NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:472
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Tiba-tiba

Belum sempat Bang Edward membersihkan namanya dari tuduhan Papa Crish, aroma harum sirup cocopandan mendadak menyeruak ke ruang tengah. Mama Olivia muncul dari arah dapur dengan langkah anggun, membawa sebuah nampan berisi satu teko besar es sirup merah yang dipenuhi potongan buah segar dan es batu yang berdenting manis.

"Ini es buah segarnya datang, pas banget dinikmati sama pisang goreng hangat," ujar Mama Olivia ceria sembari menaruh nampan tersebut di atas meja kaca.

Namun, begitu Mama Olivia meluruskan punggungnya, pandangannya langsung terkunci pada wajah putri bungsunya. Senyum di bibir wanita itu seketika sirna, digantikan oleh gurat kecemasan yang sama persis dengan raut wajah suaminya tadi.

"Lho, Aurel, Sayang? Mata kamu kenapa sembap begitu?" tanya Mama Olivia panik, langsung duduk di sisi kosong sofa dan menangkup kedua pipi Aurel dengan lembut. Ia memeriksa kelopak mata putrinya dengan teliti. "Kamu habis nangis, ya? Siapa yang bikin anak gadis Mama menangis di rumah sendiri?"

Aurel seketika menahan napas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Diinterogasi oleh Papa Crish saja sudah membuatnya kelabakan, sekarang sang mama ikut menodongnya dengan pertanyaan yang jauh lebih sensitif.

Sebelum Papa Crish kembali menuduh Bang Edward, Gino yang sejak tadi menahan tawa akibat "revisi skenario" mendadak berdehem keras untuk memancing Reyhan.

Reyhan yang langsung paham situasi, kembali memasang badan dengan ekspresi luar biasa tenang. "Tadi kena polusi ganda, Tante," sela Reyhan, merombak alasannya dengan sangat taktis agar mencakup semua kebohongan sebelumnya.

"Polusi ganda gimana, Rey?" tanya Mama Olivia heran, beralih menatap keponakannya itu.

"Iya, Tante. Tadi setelah dari toilet, Aurel sempat bantuin Shirin cari draf buku lama di rak atas yang berdebu tebal. Terus pas jalan balik ke sini, dia lewat depan dapur tepat waktu Tante lagi numis sambal cobek," jelas Reyhan tanpa berkedip, menggabungkan alasan asap cabai dan debu rak buku menjadi satu paket cerita yang terdengar sangat masuk akal. "Kombinasi debu sama asap cabai itu yang bikin mata Aurel iritasi parah sampai berair terus dari tadi."

Shirin buru-buru menyambar cangkir es buah terdekat lalu menyodorkannya ke Aurel. "Betul, Tante Olivia! Ini makanya matanya jadi kelihatan sembap banget kayak habis nangis. Padahal murni karena perih kena asap dan debu."

Mama Olivia mengembus napas lega, lalu mengelus rambut Aurel dengan sayang. "Oalah, Mama kira kamu diusilin sama Abangmu. Kulit kamu kan memang sensitif dari kecil, Sayang. Ya sudah, ini es buahnya langsung diminum biar seger, sekalian Mama ambilkan obat tetes mata di kamar ya."

"Iya, Mama. Makasih ya," jawab Aurel dengan suara lirih, mengulas senyum sekilas demi menenangkan ibunya.

Begitu Mama Olivia melangkah kembali ke dalam rumah, Aurel mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Ia melirik Reyhan dari samping. Cowok itu kini sedang menyuap sepotong pisang goreng dengan santai seolah baru saja menyelesaikan perkara kecil. Aurel benar-benar tidak menyangka, di balik sifat Reyhan yang cuek dan baru dikenalnya hari ini, cowok itu bisa menjadi pelindung terbaik yang menjaga rahasia hatinya tetap aman.

Begitu Mama Olivia melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil obat tetes mata dan Papa Crish kembali ke teras depan, suasana di ruang tengah sedikit melonggar. Reyhan perlahan menaruh sisa pisang gorengnya ke piring, lalu menoleh ke arah Aurel dengan kening yang bertaut rapat. Ada secercah kebingungan yang sejak tadi mengusik benaknya.

"Rel, gue mau tanya deh," bisik Reyhan pelan, mencondongkan tubuhnya ke arah Aurel agar suaranya tidak terdengar oleh Bang Edward dan Kak Anita yang kembali sibuk berdiskusi.

Aurel yang sedang meminum es sirupnya langsung menoleh. "Tanya apa, Rey?"

"Lo... kok manggil Om Crish sama Tante Olivia pakai sebutan Papa dan Mama?" tanya Reyhan polos, matanya bergantian menatap Aurel dan Bang Edward. "Bukannya lo sama Bang Edward cuma sahabatan dari kecil, ya? Kok panggilannya udah kayak anak kandung sendiri?"

Mendengar pertanyaan polos dari sepupunya itu, Kak Anita yang telinganya tajam langsung memotong pembicaraan sambil terkekeh renyah. "Oalah, Rey... kamu belum tahu, ya? Hubungan Aurel sama keluarga di sini itu udah jauh banget dari sekadar teman."

Bang Edward ikut mendongak dari tumpukan kertas jilidnya dan merangkul bahu Kak Anita sekilas. "Iya, Rey. Si Aurel ini dari zaman masih balita, ompong, dan hobi main tanah, udah sering ditinggal orang tuanya dinas luar kota. Jadi, dia hampir tiap hari dititip dan numpang hidup di rumah gue. Nyokap sama bokap gue udah telanjur sayang sama dia, makanya udah dianggap dan diadopsi secara informal jadi anak bungsu di rumah ini."

"Bahkan jatah makan sama kamar khusus Aurel di rumah ini masih ada sampai sekarang, Rey," timpal Kak Anita penuh kehangatan. "Makanya dia udah reflek manggil Papa Mama ke Om Crish dan Tante Olivia."

Reyhan manggut-manggut paham, matanya perlahan beralih menatap Aurel yang kini menunduk sambil memainkan sedotan es sirupnya. Penjelasan dari Bang Edward dan Kak Anita barusan seketika membuka tabir teka-teki di kepala Reyhan.

Sekarang Reyhan paham sepenuhnya. Alasan kenapa Aurel begitu cemburu dan terluka melihat keromantisan Bang Edward dan Kak Anita bukan karena masalah sepele. Aurel telah tumbuh besar bersama Bang Edward, menganggap rumah ini sebagai pelindungnya, dan tanpa sadar telah menaruh hati pada sosok 'kakak' yang selama ini selalu ada untuknya. Namun tragisnya, bagi Bang Edward, Aurel selamanya hanyalah adik kecil berisik yang dititipkan di rumahnya.

Reyhan mengembuskan napas pendek, lalu menyengir tipis ke arah Aurel. Ia sengaja menyenggol pelan lengan gadis itu dengan sikunya. "Oh, jadi status lo di sini itu anak angkat yang tertukar, ya? Pantesan galaknya sama kayak Bang Edward kalau lagi ngamuk."

"Reyhan! Lo mau gue siram pakai es sirup gajah ini, ya?!" ancam Aurel ketus, meskipun sudut bibirnya menahan senyum karena perhatian Reyhan berhasil mengalihkan rasa canggungnya lagi.

Gino yang duduk di seberang mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat taktik Reyhan yang begitu halus. "Lanjutkan, Rey. Pawang singa emang harus tahu silsilah keluarga singanya dulu sebelum bertindak."

Tidak lama kemudian, Mama Olivia kembali ke ruang tengah dengan botol kecil obat tetes mata di tangannya. Wanita paruh baya itu bersiap menghampiri sofa tempat Aurel duduk, namun langkahnya mendadak terhenti saat ponsel di saku celemeknya berdering nyaring.

"Aduh, sebentar, ya. Ini ada telepon penting dari langganan katering Mama," ujar Mama Olivia panik. Ia menatap ke sekeliling ruangan, lalu menyerahkan botol obat tetes itu kepada keponakannya yang duduk paling dekat dengan Aurel. "Reyhan, tolong bantu tetesin ke mata Aurel, ya? Tante angkat telepon dulu di belakang."

Mendengar instruksi dari Mama Olivia, mata Gino langsung berbinar jenaka, sementara Shirin menahan senyum penuh arti.

Reyhan menerima botol kecil itu dengan ekspresi tenangnya yang biasa. Ia membuka tutup botolnya, lalu memutar tubuhnya menghadap Aurel. "Sini, Rel. Agak mendongak sedikit," ucap Reyhan dengan nada suara yang melembut, jemari tangannya perlahan bergerak mendekati pelipis Aurel untuk membantu memosisikan kepala gadis itu.

Jantung Aurel seketika berdegup kencang. Ia refleks menahan napas, menatap wajah tampan Reyhan yang kini berada dalam jarak yang cukup dekat dengannya.

Namun, sebelum jemari Reyhan sempat menyentuh kulit Aurel, sebuah tangan kekar mendadak menyambar botol obat tetes tersebut dari cengkeraman Reyhan.

"Eits! Nggak bisa, nggak bisa!" sela Bang Edward dengan suara lantang, langsung memotong jarak di antara Reyhan dan Aurel. Wajah senior itu tampak dipenuhi rasa protektif seorang kakak yang mendadak siaga satu. "Modus lo halus bener, ya, Pangeran Denim! Langkah lo terlalu agresif buat ukuran maba."

Reyhan menghentikan tangannya di udara, lalu menariknya kembali dengan santai sembari menaikkan sebelah alisnya. "Gue kan cuma jalanin perintah Tante Olivia, Bang."

"Perintah nyokap gue emang sakti, tapi radar proteksi gue sebagai abang lebih sensitif!" sahut Bang Edward tidak mau kalah. Ia melotot jenaka ke arah sepupu kekasihnya itu, lalu beralih menatap Aurel yang masih melongo. "Sini, Rel, biar Abang lo yang ganteng ini yang netesin. Nggak rela gue aset berharga rumah ini disentuh-sentuh maba spek buaya magang kayak si Reyhan."

Gino langsung meledak dalam tawa di seberang meja. "Hahaha! Kasihan amat lo, Rey! Kena block total sama kapten kesebelasan!"

Shirin ikut terkekeh pelan melihat wajah Bang Edward yang begitu defensif menjaga Aurel. Sementara itu, Kak Anita hanya bisa menepuk jidatnya melihat tingkah protektif kekasihnya yang terkadang berlebihan jika menyangkut soal adik kecilnya.

Aurel tertegun di tempatnya duduk. Ketika Bang Edward mulai mendekatkan wajah dan dengan telaten meneteskan cairan obat itu ke mata kanan dan kirinya, rasa sesak yang sempat mampir di dada Aurel perlahan mencair. Meskipun ia tahu Bang Edward melindunginya murni karena rasa sayang seorang kakak kepada adiknya, bagi Aurel, kepedulian spontan ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati luka kecil di hatinya.

"Nah, beres. Kedip-kedipin matanya, Rel," ucap Bang Edward setelah selesai, lalu menepuk pucuk kepala Aurel dengan gemas—gerakan familier yang selalu berhasil membuat Aurel merasa aman di rumah ini.

Aurel mengerjapkan matanya yang terasa perih namun berangsur segar. Saat ia melirik ke samping, ia mendapati Reyhan sedang menatapnya dengan senyum tipis yang sarat akan makna. Seolah-olah, cowok cerdas itu ingin menyampaikan lewat tatapan matanya bahwa ia ikut lega melihat senyuman Aurel telah kembali.

Begitu Bang Edward beralih mengembalikan botol obat tetes mata ke dalam kotak P3K di dekat televisi, Kak Anita langsung memanfaatkan momen tersebut. Ia menggeser duduknya di sofa, sedikit mencondongkan tubuh ke arah Reyhan, lalu menyenggol pelan lengan adik sepupunya itu dengan sikunya.

"Cie... yang barusan kena block total sama Abang Siaga Satu," bisik Kak Anita dengan senyum penuh kemenangan dan kedipan mata yang sangat meledek. "Gimana rasanya, Rey? Sakit tapi nggak berdarah, ya?"

Reyhan yang sedang menutup kembali layar laptopnya hanya melirik Kak Anita sekilas. Ekspresi wajahnya tetap leluasa tenang, seolah hatinya tidak terpengaruh sama sekali oleh kegagalan tadi. "Gue cuma berniat menolong, Kak. Nggak ada niat terselubung," jawab Reyhan dengan suara yang sangat rendah, terdengar datar namun ada nada defensif di dalamnya.

Kak Anita terkekeh pelan tanpa polusi suara agar tidak memicu kecurigaan kekasihnya. "Halah, nggak usah bohong sama Kakak sendiri deh. Mata kamu itu nggak bisa nipu, Rey. Kakak tahu betul silsilah pandangan mata cowok-cowok di keluarga kita kalau lagi tertarik sama perempuan. Kamu sengaja, kan, cari celah biar bisa dekat-dekat sama Aurel?"

Reyhan terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi. Ia melirik ke arah Aurel yang kini sedang asyik mengobrol dan tertawa lepas bersama Shirin seolah beban di pundaknya baru saja terangkat.

"Kalau iya, emangnya kenapa, Kak?" sahut Reyhan akhirnya, berbisik jujur di telinga sepupunya. "Aurel itu menarik. Sayang aja kalau dia terlalu lama terjebak di jalan buntu yang nggak ada ujungnya."

Mendengar pengakuan tersirat dari adiknya, Kak Anita sempat tertegun. Ia langsung paham bahwa Reyhan yang cerdas ternyata sudah bisa membaca dinamika perasaan terpendam Aurel kepada Bang Edward. Kak Anita menatap Reyhan dengan pandangan yang melunak, penuh rasa sayang dan dukungan.

"Edward itu kalau masalah Aurel emang protektifnya minta ampun, Rey. Maklum, udah kayak adik kandungnya sendiri dari kecil," bisik Kak Anita lagi, memberikan petunjuk berharga. "Tapi kalau kamu beneran serius mau jadi 'jalan baru' buat Aurel, Kakak dukung penuh, kok. Asalkan jangan main-main, ya. Anak itu hatinya rapuh walaupun luarnya kelihatan berisik."

Reyhan tidak menjawab lagi dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk takzim sekali ke arah Kak Anita, lalu kembali membuka draf tugas kelompoknya di laptop dengan binar mata yang kini terlihat jauh lebih fokus dan bertekad daripada sebelumnya.

Aurel yang matanya sudah kembali segar setelah ditetesi obat oleh Bang Edward, mendadak menangkap ada pergerakan mencurigakan tepat di sebelahnya. Sepasang matanya memicing saat melihat Kak Anita dan Reyhan sedang saling mendekatkan kepala, saling berbisik serius dengan senyum-senyum penuh arti yang tertangkap jelas dari sudut matanya.

Sifat dasar Aurel yang hobi mengulik informasi alias kepo seketika langsung meronta-ronta. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Kak Anita dan Reyhan bergantian dengan pandangan penuh selidik.

"Heh, lo berdua! Bisik-bisik apa, nih?" todong Aurel blak-blakan, memotong jalur pembicaraan rahasia dua saudara sepupu itu. "Mencurigakan banget mukanya. Pasti lagi ngomongin gue, ya?"

Kak Anita yang kaget karena tertangkap basah, langsung menegakkan punggungnya sambil tertawa canggung. "Eh? Enggak kok, Rel. Siapa juga yang ngomongin kamu. Geer bener ini anak bungsu."

"Nggak percaya! Tadi gue lihat jelas ya, Kak Anita nyenggol-nyenggol lengan Reyhan sambil lirik-lirik ke arah gue!" sahut Aurel tidak mau kalah, bibirnya maju beberapa senti. Ia lalu beralih menatap Reyhan yang masih memasang wajah lempeng tanpa dosanya. "Rey, jujur nggak lo! Lo berdua lagi ngerencanain taktik apa buat numbalin gue di tugas Pak Baskoro, kan?"

Reyhan menoleh lambat, menatap wajah Aurel yang kini sudah kembali ceria dengan mode galak andalannya. Sudut bibir cowok itu terangkat tipis, merasa terhibur dengan daya analisis Aurel yang melesat jauh dari topik aslinya.

"Bukan soal tugas, Rel," jawab Reyhan dengan nada suara yang tenang namun terdengar sangat santai.

"Terus soal apa dong?" kejar Aurel makin penasaran, matanya berbinar menuntut jawaban.

Reyhan sengaja menjeda kalimatnya sejenak. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Aurel, lalu berbisik dengan volume yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Kak Anita tadi cuma lagi nanya... tipe cowok ideal lo itu kayak gimana. Katanya, dia mau daftarin gue jadi kandidat nomor satu."

Seketika itu juga, pertahanan Aurel runtuh untuk kesekian kalinya hari ini. Wajahnya yang tadinya penuh rasa ingin tahu langsung berubah menjadi merah padam dalam hitungan detik. Jantungnya berdegup kencang, benar-benar tidak siap dengan serangan gombalan tak terduga dari maba spek dewa di sebelahnya ini.

"Reyhan! Lo... lo benar-benar ya!" seru Aurel salah tingkah, refleks memukul pelan lengan tegap Reyhan dengan buku catatannya demi menyembunyikan rasa gugup yang luar biasa.

Gino yang melihat pemandangan itu dari seberang meja langsung menepuk jidatnya dramatis. "Aduh, Shirin, tolong panggilin ambulans sekarang. Sahabat lo si Aurel kayaknya baru saja kena serangan jantung akibat sengatan listrik asmara dari Reyhan!"

Shirin hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya yang biasa menjadi kompor, kini justru menjadi pihak yang paling sering "terbakar" oleh pesona diam-diam milik Reyhan.

Tepat saat Aurel masih sibuk menutupi wajahnya yang memerah dengan buku catatan, langkah kaki Bang Edward terdengar berderap kembali dari arah dapur. Senior itu muncul sambil membawa stoples besar berisi keripik singkong pedas di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang beberapa botol air mineral dingin tambahan.

"Nih, ada amunisi baru dari nyokap biar otak lo pada nggak ngebul," kata Bang Edward sembari meletakkan stoples itu di tengah meja dengan bunyi klak yang cukup keras.

Namun, begitu Bang Edward meluruskan pandangannya, atensinya langsung tersita oleh pemandangan aneh di depannya. Ia mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap lekat-lekat pada adik tingkat yang sudah dianggapnya adik kandung sendiri itu.

"Lho, Rel? Muka lo kenapa merah padam begitu?" tanya Bang Edward dengan nada heran yang sangat kentara. Ia menaruh botol air mineral ke meja, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Aurel. "Itu pipi sampai telinga warnanya udah kayak kepiting rebus. Matanya sih udah mendingan setelah ditetesin obat tadi, tapi ini mukanya kenapa malah ikutan matang? Lo mendadak demam, ya?"

Pertanyaan polos nan penuh perhatian dari Bang Edward seketika membuat Aurel makin salah tingkah. Ia buru-buru menurunkan buku catatannya sedikit, mencoba merangkai kata. "Eh? Enggak kok, Bang! Gue... gue nggak apa-apa. Cuma gerah aja!" dusta Aurel dengan suara yang sedikit naik satu oktav.

"Gerah dari mana? Ini AC ruang tengah nyala dingin begini, si Gino aja sampai pakai jaket," sanggah Bang Edward tidak percaya, matanya melirik tajam ke arah Reyhan yang duduk di sebelah Aurel dengan ekspresi yang—seperti biasa—luar biasa lempeng. "Jangan-jangan... lo diusilin lagi ya sama si Reyhan pas gue ke dapur tadi?"

Mendengar radar protektif Bang Edward kembali menyala, Kak Anita langsung menyenggol pinggang kekasihnya itu sambil menahan tawa. "Sudah ah, Edward. Kamu itu sensitif banget kalau masalah Aurel. Orang dari tadi mereka berdua cuma fokus bahas variabel tugas, kok."

"Iya, Bang. Tadi Aurel cuma agak syok aja pas gue kasih tahu kalau ada bagian rumit di bab dua yang harus dia kerjain sendiri," sela Reyhan dengan nada santai nan meyakinkan, membuat sebuah kebohongan penyelamat baru dengan ekspresi tanpa dosa.

Gino yang sejak tadi menonton drama gratis itu langsung memalingkan wajah ke arah jendela sambil membekap mulutnya sendiri, pundaknya berguncang hebat karena menahan tawa yang hampir meledak melihat bagaimana Reyhan begitu lihai membolak-balikkan fakta di depan abang siaga satu tersebut.

Shirin ikut menimpali demi mencairkan suasana. "Iya, Bang Edward. Aurel kan emang paling alergi kalau disuruh mikir rumus sendirian, makanya langsung naik darah sampai mukanya merah begitu."

"Oalah... dasar lo, Rel. Baru dikasih tugas mandiri dikit aja udah mau meledak itu muka," ucap Bang Edward akhirnya, menggeleng-gelengkan kepala percaya begitu saja. Ia membuka stoples keripik pedas itu lalu mendorongnya ke dekat Aurel. "Nih, makan keripik pedas gih, biar stres lo gara-gara variabel tugasnya hilang."

"Iya, Bang. Makasih," sahut Aurel lirih.

Saat Bang Edward kembali berbalik untuk duduk di ujung sofa bersama Kak Anita, Aurel perlahan menurunkan buku catatannya sepenuhnya. Dari sudut matanya, ia melirik Reyhan yang kini sedang menyodorkan stoples keripik pedas itu lebih dekat ke arahnya. Cowok denim itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis nan jahil yang seolah berkata, 'Aman, Partner.'

Debaran di dada Aurel yang sempat mereda akibat interogasi Bang Edward, kini justru kembali bertaburan dengan rasa hangat yang baru—sebuah rasa aman yang secara perlahan mulai menggeser posisinya di dalam hati gadis itu.

Tiba-tiba

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!