kate kena karma kan, dibilang suaminya perfect gitu😭
La Vanya
waduhh, siapa tuh Sonia🤔
jinggaarundari: siapa ya🤔🤔, tunggu bab selanjutnya besok kaa😍😍
total 1 replies
La Vanya
katanya pemandangan merusak, tp kok ditungguin🤭
jinggaarundari: kalo ga gengsi bukan Kate namany🤭
total 1 replies
La Vanya
RHEA APRESIASI SETINGGI-TINGGINYA BUAT KMU WKWKWK😭😭😭
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jinggaarundari: hahaha, bener banget ka, emang orang kaya Kate butuh dayang kaya Rhea 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!