Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Jatuh Cinta
Jam 7 malam.
Naura mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah, dimana tak ada satupun pelayan dalam rumah besar itu.
Kemana mereka semua? Bisiknya dalam hati.
Anggara tiba-tiba berdiri di dekat Naura, yang saat ini ada didapur kebingungan.
"Sepertinya Cakra sengaja meliburkan pelayan," tutur pria itu menjawab kebingungan dalam benak Naura.
"Meliburkan? Kenapa?" Naura masih tak mengerti, justru bertanya dengan nada polos ke Anggara.
"Aku curiga, bagaimana kau bisa lolos jadi dokter," sindir Anggara, karena gadis 26 itu terlalu polos tidak mengerti kalau Cakra sengaja mengerjainya.
Berusaha mencerna. Naura langsung mengerti kemana arah ucapan Anggara.
Gadis itu menatap tajam pada Anggara. "Ini semua gara-gara kamu!" Ketus Naura pada Anggara.
Dia terus menyalahkan pria itu atas terjebaknya dia dalam pernikahan bersama Cakra akibat Anggara.
Naura ingin pergi meninggalkan Anggara. Akan tetapi pria itu tiba-tiba menariknya, dan memojokkan Kedinding.
"Argh!" Kaget Naura, apalagi saat Anggara mendekatkan wajahnya.
"Jangan kurang ajar kamu ya!" Naura memberontak, berusaha melepaskan diri dari Anggara.
"Jangan terlalu benci, nanti bisa cinta. Karena benci dan cinta itu beda tipis, Nona..." Bisik Anggara di kuping Naura.
Naura menatapnya tajam. "Lepas! Aku bisa melaporkan Anda, dengan tindakan pelecehan!" Ancam Naura berharap pria itu melepaskannya.
Anggara diam mengunci bola mata gadis itu, tanpa melepaskan tubuh kecil Naura.
Gadis itu tiba-tiba tersenyum mengejek. "Kenapa? Baru menyesal karena menolak ku?"
Anggara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah menolakmu... dan..." Menggantung ucapannya sejenak.
"Sepertinya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, Naura Kirana..." Lanjut pria itu, mengatakan perasaannya yang sebentar.
Ternyata, Anggara sudah tertarik pada Naura saat pertama kali melihat gadis itu ketika dia hampir menabraknya. Bahkan saat itu dia belum tahu kalau gadis tersebut adalah calon istrinya yang gagal.
Makanya tempo hari dia sempat menatap Naura, untuk memastikan perasaannya. Tapi saat Naura bertanya kenapa dia ditatap, pria itu justru menyangkal mengatakan untuk memastikan saja wajahnya supaya di lain hari tidak berurusan lagi dengannya.
Mendengar pengakuan pria dihadapannya. Jantung Naura berdebar-debar.
Deg! Deg! Deg!
"Jantungmu, berdebar-debar... aku tahu kau juga menyukaiku kan?" Tutur Anggara, tersenyum tipis saat bisa mendengar debaran jantung Naura yang begitu jelas.
Blush!
Wajah Naura memerah, bahkan terlihat jelas sampai sekeliling matanya yang tak tertutup cadar.
"Percaya diri sekali Anda!" Kesal Naura gugup, mendorong tubuh kekar Anggara yang sudah melonggarkan kukungannya.
"Kau lapar?" Tanya pria itu, mengingat Naura ke dapur dijam makan malam pasti karena gadis itu lapar.
"Tidak!" Elak Naura tidak mau mengaku. Akan tetapi perutnya tidak bisa menyangkal, karena berbunyi.
Anggara menahan tawa, saat mendengar perut Naura keroncongan.
"Wajahmu sangat mengesalkan!" Umpat Naura.
"Ayo kita masak!" Anggara menarik paksa pergelangan tangan Naura, dan mengajaknya masak bersama.
"Hey!" Naura ingin menolak, akan tetapi pria itu terus memaksanya.
Mau tidak mau, akhirnya mereka berdua memasak bersama untuk makan malam.
Selama berlangsung proses mereka membuat makanan, Anggara terus mengganggu Naura seperti sengaja gemercikkan air ke wajah Naura, menarik-narik ujung jilbabnya, dan bahkan tak segan-segan mencubit hidung Naura dari balik cadarnya.
Membuat wanita itu kesal, karena tangan Anggara sangat nakal dan menyentuhnya sesuka hati. Tapi dalam masa yang sama, entah mengapa pria itu justru membuatnya perlahan mulai merasa nyaman.
Meskipun karakter Anggara pendiam dan cenderung kaku, akan tetapi bersamanya pria itu berubah drastis. Yang ada Naura hanya melihat sikap usil dan jahil pria itu.
"Akhirnya selesai!" Ucap Naura senang melihat masakan mereka berdua.
"Wangi..." Naura menghirup aroma masakan itu sembari menutup matanya.
Tanpa sadar, kalau Anggara sedang menatapnya. Jujur, dia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Membuatnya ingin mengejar dan mendapatkan wanita itu kembali.
Meskipun belum pernah melihat seperti apa wajah dari sosok gadis dihadapannya. Akan tetapi, Anggara semakin jatuh cinta pada Naura, karena gadis itu bukan tipe cengeng dan mudah ditindas. Dia suka dengan wanita yang berkarakter tangguh seperti Naura.
"Kalian sudah masak?"
Ketenangan keduanya langsung buyar saat terdengar suara menjengkelkan yang terdengar masuk kedalam dapur.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls