Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Cinta dan Ego
Dering ponsel Komandan Kaivan, mengalihkan perhatian mereka berdua yang sedang berada di dalam perjalanan. Refleks, Sisil menoleh ke arah layar ponsel Komandan Kaivan yang menyala. Ia melihat nama Ayah di layar ponsel Komandan Kaivan sebelum Komandan Kaivan mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum, Yah." Sapa Komandan Kaivan setelah mengangkat panggilan telfon itu.
"Sisil? Sisil ada di sebelah saya, Yah." Jawab Komandan Kaivan sambil melirik ke arah Sisil yang tampak terkejut.
Setiap hari, ia selalu saja di kejutkan oleh Komandan Kaivan. Ada saja sikap atau perbuatannya yang membuat Sisil terperangah sekaligus mengetahui sisi lain dari Kekasihnya itu.
"Iya, Yah. Nanti saya sampaikan ke Sisil." Jawab Komandan kaivan kemudian. Tak lupa, ia menjawab salam yang diucapkan sebelum menghentikan panggilan telfon itu.
"Ponselmu kemana, Sayang?" Tanya Komandan Kaivan.
"Ayah cari kamu." Imbuhnya kemudian.
"Ha? Yang barusan telfon itu, Ayahku?" Tanya Sisil yang di jawab anggukan oleh Komandan Kaivan.
"Ayah Hadi Wijaya?" Tanya Sisil yang nampaknya tak percaya.
"Iya, Sayang." Jawab Komandan Kaivan.
"Kok bisa?" Tanya Sisil.
"Ingat, dulu wktu kamu salah menuliskan nomor Ayah sebelum bantuan datang? Setelah itu kamu mengirim nomor ponsel Ayah via chat, dan Mas simpan dengan nama yang sama di ponsel Mas." Jawab Komandan Kaivan.
"Terus, kenapa Mas bisa akrab banget sama Ayah?" Tanya Sisil lagi.
"Ya karena kami sering berkomunikasi." Jawab Komandan Kaivan yang membuat Sisil menghela nafas.
"Astaghfirullah, Komandan Kaivan Aryasena....." Ujar Sisil yang merasa gemas.
Komandan Kaivan hanya bisa mengernyitkan dahinya, karena merasa heran dengan Sisil. Ia merasa sudah menjawab pertanyaan kekasihnya itu dengan benar. Tetapi, Sisil justru tampak kesal dan tak puas dengan jawabannya.
"Balas chat Ayah dulu. Barangkali penting." Ujar Komandan Kaivan kemudian.
"Hapeku mati, Mas. Aku lupa bawa power bank." Jawab Sisil setelah melihat ponselnya dalam keadaan mati.
Komandan Kaivan kemudian menepikan mobilnya. Ia membuka dashboard mobil dan mengambil kabel charge dari dalam sana. Ia menyambungkan ke charge yang ada di mobil dan menghubungkannya dengan ponsel Sisil.
"Makasih, Mas." Ucap Sisil yang di jawab senyuman dan usapan lembut di bagian kepala oleh Komandan Kaivan.
Setelah ponselnya menyala, Sisil segera membalas pesan dari Ayahnya sebelum kembali menuntut jawaban dari Komandan Kaivan.
"Gimana Mas bisa akrab sama Ayah? Kenapa panggilnya Ayah, bukan panggilan formal lainnya?" Tanya Sisil.
"Ah, itu." Ujar Komandan Kaivan yang mengerti maksud Sisil sekarang.
"Setelah komunikasi pertama waktu itu, Mas cukup sering berkomunikasi sama Ayah. Ayah sering nanyain kondisi kamu di sini dan beliau minta di panggil Ayah saja, supaya lebih akrab. Selain itu juga, Mas minta izin ke Ayah lebih dulu waktu mau deketin kamu. Setelah Ayah kasih izin, barulah Mas mulai gencar deketin kamu." Jawab Komandan Kaivan.
Sisil membulatkan mata mendengar jawaban jujur Komandan Kaivan. Ia tak menyangka jika Komandan Kaivan sudah meminta izin pada Ayahnya untuk mendekatinya hingga akhirnya mereka menjalin hubungan.
"Mas kenapa punya ide kayak gitu? Maksudnya, kenapa gitu, loh, harus izin dulu ke Ayahku. Biasanya kan orang itu menjalin hubungan lebih dulu, baru setelah itu izin ke orang tua." Tanya Sisil.
"Mungkin karena Mas bukan orang biasa." Jawab Komandan Kaivan. Meski sedang melucu, namun wajahnya terlihat datar.
"Mas, serius deh." Kata Sisil.
"Karena kamu wanitanya." Jawab Komandan Kaivan yang membuat Sisil bingung.
"Mas amat sangat menghormatimu sebagai wanita. Mas juga amat sangat menghormati Ayah. Maka dari itu, sebagai bentuk rasa hormat Mas, Mas meminta izin dulu ke Ayah, biar apa? Biar Ayah tenang dan tau dengan siapa anak gadis kesayangannya ini menjalin hubungan di tanah rantau." Jelas Komandan Kaivan yang langsung membuat hati Sisil meleleh.
"Kenapa Ayah bisa gampang kasih izin?" Tanya Sisil.
"Gak gampang, Sayang. Butuh waktu buat Mas ngeyakinin Ayah. Mungkin ada perasaan terpaksa juga di hati Ayah." Jawab Komandan Kaivan.
"Terpaksa, maksudnya?" Tanya Sisil.
"Dari pada gak ada yang jaga kamu di sini. Lebih baik Ayah setujui saja biar ada yang selalu jaga kamu." Jawab Komandan Kaivan yang membuat Sisil menyemburkan tawa. Sementara itu, Komandan Kaivan hanya bisa tersenyum saat melihat gadis yang ia cintai itu tertawa.
...****************...
"Ndan... Ndan... Bagaimana, Ndan?" Tanya Miko yang buru-buru menghampiri Komandan Kaivan saat melihat Komandannya itu sudah kembali.
"Bagaimana apanya?" Komandan Kaivan yang baru turun dari mobil itu justru balik bertanya.
"Bagaimana hasilnya." Miko menjelaskan maksudnya.
"Hasilnya, pihak Dinas mau bekerja sama dan memfasilitasi sarana dan prasarana yang di perlukan. Sementara kita, akan memberikan jaminan keamanan saat mereka mengirimkan peralatan pendukung juga bantuan makanan bergizi ketika hari pemeriksaan." Jelas Komandan Kaivan.
"Ah! Bukan itu maksud saya, Ndan." Ujar Miko.
"Lalu?" Tanya Komandan Kaivan.
"Bagaimana hasil mendekati Dokter Sisil? Komandan berhasil atau tidak?" Tanya Miko yang dijawab helaan nafas panjang oleh Komandan Kaivan.
Komandan Kaivan kemudian berjalan begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari Miko.
"Ndan! Jangan sedih, Ndan. Komandan bisa coba lagi. Jangan menyerah seperti ini, Ndan." Bujuk Miko yang berpikir jika Komandannya itu gagal mendekati Dokter Sisil.
"Saya pasti bantu Komandan untuk dekati Dokter Sisil." Ujar Miko yang duduk di hadapan Komandannya setelah Komandan Kaivan duduk di kursi kebesarannya.
"Sudahlah, Miko..." Ujar Komandan Kaivan.
"Tidak bisa, Ndan! Saya tau, Komandan memang kaku dan pasti kesulitan untuk mendekati wanita. Maka dari itu, saya pasti akan bantu Komandan untuk dekat dengan Dokter Sisil." Kata Miko dengan sangat meyakinkan.
"Komandan hanya perlu tenang dan ikuti saja permainan yang saya buat. Saya yakin, dalam waktu dekat, Dokter cantik itu pasti akan jatuh ke dalam pelukan Komandan." Imbuh Miko yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Komandan Kaivan.
"Terserah ko sajalah. Ko atur suka-suka ko." Ujar Komandan Kaivan dengan nadanya yang datar cenderung terdengar malas.
"Komandan tenang saja, pasti saya bantu Komandan." Ujar Miko sambil menepuk-nepuk bahu Komandannya, sebelum keluar dari ruangan Komandan Kaivan.
Malam itu, Komandan Kaivan menerima panggilan telfon dari salah satu anggotanya. Pria tampan itu, segera memakai seragam dan baju pengamannya sebelum keluar dari rumah.
Saat itu, kebetulan Sisil sedang duduk di ruang tamu rumahnya dan melihat Komandan Kaivan yang sedang terburu-buru dengan pakaian lengkap, termasuk dengan rompi anti peluru.
"Mas, mau kemana?" Tanya Sisil yang buru-buru keluar.
"Kelompok Pemberontak membuat kerusuhan di Desa." Jawab Komandan Kaivan.
"Serius, Mas? Tunggu, aku ikut. Pasti ada yang akan butuh bantuanku." Ujar Sisil.
"No, Sayang. Tetap di rumah." Tolak Komandan Kaivan. Keduanya berbicara dari teras rumah masing-masing.
"Kalau ada warga dan anggota yang terluka, gimana, Mas? Pasti butuh pertolongan segera." Kata Sisil.
"Berbahaya, Silvana. Mas gak mau ambil resiko dengan keselamatanmu." Tegas Komandan Kaivan.
"Mas! Aku tau resikonya. Tapi tetap saja, aku harus ada di sana. Supaya tidak ada korban karena keterlambatan penanganan medis." Kukuh Silvana.
Kedua orang itu saling menatap dengan ego mereka masing-masing. Keduanya tampak kukuh dengan keinginan mereka. Komandan kaivan tak ingin Silvana berada dalam bahaya, sementara jiwa seorang dokter pada diri Silvana meronta-ronta untuk bersiaga dan memberikan pertolongan secepatnya.
duh penasaran bin penisirin ini
Ayo komandan cpet datang...
jgn smpae ad prtumpahan darah y thor 😡😡😡
semangat untuk terus berkarya kak, selalu keren untuk ceritamu, semoga selalu diberi kesehatan agar selalu bisa berkarya 🫰
semangat Thor