Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMASAK UNTUK LUTH
Sekitar pukul 9 pagi, Luth dan Dara berangkat menuju Tangerang untuk meninjau pembangunan pabrik baru. Jika di balik kemudi supir sibuk menatap jalanan, di bangku belakang, Luth dan Dara sibuk membahas soal pekerjaan.
Mendekati area yang dituju, Luth mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sesuatu yang memang sudah ia siapkan sejak kemarin.
"Nih." Luth menyodorkan sebuah kipas angin mini warna pink pada Dara. "Disana nanti panas banget, biar gak kegerahan."
Dara menatap kipas tersebut, bibirnya sulit untuk menyembunyikan senyum tanda bahagianya. Hanya sesuatu kecil, tapi membuat hatinya berbunga-bunga. Ia tak menyangka, jika Luth ternyata sangat memikirkan tentang kenyamanannya.
"Makasih." Ia menerima kipas tersebut, lalu mencoba menyalakannya. Seketika rasa sejuk menyeruak saat kipas tersebut berada di depan wajahnya. Meski ukurannya kecil, anginnya lumayan kencang.
"Lumayan kencengkan anginnya?"
"Hem, iya." Dara mengangguk, lalu mematikan kipas tersebut karena udara di mobil sudah sejuk. "Kamu kok punya kipas lucu gini sih? Mana warnanya pink lagi." Ia masih masih sibuk memperhatikan detailnya.
Luth terkekeh. "Bukan punyaku."
"Lalu?"
"Emang sengaja beli buat kamu."
Dara menatap Luth, lalu buru-buru menunduk. Ada sesuatu yang tak bisa ia pungkiri, perasaan membuncah. Hanya karena disana nanti panas, Luth sampai membelikan kipas untuknya. Ia meremat rok, menahan perasaan di dada yang seperti kembang api meletup-letup.
Mereka sampai disana sekitar pukul 11 siang. Udaranya beneran panas, matahari bersinar begitu terik. Setelah memakai helm, mereka mulai menyusuri area yang sedang dibangun bersama kontraktor dan site manager.
Tidak lama mereka berada disana, hanya sekitar satu jam, setelah itu meninggalkan lokasi. Karena sudah masuk jam makan siang, Luth mengajak Dara mampir ke sebuah restoran di daerah Tangerang.
"Sambal cuminya enak sekali." Komentar Luth yang sedang makan dengan sangat lahapnya siang itu.
Dara yang juga memesan menu yang sama, malah merasa biasa saja. Ia memberi isyarat pada Luth untuk sedikit mendekat padanya.
"Apa?" Luth mencondongkan badan ke arah Dara.
"Sebenarnya ada yang lebih enak dari ini," ujar Dara pelan agar tak terdengar pelayan atau pembeli lainnya.
"Benarkah?"
Dara mengangguk. "Di restoran Mami Nisa aku, lebih enak dari ini. Ini bukan promosi ya, tapi emang real.'
"Mami kamu punya restoran?" Luth kembali menegakkan badan, lanjut makan.
"Kamu tahu dewa dewi steak? Itu restoran milik Oma aku, tapi sekarang yang menjalankan Mami aku."
"Iya, iya, aku tahu resto itu. Tapi emang belum pernah mampir kesana. Baru tahu itu punya keluarga kamu."
"Selain steak, ada sambal cumi juga disana. Kapan-kapan, aku ajak kamu kesana."
"Ada diskon gak buat aku?"
Dara tersenyum mendengar itu. "Tenang aja, aku traktir."
"Bercanda, gak usah dimasukin hati." Luth terkekeh. "Tapi beneran ya, kapan-kapan kita kesana."
Dara mengangguk antusias. Ia melanjutkan makan sambil melihat-lihat sekitaran resto. Pemandangannya bagus disini, tempatnya luas dan nyaman, mungkin karena itu, meski makanannya kurang enak, tapi ramai sekali pengunjung.
"Kamu bisa masak, Ra?" tanya Luth setelah menyesap es jeruknya.
"Bisa."
"Serius?"
"Seriuslah." Dara tersenyum.
"Keren."
"Cuma masak doang, apanya yang keren." Dara meneguk air mineralnya. Cuacai panas sekali hari ini, inginnya minum yang dingin-dingin, tapi dia sedang diet, mengurangi konsumsi gula.
"Keren lah. Kamu cantik, pinter, sekolah tinggi, punya karier bagus, anak orang kaya, tapi bisa masak." Luth sampai geleng-geleng. "Semuanya plus, gak ada minusnya. Kamu borong semua pokoknya."
Dara menahan tawa dipuji setinggi itu oleh Luth.
"Beneran deh Ra, beruntung banget nanti laki-laki yang jadi suami kamu. Kamu itu paket lengkap."
"Dikiranya makanan apa, ada paket lengkap." Dara tersenyum tipis. "Kamu beneran suka cumi?"
"Iya, suka." Luth mengangguk.
Dara tersenyum. Ia langsung kepikiran untuk memasak buat Luth. Luth sudah sangat baik padanya, selain selalu mentraktirnya makan, hari ini juga dikasih kipas. Jadi tak ada salahnya dia memasak untuk bosnya itu.
...----------------...
Pagi ini, Dara bangun jauh lebih awal dari biasanya. Bukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai, tapi untuk memasak buat Luth.
Setelah membersihkan cumi, ia menyiapkan bumbu untuk sambal, seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah dan cabai rawit, tomat, serta lain-lainnya.
Mami Nisa yang masuk ke dapur, kaget melihat putrinya sudah ada disana. Sebuah pemandangan yang hampir tak pernah ia lihat sejak Dara bekerja. Biasanya, Dara hanya akan membantu memasak di hari libur saja.
"Mi." Sapa Dara yang sedang mengupas bawang sambil menoleh sebentar.
"Rajin amat anak Mami. Tahu kamu udah masak, Mami lanjut tidur aja." Mami Nisa mendekat ke arah Dara, menelisik ada saja yang ada di atas meja.
"Aku cuma mau buat sambal cumi, Mi."
"Sambal cumi?" Mami mengernyit. "Tumben bikin sendiri? Biasanya kalau pengen sambal cumi, kamu datang ke restoran, atau kalau gak gitu, pesen Mami, minta dibawain."
Dara menatap Maminya sambil tersenyum malu. "Bukan buat aku, tapi buat Luth."
"Luth?"
"Iya."
"Jadi kamu pagi-pagi udah bangun, karena mau masakin dia?"
Dara mengangguk malu.
Mami terdiam cukup lama, menatap Dara. Sebagai wanita yang pernah muda dan pernah jatuh cinta, ia bisa tahu apa yang sedang dialami Dara saat ini.
Sepertinya, memang benar yang dikatakan Elang, Dara menyukai Luth. Sejak bekerja di kantor Luth, putrinya itu berubah. Lebih cantik, lebih modis, dan lebih semangat kerja. Sepertinya, penyebabnya memang Luth, Dara jatuh cinta pada bos sekaligus mantan pacarnya itu.
Mami Nisa mengambil pisau, membantu Dara membersihkannya cabai merah, membuang isinya.
"Ra."
"Iya, Mi." Dara menoleh.
"E... sebenarnya bagaimana perasaan kamu sama Luth?"
Dara yang sedang mengupas bawang, langsung berhenti. "Maksudnya"
"Gak usah pura-pura gak ngerti. Gak mungkinkan, kamu sampai efforts seperti ini, kalau gak ada something?"
"E..." Dara masih menunduk, lanjut mengupas bawang meski gerakannya sedikit lebih lambat.
"Ra, kamu sudah dewasa sekarang, bukan remaja 17 tahun lagi. Mami harap, cara kamu melihat laki-laki, juga sudah berubah, tak seperti dulu lagi. Jangan menilai laki-laki, hanya dari penampilan luarnya saja. Jangan jatuh cinta hanya karena fisiknya saja. Sekarang Luth memang tampan, tapi Mami harap, kamu gak tiba-tiba jatuh cinta padanya hanya karena itu."
Dara hanya diam, mendengarkan ucapan Maminya.
"Cinta karena fisik, gak akan bertahan lama, karena fisik pasti berubah seiring berjalannya waktu. Mau perawatan seperti apapun, atau sampai operasi plastik, yang namanya tua, tidak akan bisa dihindari. Lain hal nya dengan cinta karena hati, karena hati seseorang, bisa saja tidak berubah selamanya. Seperti cinta Mami sama Papi, bukan karena fisik, tapi Mami memang jatuh cinta padanya karena semua yang ada pada dirinya. Jadi meski perut Papi kamu mulai buncit, dan rambutnya mulai dwi warna, cinta Mami gak berubah sama dia."
Dara menatap Maminya sambil tersenyum. Ia pernah mendengar kisah cinta Mami Papinya, tentang perjuangan mereka mencari restu, juga tentang awal pertemuan tak sengaja yang lucu. Ia berharap suatu saat nanti, juga bisa merasakan cinta seperti mereka. Meski status sosial tak setara, tapi cinta mereka setara, sama-sama mau berjuang.
"Kamu...gak jatuh cinta pada Luth hanya karena di sekarang tampankan?"
"Enggaklah, Mi."
Dara membawa bumbu yang sudah siap untuk dicuci di wastafel, sementara Mami Nisa menyiapkan wajan dan memanaskan minyak untuk menggoreng bumbu.
"Mungkin benar kata orang, setelah kehilangan, baru terasa." Dara tersenyum getir. "Setelah Luth koma dan dibawa ke luar negeri, aku gak bisa ngelupain dia. Aku mulai merasa merindukannya, aku merasa ada yang hilang dari hidup aku. Dan sejak dia pergi, aku gak bisa membuka hati untuk laki-laki lain. Mungkin saja, sebenarnya aku sudah jatuh cinta dengan perhatian dan kebaikan Luth sejak dulu, hanya saja, aku denial. Aku malu mengakui karena egoku. Aku malu jika punya pacar yang gak good looking."
Setelah minyak dalam wajan panas, Dara menggoreng bumbunya. Setelah di goreng, baru dihaluskan, lalu nanti dimasak lagi bareng dengan cuminya.
Mami Nisa masih memperhatikan Dara, ada rasa yang bertentangan di hatinya. Satu sisi ia senang Dara akhirnya bisa membuka hati, meski dengan orang lama. Tapi disisi lainnya, ia takut jika perjalanan cinta Dara tidak akan berjalan mulus. Saat ingatan Luth pulih, ia takut putrinya akan kehilangan laki-laki yang dicintai.