NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TITIK BALIK MENUJU PROPOSAL

Sinar matahari pagi yang menyelinap melalui celah gorden beludru jatuh tepat di kelopak mata Vania. Dia mengerjap, mencoba mengusir kabut tidur yang masih menyelimuti otaknya. Namun, sebelum dia sempat sepenuhnya sadar, sebuah sensasi aneh membuat lehernya menegang.

Lehernya kaku. Bukan kaku karena salah bantal, tapi kaku karena bantalnya terlalu keras, terlalu hangat, dan berbau cologne maskulin yang sangat mahal.

Vania membuka matanya lebar-lebar.

Yang dia lihat bukanlah bantal guling empuk yang biasa dia peluk di apartemen sewanya dulu. Yang ada di sana adalah lengan berotot yang dibalut kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Dan tangan Vania? Tangan Vania sedang mencengkeram lengan itu erat-erat, sementara pipinya menempel nyaman di bahu bidang sang pemilik lengan.

Vania membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Dia menatap ke atas. Kevin duduk di tepi sofa, bersandar pada sandaran tangan, dengan mata terpejam. Dia tidak tidur, tapi sepertinya sedang beristirahat. Wajahnya yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini terlihat sedikit lebih lembut dalam cahaya pagi, meski rahangnya yang tegas tetap menegang.

Oh, Tuhan. Oh, tidak. Oh, sialan, batin Vania panik. Aku baru saja menggunakan antagonis utama sinetron ini sebagai boneka guling semalaman. Ini bukan adegan romantis, ini adalah adegan horor survival!

Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan perlahan, Vania mencoba melepaskan cengkeramannya. Dia menarik tangannya satu milimeter. Kevin tidak bergerak. Dia menariknya satu milimeter lagi. Masih tidak bergerak. Vania menghela napas lega, bersiap untuk meluncur turun dari sofa dan kabur ke kamarnya sebelum pria itu terbangun.

Tapi tepat saat dia menggerakkan kakinya, Kevin membuka matanya.

Mata hitam itu menatap lurus ke arahnya. Tidak ada rasa kantuk di sana, hanya tatapan tajam yang langsung membuat Vania tersadar sepenuhnya. Di tangan kiri Kevin, terdapat sebuah ponsel seukuran batu bata dengan antena tebal yang ditarik keluar. Dia baru saja menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan.

"Selamat pagi, Tuan Kevin," ucap Vania cepat, suaranya terdengar kaku dan terlalu formal. Dia segera duduk tegak, merapikan gaunnya yang sedikit kusut dan menyisir rambut bob-nya yang pasti berantakan seperti sarang burung. "Maaf. Saya... saya kelelahan kemarin dan tidak sadar. Saya akan langsung kembali ke kamar."

Kevin tidak menjawab. Dia menatap Vania, lalu menatap lengan bajanya yang baru saja dilepaskan. Perlahan, sudut bibir pria itu terangkat. Bukan senyum sinis yang meremehkan. Itu adalah senyum puas. Senyum seorang pria yang baru saja mendapatkan validasi terbesar dalam hidupnya.

"Kau tidak perlu minta maaf, Vania," ucap Kevin, suaranya rendah dan serak karena baru bangun tidur. Dia melipat antena ponsel batanya dan memasukkannya ke saku celana. "Kau terlihat... sangat nyaman. Dan jujur, aku tidak keberatan menjadi bantalmu."

Vania menatapnya, alisnya berkerut. Apa-apaan ini? Dia senang? Pria ini jelas-jelas delusi tingkat akut. Aku cuma ketiduran, Kevin, bukan menyatakan cinta.

Sebelum Vania sempat membalas atau meluruskan kesalahpahaman fatal itu, Kevin berdiri. Dia merapikan jas hitamnya yang tergantung di sandaran sofa, lalu menatap Vania dengan tatapan yang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius dan penuh perhitungan.

"Ngomong-ngomong soal kenyamanan," lanjut Kevin, nada bicaranya berubah menjadi nada CEO yang sedang mengumumkan merger perusahaan. "Aku baru saja menerima laporan dari anak buahku. Raka dan Larasati berencana pergi ke vila keluarga di Puncak akhir pekan ini untuk menghabiskan waktu berdua."

Vania mengangguk pelan, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Itu bagus. Mereka butuh waktu berdua. Saya akan pastikan tidak ada yang mengganggu—"

"Aku akan mengumumkan pertunanganku dengan Larasati malam ini," potong Kevin, suaranya datar namun bergema keras di ruang tamu yang luas itu. "Di depan seluruh keluarga. Di depan Pak Darmawan. Di depan Raka."

Hening.

Dunia Vania berhenti berputar. Suara dengungan AC, suara burung di luar jendela, bahkan detak jantungnya sendiri seolah lenyap dari telinganya. Dia menatap Kevin, mencoba mencari tanda-tanda bahwa pria itu sedang bercanda. Tapi wajah Kevin datar, tegas, dan penuh dengan tekad yang mengerikan.

Pertunangan? Dengan Larasati? batin Vania, otaknya berputar dengan kecepatan cahaya. Tunggu. Tunggu dulu. Ini bukan bagian dari naskah! Di naskah asli, Kevin mencoba menculik Larasati, bukan melamarnya! Kalau dia melamar Larasati, Raka akan gila! Pak Darmawan akan marah besar karena Larasati itu gadis miskin yang tidak dia setujui! Perang dunia akan terjadi di ruang makan malam ini!

Vania menoleh ke arah "kamera" imajinernya yang melayang di dekat lampu kristal. Wajahnya pucat pasi.

Kalian dengar itu? batinnya berteriak pada penonton tak terlihat. Ini penyimpangan plot fatal! Ini bukan lagi sekadar salah paham! Kalau Kevin mengumumkan ini, Raka akan menantangnya duel. Tante Ratna akan menuduh aku yang menyuruh Kevin melakukan ini untuk menjatuhkan Raka. Pak Darmawan akan mengusir aku. Dan aku... aku akan mati di tebing! Aku akan mati di episode 148, dua episode lebih cepat dari jadwal!

Bayangan adegan kematian Vania di sinetron asli tiba-tiba menerjang pikirannya. Hujan deras, angin kencang, tebing curam, dan tatapan dingin Kevin saat dia terjatuh ke jurang. Musik seruling sedih yang menyakitkan telinga. Vania menggigil. Dia benci musik seruling itu. Dia tidak mau mati. Dia tidak mau jatuh dari tebing. Dia bahkan tidak suka mendaki!

"Kau... kau tidak bisa melakukan itu," ucap Vania, suaranya bergetar pelan. Dia berdiri dari sofa, kakinya sedikit lemas tapi dia memaksakan dirinya untuk tegak.

Kevin menatapnya, alisnya sedikit terangkat. Dia mengira Vania sedang cemburu. Dia mengira Vania sedang hancur hatinya. Pria itu melangkah maju, menatap Vania dengan tatapan yang seolah berkata, Akhirnya kau menunjukkan emosi yang wajar.

"Kenapa aku tidak bisa?" tanya Kevin, suaranya penuh dengan tantangan. "Larasati adalah wanita yang sempurna. Dia baik, dia polos, dan dia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat Raka hancur jika aku merebutnya. Ini langkah strategis, Vania. Dan kau... seharusnya mengerti."

Aku mengerti bahwa kau sedang menggali kuburanku, Tuan Kevin! teriak Vania di dalam hatinya. Tapi dia tahu dia tidak bisa berteriak. Dia tidak bisa menjelaskan konsep "plot sinetron" dan "kematian karakter" pada pria yang otaknya hanya berisi strategi bisnis dan balas dendam.

Jika dia membiarkan Kevin mengumumkan pertunangan ini malam ini, nyawanya tidak akan selamat sampai minggu depan. Aturan nomor satu, dua, dan tiga sudah tidak berlaku. Strategi "menjadi tembok" sudah gagal total. Dia harus bertindak. Dia harus menghentikan pria gila ini, dengan cara apa pun.

Vania menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan oksigen untuk menenangkan detak jantungnya yang berdegup seperti drum band. Dia menatap Kevin. Wajahnya pucat, tapi matanya... matanya tajam. Tatapan seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa dia tidak lagi bermain untuk mendapatkan ketenangan, tapi bermain untuk bertahan hidup.

Dia melangkah maju, mengurangi jarak di antara mereka hingga dia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di pupil hitam Kevin. Dia menatap pria itu tanpa rasa takut, hanya dengan tekad yang membaja.

"Tuan Kevin," ucap Vania, suaranya rendah, tegas, dan tidak menyisakan ruang untuk debat. "Kita perlu bernegosiasi. Sekarang."

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!