NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

"Huaaa! Uangku kembali!"

Suara tangisan Budi yang keras dan cengeng terdengar hingga ke jalan raya.

Pagi itu, Budi berlutut di teras depan kamar Rahman sambil memeluk bantal yang di atasnya terdapat tumpukan uang tiga puluh juta.

Dimas, Maya, dan Rina hanya bisa tersenyum haru melihat pemandangan tersebut.

Rahman keluar kamarnya dengan wajah pura-pura sebal.

"Berhenti menangis seperti anak kecil, Budi!"

"Suaramu membuat gendang telingaku sakit pagi-pagi begini!" omelnya.

"Pak Rahman... bapak ini malaikat atau apa sih, Pak?"

"Bagaimana caranya bapak bisa mengambil kembali uang ini dari agen penipu itu?" tanya Budi sambil terus mengusap air matanya yang mengalir deras.

"Itu rahasia perusahaan."

"Yang penting uangmu kembali, dan mulai besok uang sewa kamarmu aku naikkan lima puluh ribu sebagai biaya administrasi penyelamatan!" karang Rahman tanpa rasa malu.

Bukannya marah, Budi justru tertawa terbahak-bahak di sela-sela tangisnya.

"Jangankan lima puluh ribu, Pak."

"Mulai hari ini, raga dan tenaga saya ini milik bapak."

"Kalau bapak butuh bodyguard seumur hidup, saya siap Pak!" sumpah Budi sambil memberi hormat militer.

Rahman mendengus meremehkan.

"Aku tidak butuh bodyguard cengeng."

"Cepat simpan uangmu itu ke bank, jangan kau taruh di bawah bantal lagi dasar bodoh!"

Hari itu dimulai dengan perasaan sangat bahagia di Kos Putra Putri Melati.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu kembali terusik menjelang sore hari.

Teng neng neng neng! Jreng!

Suara petikan gitar yang fals dan pukulan kendang dari galon bekas tiba-tiba memecah ketenangan gang.

Maya yang sedang menyapu halaman depan langsung menoleh ke arah jalan.

Di mulut gang, tepat di antara Kos Rahman dan Kos Nusantara, sekelompok pemuda bergaya punk sedang berkumpul.

Mereka ada sekitar sepuluh orang.

Rambut mereka dicat warna-warni, ada yang berdandan ala rocker dengan jaket kulit penuh paku, dan ada yang memakai rantai besar di celananya.

Mereka duduk-duduk di pinggir jalan, memetik gitar, merokok, dan bernyanyi dengan suara yang sangat sumbang dan berisik.

"Wah, tumben ada anak punk nongkrong di gang kita?" gumam Maya heran.

Mpok Siti yang sedang menggoreng bakwan di warungnya juga ikut terganggu.

"Woi, anak-anak muda!"

"Jangan ngamen di situ, bikin pembeli Mpok pada kabur!" tegur Siti dari seberang jalan.

Salah satu pemuda bertato laba-laba di wajahnya menoleh dan tertawa mengejek.

"Biarin aja, Bu!"

"Jalanan ini kan milik umum, kita mau konser di mana aja bebas!" balas pemuda itu kasar.

Beberapa mahasiswa yang mau kembali ke kos Rahman tampak ragu dan ketakutan melihat gerombolan itu.

Mereka memilih berbalik arah dan menunggu di warung kopi depan jalan raya besar.

Dari balkon lantai dua Kos Nusantara, Anton berdiri sambil tersenyum puas.

"Bagus, nongkronglah di situ sampai malam."

"Biar semua orang tahu kalau lingkungan kos reyot itu tidak aman."

"Kalau mahasiswa-mahasiswa itu merasa terancam, mereka pasti akan pindah ke tempatku yang ada satpamnya," gumam Anton licik.

Ting!

[Peringatan: Sabotase lingkungan terdeteksi.]

[Pihak saingan telah menyewa preman jalanan untuk merusak kenyamanan dan keamanan akses masuk kos Anda.]

[Misi Sampingan: Bubarkan kelompok pengamen punk tersebut secara damai.]

[Syarat Khusus: Dilarang lapor polisi dan dilarang menggunakan kekerasan fisik.]

Rahman yang sedari tadi mengawasi dari teras kamarnya langsung mengerutkan kening.

"Anton ini benar-benar tidak ada matinya."

"Gagal pakai preman pasar, sekarang dia pakai pengamen jalanan untuk mengganggu usahaku," batin Rahman kesal.

Ia membaca syarat misinya dengan saksama.

"Tidak boleh lapor polisi dan tidak boleh pakai kekerasan?"

"Lalu aku harus apa? Ikut menyanyi sumbang bersama mereka?"

[Petunjuk Sistem: Gunakan hadiah Voucher Renovasi Kamar Mandi Gratis yang Anda dapatkan semalam.]

[Terkadang, musuh yang paling mengganggu hanya butuh difasilitasi, bukan dimusuhi.]

Rahman memutar otaknya mencerna petunjuk aneh dari sistem.

Fasilitas? Kamar mandi? Pengamen jalanan?

Sebuah ide gila tiba-tiba terlintas di benak mantan rentenir itu.

Senyum miring yang sangat licik kembali menghiasi wajah keriputnya.

"Dimas, sini sebentar!" panggil Rahman.

Dimas yang baru pulang kuliah dan terjebak di teras depan segera menghampiri.

"Iya, Pak Rahman? Gangnya ditutup anak punk tuh, Pak, pada gak berani lewat."

"Bagus, ini tugasmu."

"Kamu pergi ke gang belakang, cari Pak RT."

"Minta izin pakai tanah kosong bekas pos kamling yang sudah rubuh di ujung gang itu."

"Bilang kalau Pak Rahman yang mau merenovasinya jadi kamar mandi umum gratis," bisik Rahman cepat.

Dimas melongo kebingungan.

"Kamar mandi umum gratis?"

"Buat siapa, Pak? Buat anak punk itu?"

"Jangan banyak tanya, lakukan saja!"

"Dan sekalian belikan aku kopi hitam dua gelas, bawa ke sini," perintah Rahman mendorong bahu Dimas.

Sambil menunggu Dimas kembali, Rahman membuka layar sistemnya dan mengaktifkan Voucher Renovasi Kamar Mandi Gratis.

Ia mengarahkan target renovasinya secara gaib ke tanah kosong bekas pos kamling yang jaraknya sekitar lima puluh meter dari gang kosnya.

Dalam sekejap, tanpa disadari siapa pun, reruntuhan pos kamling itu berubah menjadi sebuah bangunan kamar mandi umum yang sangat bersih.

Lengkap dengan dua bilik toilet, keran air yang mengalir deras, dan bahkan sebuah cermin besar.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!