Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah di Balik Ruang Kerja
Kirana menatap lembar demi lembar lembaran kontrak itu sekali lagi sebelum akhirnya mengangguk mantap. Keputusannya sudah bulat; kesepakatan ini menguntungkan kedua belah pihak dan memberinya jaminan masa depan tanpa mengorbankan kehormatannya.
"Saya setuju, Mas Rian. Saya akan menjalankan peran saya sebagai istri dengan sebaik-baiknya di depan Eyang dan publik," jawab Kirana dengan suara jernih dan santun.
Rian mengangguk puas. Garis wajahnya yang semula kaku perlahan melunak, menampilkan binar apresiasi atas kedewasaan gadis di hadapannya. Ia mengusap map biru tua itu dan menyimpannya kembali ke dalam laci mejanya yang terkunci.
"Baiklah. Sekarang kamu bisa melihat-lihat sekeliling rumah," ucap Rian seraya memutar kursi rodanya menuju arah pintu. "Rumah ini sekarang rumahmu juga. Panggil saja para pelayan jika kamu membutuhkan sesuatu."
"Terima kasih, Mas," bisik Kirana tulus.
Rian membukakan pintu kamar dan berlalu turun menggunakan lift khusus rumah tangga di ujung lorong. Menyisakan Kirana sendirian di dalam kamar utama yang luas dan mewah tersebut.
Kirana melangkah mendekati cermin rias besar berbingkai emas. Ia menatap pantulan dirinya: seorang gadis yang kemarin sore harus berjalan kaki menembus hujan deras dengan sepatu lusuh, kini berdiri di dalam kamar mansion megah sebagai Nyonya Wijaya. Jemarinya menyentuh permukaan gaun-gaun indah dan deretan perhiasan elegan yang telah disiapkan Rian untuknya. Semua terasa seperti keajaiban, namun Kirana mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap membumi. Pernikahan ini adalah amanah dan kesempatan yang harus ia jaga dengan kecerdasan dan integritasnya.
Setelah merapikan penampilannya, Kirana melangkah keluar kamar untuk menjelajahi mansion tersebut. Koridor lantai dua berlapis karpet tebal bernuansa elegan membawa kehangatan di setiap langkahnya. Saat ia tiba di area tangga utama menuju ruang keluarga, Bi Asih—kepala pengurus rumah tangga—segera menyambutnya dengan senyuman hangat dan bungkukan penuh hormat.
"Nyonya Kirana, apakah Nyonya membutuhkan sesuatu? Perlu saya antarkan keliling mansion?" tanya Bi Asih ramah.
"Terima kasih banyak, Bi Asih," jawab Kirana dengan senyum tulus yang memikat. "Saya ingin melihat perpustakaan atau ruang belajar jika ada di rumah ini."
Mata Bi Asih berbinar mendengarkan permintaan nyonya barunya. Dibandingkan meminta deretan perhiasan atau baju mahal, gadis berpendidikan ini justru menanyakan ruang buku.
"Tentu saja ada, Nyonya. Mari saya antarkan ke ruang perpustakaan pribadi milik Tuan Rian di sayap timur," ujar Bi Asih penuh semangat.
Kirana menyusuri lorong sayap timur yang tenang. Ketika Bi Asih membukakan dua pintu kayu jati berukir, mata Kirana berbinar takjub. Di hadapannya membentang sebuah perpustakaan megah dua lantai dengan ribuan koleksi buku—mulai dari literatur hukum, ekonomi, ilmu sains, hingga novel-novel klasik berilid kulit tebal.
Di tempat inilah, Kirana menyadari bahwa dunianya yang baru bukan sekadar tentang kemewahan, melainkan tentang kesempatan emas untuk menimba ilmu setinggi-tingginya di bawah naungan nama besar Rian Wijaya.
Di sayap barat mansion yang berbeda, suasana ruang kerja pribadi Rian Wijaya tampak sunyi dan tertutup rapat. Ruangan berukuran luas itu didominasi oleh interior kayu jati tua, rak-rak buku yang tertata rapi, serta sebuah meja kerja besar berdesain modern di tengah ruangan.
Rian memutar kursi rodanya mendekati meja kerja. Setelah memastikan pintu ruangannya terkunci rapat, ia menekan interkom di atas meja untuk memanggil asisten pribadinya yang paling dipercaya, Doni.
Tidak lama kemudian, ketukan tegas terdengar di pintu, dan Doni melangkah masuk dengan membungkuk hormat. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Rian mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Doni dengan sorot mata yang tajam dan dingin—menunjukkan sisi profesionalismenya sebagai CEO Wijaya Group.
"Doni, pastikan semua urusan administrasi pendaftaran kuliah Kirana di universitas pusat kota diselesaikan besok pagi," perintah Rian dengan nada tegas tanpa bantahan. "Urus seluruh pembayarannya secara penuh, mulai dari semester pertama hingga tuntas. Bahkan, jika dia menginginkannya, pastikan biayanya dijamin sampai jenjang strata dua (S2)."
Doni sempat mengerjap sejenak, merasa sedikit terkejut melihat seberapa jauh bos besarnya memberikan atensi dan fasilitas kepada istri barunya itu. Namun, sebagai asisten yang sangat paham dengan watak Rian, Doni langsung menguasai diri dan mengangguk patuh.
"Baik, Tuan. Saya akan mengurus semuanya besok pagi tanpa ada hambatan. Apakah ada dokumen tambahan yang perlu saya siapkan dari Nyonya Kirana?" tanya Doni profesional.
"Semua dokumen pribadinya sudah ada pada tim hukum kita sejak pengurusan catatan sipil tadi siang. Koordinasikan dengan mereka," jawab Rian singkat, lalu melambaikan tangan memberi isyarat agar Doni keluar.
Setelah pintu ruang kerja tertutup kembali, Rian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja. Ia memutar sedikit kursi rodanya menghadap ke arah jendela besar yang memperlihatkan halaman belakang mansion yang luas. Pikirannya melayang kembali pada pertemuan pertamanya dengan Kirana di bawah guyuran hujan malam itu.
Ada ketulusan dan keteguhan yang bersih dalam diri gadis itu—sesuatu yang sudah lama tidak ia temukan di dunia bisnis yang penuh kelicikan. Meskipun pernikahan ini berawal dari sebuah kontrak sandiwara demi membahagiakan sang Eyang yang sedang sakit, Rian bertekad untuk menepati setiap janjinya. Ia akan memastikan gadis panti asuhan itu mendapatkan masa depan yang cemerlang di bawah perlindungan nama besar Wijaya.