"Briar" seorang wanita muda berusia 20an yang menata kembali kehidupannya setelah mengalami serangkaian kejadian buruk semasa kecilnya, melawan dunia sendirian setelah kehilangan hal-hal berharga dalam hidupnya.
Sifatnya yang polos dan parasnya yang cantik serta kesederhanaannya, mempertemukanya dengan Adrian si tetangga barunya yang tampan sekaligus pemilik sebuah perusahaan.
Adrian yang mendekati Briar tanpa ragu, dan
dalam waktu singkat hubungan itu berubah menjadi sebuah kehidupan pernikahan. Memberikan kebahagiaan yang tak pernah Briar dapatkan sebelumnya.
Akan tetapi..
Apakah yang membuat pria sesempurna Adrian menikahi Briar dengan sangat terburu-buru..?
Akankah kebahagiaan itu berlangsung selamanya..?
Rahasia apa yang sebenarnya Adrian simpan..?
Akankah cinta mereka menang melawan permainan takdir..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Would you marry me
Perfume sudah..
Handphone sudah..
Lipstik sudah..
Tisu sudah..
Dan.. dompet.. sudah.
Baiklah aku hanya perlu mengirim teks pada Adrian kalau aku sudah siap untuk pergi dengannya malam ini.
-
Aku memandang melalui jendela, dan melihat Adrian sudah turun dari mobilnya. Adrian terlihat sangat tampan dengan pakaian mahalnya namun dengan desain yang cukup terlihat sederhana. Aku juga bisa mencium bau semerbak wangi dari parfumnya bahkan meskipun dari kejauhan.
Adrian sudah berdiri di depanku, sambil tersenyum menatapku. Entah apa yang di fikirkannya, yang jelas aku harap itu pertanda baik..
Lalu kami pun masuk kedalam mobil milik Adrian, dan aku hanya bisa berdiam diri menahan rasa canggung karena hanya berduaan dengan Adrian di dalam mobilnya. Rasanya aku masih belum percaya, kalau aku akan bepergian dengannya. Selama di jalan, aku dan Adrian mengobrol mengenai hal-hal kecil seperti hal-hal apa yang kami sukai. Aku pun menemukan, ternyata kami punya banyak sekali kesamaan.
Waktu pun berlalu tanpa terasa kami pun tiba di sisi jalan dekat dengan sebuah pelabuhan yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Pemandanganya sungguh indah dengan banyaknya kapal-kapal yang bercahaya di pinggir lautan serta Kota yang bersinar terlihat disisinya.
Setibanya, Adrian menghentikan mobilnya menuju ke tempat parkir di dalam pelabuhan. Adrian secara tiba-tiba menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju salah satu kapal pesiar pribadi yang berukuran sedang.
Tiba-tiba Adrian meminta izin padaku untuk menutup mataku dengan sebuah kain di tangannya. Adrian membimbingku berjalan dalam keadaan mataku yang tertutup rapat. Lalu kami berjalan selangkah demi selangkah.
Kejutan apa yang ingin Adrian berikan..?
Lalu Adrian mulai membuka penutup mataku..
Dan ketika aku membuka mata..
Tiba-tiba..
Lampu-lampu kuning yang berbentuk kupu-kupu tersebar di kapal itu menghadap kelautan luas. Dan terdapat sebuah meja makan malam yang sudah tersaji makan malam cantik di atasnya. Aku terpaku dengan betapa indahnya pemandangan disini. Di meja terdapat lampu yang menyerupai lilin berwarna merah yang menyala dan juga ada setangkai mawar dalam Vas kaca berwarna putih sebagai hiasan. Tiba-tiba terdengar sebuah instrument musik yang romantis telah di nyalakan entah dari mana.
Lalu Adrian muncul dari belakangku dan mulai berdiri di sampingku. Kamipun berhadap-hadapan langsung..
Aku melihat Adrian yang sedang memegang sebuah buket bunga mawar merah berukuran cukup besar dan Adrian mulai berjalan berlahan-lahan maju menuju kearahku..
Adrian yang sudah berdiri tepat di hadapanku, tiba-tiba merunduk kebawah, dengan pose seorang pria yang hendak melamar kekasihnya.. Dengan sebuah kotak cincin yang siap ia buka di tangannya. Aku bisa melihat ada sepasang cincin. Ada cincin yang polos untuk pria dan cincin yang satu lagi bermutiara indah untuk si wanita, yang bersinar terkena cahaya lampu. Adrian menjadi terlihat lebih tampan dari hari biasanya..
"Apakah aku sedang bermimpi?".
"Ada apa..?". Aku masih tidak percaya bahwa Adrian mempersiapkan semua ini. Ini pasti hanya bercanda. Atau Adrian.. Entahlah.. kami bahkan belum lama saling mengenal dan lagi pula, kami tidak pernah berpacaran. Bagaimana bisa dia mau melamarku?
"Briar.. ada mau aku katakan.. Sekarang kamu pasti bingung, karena tiba-tiba aku melakukan semua ini.. Akan tetapi.. percayalah, bahwa aku sudah banyak berfikir dan sudah yakin dengan keputusanku ini. Aku tidak ingin lagi membuang-buang waktuku..".
"Jadi..Briar.. Would you marry me..? Apa kamu mau, menikah denganku..?". Adrian mengatakanya dengan mata yang berkaca-kaca dan penuh kesungguhan, seolah-olah aku adalah wanita yang paling istimewa di hatinya.
"Ka..kamu.. serius..?". Tanyaku dengan nada gemetar.
"Aku serius..". Adrian menjawab dengan bersungguh-sungguh padaku.
Aku menarik nafas dalam dan berulang kali menghembuskannya.. mencoba untuk berfikir dan menjawab lamarannya berlahan-lahan..
Baiklah..
"Adrian.. Aku ingin meminta maaf, menurutku bukankah semua ini terlalu cepat..? Aku fikir, menikah itu adalah hal yang sangat sakral dan hanya inginku lakukan sekali untuk seumur hidup.. Aku tidak ingin ada kata perceraian dalam pernikahanku dimasa depan.. Aku ingin kita saling mengenal dulu. Mungkin suatu hari kamu akan menemukan kekuranganku, lalu kamu akan segera berubah fikiran.. Lagi pula kamu tau, kehidupan kita cukup jauh berbeda.. Aku.. aku tidak punya sesuatu untuk kamu banggakan.. Aku hanya gadis miskin biasa yang bahkan tidak punya orang tua.. Aku harap kamu mengerti maksudku.. Aku sungguh tidak bermaksud menolakmu, aku hanya butuh waktu lebih banyak untuk kita saling mengenal..". Jawabku dengan hati-hati agar tidak menyakitinya.
"Baiklah.. aku tidak akan memaksamu, jadi tolong jangan merasa tertekan atas lamaranku.. dan tolong jangan lagi mengatakan bahwa kamu tidak berhak untuk bersamaku, bagiku kamu adalah wanita yang tepat untuk menemaniku.. Jika menurutmu seperti itu, maka aku akan setuju untuk kita saling mengenal terlebih dahulu..". Jawab Adrian dengan raut wajah yang terlihat kecewa namun dengan lapang dada menerima.
"Terimakasih untuk memahami maksudku.. Dan sekali lagi maafkan aku..". Jawabku, berharap sedikit melonggarkan ketegangan di antara kami.
Adrian mengajakku duduk dengannya dan menikmati makan malam yang sudah di siapkannya. Aku dan Adrian mulai bicara santai kembali. Dan sepertinya Adrian akan baik-baik saja. Aku hanya masih mengkhawatirkan perasaannya.
"Baiklah.. mari kita mulai dari hal yang terkecil..". Adrian tiba-tiba mengatakanya begitu saja padaku setelah kami menikmati makan malam.
"Mulai sekarang, kamu harus berhenti memanggilku dengan menyebut nama.. Karena.. Aku fikir usia kita cukup lumayan jauh, jadi mulailah dengan memanggilku dengan sebutan yang pastinya lebih halus, sebagai seseorang yang lebih tua maupun sebagai pasanganmu nantinya, itu pun kalau kamu mau menerima lamaranku suatu saat nanti..".Ucap Adrian secara tiba-tiba sambil tersenyum.
"Baik.. kira-kira kamu maunya, aku panggil kamu seperti apa? Abang? Kakak? Mas..?". Aku menjawabnya sambil sedikit tertawa.
"Aku suka yang terakhir..". Adrian menatapku serius sambil tersenyum.
"Mas..? Kamu mau aku panggil kamu mas..?". Tanyaku sambil sedikit tersipu malu.
"Yep.. ini terdengar jauh lebih baik.. dan.. aku akan berhenti memanggil kamu dengan nama, karena kamu jauh lebih muda dan kamu adalah calon istriku, maka.. mulai sekarang aku akan memanggil kamu dengan sebutan "Dek..". Ujar Adrian, sambil tersenyum dan menggodaku.
"Adek..?". Aku terkekeh..
"Oke mas, mas Adrian..". Aku mengucapkannya lagi dengan malu-malu..
"Dan.. satu hal lagi.. Aku minta kamu untuk terima cincin ini, dan kalau memang kamu belum mau memakainya, kamu bisa menyimpannya dulu. Dan pakailah ketika kamu siap untuk berada di tahap hubungan kita yang selanjutnya. Dan.. kalau suatu saat kamu berfikir untuk tetap menolakku, terserah kamu mau kamu apakan cincin ini, yang jelas.. Aku mau cincin ini jadi punya kamu. Sementara cincin yang satunya akan mulai aku pakai sekarang juga. Sebagai tanda bahwa aku sudah benar-benar yakin dengan keputusanku..". Ucap Adrian meyakinkanku kembali.
"Hmm.. baiklah.. Untuk saat ini akan aku simpan, sampai aku benar-benar yakin dengan keputusanku".
Aku harus menerimanya, Karena aku tidak mau menyakitinya setelah menolak lamarannya tadi.
Lalu kami berdua menghabiskan waktu dengan berbicang berdua menikmati keindahan pemandangan Kota di sisi lautan dan bintang-bintang di atas langit. Sementara cincin ini membuatku merasa bahagia, akan tetapi juga memberiku ketakutan tersendiri.
Mungkinkah suatu hari cincin ini akan aku pakai di jari manisku..?
Atau..
Akan aku kembalikan lagi padanya..