Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 Ratu mafia istri dokter dingin
Atmosfer di dalam ruangan kerja seluas lima puluh meter persegi itu mendadak menjadi sangat dingin dan mencekam.
Kehadiran Sindi yang berdiri tegak di tengah ruangan seolah-olah menyedot seluruh udara hangat yang ada.
Putri yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung tegap Mike perlahan memberanikan diri untuk berdiri.
Ia mengusap sisa-sisa air mata di pipinya, membetulkan letak seragam perawatnya yang sedikit kusut, lalu melangkah satu tindak ke samping Mike.
Wajahnya berusaha dipasang seanggun dan semanis mungkin—sebuah upaya panik untuk menunjukkan bahwa ia bukan wanita murahan yang gampang diintimidasi.
"Nyonya Sindi... maaf kalau kehadiran saya di sini membuat Nyonya salah paham," ucap Putri dengan suara yang dibuat sehalus mungkin, dihiasi senyum tipis yang dipaksa ramah.
"Saya di sini cuma mau konsultasi masalah pekerjaan sama Dokter Mike. Dokter Mike ini atasan yang sangat baik dan selalu peduli sama semua stafnya di rumah sakit ini, bukan cuma sama saya."
Putri menatap Sindi, berusaha memamerkan kedekatannya dengan Mike lewat lirikan mata yang sarat akan rasa bangga.
Sindi tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan penampilan Putri dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan pandangan santai, seolah sedang menilai sebuah pajangan murah di toko kelontong. Jemari lentiknya yang terawat rapi mengusap pelan tali tas bekal di atas meja kerja Mike.
Lalu, sebuah senyuman tipis yang sangat tenang dan elegan terukir di bibir merah Sindi.
"Ooh... jadi ini pacar Mas Mike?" jawab Sindi santai, nada suaranya mengalun ringan tanpa ada intonasi marah atau cemburu sedikit pun. "Kukira tadi perawat biasa aja."
Kalimat yang diucapkan dengan sangat halus itu menghantam ulu hati Putri bagaikan pukulan telak. Senyum manis yang mati-matian dipertahankan Putri seketika membeku.
Wajah perawat muda itu berubah pucat pasi, merasa martabat dan harga dirinya baru saja diinjak-injak secara halus di depan pria yang dicintainya.
Darah Mike langsung mendidih mendengar hinaan terselubung dari istrinya. Rahangnya menegang keras, matanya menyalang marah menatap Sindi.
"Sindi... jelas-jelas kamu tahu! Jangan sok enggak tahu!" ketus Mike dengan suara rendah yang sarat akan ancaman.
Sindi mengarahkan pandangannya pada Mike, mengangkat kedua alisnya dengan raut wajah yang berpura-pura terkejut.
"Lho? Mas Mike kok malah bentak Sindi?" tanya Sindi polos, melangkah satu langkah lebih dekat ke arah meja kerja suaminya.
"Sindi kan cuma jujur, Mas. Tadi dari luar, Sindi pikir ini perawat yang lagi minta petunjuk medis biasa. Soalnya... penampilannya biasa banget, enggak kelihatan kayak wanita yang sanggup bikin seorang Mike Sanjaya rela membangkang sama orang tuanya."
"Cukup, Sindi!" potong Mike kasar, melangkah maju hingga kini ia berdiri tepat di hadapan Sindi, memotong jarak di antara mereka.
"Kamu enggak usah sok suci dan ngerendahin Putri! Bagi saya, Putri jauh lebih berharga dan terhormat dibanding cewek bermuka dua kayak kamu!"
Sindi tidak mundur sedikit pun. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Mike yang menyala-nyala oleh emosi.
Senyum di wajah Sindi justru makin mengembang manis—senyuman yang sanggup membuat siapa saja yang mengenalnya sebagai Ratu Mafia merasa bulu kuduknya berdiri.
"Mas Mike, jangan emosi dulu dong," ucap Sindi lembut, memiringkan kepalanya sedikit.
"Sindi ke sini kan niatnya baik, mau antar makan siang dan berkenalan sama Mbak Putri secara langsung. Harusnya Mas senang, Sindi ini tipe istri yang sangat fleksibel dan terbuka."
Sindi lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Putri yang berdiri gemetaran di belakang Mike.
"Mbak Putri," panggil Sindi halus.
"Pekerjaan jadi perawat itu mulia banget, lho. Apalagi kalau bisa merangkap jadi 'penenang' dokter spesialis di jam kerja. Cuma ya... Mbak harus lebih pinter-pinter jaga rahasia. Kasihan kan Mas Mike reputasinya sebagai dokter terpandang bisa tercoreng kalau orang-orang rumah sakit tahu dia lebih sibuk ngurusin air mata Mbak dibanding ngurusin pasien di ruang operasi."
"Sindi! Jaga mulut kamu!" bentak Mike penuh amarah. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, menahan diri agar tidak melakukan tindakan kasar pada wanita di depannya ini.
"Keluar dari ruangan saya sekarang juga! Sebelum saya benar-benar panggil sekuriti!"
Sindi tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu namun begitu menusuk telinga. Ia merapikan letak tas tangannya di bahu, lalu menepuk pelan bahu jas Mike yang sedikit dengan gerakan yang terkesan sangat perhatian.
"Iya, iya... Sindi pulang kok, Mas. Kasihan Mbak Putri, mukanya udah pucat banget kayak mau pingsan," bisik Sindi di dekat dada Mike.
Sindi mundur dua langkah, lalu mengambil kembali tas bekal bermotif bunga di atas meja kerja Mike.
"Oh iya, bekal makan siangnya Sindi bawa pulang lagi aja ya. Lagian kayaknya Mas Mike udah kenyang 'dikenyangkan' sama hal-hal lain di ruangan ini," lanjut Sindi sambil mengedipkan sebelah matanya secara dramatis.
Sindi memutar tubuhnya dengan anggun, melangkah menuju pintu keluar dengan gaya seorang nyonya besar yang baru saja menyelesaikan kunjungannya. sepatu hak tingginya kembali berdenting nyaring di atas lantai marmer.
Namun, tepat saat jemari lentik Sindi menyentuh gagang pintu kayu tebal itu, pintu ruangan mendadak terdorong dari luar dengan cukup keras.
Brak!
Seorang pria paruh baya berjas hitam mahal dengan raut wajah sangat keras melangkah masuk.
Di belakangnya, mengikut dua orang pria berbadan tegap dan seorang kepala bagian SDM rumah sakit yang tampak berkeringat dingin.
Dialah Baskoro Sanjaya—ayah Mike sekaligus pemilik utama rumah sakit ini.
Melihat kehadiran Baskoro yang secara tiba-tiba, suasana di dalam ruangan langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Putri yang tadi sempat agak tenang kini mendadak lemas, wajahnya memucat bagaikan mayat. Mike pun terkejut setengah mati, refleks berdiri tegap membentengi Putri.
Baskoro menghentikan langkahnya di depan pintu. Matanya yang tajam pertama kali tertuju pada Sindi yang berdiri di dekatnya. Seketika, raut wajah keras Baskoro berubah menjadi sangat ramah.
"Sindi? Kamu ada di sini, Nak?" sapa Baskoro dengan suara hangat, sangat berbeda dari auranya yang biasa.
"Wah, bagus sekali kamu datang menjenguk suamimu di rumah sakit."
Sindi langsung memasang akting terbaiknya dalam hitungan detik. Wajahnya yang tadi dingin berubah menjadi sangat lembut, polos, dan sedikit memancarkan raut wajah 'istri yang sedang bersedih namun berusaha tegar'.
"Selamat siang, Om Baskoro... eh, Papa," ucap Sindi halus sambil menundukkan kepalanya sedikit penuh hormat.
"Iya, Sindi tadi cuma mau antar makan siang buat Mas Mike. Tapi... sepertinya Sindi datang di waktu yang kurang tepat."
Mendengar nada suara Sindi yang terdengar lesu dan tertahan, mata Baskoro langsung menyipit tajam.
Ia melirik ke arah meja kerja Mike, lalu beralih menatap Putri yang sedang bersembunyi ketakutan di belakang putranya.
"Ada apa ini?" suara Baskoro mendadak berubah menjadi sangat berat dan berwibawa, membuat kepala bagian SDM di belakangnya makin gemetaran.
"Mike! Kenapa perawat yang sedang dalam masa investigasi kasus pencurian obat bius ini ada di dalam ruangan kerja kamu?!"
"Papa..." Mike mencoba memotong, pasang badan di depan ayahnya. "Putri enggak salah! Mike yang panggil dia ke sini buat minta penjelasan—"
"Diam kamu, Mike!" bentak Baskoro menggelegar, memotong kalimat anaknya tanpa ampun. Baskoro menatap Mike dengan pandangan murka.
"Kamu pikir Papa enggak tahu apa yang kamu lakukan dari tadi?! Kamu malah asyik berduaan dan membela perawat ini di depan istri sah kamu sendiri?!"
Baskoro berbalik menatap dua pengawal pribadinya yang berdiri kaku di dekat pintu.
"Seret perawat itu keluar sekarang juga!" perintah Baskoro dingin tanpa kompromi.
"Bawa dia ke ruangan bagian hukum, dan buatkan surat pemecatan tidak hormat hari ini juga!"
"Papa! Enggak bisa gitu!" teriak Mike histeris. Ia langsung menahan lengan pengawal yang hendak mendekati Putri.
"Kalau Papa pecat Putri, Mike bakal berhenti jadi dokter di rumah sakit ini!"
Putri sudah menangis histeris di pojokan ruangan, memanggil-manggil nama Mike dengan suara melengking ketakutan.
Di tengah kekacauan, bentakan, dan tangisan yang memenuhi ruangan itu... Sindi berdiri di dekat pintu dengan sangat tenang. Ia memeluk tas bekalnya pelan, menonton drama keluarga Sanjaya dari jarak dekat dengan kilatan mata yang penuh kemenangan.
Bersambung......
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,