Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Peta Teratai Hitam dan Jejak Menuju Gunung Changbai
Istana Kedamaian Surgawi bergetar oleh tawa gembira yang sudah berbulan-bulan tidak terdengar.
Kaisar Zhou Agung duduk tegak di atas ranjang naganya. Wajahnya yang semula berkerut pucat kini tampak kemerahan dan segar. Ia baru saja menelan setetes 'embun surgawi' dari botol giok yang dibawa Li Yun. Tentu saja, air itu hanyalah air tanah biasa dari gua bawah tanah. Yang benar-benar menyembuhkan sang Kaisar adalah seutas benang Qi cair ( Liquid Qi ) milik Li Yun yang disusupkan saat ia memegang punggung kaisar, membersihkan sisa-sisa ampas pil spiritual secara permanen tanpa meninggalkan jejak kultivasi.
"Hahaha! Ringan! Kepalaku terasa seringan bulu angsa!" Kaisar menepuk lututnya, menatap Li Yun dengan mata berbinar. "Tabib Agung Li, kau benar-benar dewa yang hidup! Keajaiban dari Paviliun Bawah Tanah sungguh nyata!"
Li Yun berdiri dengan postur menunduk yang sempurna, menyembunyikan wajahnya yang sedatar air danau. Jika Kaisar tahu bahwa 'leluhur agung' yang dipujanya baru saja dihancurkan menjadi debu oleh pemuda di depannya ini, tawa itu pasti akan berubah menjadi jeritan horor.
"Ini semua berkat berkah langit dan takdir agung Yang Mulia sendiri," jawab Li Yun dengan kerendahan hati yang palsu.
Kaisar berdiri, merentangkan tangannya. "Aku telah berjanji. Kau akan menjadi Kepala Balai Pengobatan Kekaisaran! Kau akan mendapatkan gelar bangsawan, tanah seluas lima kota, dan emas yang tak habis tujuh turunan!"
Di dunia fana, tawaran itu adalah puncak pencapaian umat manusia. Namun bagi seorang kultivator Pembentukan Fondasi yang umurnya baru saja diperpanjang hingga tiga abad, gelar menteri fana tak lebih dari belenggu debu. Menetap di ibukota setelah menguras sepertiga Nadi Naga Emas adalah tindakan bodoh; cepat atau lambat, fluktuasi energi bumi yang menurun akan menarik perhatian sekte-sekte besar.
"Yang Mulia," Li Yun berlutut perlahan. "Hamba sungguh tidak pantas menerima kemuliaan sebesar itu."
Kaisar mengerutkan kening, bingung. "Apa maksudmu? Adakah hal lain yang kau inginkan?"
"Jalan medis hamba belum mencapai puncaknya," suara Li Yun terdengar penuh dedikasi yang dibuat-buat. "Penyakit Yang Mulia mengajari hamba bahwa masih banyak rahasia alam yang belum hamba pahami. Hamba telah bersumpah pada langit untuk menyusun Kitab Pengobatan Universal. Untuk itu, hamba harus berkelana ke ujung utara kekaisaran. Hamba memohon izin Yang Mulia untuk pergi."
Kaisar terdiam, lalu mendesah penuh rasa hormat. "Seorang guru sejati tidak pernah terikat oleh emas. Ke mana kau akan pergi, Tabib Li?"
"Ke batas es abadi," jawab Li Yun tenang. "Gunung Changbai."
Mendengar nama itu, wajah Kaisar sedikit berubah. "Gunung Changbai? Itu adalah wilayah tanpa hukum, Tabib Li. Ujung utara yang tidak tunduk pada panji Kekaisaran Zhou. Di sana berkumpul para buronan, ahli bela diri sesat, dan konon... manusia-manusia sakti yang bisa terbang (kultivator). Sangat berbahaya bagi seorang tabib fana."
"Hamba hanya akan mengobati, Yang Mulia. Seorang tabib tidak memiliki musuh," balas Li Yun halus.
Kaisar menatap Li Yun lama, lalu mengangguk berat. "Jika itu jalanmu, aku tidak akan menahanmu. Aku akan memberimu Plakat Naga Emas Bebas Hambatan. Dengan itu, seluruh jenderal perbatasan akan memberimu jalan dan perlindungan jika kau membutuhkannya. Gerbang istanaku akan selalu terbuka untukmu."
Hari itu juga, Li Yun mengundurkan diri dari Istana Dalam. Ia tidak membawa sekotak emas pun, hanya meminta kereta kuda yang bagus dan beberapa jubah sutra putih kualitas tinggi, meninggalkan kesan sebagai seorang dewa suci yang tak gila harta di mata seluruh ibukota.
Malam itu, di dalam kesunyian Balai Bambu Hujan, Li Yun tidak segera berkemas.
Ia duduk bersila di ruang rahasianya, mengeluarkan dua benda dari balik jubahnya: sebuah peta kulit kuno dan lencana perunggu berbentuk teratai hitam. Kedua benda ini berasal dari cincin penyimpanan Ji Yuan, sang kaisar pendiri.
Li Yun membentangkan peta kulit itu di atas meja. Peta itu tidak menggambarkan kekaisaran fana, melainkan topografi jalur energi spiritual ( Leylines ). Di sudut utara peta tersebut, digambar sebuah gunung raksasa dengan tinta putih—Gunung Changbai. Di puncak gunung itu, tergambar lambang teratai hitam yang sama persis dengan lencana di tangannya.
"Sekarang aku mengerti mengapa Ji Yuan bersembunyi di ibukota ini," gumam Li Yun, matanya memindai aksara kuno di balik lencana itu.
Lencana itu adalah tanda pengenal murid inti dari sebuah sekte kuno bernama Sekte Teratai Hitam—sebuah faksi raksasa yang mungkin pernah menguasai Gunung Changbai berabad-abad lalu. Ji Yuan tampaknya mencuri teknik kultivasi atau melarikan diri dari sekte tersebut, lalu membangun Kekaisaran Zhou di tanah fana yang jauh untuk bersembunyi dari kejaran sektenya, menggunakan Nadi Naga untuk bertahan hidup.
Bagi kultivator lain, Gunung Changbai mungkin adalah tempat yang harus dihindari karena sejarah kelamnya. Namun bagi Li Yun, gunung itu adalah lahan subur yang menunggunya.
Ia telah mencapai Pembentukan Fondasi. Kebutuhan sumber dayanya kini melonjak ribuan kali lipat. Ia tidak bisa lagi mengandalkan trik mencuri sampah herbal dari sekte pinggiran atau menyerap formasi diam-diam. Untuk menembus tahap Inti Emas di masa depan, ia membutuhkan formasi pengumpul Qi raksasa, ladang herbal spiritual berusia ratusan tahun, dan ratusan bawahan yang bekerja untuknya.
Ia butuh sektenya sendiri.
Namun, membangun sekte secara terang-terangan di dunia kultivasi adalah bunuh diri. Sekte besar akan menghancurkan faksi baru yang mencoba merebut sumber daya.
"Kekuatan yang terlihat adalah target panah," pikir Li Yun, matanya berkilat sedingin es. "Sekteku tidak akan memiliki plang nama raksasa di puncak gunung. Ia akan tumbuh seperti jamur parasit dari akar masyarakat fana dan kultivator liar."
Dan tidak ada kedok yang lebih sempurna untuk membangun jaringan bawah tanah raksasa selain menggunakan identitas seorang tabib sekuler misterius di wilayah tanpa hukum.
Tiga minggu kemudian. Ujung Utara Benua Awan Timur.
Angin yang bertiup di kaki Gunung Changbai terasa seperti pisau es yang menyayat kulit. Badai salju tak pernah benar-benar berhenti di wilayah ini. Di kaki gunung raksasa tersebut, berdirilah Kota Salju Hitam—sebuah kota transit yang kotor, buas, dan brutal.
Tempat ini adalah zona abu-abu. Pasukan Kekaisaran Zhou tidak berani masuk, dan sekte-sekte kultivator elit menganggap tempat ini terlalu kotor untuk dihuni. Penghuni kota ini adalah para pemburu monster, buronan sekte ( Rogue Cultivators ), pembunuh bayaran, dan pedagang pasar gelap. Di setiap sudut jalan berlumpur yang membeku, darah segar tumpah hampir setiap hari.
Pada suatu sore yang kelabu, sebuah kereta kuda tanpa lambang bangsawan tiba di gerbang kota.
Seorang pria turun dari kereta tersebut. Ia mengenakan jubah sutra putih tebal berlapis bulu rubah salju yang terlihat sangat mahal, sangat kontras dengan lingkungan kumuh di sekitarnya. Namun yang paling menarik perhatian adalah kepalanya; pria itu mengenakan topi caping bambu lebar, di mana tepian topi itu dipasangi kain sutra putih tipis ( veil ) yang menjuntai menutupi seluruh wajahnya.
Pria itu adalah Li Yun.
Begitu ia melangkah masuk ke jalanan kota, belasan pasang mata liar langsung menatapnya seperti kawanan serigala menatap domba gemuk. Di Kota Salju Hitam, berjalan sendirian dengan pakaian mahal tanpa menunjukkan aura kultivasi tinggi adalah undangan terbuka untuk dirampok dan dibunuh.
Fluktuasi Qi Li Yun saat ini berada pada penyamaran absolutnya. Di mata para preman dan kultivator liar yang berkerumun, ia tidak memiliki energi spiritual sedikit pun. Murni manusia fana yang kaya raya.
Hanya butuh sepuluh langkah sebelum masalah pertama datang.
Tiga pria berbadan besar dengan bekas luka di wajah dan kapak berdarah di tangan menghalangi jalan Li Yun. Kultivasi mereka berada di Lapis Ketiga dan Keempat Pengumpulan Qi. Di kota fana, mereka adalah dewa kecil.
"Jubah yang bagus, Tuan Muda," seringai pemimpin preman itu, ludahnya berwarna hitam karena mengunyah tembakau bius. "Cuaca sangat dingin. Tinggalkan jubahmu, cincin di jarimu, dan kereta kudamu untuk kami hangatkan. Sebagai gantinya, kami akan mengizinkanmu merangkak keluar dari kota ini dengan kaki utuh."
Orang-orang di jalanan hanya menonton sambil tertawa sinis. Tidak ada yang akan menolong seorang pendatang fana.
Dari balik cadar sutra putihnya, wajah Li Yun tetap datar tanpa riak. Ia tidak mencabut jarum, tidak mundur, bahkan tidak mengubah tempo napas Kayu Mati-nya.
"Aku datang ke kota ini untuk membuka balai pengobatan," suara Li Yun terdengar tenang, merdu, namun entah mengapa menembus badai salju dengan sangat jelas. "Seorang tabib selalu membutuhkan bahan eksperimen untuk menguji racun baru. Daripada kalian membeku di jalanan, tubuh kalian bisa berguna untuk dunia medis."
Mendengar seorang manusia fana menceramahi mereka, pemimpin preman itu tertawa terbahak-bahak, lalu mengayunkan kapak beratnya langsung ke arah leher Li Yun. "Mati kau, Tabib gila!"
Wush.
Kapak itu membelah udara dengan kecepatan mematikan, namun sebelum mata pisaunya menyentuh kain sutra Li Yun... gerakan preman itu membeku.
Bukan kiasan. Gerakannya benar-benar membeku.
Hanya dengan satu tatapan dari balik cadar, Li Yun melepaskan sepersejuta dari tekanan Qi Pembentukan Fondasi-nya yang telah disatukan dengan Nadi Naga Emas. Tekanan spiritual itu murni elemen tanah yang menghancurkan.
Di mata ketiga preman itu, dunia tiba-tiba menjadi gelap gulita. Mereka merasa seolah-olah seluruh Gunung Changbai baru saja dijatuhkan ke atas bahu mereka. Gravitasi di sekitar mereka melonjak ratusan kali lipat secara instan.
KRAK! KRAK! KRAK!
Suara tulang yang hancur serempak terdengar mengerikan di tengah jalan. Ketiga preman Lapis Keempat itu dipaksa berlutut hingga lutut mereka menembus batu jalanan yang membeku, lalu tubuh mereka tertelungkup rata dengan tanah, merintih dan memuntahkan darah tanpa bisa menggerakkan satu jari pun. Tulang belakang mereka remuk hanya oleh tekanan udara yang dimanipulasi oleh Li Yun.
Jalanan Kota Salju Hitam yang semula riuh oleh tawa sinis seketika berubah hening mencekam. Para kultivator liar yang menonton mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi. Tidak ada fluktuasi Qi yang terlihat, tidak ada mantra yang dirapalkan, pria berkerudung putih itu bahkan tidak mengangkat tangannya!
Bagi mereka yang tidak memahami tahap Pembentukan Fondasi, ini terlihat seperti sihir iblis.
Li Yun melangkah melewati tubuh ketiga pria yang mengerang di bawah kakinya seolah ia sedang melangkah melewati genangan air kotor. Ia berhenti di depan sebuah kedai minum yang sudah hancur setengahnya.
Ia menatap kerumunan yang kini memandangnya dengan teror absolut.
"Mulai besok pagi, kedai ini adalah Balai Pengobatanku," suara Li Yun kembali terdengar, damai dan tanpa nada membunuh sedikit pun. "Namaku adalah Tabib Bayangan Putih. Aku bisa menyambung tangan yang putus, memulihkan Dantian yang hancur, dan menunda kematian dari racun paling mematikan di Hutan Salju."
Ia menoleh sedikit ke arah kerumunan, membiarkan ujung cadarnya tertiup angin es. "Tapi aku tidak menerima koin emas. Aku hanya menerima bayaran berupa herbal langka, rahasia sekte, atau... kesetiaan kalian."
Li Yun melangkah masuk ke dalam bangunan kosong itu, meninggalkan legenda baru yang malam itu juga menyebar seperti wabah ke seluruh penjuru Kota Salju Hitam.