Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Piring yang Pecah
Valeska memalingkan wajahnya, melangkah pergi menelusuri koridor tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Perasaan terasing itu terus membebani dadanya sepanjang hari.
Sore harinya di Kopi Senja, keadaan fisik Valeska makin memburuk. Efek tidur hanya dua jam demi belajar Fisika, ditambah berjalan kaki belasan kilometer di bawah terik matahari, membuat kepalanya terasa berputar hebat. Penglihatannya sesekali kabur, dan denyut di pelipisnya makin menyengat.
Di dapur basah, Valeska memegang tumpukan piring porselen putih mahal milik kafe yang baru saja diantar staf depan. Tangan Valeska yang terkelupas dan licin akibat busa sabun berguncang hebat.
Sret... BRAK! KLANG!
Tumpukan piring itu terlepas dari genggamannya, jatuh menghantam lantai keramik dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan tajam.
"Aaghh!" jerit Valeska kaget, refleks melompat mundur hingga punggungnya membentur meja stainless steel.
Suara pecahan porselen yang nyaring itu langsung mengheningkan suasana dapur. Tak berapa lama, pintu sekat dapur terdorong kencang. Mas Bayu masuk dengan raut wajah kaget bercampur panik, diikuti Elang yang berdiri kaku di belakangnya.
"Astaga, Valeska! Ada apa ini?!" pekik Mas Bayu sambil menatap tumpukan pecahan porselen mahal yang berserakan di lantai.
Valeska mematung, dadanya naik turun dengan napas memburu. Muka pucatnya makin menghitam oleh rasa takut. "M-mas Bayu... maaf... maafin saya, Mas..."
"Aduh, Val! Ini piring impor khusus set pelayanan VIP!" ujar Mas Bayu dengan nada tinggi, mengusap wajahnya frustrasi. "Satu lusin ini harganya mahal banget! Kenapa bisa sampai jatuh begini?!"
"Saya... kepala saya tadi pusing banget, Mas... tangan saya licin..." cicit Valeska dengan suara bergetar hebat, matanya mulai berkaca-kaca. "Saya bener-bener enggak sengaja, Mas..."
Mas Bayu menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya, namun raut tegasnya tidak bisa disembunyikan. "Saya tahu kamu cape, Val, tapi ini bisnis. Kerja di dapur itu butuh kehati-hatian tinggi. Kalau barang mahal pecah begini, saya enggak bisa tinggal diam."
Elang yang berdiri di belakang Mas Bayu hanya menatap Valeska datar. Jemari tangannya di balik apron sempat mengepal, tapi dia memilih bungkam, mengingat batasan yang sudah mereka sepakati.
"Terus... saya harus gimana, Mas?" tanya Valeska pasrah, air matanya menetas melintasi pipinya yang pucat.
Mas Bayu mendesah berat. "Aturan kafe tegas, Val. Kerugian ini harus ditanggung. Sesuai kesepakatan awal, uang harian kamu lima puluh ribu bakal disetop selama tiga hari ke depan buat mengganti rugi piring-piring ini."
Deg.
Kata-kata Mas Bayu terasa seperti hantaman godam di dada Valeska. Tiga hari tanpa uang harian berarti tiga hari tanpa pegangan uang sama sekali.
"Tiga hari, Mas...?" bisik Valeska parau, menatap Mas Bayu penuh permohonan. "Tolong, Mas... satu hari aja bisa enggak? Saya... saya butuh uang itu buat..."
"Enggak bisa, Valeska," pangkas Mas Bayu tegas. "Ini sudah keringanan. Harusnya saya potong dari gaji pokok paruh waktu kamu bulan depan, tapi saya paham kondisi kamu. Jadi ganti ruginya dipotong dari uang harian tiga hari ini."
Mas Bayu berbalik menatap Elang. "Lang, tolong bantu sapu dan bersihkan pecahan kacanya. Jangan sampai ada yang keinjak."
"Siap, Mas," sahut Elang pendek.
Setelah Mas Bayu melangkah keluar dari dapur, suasana kembali hening, hanya diselingi suara kran air yang menetes pelan. Valeska berlutut di lantai, hendak memunguti pecahan porselen itu dengan tangannya yang bergetar.
"Jangan dipegang pakai tangan telanjang," suara datar Elang mendadak memecah kesunyian dari atasnya.
Valeska menghentikan tangannya di udara, lalu mendongak menatap Elang dengan mata sembap penuh rasa perih.
"Biar gue yang sapu. Lo pinggirin kaki lo," sambung Elang dingin sambil mengambil sapu dan pengki di sudut ruangan.
Valeska menarik tangannya perlahan, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat demi menahan tangis histerisnya. Dia berdiri dengan pandangan kosong, menatap serpihan porselen mahal yang baru saja menghancurkan harapan kecilnya untuk bertahan hidup tiga hari ke depan.
"Kenapa sih..." bisik Valeska lirih pada dirinya sendiri, menatap jemarinya yang terkelupas dan gemetaran. "Kenapa semuanya harus makin hancur kayak gini...?"
Valeska langsung merebut sapu dan pengki dari tangan Elang dengan gerakan kasar. "Enggak usah! Gue bisa bersihin sendiri!"
"Lo bisa tenang sedikit enggak sih?!" bentak Elang, berusaha menahan gagang sapu yang ditarik Valeska. "Muka lo udah kayak mayat, tangan lo gemetaran! Kalau serpihan porselen ini nancap di tangan lo yang lecet itu, makin nambah beban orang lain tahu enggak?!"
Valeska membelalakkan matanya yang merah dan basah. "Oh, jadi gue beban?! Dari awal gue emang cuma beban kan buat lo?!"
"Emang!" balas Elang tanpa berpikir panjang, emosinya ikut tersulut. "Kalau lo bukan anak Pak Pratama, gue juga males ngurusin cewek keras kepala kayak lo! Lo tuh makin ditolong makin ngelunjak, sok tahu, sok bisa jalan sendiri padahal fisik lo hancur!"
Deg.
Kata-kata tajam itu menusuk tepat di tengah dada Valeska. Tangannya yang memegang gagang sapu mendadak lemas. Air mata yang sedari tadi ditahannya meledak begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
"Ya udah! Kalau gue beban, enggak usah bantu sekalian!" jerit Valeska dengan suara serak bercampur isak tangis yang pecah. "Gue enggak pernah minta lo kasihan sama gue! Gue enggak pernah minta lo ada di sini!"
Melihat air mata Valeska yang tumpah dan bahunya yang berguncang hebat, Elang mendadak bungkam. Amarah di dadanya menguap seketika, digantikan rasa bersalah yang menghantam dadanya cukup sesak. Cowok itu menarik napas panjang, mengusap tengkuknya yang tegang.
"Val... gue..." Elang menurunkan nada suaranya, memelankan intonasinya. "Gue minta maaf. Gue enggak maksud ngomong gitu. Gue cuma—"
"Cuma apa?!" potong Valeska cepat dengan napas tersengal-sengal. Matanya menatap Elang lurus-lurus dengan tatapan terluka yang teramat sangat. "Lo tahu enggak? Sikap lo yang kayak gini tuh jahat banget, Lang!"
Elang mengernyitkan dahi. "Maksud lo apa?"
"Sikap lo yang kadang dingin, kadang sok peduli, datang pas gue hancur terus pergi gitu aja... itu sama aja kayak lo lagi ngasih harapan palsu sama gue!" cerca Valeska dengan suara bergetar hebat. "Lo bikin gue bingung! Gue mikir lo peduli, tapi di saat yang sama lo tegaskan kalau gue cuma utang budi Papa gue! Kenapa lo harus bersikap manis kalau ujung-ujungnya cuma mau bikin gue ngerasa makin ga berguna?!"
Elang terpaku di tempatnya. Cowok itu bengong, mulutnya agak terbuka namun tak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Otaknya berusaha mencerna deretan kalimat yang baru saja dimuntahkan Valeska dengan penuh keputusasaan.
Melihat Elang yang hanya diam mematung tanpa pemahaman, Valeska menyunggingkan senyum tipis yang amat pahit. Dia mengusap air matanya secara kasar dengan punggung tangannya yang terkelupas.
"Lupain aja," bisik Valeska parau, suaranya mendadak berubah dingin dan hampa. "Omongan gue barusan enggak penting."
Valeska meletakkan sapu dan pengki itu di lantai dengan pelan, lalu mengambil tas sekolahnya yang tergeletak di atas kursi dapur.
"Mulai besok... anggap aja kita enggak pernah saling kenal," lanjut Valeska tanpa berani memandang wajah Elang lagi. "Di sekolah, di kafe, di mana pun. Gue bakal ganti rugi uang piring itu, tapi setelah ini... kita asing."
Tanpa menunggu balasan dari Elang, Valeska berbalik dan melangkah cepat keluar dari dapur kafe. Dia menerobos gerimis tipis yang mulai turun di luar, berjalan menembus malam dengan kaki yang berdarah dan hati yang benar-benar hampa.
Gerimis malam berubah menjadi hujan deras yang membilas trotoar dingin. Valeska berjalan menyusuri jalanan tanpa payung, membiarkan seragam sekolahnya basah kuyup. Lapar yang luar biasa mulai menyerang perutnya. Tidak ada uang lima puluh ribu rupiah di dalam sakunya malam ini. Tidak ada makanan, tidak ada lauk, dan tidak ada pilihan selain menelan kenyataan pahit itu bulat-bulat.
Sesampainya di kontrakan Gang Mawar, Valeska mengunci pintu kayu yang berderit. Tubuhnya menggigil hebat. Dia melepas seragamnya yang basah, menggantinya dengan kaus kusam yang tersisa, lalu terduduk lemas di atas kasur kapuknya.
Perutnya melilit parah, terasa seperti diremas dari dalam karena kosong seharian.
Valeska meraih botol air mineral bekas dari sudut meja, lalu meminumnya banyak-banyak sampai botol itu tandas. "Minum yang banyak... biar kenyang... biar enggak kerasa perihnya," gumam Valeska lirih pada dirinya sendiri, menyapu bibirnya yang pucat dan kering.
Dia merebahkan badannya yang teramat lelah di atas kasur, memeluk erat perutnya yang makin melilit, lalu memejamkan mata rapat-rapat. Dia ingin segera tertidur agar rasa lapar dan sakit di kakinya menguap.
Tok, tok, tok.
Ketukan pelan di pintu kayu membuyarkan usahanya untuk tertidur. Matanya terpejam, tapi kesadarannya masih penuh terjaga.
"Nduk... Valeska? Sudah tidur toh?" suara lembut Nek Izah terdengar dari balik pintu.
Valeska mematung di atas kasur, menahan napasnya sejenak.
"Valeska, ini Nenek..." panggil Nek Izah lagi, dibarengi ketukan halus. "Nenek bawa sedikit nasi hangat sama sambal goreng tahu. Kamu sudah makan belum, Nduk?"
Valeska menggigit bibir bawahnya erat-erat. Bau harum tumisan dari balik pintu mendadak menyengat hidungnya, membuat perutnya berbunyi nyaring dan perihnya makin menjadi-jadi. Tenggorokannya basah oleh air liur, tapi rasa bersalah menahannya untuk membuka pintu. Nenek tua itu sudah terlalu sering membantunya, dan Valeska tidak mau terus-terusan menjadi beban yang mengandalkan kasihan orang lain.
Dengan suara pelan dan agak serak, Valeska bersuara dari balik pintu tanpa berani bangkit.
"U-udah, Nek..." bohong Valeska, suaranya sedikit gemetar namun berusaha ditahannya serapi mungkin. "Valeska... Valeska udah makan tadi di kafe sebelum pulang."
Di luar, Nek Izah terdiam sejenak. "Beneran toh, Nduk? Ndak mau dimakan sedikit nasinya mumpung masih hangat?"
Valeska menelan ludah yang terasa sangat pahit, meremas kausnya di bagian perut yang makin melilit perih.
"Enggak usah, Nek... makasih banyak," sahut Valeska lagi, mencoba tertawa kecil walau terdengar amat sumbang. "Valeska kenyang banget tadi dibeliin makanan sama bos kafe. Ini Valeska udah mau tidur, kecapekan."
Hening merayap beberapa detik di balik pintu, sebelum helaan napas halus Nek Izah terdengar.
"Ya sudah kalau begitu, Nduk. Makanan Nenek taruh di atas meja teras ya? Siapa tahu nanti malam kamu terbangun terus lapar," ujar Nek Izah lembut penuh perhatian. "Jangan lupa berdoa sebelum tidur ya, Nduk."
"Iya, Nek... makasih ya, Nek," jawab Valeska pelan.
Langkah kaki Nek Izah perlahan menjauh dari teras. Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara deru hujan yang menghantam atap seng kontrakan.
Valeska menarik napas panjang yang terasa menyiksa, memiringkan badannya ke dinding semen yang dingin, lalu memeluk kedua lututnya erat-erat demi menahan rasa melilit di perutnya.
"Maaf ya, Nek... Valeska harus bohong," bisik Valeska parau pada kegelapan malam, air matanya perlahan menetas membasahi bantal kusamnya.