NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Fajar di Tanah Yunjiang

Hujan gerimis subuh membilas arang-arang hitam yang masih mengepulkan asap tipis di pelataran benteng Desa Qingshan. Bau belerang dan amis darah menyatu dengan aroma tanah basah pegunungan perbatasan. Tiga ribu prajurit Pasukan Serigala Hitam bergerak teratur di bawah siraman air hujan, mengumpulkan jasad prajurit musuh dan membersihkan puing-puing kayu yang terbakar.

Ma Huang berdiri tegak di atas benteng granit bagian utara. Jubah birunya yang robek telah diganti dengan jubah kulit serigala kelabu berzirah leher tembaga tebal. Pedang Tulang Hitam tersandar kaku di pinggang kirinya, terbungkus kain kelabu baru yang bebas dari noda racun asam.

Master Han melangkah perlahan menghampiri Ma Huang dari belakang. Luka tebasan di bahunya telah terbebat erat oleh kain perba tipis. Tangan tuanya memegang gulungan peta wilayah perbatasan dan stempel tembaga pimpinan Kota Yunjiang.

"Tuan Muda," panggil Master Han dengan suara parau namun tenang. "Seluruh lima ribu prajurit zirah berat Kota Yunjiang dan sisa pengawal Keluarga Jian telah menyerahkan senjata mereka. Kota Yunjiang sepenuhnya berada di dalam cengkeraman kita."

Ma Huang tidak memutar badannya. Matanya menatap lurus ke arah gugusan pegunungan perbatasan yang membentang luas di ufuk utara. "Bagaimana dengan kondisi perbekalan dan fasilitas tempa besi di kota?"

Master Han melangkah satu depa lebih dekat. "Lembah Tambang Besi Meteorit di selatan kota masih utuh. Lu Gang telah mengirim lima ratus prajurit untuk mengamankan pabrik tempa. Dalam tiga pekan ke depan, kita sanggup melengkapi seluruh Pasukan Serigala Hitam dengan zirah tembaga beracun dan mata panah baja meteorit."

Ma Huang mengangguk kaku. "Obat-obatan dan warga sipil?"

"Pertapa Gu Mo telah memindahkan seluruh perbekalan obat racun penawar dari Desa Qingshan ke dalam kediaman utama Tuan Kota di Yunjiang," lanjut Master Han. "Warga sipil Keluarga Ma yang tersisa kini telah mendapatkan perlindungan penuh di dalam benteng tengah kota."

Suara derap langkah kaki berzirah tebal bergema keras dari tangga batu benteng. Tie Shan dan Feng Ni berjalan berdampingan memasuki area pengintai atas.

Tie Shan menghentakkan lutut kirinya ke atas lantai granit yang basah. Kampak kembar baja hitam di punggungnya bergetar tipis. "Lapor Tuan Muda! Tiga ribu prajurit Serigala Hitam telah disatukan dengan dua ribu prajurit tempa Yunjiang. Kita kini memiliki lima ribu prajurit tempur siap mati di bawah komando tunggal!"

Feng Ni menyilangkan kedua tangannya di balik jubah kulit ular. Wajah cantiknya memancarkan kewaspadaan kaku. "Prajurit pengintai kita yang disebar ke batas utara membawa kabar baru. Jalur utama menuju Provinsi Lingnan telah ditutup total oleh garrison Aliansi Istana Naga Merah."

Ma Huang memutar badannya secara perlahan. Sepasang matanya yang merah memancarkan kilatan tajam memotong keheningan udara subuh. "Berapa banyak kekuatan musuh yang berjaga di Celah Benteng Lingnan?"

Feng Ni merogoh peta kulit domba dari balik lengan jubahnya. Lembaran kulit itu dibukanya di atas meja batu pengintai. Jemari lentiknya yang terikat benang sutra merujuk tepat pada celah tebing terjal yang menghimpit perbatasan dua provinsi.

"Celah Gerbang Hitam dijaga oleh dua ribu prajurit zirah berat Sekte Cakar Iblis," terang Feng Ni dengan nada suara dingin mendatar. "Di balik gerbang itu, Master Yan Leng menguasai lima kota tambang dan sepuluh ribu prajurit Aliansi Istana Naga Merah."

Tie Shan menegakkan dada tebalnya. Tangan kirinya mengepal kencang hingga sendi-sendi jarinya berderak keras. "Dua ribu prajurit di celah itu bukan tandingan Pasukan Serigala Hitam! Beri aku izin memimpin barisan pelopor untuk merobohkan gerbang kayu mereka!"

"Kita tidak akan menyerang Celah Gerbang Hitam dari depan," potong Ma Huang dingin.

Tie Shan tertegun, menatap pimpinan mudanya dengan raut wajah heran.

Ma Huang melangkah mendekati meja batu. Tangan kirinya menunjuk alur sungai purba yang mengalir melingkari dasar tebing basal di sebelah barat Celah Gerbang Hitam.

"Sekte Cakar Iblis sangat mengandalkan peledak mesiu hitam dan racun Mayat Hitam di benteng utama," kata Ma Huang tanpa mengubah nada suaranya. "Serangan terbuka di celah sempit hanya akan mengulang jebakan mesiu di Desa Qingshan."

Master Han menatap titik penunjukan Ma Huang di atas peta kulit. Matanya berbinar tipis saat menyadari arah pemikiran pimpinan mudanya. "Lembah Racun Tengkorak..."

"Benar," sahut Ma Huang datar. "Lembah Racun Tengkorak adalah wilayah terlarang bagi prajurit biasa karena udara rawa beracun yang pekat. Namun bagi Jalur Darah Pemakan Bencana milikku, hawa racun di lembah itu adalah sumber energi."

Feng Ni menyipitkan matanya. "Tuan Muda ingin menyusupkan pasukan kecil menembus rawa beracun untuk merebut menara kendali pintu gerbang dari belakang?"

Ma Huang memajukan langkah kakinya satu jengkal. "Tie Shan memimpin tiga ribu prajurit zirah berat di jalur depan. Lakukan mobilisasi pasukan secara terbuka untuk memancing perhatian utama Master Yan Leng ke Celah Gerbang Hitam."

Ma Huang memutar pandangannya menatap Feng Ni. "Kau dan lima ratus pemanah terbaik merayap menyusuri dinding tebing timur. Siapkan panah-panah minyak belerang untuk membakar gudang penyimpanan mesiu mereka saat isyarat diberikan."

Tie Shan menyeringai lebar. Tawa parau yang penuh haus darah membakar dadanya. "Gertakan di depan, tebasan mematikan dari belakang! Musuh akan mati tanpa sempat menyulut mesiu mereka!"

"Aku sendiri bersama Lu Gang akan menembus Rawa Racun Tengkorak," tegas Ma Huang. "Pintu Celah Gerbang Hitam akan terhalang oleh jasad para penjaga sebelum barisan utama Tie Shan tiba di depan gerbang."

Master Han menangkupkan kedua tangannya tinggi-tinggi dengan raut wajah penuh hormat. "Rencana Tuan Muda sangat presisi! Dengan menguasai Celah Gerbang Hitam, pintu gerbang menuju Provinsi Lingnan akan terbuka lebar bagi ekspansi kita!"

Ma Huang mengambil Segel Besi Hitam dari balik lipatan jubah kelabunya. Ia meletakkan segel meteorit itu di atas meja batu, tepat di tengah gambar batas Provinsi Lingnan.

Cahaya rembulan subuh yang samar menimpa permukaan baja kehitaman segel tersebut. Ukiran kepala serigala menggigit pedang memancarkan pendar dingin yang menyerap sisa air hujan di sekitarnya.

"Dua hari dari sekarang," perintah Ma Huang dengan suara berat yang menghenyakkan dada seluruh panglimanya. "Konsolidasi seluruh pasukan di Kota Yunjiang. Kita tidak hanya akan membalas dendam kepada Sekte Cakar Iblis, tetapi juga menghapus nama Istana Naga Merah dari tanah perbatasan ini."

Tie Shan, Feng Ni, dan Master Han serentak berlutut dengan satu kaki di atas lantai granit yang basah.

"Hamba sekalian siap mempertaruhkan nyawa demi komando Tuan Muda Ma Huang!" teriak ketiga pimpinan itu secara bersamaan.

Suara gemuruh teriakan prajurit penjaga di sekeliling benteng pecah seketika, menyatu dengan deru angin subuh yang bertiup kencang menuju utara.

Ma Huang menyarungkan kembali Segel Besi Hitam ke dalam jubahnya. Tangan kirinya menggenggam erat gagang Pedang Tulang Hitam. Tatapannya membeku kaku menembus kabut tebal pegunungan perbatasan, mengunci bayangan Provinsi Lingnan yang menanti di balik kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!