NovelToon NovelToon
Office Girl Milik Tuan Mahrup

Office Girl Milik Tuan Mahrup

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ragan Fian

Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!

Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!


Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?


Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OGMTM-9

...Hati-hati dengan gadis baru di lantai eksekutifmu, Mahrup... dia tidak semurni yang kamu kira.

Layar ponsel Mahrup yang meredup di lantai dua belas seolah berjarak ribuan kilometer dari kepanikan yang mendadak melanda Hazel malam itu. Di ruang rawat beraroma antiseptik yang menyengat, bunyi monitor detak jantung berbunyi nyaring, memutus keheningan malam secara kasar.

"Dokter! Tolong ibu saya, Dok!" jerit Hazel, matanya membelalak panik saat melihat tubuh Maria kejang pelan sebelum melemah tak berdaya.

Seorang dokter paruh baya masuk tergesa-gesa bersama dua perawat. Hazel terdorong mundur ke sudut ruangan, meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Sepanjang hidupnya, Hazel selalu berusaha menjadi benteng terkuat bagi keluarganya, namun melihat sang ibu terbaring tak berdaya di atas kasur putih dingin itu membuat seluruh pertahanannya runtuh seketika.

Setelah sepuluh menit yang terasa seperti seabad, dokter akhirnya melangkah keluar ruangan, mengembuskan napas berat sembari melepas sarung tangannya.

"Bagaimana keadaan Ibu, Dok?" tanya Hazel memburu, suaranya bergetar menahan tangis.

"Kondisi Ibu Maria menurun drastis, Hazel," ucap Dokter dengan nada prihatin. "Fungsi ginjalnya makin memburuk dan ada penumpukan cairan yang membahayakan. Kita harus segera melakukan tindakan cuci darah darurat dan observasi khusus. Tapi..."

Dokter menggantung kalimatnya, menatap selembar lembar medis di tangannya.

"Tapi apa, Dok? Lakukan saja apa pun yang terbaik buat Ibu! Hazel mohon..."

"Tindakan ini butuh biaya deposit tambahan yang tidak sedikit, Hazel. Manajemen rumah sakit minta setidaknya lima puluh persen dari biaya penanganan malam ini diselesaikan sebelum obat dan tindakan medis lanjutannya diproses."

Kata-kata itu menghantam Hazel bagaikan gumpalan es dingin. Dada Hazel sesak luar biasa. Setelah dokter berlalu, Hazel melangkah gontai meninggalkan rumah sakit menuju rumah sederhananya demi mengumpulkan sisa tabungan yang ia punya.

Di dalam kamar kecilnya yang redup, Hazel menggeledah seluruh isi celengan kaleng dan amplop lusuh di bawah kasur. Jemarinya yang gemetar menghitung deretan lembaran uang kertas satu per satu. Masih sangat jauh dari nominal yang diminta rumah sakit.

Hazel terduduk di lantai semen, menyandarkan kepalanya pada tepi ranjang. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes basah membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya, rasa lelah yang amat sangat menghimpit dadanya.

"Ibu enggak boleh kenapa-kenapa..." bisik Hazel lirih pada heningnya kamar. "Hazel harus cari uang tambahan ke mana lagi malam-malam begini?"

Sambil mengusap kasar air matanya, Hazel teringat pada papan pengumuman di ruang staf Mahardika Group tadi siang. Perusahaan sedang membuka alokasi lembur malam untuk tim kebersihan yang bersedia membersihkan area eksekutif dan ruang arsip besar. Upah lembur malam itu dibayarkan langsung secara harian.

Tak ada waktu untuk meratapi nasib. Hazel segera menegakkan punggungnya, memoles wajah pucatnya dengan senyum tegar walau matanya masih sembap.

"Ayo, Hazelia! Kamu enggak boleh menyerah sekarang. Cuma lembur malam, kok. Semakin banyak ruangan yang dibersihkan, semakin cepat uang buat Ibu terkumpul!" tekadnya pada diri sendiri.

Satu jam kemudian, Hazel sudah kembali mengenakan seragam kebersihannya, berdiri di tengah lorong Mahardika Tower yang sudah sepi dan hening.

Langkah kakinya bergema pelan di sepanjang lantai eksekutif yang bernuansa redup. Gedung megah itu terasa jauh lebih luas dan menakutkan saat malam hari.

Namun, saat Hazel baru saja melangkah mendekati area koridor utama lantai dua belas membawa ember dan kain pelnya, pendar cahaya tipis dari celah pintu ruang CEO yang agak terbuka menarik perhatiannya.

Di dalam ruangan yang remang-remang itu, berdiri sosok tinggi berjas gelap yang tengah menatap lurus ke luar jendela kaca, memegang selembar kertas dengan jemari yang mengepal erat.

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!