Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Digrebek
BAB 35 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
🦋🦋🦋
Keluar dari kantor polisi, setelah memberikan laporan panjang lebar dan menyerahkan rekaman dari dashcam dashboard mobilnya sebagai bukti percobaan penghadangan dan penganiayaan, dokter Alfin dengan mobil polisi patroli ditemani pulang ke tempat di mana Elisa berada.
Ini bukan kasus begal biasa, jelas dokter Alfin ditargetkan sejak dari klinik. Pola pengintaian yang rapi, mobil Alphard hitam, dua pria berbadan kekar profesional. Menurut keterangan beliau di BAP, tidak punya musuh selama ini. Hidupnya hanya untuk pasien dan rumah sakit.
Sampai di dalam mobil polisi, dokter Alfin menyimpulkan dengan jantung yang berdebar, jangan-jangan mereka masih ada hubungannya dengan seorang gadis polos yang dia tolong beberapa bulan lalu dan sekarang dia tampung di rumah kebunnya yang tersembunyi itu. Gadis yang hamil tanpa suami.
Tengah malam jam 12 lewat, dokter Alfin diantar sampai depan pagar kayu rumah kebunnya yang gelap. Penjaga rumah kebun, Pak Kumis yang sudah tua, yang keluar dari pos jaga, heran juga. Tengah malam begini dokter Alfin baru kembali dan diantar polisi pula.
"Terima kasih banyak, Pak. Tumpangannya!" ucap dokter Alfin pada pak polisi yang mau mengantar sampai depan pintu.
"Siap, Dok. Jangan lupa, langsung hubungi kami lagi di nomor ini, jika melihat sesuatu yang mencurigakan! Kami patroli 24 jam di sekitar sini."
"Baik, Pak. Terima kasih."
Mobil polisi pun pergi dengan sirine kecil, bibi Ijah yang menjaga rumah itu dan menemani Elisa, keluar dengan tergopoh-gopoh memakai mukena, bertanya dengan heran dan cemas.
"Ya Allah, Pak dokter, kenapa diantar pak polisi? Apa tadi mobilnya kecelakaan?"
Dokter Alfin menggeleng lemah, wajahnya masih pucat karena shock tadi sore. "Tidak, Bik. Cuma ada masalah kecil di jalan, ada orang iseng. Elisa sudah tidur, Bik?" tanya nya balik sambil langsung masuk ke dalam rumah.
"Sudah, Dok. Dari jam 8 malah sudah sepi, tidak kedengaran apapun dari kamarnya. Mungkin kecapean."
Dokter Alfin mengangguk dengan rasa bersalah. "Oh, ya Bik. Tolong bantu saya kemasi barang-barang yang penting saja malam ini juga. Baju-baju Elisa, vitaminnya, surat-surat. Besok pagi-pagi, mobil jemputan dari Jakarta datang. Kita tinggalkan tempat ini, kita pindah ke apartemen saya di Jakarta saja yang lebih aman."
"Loh, ada apa, Dok? Apa tempat ini mau dijual?" tanya Bibi.
"Tidak, Bik. Bukan dijual. Pokoknya bibi kemas-kemas saja dulu ya, jangan banyak tanya. Ini demi keselamatan kita semua, terutama Elisa."
"Baik, Dok," jawab Bibi Ijah meski masih bingung.
Pagi harinya jam 7, matahari pagi menyinari kebun teh yang indah. Elisa bangun dengan perutnya yang sudah besar 5 bulan. Saat habis mandi dengan daster hamil bermotif bunga dan keluar kamar, kaget bukan main melihat dua koper besar hitam di depan pintu kamar samping dan beberapa kardus.
"Koper siapa ini, Bik? Kok banyak banget?" tanya Elisa dengan suara polosnya yang masih serak habis bangun tidur.
Elisa sudah mulai akrab sekali dengan bibi tersebut, dulu bibi paling datang pagi sore untuk bersih-bersih saja. Sekarang, setelah Elisa kehamilannya bertambah besar dan sering mual, Alfin minta untuk tinggal dan menginap saja di rumah kebun. Sekalian menemani Elisa yang kesepian.
Belum juga bibi bicara dan menjelaskan dengan bingung, Dokter Alfin sudah muncul dari dapur dengan dua cangkir teh hangat.
"Elisa, sini ... aku mau bicara sebentar berdua saja," kata dokter Alfin dengan nada serius.
Elisa mengangguk dengan jantung berdebar, firasatnya tidak enak. Ia mengikuti dokter Alfin ke belakang, duduk di gazebo kayu dengan pepohonan rindang dan suara kodok.
"Elisa ... maaf sebelumnya kalau aku lancang, tapi aku harus tanya ini sekarang. Sebenarnya ... pria mana yang membuat kamu hamil ini? Apa dia bandar narkoboy? Apa dia mafia? Apa dia siapa? Saya harus tanya sekarang, demi keselamatan kamu dan bayi kamu juga."
Elisa terkejut setengah mati, cangkir teh di tangannya sampai bergetar. Dokter Alfin yang selama ini tidak pernah kepo tiba-tiba membahas ayah dari janin yang dikandungnya.
"Elisa, kamu tahu ... kemarin sore beberapa orang profesional mengikuti saya dari klinik sampai ke tikungan sini. Mereka mau mencelakai saya. Bukan orang biasa, mereka terlatih. Tolong jujur sama saya ... anak siapa yang kamu kandung itu, Elisa? Siapa ayahnya?"
Wajah Elisa yang tadinya cerah langsung pucat pasi seperti mayat, seolah Anggara sudah ada di depan mata dengan tatapan iblisnya. Tangannya langsung refleks memegangi perut buncitnya erat-erat.
Dokter Alfin menyadari perubahan ekspresi wanita muda polos itu. Ketakutan yang berlebih, trauma yang mendalam dan mendadak panik, cemas, napasnya memburu.
"Jangan khawatir! Kamu aman di sini, ada saya, hanya saja. Katakan pada saya, siapa pria itu? Biar saya bisa lindungi kamu."
Elisa menggeleng gugup dengan air mata yang langsung menetes, bibirnya terkunci rapat tidak mau bicara, tubuhnya gemetar takut.
Dokter Alfin hanya bisa menghela napas panjang melihat trauma Elisa.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau bilang sekarang, tidak apa-apa, aku tidak maksa. Tapi, sekarang kamu siap-siap ya. Tempat ini mungkin sudah tak aman lagi, mereka sudah tau klinikku, bisa saja mereka tau rumah ini sebentar lagi."
"Kita akan ke mana, Dok? Tolong jangan serahkan saya padanya, Dok, tolong ..." gumam Elisa dengan mata yang ketakutan dan tangisan yang pecah, dia memegangi tangan dokter Alfin. "Tolong jangan serahkan saya padanya, Dok."
"Tarik nafas dalam-dalam, Elisa, keluarkan perlahan ... Kamu aman, Elisa, tidak ada yang bisa mengganggu kamu. Ini negara hukum. Tenang, jangan takut, ada saya."
Ucapan dokter sama sekali tak membuat Elisa tenang, dokter itu tidak tahu bagaimana sifat dan karakter Anggara yang asli. Pria itu bahkan tak segan-segan mengurung Elisa.
"Dokter. Tolong jangan beri tahu dia ... tolong, Dok. Saya tidak mau ikut dengannya, tolong, Dok. Dia ... dia akan mengambil anak saya!" Elisa berbicara dengan nada penuh kecemasan, histeris, tangannya memegangi perutnya erat, takut anak itu akan diambil paksa darinya.
Dokter Alfin tertegun.
(Dia bilang dulu, ayah anak itu sudah mati. Sekarang dia tak mau bertemu dengan orang itu ... Elisa, rupanya ayahnya masih hidup. Siapa dia? Sampai kau ketakutan seperti ini? Apa yang sudah dia lakukan padamu? Kau sampai trauma begini?)
Dokter menyentuh pundak Elisa dengan lembut untuk menenangkannya.
"Selama aku masih bernapas, kamu dan calon anakmu akan baik-baik saja! Aku janji, Sa!"
Elisa menatap sekeliling gazebo dengan parno, tiba-tiba merasa sedang diawasi dari balik pohon teh. Ketakutannya sudah berlebihan, trauma berat. Dokter menyadari hal itu lagi. Ia kemudian membawa Elisa yang lemas ke tempat lebih tertutup. Masuk ke dalam lagi ke kamar dan menguncinya.
Sore harinya jam 4 sore.
Tiba-tiba, suara deru mesin besar memecah kesunyian kebun teh. Dua buah mobil besar Alphard hitam dan Rubicon hitam masuk dengan kecepatan tinggi ke halaman rumah berkonsep perkebunan asri milik dokter Alfin, merusak taman bunga.
Seorang pria tinggi, tampan, berjas mahal hitam, dengan wajah super dingin dan tatapan membunuh langsung turun dan melangkah tegap. Sepatu kulitnya menginjak bunga-bunga.
"ELISA .... KELUAR KAMU SEKARANG! JANGAN BIKIN AKU HANCURKAN RUMAH INI!"
Tuan Garra yang sudah terlanjur terobsesi gila pada Elisa, ia berteriak memanggil nama perempuan polos yang sedang mengandung benihnya tersebut dengan suara yang menggelegar sampai burung-burung beterbangan.
Satu panggilan tak ada sahutan, rumah sepi, pintu dikunci. Garra langsung menoleh ke anak buahnya yang kekar dengan tatapan tajam.
Hitungan detik, pintu kayu jati yang kokoh itu langsung didobrak dengan paksa oleh anak buahnya.
Brakkk!!
gagal kena serangan fajar ini hampir kena serangan setelah Isya 😂Ay ga coment ahhh takut dosa ,,,Tuan lagi di bekukan agar semua kenceng biar ga berisik!!!!!!! besok bangun Bobo panggilan nya ganti ya Elisa jangan Tuan tapi Den Kang Mas Garra,,, Pembaca jangan pada Traveloka ya,,🤣🤣
PK dokter di macetin dulu aje KK dept 🤭🤣🤣🤣
hemmmm yumii🤭🤭🤭🤭