NovelToon NovelToon
Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul / Tamat
Popularitas:811.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.

Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode — 27.

Dua minggu berlalu dengan cepat.

Selama rentang waktu itu, suasana di Wiranata Corp tetap berjalan normal di permukaan. Namun di balik layar, tim keamanan internal bekerja tanpa henti. Seluruh jejak digital yang mengarah pada penyebaran fitnah terhadap Zahira berhasil dihapus.

Revan memilih diam.

Ia tidak membantah maupun memberikan klarifikasi. Baginya, sekarang bukan waktunya berbicara, melainkan mengumpulkan bukti. Saat semuanya lengkap, barulah ia akan mengambil langkah.

Hari keberangkatan ke Singapura akhirnya tiba.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta dipenuhi penumpang yang hendak melakukan penerbangan ke berbagai negara. Rombongan Wiranata Corp tiba hampir dua jam sebelum jadwal keberangkatan.

Revan berjalan di depan bersama sekretarisnya, sementara Zahira mengikuti di samping beberapa manajer senior. Meski ini adalah perjalanan bisnis pertamanya ke luar negeri, Zahira tampak tenang.

Seluruh dokumen telah dipersiapkan dengan rapi.

"Bu Zahira." Salah seorang staf menghampirinya. "Semua koper sudah masuk bagasi."

"Terima kasih."

Tak lama kemudian, Revan mendekat. "Sudah siap?"

"Siap."

"Gugup?"

"Sedikit." Zahira tersenyum kecil.

"Itu wajar." Revan menatap keramaian bandara. "Nanti kamu akan bertemu banyak CEO, investor, dan pemilik perusahaan multinasional. Jangan berpikir mereka lebih hebat darimu."

Zahira mengernyit. "Maksudmu?"

Tatapan Revan beralih kepada wanita itu. "Mereka hanya berbeda pengalaman, ingatlah... kemampuanmu tidak berada di bawah mereka."

Sekali lagi, kata-kata Revan menambah kepercayaan diri Zahira.

Di terminal yang sama, beberapa meter dari rombongan Wiranata Corp. Deris berdiri sambil menarik koper hitam miliknya. Sejak perceraian itu, tubuhnya memang sudah mulai pulih. Namun wajahnya masih tampak jauh lebih kurus dibanding sebelumnya.

Tatapannya tanpa sengaja menangkap sosok Zahira, wanita itu sedang berbicara dengan Revan. Keduanya sesekali tersenyum ketika membahas sesuatu. Dan ya, pemandangan itu masih membuat dada Deris terasa sesak.

Sebab dulu, orang yang selalu berdiri di samping Zahira adalah dirinya. Kini, posisi itu telah digantikan orang lain.

"Pak Deris." Suara sekretarisnya membuyarkan lamunan. "Waktunya, check-in."

"Ya."

Ia memilih berjalan ke arah yang berbeda, Ia tidak berusaha menghampiri Zahira. Sebab ia sadar, status mereka benar-benar telah berakhir.

Di sisi lain bandara, Kayla dan Almira juga baru tiba. Keduanya sengaja tidak berjalan bersama rombongan perusahaan masing-masing agar tidak menarik perhatian.

"Itu dia." Kayla melirik ke arah Zahira dari kejauhan.

Almira ikut memandang ke arah yang sama.

"Kapan kita mulai?" Kayla mengepal tangannya.

Almira tersenyum tipis, sorot matanya berubah tajam. "Permainan yang bagus, membutuhkan panggung yang tepat. Dan Business Leadership Summit adalah panggungnya."

...*****...

Beberapa jam kemudian, pesawat akhirnya lepas landas meninggalkan Indonesia. Selama penerbangan hampir dua jam, sebagian besar rombongan memilih beristirahat.

Zahira duduk di kursi dekat jendela, untuk beberapa saat ia memandangi hamparan awan putih yang membentang luas. Sulit dipercaya, karena beberapa bulan lalu hidupnya masih dipenuhi penghinaan. Kini... ia terbang menuju forum bisnis internasional sebagai General Manager salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.

"Sedang memikirkan sesuatu?" Suara Revan terdengar dari kursi di sebelahnya.

"Aku hanya merasa hidup memang aneh."

"Aneh bagaimana?"

“Kukira hidupku hanya tentang Deris. Ternyata, justru sekarang hidupku baru benar-benar dimulai,” ucap Zahira.

Revan tersenyum tipis. “Itu baru Zahira yang kukenal. Waktu SMA, kamu selalu jadi orang yang paling semangat. Hampir semua lomba kamu ikuti, dan entah bagaimana... hampir semuanya kamu menangkan.”

“Yang paling kuingat justru lomba debat, aku terlalu semangat sampai hampir menjatuhkan piala.” Zahira terkekeh pelan.

“Dan aku yang menangkapnya.” Timpal Revan seraya ikut terkekeh.

Zahira menoleh, lalu tertawa. “Oh iya! Aku sampai lupa.”

“Padahal setelah itu kamu malah sibuk diwawancarai guru, sementara aku yang disuruh mengembalikan pialanya ke ruang kepala sekolah.” Revan memutar bola matanya bercanda.

“Kasihan juga kamu, ya.”

Revan ikut tertawa kecil. “Lumayan, setidaknya aku bisa pegang piala yang kamu menangkan.”

Zahira hanya menggeleng sambil tersenyum, menganggap itu sekadar candaan.

Sementara Revan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ada satu hal yang tidak pernah ia katakan pada wanita itu, sejak masa SMA bukan pialanya yang ingin ia jaga melainkan pemiliknya. Dan Revan masih belum menyadari, bahwa Zahira sebenarnya sudah lama mengetahui perasaannya.

Tak lama kemudian.

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Changi, Singapura. Begitu keluar dari area kedatangan, rombongan Wiranata Corp langsung disambut perwakilan panitia.

"Welcome to Singapore, Mr. Revan."

"Thank you."

Mereka kemudian diarahkan menuju kendaraan khusus yang telah disiapkan.

Di sepanjang perjalanan menuju hotel, Zahira beberapa kali memandang keluar jendela. Jalanan yang bersih, gedung-gedung pencakar langit. Lalu lintas yang tertata, semuanya terlihat berbeda.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan hotel bintang lima yang menjadi lokasi penyelenggaraan Business Leadership Summit.

Beberapa bendera negara peserta berkibar di depan lobi.

Indonesia.

Singapura.

Jepang.

Korea Selatan.

Amerika Serikat.

Australia.

Dan masih banyak lagi, dan puluhan peserta dari berbagai negara tampak hilir mudik mengenakan setelan bisnis terbaik mereka.

"Selamat datang." Panitia menyerahkan kartu identitas peserta. "Acara pembukaan dimulai besok pagi pukul sembilan."

Revan mengangguk. "Terima kasih."

Setelah proses registrasi selesai, seluruh rombongan menuju lift. Saat pintu lift hampir tertutup, seseorang menahannya dari luar. Pintu kembali terbuka, Deris masuk bersama sekretarisnya.

Ruangan lift mendadak sunyi, tatapan Deris dan Zahira bertemu selama beberapa detik. Tak ada sapaan maupun senyum yang terucap, semua kedekatan di antara mereka telah berakhir. Kini, mereka hanya dua profesional yang berdiri di pihak perusahaan yang berbeda.

Revan berdiri tenang di samping Zahira tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun keberadaannya sudah cukup menunjukkan satu hal, Zahira tidak lagi sendirian.

Di sudut lift, Deris perlahan mengepalkan tangannya. Yang ia rasakan saat itu hanyalah penyesalan yang kembali menghantam dadanya.

Sementara di lantai berbeda hotel tersebut, Almira berdiri di balkon kamarnya sambil memandang gedung konferensi yang terhubung langsung dengan hotel.

Ponselnya bergetar. "Ya?"

"Semua sudah siap, Nona." Suara seseorang terdengar dari seberang.

"Bagus." Almira tersenyum puas.

"Besok tinggal menunggu instruksi Anda."

"Jangan terburu-buru.“ Tatapannya mengarah ke arah gedung tempat forum akan berlangsung. "Besok mereka akan menikmati acara pembukaan."

"Lalu kapan kita bergerak?"

Almira tersenyum tipis, sorot matanya dipenuhi keyakinan. "Serangan paling mematikan... selalu dilakukan ketika lawan merasa semuanya berjalan baik."

Ia menutup panggilan, tanpa menyadari di koridor hotel, salah satu anggota tim keamanan internal Wiranata Corp kembali mengawasi setiap gerak-geriknya dari kejauhan.

1
Marina Tarigan
apa tindak Revan selanjutnya ibu Melani sgt arogan yg akan menghancurkan dirimu sendiri
Marina Tarigan
sifat aroganmu luar biasa Almira yg akan menghancurkan keluargamu dan perusahaan papamu akan kena dampaknya sifat cemburumu salah tempatsm Algira di awal xoa mau bekerja dan memperlihatkan kemampuan dan tanggung jawab sbgi karoawan dia mau hidup dgn kemampuannya Ragina tdk mengambil Revan darimu drakula
Marina Tarigan
sifat Almira itu untk menghancurkan diri sendiri dan keluarganya sendiri yg buat papanya marah besar karena sdh diingatkan olehnya jgn lagi bertindak gegabah
Marina Tarigan
4orang tua bijak almira taya hidupmu ke lebih baik supaya jadi wanita teladan sali g melindungi sesama tekan nafsu bejatmu itu
Marina Tarigan
gitu dong Deris yg membuat perpisahan kamu sendiri dgn suara lantang menceraikan zahira tdk punya perasaan sedikitpun saya tdk mencintaimu lagi berdama keluargamu sendiri
Marina Tarigan
biarpun keluar dari jeruji singapura Revan tdk mau lepas begitu2 saja karena terbukti mereka berusaha membunuh karakter seseoran g itu namanya psikopat almira
Marina Tarigan
biasa itu kedekatan zahira dan zRevan sbgi pinpinan pasti ada pro kontra di kepala mereka karena manusia biasa S O S tdk heran satu tim pulang bersama masa jln betjarak 1 km berjln minum air es supaya adem
Marina Tarigan
almira kaila Revan bukan tandinganmu gimana reaksi orangtua kalian berdua dan inbasnya pd perusahaan keluarga kalian nantinya
Marina Tarigan
kenapa Almira Kail a perbuatan kalian berdampalk pd perusahaan keluarga kalian baru tahu rasa
Marina Tarigan
perbuatan licik merrka tdk sebanding dgn kepintaran Revan jebakan sendiri akan berbalik pd mereka berdua
Marina Tarigan
kasihan sekali 2 orang ulat bulu yg stres hari ini semoga ingin mereka mantul pdnya berdua
Marina Tarigan
kalau sdh gila merasa bahwa almira dan kayla menganggap lebih pintar👍 dari orang lain akibatnya jstuh terhina
Marina Tarigan
gimana Kayla madih benvi sm zariha
Marina Tarigan
hati 2 Xafira wanita gila ingin mencelakaimu dan juga Revan buat perlindungan bagi Zafira kasihan dia
Marina Tarigan
tunggu kehancuranmu Kayla kecemburuanmu itu adal monster bagimu bukan bagi orang lain
Marina Tarigan
pilihanmu tepat sekali sm bejatnya dgn dirimu awal kehancuranmu
Marina Tarigan
kena tampar kekasih ditempat orang2 terhormat deh hebat kan kekasihmu Deris
Marina Tarigan
kayla sdh sakit sebenarnya akibat kecemnuruan yg tdk beralasan kasihan deh lo kembali pdmu nantinya
Marina Tarigan
Kayla kecemburuanmu diluar nalar kamu kan sdh berhasil merebut suami zahira apalagi yg kamu inginkan pelindung zahira orang hebat dan dia sdh tahu sepak terjangmu sm Deris
Marina Tarigan
deris yg sdh kamu buang dan kamu hina itu adalah istri sahmu sdhlah nikmati saja hidupmu zahira juga menikmati perannya sekarang karena caramu mencersikan zahira sgtlah kasar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!