NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VONIS AKHIR SANH PENGKHIANAT

“Apakah jadwal sidang besok pagi sudah dipastikan tidak akan terganggu oleh agenda perusahaan, Pak Biantoro?”

Suara Aura mengalun jernih di atas balkon lantai dua. Sinar keemasan matahari yang hampir tenggelam memantul indah di mata jernihnya. Wanita anggun itu berdiri tegap di samping Hendra, menerima amplop resmi berstempel kejaksaan yang diserahkan oleh kepala pengawal mereka.

Pak Biantoro menundukkan kepalanya penuh hormat. “Sudah dipastikan, Nyonya Aura. Seluruh agenda Rapat Dewan Komisaris untuk besok pagi sudah digeser ke sore hari oleh Sekretaris Laras. Majelis Hakim menjadwalkan sidang pembacaan vonis putusan akhir pada pukul sembilan pagi tepat.”

Hendra merangkul pinggang Aura dengan protektif, mengambil surat tersebut lalu memindainya secara singkat. Mata cokelat gelap sang taipan memancarkan ketenangan mutlak—sebuah ketenangan dari seorang penguasa yang tahu bahwa pertempuran panjang ini akhirnya sampai pada titik penutup yang paling sempurna.

“Biarkan pengacara kita memastikan bahwa tidak ada celah remisi sekecil apa pun dalam berkas tuntutan besok,” tegas Hendra dingin dan menekan.

“Baik, Pak Hendra. Semua sudah dikunci rapat oleh tim hukum utama,” jawab Pak Biantoro mantap sebelum meminta izin pamit mundur dari area balkon.

Hendra membuang napas perlahan, merapatkan tubuh Aura ke dalam dekapannya. Ia membungkuk, menanamkan kecupan hangat di leher jenjang istrinya.

“Besok adalah hari terakhir kamu harus melihat wajah orang-orang yang pernah menyakitimu, Sayang,” bisik Hendra seksi dan penuh rasa cinta. “Setelah sidang ini selesai, nama kamu dan Rendra akan benar-benar bersih dari segala bayang-bayang masa lalu.”

Aura membalikkan tubuhnya di dalam dekapan kokoh suaminya, merangkulkan kedua tangannya di leher tegap Hendra. Ia mengulas senyuman manis yang memikat hati sang taipan.

“Aku nggak takut atau cemas sama sekali, Mas,” tutur Aura tulus, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. “Sebab di sampingku... ada kamu yang selalu jadi perisai paling tangguh.”

Hendra terkekeh rendah, menyatukan bibir mereka dalam ciuman mesra yang memadukan rasa syukur dan kebahagiaan abadi.

Keesokan harinya, pukul 08.30 WIB di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Suasana di area luar gedung pengadilan tampak sangat padat dan riuh. Puluhan mobil siaran langsung dari berbagai stasiun televisi nasional terparkir rapi, sementara puluhan wartawan dan juru kamera berkumpul di sepanjang tangga utama menuju ruang sidang utama. Sidang vonis kasus penggelapan aset, teror bersenjata, dan penculikan yang melibatkan Aris Pratama dan Paman Danu menjadi sorotan terbesar di seluruh negeri.

Dua mobil SUV hitam milik pengawalan Fahreza Group berhenti sempurna di depan selasar gedung pengadilan.

Pintu belakang terbuka. Hendra Fahreza melangkah keluar terlebih dahulu dalam balutan setelan tuksedo kustom berwarna abu-abu gelap yang memancarkan wibawa mutlak sang penguasa puncak. Dengan penuh kelembutan, Hendra mengulurkan tangannya untuk membimbing Aura turun.

Aura melangkah keluar dari mobil, seketika mencuri seluruh perhatian kamera pers. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu tampil sangat anggun, memesona, dan memikat dalam balutan gaun blazer formal berwarna biru navy yang membalut indah tubuh jenjangnya. Rambut hitamnya ditata rapi, memancarkan aura kejayaan seorang Ratu bursa saham yang tak tersentuh.

Kilatan pendar kamera wartawan membahana di sepanjang koridor.

“Nyonya Aura! Bagaimana tanggapan Anda mengenai tuntutan hukuman seumur hidup untuk Aris Pratama hari ini?!”

“Pak Hendra! Apakah Fahreza Group akan menutup pintu maaf secara penuh untuk mantan anggota keluarga ini?!”

Hendra tidak mengindahkan kejaran wartawan. Ia merangkul pinggang Aura secara rapat, membimbing istrinya berjalan tenang membelah barisan pengamanan menuju dalam ruang sidang utama yang sudah dipenuhi oleh pengunjung dan awak media.

Pukul 09.00 WIB tepat.

Ruang sidang utama Pengadilan Negeri terasa sangat dingin, tegang, dan sunyi. Tiga Majelis Hakim bersetelan toga hitam-merah duduk tegap di mimbar utama. Di barisan kursi saksi kunci, Aura duduk anggun didampingi oleh Hendra yang menggenggam jemari lentiknya tanpa melepasnya sedetik pun.

Pintu samping ruang tahanan terbuka.

Dua petugas kejaksaan mengawal dua terdakwa masuk ke dalam ruang sidang dengan tangan terborgol kencang di depan tubuh mereka.

Paman Danu melangkah pincang dengan pakaian tahanan oranye yang kusam. Wajah pria paruh baya yang dulunya congkak itu kini tampak sangat tua, tirus, dan merana. Sementara di belakangnya, Aris berjalan dengan menundukkan kepala. Penampilan mantan kekasih Aura itu benar-benar hancur. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap penuh lingkaran hitam, dan tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan atau rasa percaya diri yang dulu selalu ia pamerkan.

Saat Aris dipaksa duduk di kursi terdakwa di tengah ruangan, pandangan matanya tak sengaja berbenturan dengan mata jernih Aura yang duduk di barisan depan.

Aura menatap mantan kekasihnya itu tanpa riak benci atau ketakutan. Tatapan Aura begitu dingin, tenang, dan memancarkan kemenangan mutlak—sebuah tatapan dari seorang wanita yang telah berhasil melampaui seluruh penderitaan masa lalu dan berdiri di puncak tertinggi kehidupan.

Aris dengan cepat mengalihkan pandangannya ke lantai semen, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa malu dan kehancuran jiwa yang tak terobati.

Ketua Majelis Hakim mengetukkan palu sidang satu kali. TOK!

“Sidang perkara pidana khusus nomor 402 atas nama terdakwa Danu Fahreza dan Aris Pratama secara resmi dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum,” tegas Ketua Majelis Hakim dengan suara membahana.

Selama satu jam berikutnya, ruang sidang dipenuhi oleh pembacaan pertimbangan hukum sepanjang puluhan halaman oleh Majelis Hakim. Setiap bukti penggelapan kas perusahaan, konspirasi dengan pihak asing, hingga aksi nekat penculikan anak di bawah umur dibacakan secara rinci tanpa ada satu pun poin yang terlewatkan.

Hingga akhirnya, Ketua Majelis Hakim berdiri tegap dari kursinya, memegang lembaran berkas putusan akhir.

“Mengadili...” panggil Ketua Majelis Hakim dengan nada berwibawa yang menggetarkan seluruh ruangan. “Menyatakan terdakwa satu, Danu Fahreza, dan terdakwa dua, Aris Pratama, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kejahatan korporasi, penggelapan aset perseroan, serta tindak pidana penculikan anak di bawah umur secara berencana.”

Ruang sidang makin mencekam. Aris memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya yang terborgol mencengkeram celana tahanannya dengan gemetar.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa satu Danu Fahreza dengan hukuman penjara selama dua belas tahun! Dan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dua Aris Pratama... dengan HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP tanpa hak remisi!”

TOK! TOK! TOK!

Dentuman palu hakim yang diketukkan tiga kali bergema keras di seluruh sudut ruangan!

Pencetus vonis seumur hidup itu seketika memecahkan histeria pengunjung sidang! Wartawan berebutan mengabadikan momen bersejarah tersebut.

Paman Danu seketika terkulai lemas di kursinya, sementara Aris menangis histeris seraya menyembunyikan wajahnya di atas meja terdakwa. Raungan penyesalan dan tangis putus asa Aris membubung tinggi, namun hukum telah dijatuhkan secara mutlak tanpa ada lagi jalan kembali.

Petugas kejaksaan langsung berdiri, memegang bahu Aris dan Paman Danu untuk menyeret mereka kembali ke dalam ruang tahanan.

Saat Aris diseret melewati barisan kursi depan, langkahnya terhenti sejenak di samping Aura. Aris menatap Aura dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya yang kusam.

“Aura... maafin aku... maafin aku, Aura...” bisik Aris dengan suara parau yang amat menyedihkan dan hancur.

Aura tidak menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Ia hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat anggun dan dingin, menatap mantan kekasihnya itu untuk terakhir kalinya dalam hidupnya.

“Selamat menjalani sisa hidupmu di dalam sel, Aris,” tutur Aura dengan suara selembut sutra yang jernih.

Hendra berdiri tegap di samping Aura, membentengi tubuh istrinya seraya menatap Aris dengan pandangan merendahkan dari sang penguasa puncak. Pengawal pribadi dengan sigap mendorong Aris dan Paman Danu agar terus berjalan masuk ke dalam koridor tahanan.

Pintu besi ruang tahanan tertutup rapat dengan dentuman nyaring—menandakan akhir permanen dari seluruh intrik, dendam, dan pengkhianatan masa lalu.

Dua jam kemudian di area taman bukit kediaman pribadi Fahreza.

Suasana siang menjelang sore itu terasa sangat sejuk dan menenangkan. Angin pegunungan berembus lembut membelai rumput hijau yang terhampar luas. Di tengah halaman, Rendra tampak berlari-lari gembira mengejar gelombang gelembung sabun yang ditiupkan oleh para pengasuh.

Di gazebo kayu jati yang berdiri anggun di tepi bukit, Hendra duduk santai tanpa kenal lelah memperhatikan tawa riang putranya.

Aura melangkah mendekat membawa nampan berisi dua cangkir teh chamomile hangat. Wanita anggun itu meletakkan cangkir di atas meja, lalu berjalan mendekati suaminya dari arah belakang. Ia melingkarkan kedua tangannya yang halus di dada bidang Hendra, menyandarkan dagunya di bahu tegap sang suami.

Hendra tersenyum hangat, mengusap jemari lentik istrinya yang melingkar di dadanya. Pria berusia empat puluh tiga tahun itu memegang tangan Aura, lalu menarik tubuh indah istrinya agar duduk di atas pangkuannya.

Aura tertawa merdu, melingkarkan tangannya di leher tegap Hendra seraya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata cokelat gelap yang paling ia cintai di dunia ini.

“Sekarang semuanya benar-benar sudah usai ya, Mas?” bisik Aura lembut dengan binar kebahagiaan sejati yang terpancar jelas dari raut wajah cantiknya.

Hendra mengusap pipi mulus Aura dengan ibu jarinya, merapatkan tubuh mereka hingga tak ada jarak sedikit pun di antara dada mereka.

“Ya, Ratu saya,” balas Hendra dengan suara beratnya yang amat seksi dan sarat akan cinta abadi. “Semua pengkhianat sudah menerima balasan yang pantas, dan dinasti yang kita bangun bersama anak kita akan berdiri tegak tak tergoyahkan selamanya.”

Hendra menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sangat dalam, intim, dan penuh gairah kepemilikan sejati. Aura memejamkan matanya, membalas ciuman suaminya dengan seluruh kehangatan jiwa dan raga.

Di bawah naungan langit sore yang cerah dan tawa riang putra tercinta mereka, takdir cinta dan pembalasan dendam yang indah itu akhirnya berlabuh pada kebahagiaan yang sempurna dan abadi.

TAMAT (SELESAI)

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!