NovelToon NovelToon
EMBER

EMBER

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.

Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.

Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.

Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.

Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

Angin malam melintasi permukaan sungai yang luas di kawasan pinggiran kota California, membawa hawa dingin menusuk yang meresap hingga ke pori-pori kulit.

Suasana di sekitar jembatan dan bantaran sungai malam itu begitu lenggang, diselimuti kegelapan yang hanya diterangi remang-remang lampu jalanan.

Cinderella Huntington berdiri di sana.

Rambut panjangnya terurai berantakan tertiup angin, sementara otaknya masih berputar hebat mengingat bentakan sang mommy dan tatapan dingin ayahnya beberapa jam lalu di mansion.

Ia butuh bernapas.

Ia butuh meluapkan sesak di dadanya yang terasa hendak meledak.

Namun, tembok pembatas-pembatas sungai yang kokoh itu dirasanya terlalu menghalangi pandangan dan kebebasannya.

Dengan napas terengah dan tatapan setengah kosong, Cinde membungkuk, melepas sepatu hak tingginya tanpa ragu, lalu melemparkannya begitu saja ke atas rumput.

Tanpa memikirkan bahaya, wanita itu memanjat dan naik ke atas tiang serta tembok pembatas sungai yang sempit.

Di atas sana, dengan posisi berdiri yang sangat rawan jatuh, Cinde merentangkan kedua tangannya.

Ia memejamkan mata, menghirup udara malam yang segar namun menusuk paru-parunya.

Tiba-tiba, ia tertawa.

Kekehannya terdengar menyedihkan, penuh nada sarkasme dan kepahitan merutuki kebodohannya sendiri.

Dua puluh tujuh tahun hidupnya, bagaimana bisa ia sempat percaya bahwa cinta yang tulus itu benar-benar ada di dunia ini?

"Pria bajingan!!!!" teriak Cinde sekuat tenaga ke arah kegelapan sungai.

Suaranya menggema hebat membentur keheningan malam.

"Pria brengsek!!!!" teriaknya lagi, matanya memerah menahan air mata yang enggan ia teteskan.

"Siena sialan!!!"

Ia meluapkan seluruh emosi yang menyiksanya.

Namun saat Cinde menunduk, berniat mengarahkan pandangannya ke bawah area perkemahan yang terletak di bantaran sungai tak jauh di bawah jembatan, matanya menangkap pergerakan di balik semak-semak dan bayangan kemah.

Di remang cahaya, tampak sepasang kekasih sedang sibuk melakukan adegan ciuman panas—bahkan sudah merembet ke adegan 21+ di tempat terbuka tanpa memedulikan sekitar.

"Oh, shit! Mataku ternodai!" umpat Cinde spontan.

Merasa jijik dan enggan menyaksikan pemandangan tidak berakhlak tersebut, Cinde berniat untuk segera turun dari atas tembok pembatas.

Namun ternyata, turun tidak semudah saat ia memanjatnya tadi.

Hak kakinya yang licin serta tiang yang agak lembap membuat keseimbangannya mendadak hilang.

Tubuhnya goyah ke arah depan, tepat menghadap ke dasar sungai yang dalam.

Sebelum tubuhnya meluncur jatuh, sebuah cengkeraman kuat tiba-tiba mendarat di pinggangnya dari arah belakang.

Dengan satu tarikan bertenaga, tubuh Cinde tertarik ke belakang dan ambruk di atas trotoar rumput bersama sosok asing yang menyergapnya.

"Kau gila, Nyonya? Apa kau pikir semua masalahmu akan selesai dengan melompat dari sana?" cetus sebuah suara bass khas pria muda yang terengah-engah tepat di atasnya.

Deg.

Bukannya merasa lega atau marah karena dituduh berniat bunuh diri, harga diri Cinderella justru langsung merasa terhina saat mendengar satu kata spesifik yang meluncur mulus dari mulut pria di depannya.

Nyonya?

Cinde dengan cepat mendorong dada pria itu hingga tatanan posisinya berjarak, lalu bangkit berdiri seraya membelalakkan matanya penuh permusuhan.

"Nyonya?!" bentak Cinde dengan napas memburu.

"Apa yang kau bilang barusan? Nyonya?"

Pria muda itu ikut bangkit.

Pria itu adalah Draxler Lutolf Ashford.

Seorang pemuda berusia 19 tahun yang memiliki postur tubuh tinggi tegap dengan garis wajah tegas namun penuh energi muda.

Draxler baru saja berjalan kaki pulang dari apartemen temannya di kawasan tersebut.

Saat melintas, ia dibuat terkejut setengah mati melihat seorang wanita nekat memanjat pembatas dan berteriak-teriak.

Draxler berpikir, apakah wanita ini gila sampai mau mengakhiri hidup di air sungai yang dingin itu?

Tentu saja Draxler tidak akan membiarkan seseorang tewas di depan matanya begitu saja.

Ibunya—Parrie—selalu mengajarkannya sejak kecil untuk menjadi pria yang baik, berempati, dan melindungi sesama.

Namun di luar dugaannya, wanita dewasa berparas cantik namun berantakan di depannya ini bukannya berterima kasih, malah menyemprotnya gara-gara sebutan panggilan.

"Sialan kau! Kau pikir aku setua itu sampai dipanggil nyonya?!" cercah Cinde murka.

Draxler menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi, menatap bingung.

"What?"

"Lalu aku harus panggil apa? Tante?" balas Draxler polos tanpa dosa, benar-benar tak mengerti alur berpikir wanita di depannya.

"Dasar tidak berguna!" maki Cinde makin naik pitam.

Cinde kemudian memegang kepalanya yang mendadak pusing.

Ia memutar tubuhnya, memindai area bahu jalan tempat ia memarkirkan mobil sport mewahnya tadi.

Kosong.

Hanya ada dedaunan kering yang bertiupan.

"Dimana mobilku?" gumam Cinde histeris, menatap sekeliling dengan cemas.

Oh tidak.

Apakah mobilnya dibegal?

Ia sangat yakin memarkirkan kendaraan mahal itu tepat di bawah pohon tak jauh dari jembatan ini beberapa saat lalu sebelum naik.

Cinde mendadak mengalihkan pandangan tajamnya kembali kepada Draxler yang berdiri santai mengusap lehernya.

"Oh sialan! Kau anggota begal itu, kan?!" tuduh Cinde mendadak seraya menunjuk muka Draxler.

"Ayo ikut denganku! Kau harus ke kantor polisi bersamaku sekarang juga!"

Draxler melotot, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Aku bukan begal!"

Malam ini sejujurnya sangat sial bagi Draxler Lutolf Ashford.

Ia hanya berniat melakukan olahraga santai berjalan kaki malam hari karena teman-teman sialannya di geng kampus memberikan tantangan gila: pulang ke rumah tanpa boleh naik taksi, tanpa tumpangan, dan ponselnya bahkan disita sementara sebagai jaminan tantangan.

Dan sekarang, di tengah malam yang dingin ini, ia malah dituduh sebagai komplotan begal mobil oleh wanita asing yang histeris?

Tidak.

Pria Ashford tidak akan sudi dituduh sembarangan!

"Kau salah orang! Aku tidak tahu apa-apa soal mobilmu, Nyonya! Lepaskan aku!" tegas Draxler seraya mencoba berbalik dan menjauh.

"Jangan lari kau, Bedebah!" teriak Cinde tak mau kalah.

Melihat Draxler mulai melangkah lebar meninggalkannya, Cinde yang saat itu bertelanjang kaki langsung menyambar sepatu hak tingginya dari atas rumput, memegangnya erat-erat bak senjata tajam, lalu langsung berlari mengejar Draxler.

Draxler yang mendengar suara langkah kaki cepat di belakangnya memutar kepala seraya terbelalak.

Ia melihat Cinde mengejarnya seperti kesetanan sambil mengacungkan sepatu stiletto berujung runcing.

"Hei! Kau benar-benar gila ya?!" teriak Draxler mulai menambah kecepatan larinya.

"Berhenti kau, Begal Sialan! Kembalikan mobilku atau kubuat kepalamu bocor dengan sepatu ini!" balas Cinde berteriak histeris, terus memburu Draxler tanpa peduli telapak kakinya yang dingin menghantam aspal dan rumput.

Kejar-kejaran pun pecah di sepanjang tepian sungai malam itu.

Draxler yang memiliki kaki panjang dan fisik atletis sebenarnya bisa saja berlari sangat cepat dan meninggalkan Cinde jauh di belakang.

Namun, rasa tanggung jawab serta ajaran ibunya agar tidak membahayakan wanita membuatnya terpaksa menyesuaikan kecepatan larinya.

Ia sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan wanita histeris itu tidak tersandung atau jatuh pingsan.

"Aku bilang aku bukan begal, Tante! Aku ini mahasiswa!" jerit Draxler sambil melompati pagar pembatas jalan kecil.

"Begal zaman sekarang memang banyak yang menyamar jadi mahasiswa! Jangan banyak alasan!" Teriak Cinde menggelegar.

Meski fisiknya lelah karena emosi sepanjang hari, adrenalin akibat kemarahan dan kehilangan mobil membuat energi Cinde meledak-ledak.

Ia berhasil melompati pagar kecil itu dengan gesit, terus menempel di belakang Draxler.

Draxler memutar otaknya, berniat berbelok ke arah area perkemahan di bawah agar ada keramaian yang memisahkan mereka.

Namun baru beberapa meter berbelok ke jalur setapak, Cinde tiba-tiba melemparkan salah satu sepatu hak tingginya.

BUK!

Sepatu itu melayang dan mengenai tepat di bagian punggung Draxler.

"Aduh! Sialan, kau melemparku?!" Draxler menghentikan langkahnya, memegang punggungnya seraya berbalik dengan raut kaget dan tidak percaya.

Cinde yang melihat korbannya berhenti langsung memanfaatkannya.

Ia menubruk Draxler hingga keduanya berguling bersama di atas hamparan rumput lereng sungai, saling tarik dan saling dorong dalam kegelapan malam.

...----------------...

Happy reading 🌷

1
Asriani Rini
Bagus banget ceritan aku suka sekali
Yusry Ajay
lanjut Thor kurang up nya...
Asriani Rini
Lanjut Thor
Heni Utami
sangat best
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Anonim
kereen abis
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Si penny end,, ember nya crazy up please,, 🤭
Rosdianah 🌷: besok mulai double bab kak🙏🏻
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita keluarga ashford emang gak pernahh gagal,di tunggu cerita nya Dominic thor🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
masih nyimak Thor 🤔🤔🤔
Yusry Ajay
pkoknya semangat selalu Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: sehat selalu ya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Yusry Ajay
kyknya ada yg mulai jatuh cinta nih🤗🤗
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat menata hidup kembali ember💪💪
Debu Nakal
typo kah thor
Debu Nakal
typo kah thor
Rosdianah 🌷: tidak kak.. First time Author buat novel Transmigrasi 🙏🏻
Cinderella Dan Ember itu satu🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
Nita Nita
lanjut kak 💪
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
kyknya bnyk teka teki nih Thor 😁😁
Yusry Ajay
masih menyimak Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
koq ga up2 Thor..
Rosdianah 🌷: ini Novel Author yang sedikit berbeda. author sedang Baca² dan searching terkait Transmigrasi 🙏🏻🙏🏻 huhu🥲
total 1 replies
nayla tsaqif
Knp gk cerita penny dulu,, kan dia primadonanya,,?? 😌
Rosdianah 🌷: huhuh Penny ditolak Mulu 😭 sudah 10.bab tapi ditolak. capek revisi 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!