Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon Dari Masa Lalu
Aku mematikan teleponnya.
Tanganku gemetar hebat sampai handphoneku hampir jatuh ke lantai ruang tamu. Mbak Sari yang sedang menyapu langsung berlari menghampiriku.
"Bu Arini kenapa? Pucat banget Bu!"
Aku tidak menjawab. Aku hanya duduk di sofa, menatap layar handphone yang sudah mati itu. Nama Luna masih tertera di log panggilan. Luna. Wanita yang dulu aku anggap adik sendiri. Wanita yang aku ajak tinggal di kontrakan kecilku waktu aku hamil Alesha sendirian karena tidak punya uang bayar kontrakan. Wanita yang aku suapi waktu dia sakit. Wanita yang ternyata tidur dengan suamiku, Bara, di kontrakan itu juga, di saat aku sedang periksa kandungan Alesha di puskesmas.
Luna adalah alasan kenapa Bara menceraikanku dengan kalimat paling kejam yang pernah ada: "Kamu mandul! Kamu tidak bisa kasih aku anak! Luna bisa! Luna sudah hamil anakku!"
Padahal saat itu, aku sedang hamil Alesha. Alesha ada di perutku. Tapi Bara tidak percaya. Dia pikir aku mandul selamanya.
Dan sekarang, 8 tahun kemudian, setelah aku bahagia dengan Revan, setelah Alesha jadi Kakak, setelah aku hamil lagi 8 minggu dan punya Rumah Bunga Matahari di Puncak, Luna meneleponku dan bilang Bara di rumah sakit?
Untuk apa? Mau minta uang lagi? Mau minta maaf lagi? Mau titip anak lagi seperti Bara menitipkan Alesha?
Tidak. Cukup. Masa lalu yang sudah kami bakar menjadi abu dan menjadi pupuk bunga matahari terbesar di taman belakang itu tidak boleh tumbuh lagi. Tidak boleh.
Aku memblokir nomor itu. Langsung. Tanpa pikir panjang. Jari telunjukku menekan tombol blokir dengan kekuatan penuh, seolah dengan memblokir nomor itu, aku bisa memblokir seluruh masa lalu yang mencoba masuk lagi ke Rumah Bunga Matahari kami.
Malamnya, Revan pulang jam 8 malam. Wajahnya lelah, dasinya sudah longgar, tapi matanya langsung mencari perutku yang 8 minggu itu. Itu kebiasaan barunya sejak kemarin, sejak foto USG ditempel di kulkas.
"Gimana Kakak Alesha hari ini di sekolah?" tanya Revan sambil mencium keningku dan kening Alesha yang sudah tidur di sofa karena menunggu Papanya pulang.
Aku tidak langsung cerita soal telepon Luna. Aku menunggu Alesha digendong Revan ke kamarnya dulu, diselimuti, dicium, dan dibisikkan "Selamat tidur, Kakak hebat."
Baru setelah pintu kamar Alesha tertutup, aku cerita. Dengan suara pelan, dengan tangan yang masih gemetar.
Revan mendengarkan tanpa memotong. Wajah CEO dinginnya kembali muncul, tapi bukan dingin kejam, dingin melindungi. Rahangnya mengeras saat aku menyebut nama Luna.
"Luna bilang Bara di rumah sakit," bisikku di akhir cerita. "Aku matiin teleponnya. Aku blokir."
Revan mengangguk pelan. Dia duduk di sampingku, merangkul bahuku yang dingin.
"Kamu sudah benar," katanya. "Kamu sudah benar matiin teleponnya. Kamu sudah benar blokir. Tugas kita bukan lagi menolong Bara dan Luna. Tugas kita adalah menjaga Kakak Alesha dan adik di perut kamu. Itu janji kita di tanah Puncak kemarin kan?"
Aku mengangguk, air mataku jatuh lagi. Sudah berapa kali aku menangis dalam 3 hari ini? Sejak hamil, air mataku jadi sangat dekat.
"Tapi Revan... kalau Bara beneran sakit parah gimana? Kalau dia..."
Revan meletakkan jari telunjuknya di bibirku lagi, seperti kebiasaannya. "Shhh. Arini. Dengerin aku. Bara sudah memilih pergi dua minggu lalu. Dia sendiri yang tulis di surat lusuh itu, 'Jaga Alesha. Aku titip dia sama kamu dan Revan.' Dia sudah titip. Dia sudah selesai. Dia sudah pergi naik bus entah kemana. Kalau sekarang dia sakit dan Luna yang telepon kamu, itu urusan Luna dan Bara. Bukan urusan Arini dan Revan dan Kakak Alesha."
Revan benar. Selalu benar.
Dia lalu berdiri, mengambil handphone ku yang tergeletak di meja. Dia membuka blokir nomor Luna, lalu dia mengetik sebuah pesan, dengan jarinya yang besar, dengan kalimat yang sangat Revan sekali, singkat, dingin, jelas, dan tidak memberi celah untuk drama.
Pesannya berbunyi:
"Ini Revan, suami Arini. Arini sedang hamil 8 minggu dan butuh istirahat total. Jangan telepon lagi. Urusan Bara adalah urusan kamu dan Bara. Jangan bawa-bawa nama Alesha lagi. Kami sudah punya Rumah Bunga Matahari sendiri. Terima kasih."
Kirim.
Setelah itu, Revan memblokir lagi nomor Luna. Dan dia mematikan handphone ku.
"Sudah selesai," kata Revan, mengembalikan handphone ku ke laci meja rias. "Mulai malam ini, handphone Mama disita Papa kalau jam 8 malam ke atas. Mama tugasnya hanya tidur, makan, dan elus-elus perut yang ada adiknya Kakak Alesha. Biar Papa yang jadi satpam yang jaga gerbang dari telepon-telepon masa lalu."
Aku tertawa di tengah tangisku. Revan yang dulu satpam? Revan yang CEO?
Tapi tawa itu membuat perutku yang 8 minggu terasa hangat. Membuat detak jantung kecil di dalam perutku yang baru terdeteksi kemarin di USG terasa lebih kencang, seolah dia juga setuju dengan Papanya.
Malam itu, aku tidur nyenyak untuk pertama kalinya setelah dua minggu. Tidak ada lagi bayangan Bara di pos satpam. Tidak ada lagi suara Luna di telepon. Yang ada hanya tangan Revan yang memeluk perutku dari belakang, dan suara dengkuran halus Alesha dari kamar sebelah yang pintunya sengaja kami buka sedikit, agar kami bisa mendengar jika Kakak Alesha memanggil.
Keesokan paginya, hari Selasa, adalah jadwal kontrol kandungan pertamaku setelah tahu hamil 8 minggu. Revan sudah cuti seharian, tidak ada meeting, tidak ada presentasi Argan Group. Mbak Sari sudah menyiapkan bekal untuk Alesha yang hari ini tidak sekolah karena ada acara keluarga: kontrol adik.
Di Klinik Bunda Sejahtera, dokter kandungan yang sama yang dulu memvonis aku mandul 8 tahun lalu, yang sama yang menangis bahagia saat tahu aku hamil Alesha, sekarang menatap layar USG dengan senyum lebar.
"Selamat ya Bu Arini, Pak Revan. Detak jantungnya kuat sekali. Lihat ini, ini kepalanya, ini tangannya. Sehat sekali. 8 minggu 3 hari. Lebih besar dari usia seharusnya. Adiknya Kakak Alesha ini kuat, seperti Kakaknya."
Alesha yang ikut masuk ke ruang USG, berdiri di atas kursi agar bisa melihat layar, berteriak senang, "Itu adik! Itu adik Alesha! Kecil banget! Kayak kacang!"
Dokter tertawa. "Iya, Kakak Alesha. Adiknya masih sekecil kacang tanah. Tapi nanti 7 bulan lagi, sebesar semangka, baru keluar ketemu Kakak."
Alesha mengangguk serius, lalu mengelus perutku yang masih rata. "Adik, jangan nakal ya di perut Mama. Nanti kalau keluar, Kakak ajarin main bunga matahari!"
Aku dan Revan saling tatap di atas ranjang periksa, air mata kami jatuh bersamaan lagi. Sudah berapa kali?
Di layar USG hitam putih itu, ada dua detak jantung. Satu detak jantungku yang berdebar kencang karena bahagia, dan satu detak jantung kecil sekecil kacang tanah yang berdebar jauh lebih kencang, berjuang untuk hidup, berjuang untuk datang ke Rumah Bunga Matahari kami.
Dokter mencetak foto USG terbaru, 8 minggu 3 hari. Foto yang lebih jelas dari kemarin. Foto yang akan kami tempel lagi di kulkas, di sebelah foto 8 minggu kemarin.
Saat kami keluar dari ruang dokter, handphone Revan bergetar. Bukan handphone ku, handphone Revan. Nomor tidak dikenal lagi.
Revan mengangkatnya di depan kami, dengan loudspeaker, agar aku dengar.
"Halo, apa benar ini Pak Revan Argan? Suami Bu Arini?" Suara Luna lagi. Kali ini dia telepon Revan.
Revan menatapku, aku mengangguk, memberi izin untuk bicara. Alesha masih memegang foto USG adiknya, tidak mengerti apa yang terjadi.
"Iya, saya Revan. Ada apa?" suara Revan dingin.
"Pak Revan, maaf, saya Luna. Saya tahu kemarin saya telepon Bu Arini dan dimatikan. Saya mohon, Pak. Bara... Bara kritis di rumah sakit Surabaya. Gagal ginjal. Dia butuh donor. Saya... saya tidak punya uang, Pak. Saya... saya ingat Bara pernah bilang, Bu Arini sekarang bahagia sama Pak Revan yang kaya raya. Saya mohon, Pak. Tolong Bara. Untuk Alesha... untuk anaknya..."
Alesha yang mendengar nama Om Bara, langsung mendongak. "Om Bara? Om Bara yang satpam? Om Bara sakit?"
Dunia berhenti lagi untuk ketiga kalinya dalam 3 hari.
Revan langsung mematikan teleponnya. Dia tidak mau Alesha dengar lebih banyak.
Tapi Alesha sudah dengar. Anak 5 tahun setengah itu sudah dengar kata "sakit", "rumah sakit", "gagal ginjal".
Alesha menatap aku dan Revan bergantian, foto USG adik di tangannya diremas pelan.
"Mama, Papa, Om Bara sakit? Yang kemarin jadi satpam di sekolah Alesha itu sakit? Kita harus jenguk Om Bara ya? Kasian Om Bara."
Kalimat polos itu. Kalimat yang membuat janji kami di tanah Puncak untuk tidak pernah lagi membahas Bara dan Luna, hancur berantakan di depan ruang dokter kandungan, di depan foto USG adik sekecil kacang tanah.
Aku berlutut, memeluk Alesha. Perutku yang 8 minggu 3 hari terasa nyeri, bukan karena bayi, tapi karena masa lalu yang ternyata tidak mau terkubur menjadi pupuk. Masa lalu yang mencoba tumbuh lagi, bahkan di hari bahagia kami kontrol adik.
Bagaimana ini, Revan? Apa yang harus kita katakan pada Kakak Alesha?