Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 — Jarak yang Menjaga
Malang.
Kota yang udaranya lebih dingin daripada yang Muthi’ah bayangkan.
Kota apel, kota mahasiswa, dan sekarang… kota tempat dia memulai hidup barunya.
Beberapa bulan lalu, Muthi’ah masih mengenakan seragam pesantren setiap hari. Bangun sebelum Subuh, mengaji, sekolah, menghafal kitab, mengurus kegiatan santri, lalu kembali ke kamar bersama Dina, Zahra, dan Salsa.
Sekarang semuanya berbeda.
Muthi’ah sudah menjadi mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab di salah satu kampus di Malang.
Awal masuk kuliah, dia sempat merasa kikuk.
Kelasnya campur.
Ada laki-laki dan perempuan.
Tidak ada bel yang mengingatkan jadwal mengaji.
Tidak ada ustazah yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar untuk mengingatkan waktu belajar.
Dan yang paling aneh…
Dia bebas membawa HP.
“Ini benar-benar kuliah?” gumamnya waktu pertama kali melihat mahasiswa sibuk bermain HP di sela-sela kelas.
Tapi Muthi’ah cepat beradaptasi.
Tiga tahun di Darul Hikmah ternyata cukup membuatnya terbiasa menghadapi banyak hal.
Dia tinggal di sebuah kos putri yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus. Aturannya cukup ketat. Gerbang ditutup pukul sembilan malam, tamu laki-laki tidak boleh masuk ke area kamar, dan setiap penghuni wajib menjaga ketertiban.
Buat Muthi’ah, tempat itu cukup nyaman.
Rasanya seperti pesantren dengan versi yang lebih bebas.
Namun ada satu hal yang membuat Malang terasa berbeda.
Jay juga ada di kota itu.
Bukan di kampus yang sama.
Bukan pula di lingkungan yang sama.
Jay mengasuh salah satu pesantren cabang kecil milik Darul Hikmah. Pesantrennya masih sederhana. Bangunannya baru sebagian selesai, cat beberapa dinding masih belum rapi, dan jumlah santrinya baru sekitar empat puluh orang.
Di sela-sela mengasuh pesantren, Jay juga melanjutkan kuliah S2 Pendidikan Islam.
Mereka berada di kota yang sama.
Tapi tetap berjauhan.
Dan sejak awal, mereka sudah sepakat untuk menjaga batas.
Tidak ada chat setiap pagi.
Tidak ada pesan, “Sudah makan?”
Tidak ada video call sebelum tidur.
Tidak ada panggilan tengah malam hanya karena sedang merasa rindu.
Kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan, mereka tetap menggunakan perantara.
Mereka menyebutnya bercanda sebagai…
LDR versi santri.
Seminggu sekali, Jay biasanya menitipkan catatan kajian kepada Nyai Maryam. Catatan itu berisi materi tafsir atau pelajaran yang sedang dia ajarkan di pesantren cabang.
Kalau ada kesempatan, Nyai Maryam akan menyampaikan catatan itu kepada Muthi’ah melalui Ustazah Khadijah.
Ustazah Khadijah sendiri kebetulan sedang melanjutkan S2 di Malang.
Muthi’ah pun membalas dengan cara yang sama.
Kadang tentang materi kuliahnya.
Kadang tentang mufradat baru yang dia pelajari.
Kadang hanya beberapa kalimat tentang bagaimana kehidupan barunya di kampus.
Tidak ada kata-kata berlebihan.
Tidak ada rayuan.
Tapi keduanya tahu, ada perhatian di balik catatan-catatan itu.
Suatu malam, sekitar pukul satu dini hari, Muthi’ah masih duduk di depan laptop.
Tugas kuliahnya belum selesai.
Laptopnya tiba-tiba berhenti.
“Ya Allah…”
Muthi’ah memejamkan mata.
Dia menekan tombol keyboard beberapa kali.
Tidak bergerak.
“Jangan sekarang, dong.”
Dia hampir ingin mengambil HP dan menghubungi Jay.
Hampir.
Tapi tangannya berhenti.
Muthi’ah tersenyum kecil.
“Kan sudah janji.”
Akhirnya dia mengambil buku harian pemberian Zahra.
Dia menulis:
Hari ini tugas menumpuk. Laptop ngadat. Di kos sendirian rasanya pengin cerita ke seseorang.
Dia berhenti sebentar.
Kemudian melanjutkan.
Tapi aku ingat, jarak ini memang sengaja kami pilih. Bukan karena tidak peduli. Justru karena ingin saling menjaga.
Muthi’ah menutup bukunya.
“Besok pasti selesai.”
Di tempat lain, Jay juga belum tidur.
Di pesantren cabang, dia sedang duduk di ruang kecil yang sekaligus menjadi tempat belajarnya.
Buku kuliah S2 terbuka di depannya.
Tapi sejak lima belas menit lalu, satu halaman pun belum berpindah.
Kepalanya pusing.
Tadi sore dua santri kecilnya bertengkar hanya karena berebut sarung.
Satu bilang sarung itu miliknya.
Yang satu lagi bilang dia yang lebih dulu mengambil.
Ujung-ujungnya Jay yang harus turun tangan.
Sekarang dia baru bisa duduk tenang.
Jay menghela napas.
“Kalau Heeseung ada di sini, pasti dia ketawa.”
Dia ingin bercerita kepada Muthi’ah.
Tapi tidak.
Bukan karena tidak boleh peduli.
Mereka hanya sudah sepakat bahwa ada batas yang harus dijaga.
Jay akhirnya membuka notes di HP.
Dia menulis beberapa kalimat tentang kejadian hari itu.
Tidak dikirim kepada Muthi’ah.
Dia mengirimkannya kepada Nyai Maryam.
Umi, kalau nanti ada kesempatan, tolong sampaikan ke Muthi’ah. Pesantren cabang aman. Cuma santrinya masih suka rebutan sarung.
Beberapa menit kemudian, Jay menambahkan:
Dan bilang juga, saya baik-baik saja. Jadi dia tidak perlu khawatir.
Setelah mengirim, Jay tersenyum sendiri.
“Kenapa jadi seperti surat zaman dulu?”
Dia meletakkan HP.
Tapi anehnya, hatinya terasa lebih ringan.
Beberapa hari kemudian, Nyai Maryam menelepon Muthi’ah.
“Muthi’ah?”
“Iya, Umi.”
“Ada titipan dari Jay.”
Muthi’ah langsung duduk lebih tegak.
“Titipan apa, Umi?”
Nyai Maryam tertawa kecil.
“Katanya, kalau tugas kuliahmu menumpuk, ingat dulu waktu di pesantren kamu pernah hafalan lima halaman dalam semalam sambil nangis.”
Muthi’ah terdiam.
Nyai melanjutkan.
“Katanya, kalau dulu kamu bisa melewati itu, sekarang juga pasti bisa. Jangan menyerah.”
Muthi’ah tersenyum.
“Umi…”
“Hm?”
“Bilang ke Gus Jay… terima kasih.”
“Iya.”
Muthi’ah berpikir sebentar.
“Oh iya, Umi.”
“Apa?”
“Pesantren cabangnya bagaimana?”
Nyai tertawa.
“Kenapa?”
“Santri kecilnya masih berantem rebutan sarung?”
“Masih.”
Muthi’ah ikut tertawa.
“Kasihan Gus Jay.”
“Ya Allah,” kata Nyai sambil tertawa. “Kalian ini. Tidak pacaran, tapi perhatiannya seperti orang yang tiap hari ketemu.”
Muthi’ah langsung salah tingkah.
“Umi…”
“Sudah, sudah. Nanti Umi sampaikan.”
Setelah telepon berakhir, Muthi’ah menatap layar HP-nya.
Dia tersenyum kecil.
Tidak ada pesan langsung.
Tidak ada panggilan pribadi.
Tapi entah kenapa, perhatian itu tetap sampai.
Malam harinya, Muthi’ah bangun untuk tahajud.
Di kamar kos yang sunyi, dia mengangkat kedua tangan.
“Ya Allah…”
Dia diam sebentar.
“Jaga Jay di pesantren cabang. Mudahkan kuliahnya. Kalau dia sedang lelah, kuatkan dia.”
Di waktu yang hampir sama, Jay juga sedang tahajud.
Di ruangan kecil pesantren cabang, dia menundukkan kepala.
“Ya Allah, jaga Muthi’ah di Malang. Mudahkan kuliahnya. Jangan biarkan dia merasa sendirian.”
Tidak ada yang mendengar doa mereka.
Tidak ada yang tahu.
Hanya Allah.
Dan mungkin itu cukup.
---
Beberapa minggu kemudian, sesuatu yang tidak mereka rencanakan terjadi.
Mereka bertemu.
Di toko kitab.
Muthi’ah sedang mencari kamus Bahasa Arab ketika dari ujung rak terdengar suara yang sangat dia kenal.
“Permisi, Pak. Yang cetakan Beirut masih ada?”
Muthi’ah membeku.
Dia perlahan menoleh.
Jay.
Mereka sama-sama terdiam.
“Eh…”
Jay terlihat sama kagetnya.
“Muthi’ah?”
Muthi’ah langsung menunduk.
“Gus Jay.”
Toko kitab itu cukup ramai. Beberapa mahasiswa mondar-mandir mencari buku. Pemilik toko bahkan mengenali mereka sebagai alumni Darul Hikmah.
“Lama tidak ketemu, Gus,” sapa pemilik toko.
Jay tersenyum.
“Iya, Pak.”
Muthi’ah kembali melihat kamus di tangannya.
Jay menunjuk salah satu buku.
“Kalau cari kamus, yang itu lebih bagus.”
Muthi’ah melihat buku yang ditunjuknya.
“Yang ini?”
“Iya. Cetakan Beirut. Biasanya lebih lengkap.”
“Oh…”
Muthi’ah mengangguk.
“Terima kasih, Gus.”
“Sama-sama.”
Hening.
Tidak ada yang tahu harus bicara apa lagi.
Akhirnya Jay mengangguk kecil.
“Semoga kuliahnya lancar.”
Muthi’ah tersenyum.
“Semoga pesantrennya juga lancar.”
“Terima kasih.”
Lalu mereka kembali ke urusan masing-masing.
Tidak ada ajakan makan.
Tidak ada ajakan duduk bersama.
Tidak ada foto berdua.
Tidak ada, “Nanti ketemu lagi, ya.”
Mereka hanya bertemu sebentar.
Lalu pulang.
Dan justru karena itu, pertemuan tersebut terasa cukup.
---
Malamnya, Muthi’ah menelepon Dina.
“Din.”
“Apaan?”
“Tadi gue ketemu Gus Jay.”
Dina langsung berteriak dari ujung telepon.
“HAH?! DI MANA?!”
“Di toko kitab.”
“TERUS?”
“Ya ngobrol.”
“NGOBROL APA?”
Muthi’ah menahan tawa.
“Ngobrolin kamus.”
Hening.
Kemudian Dina berteriak lagi.
“ASTAGA! KALIAN KETEMU SETELAH SEKIAN LAMA CUMA NGOBROLIN KAMUS?!”
Muthi’ah tertawa.
“Iya.”
“Enggak romantis banget!”
“Justru itu.”
“Apanya yang justru itu?”
Muthi’ah melihat buku kamus yang tadi dia beli.
“Kalau kami sengaja mencari kesempatan untuk dekat, mungkin semuanya bisa jadi berbeda.”
Dia tersenyum kecil.
“Tapi kami sudah sepakat. Kalau ketemu, ya ketemu. Kalau ada urusan, ya seperlunya.”
Dina akhirnya diam.
Kemudian suaranya terdengar lebih lembut.
“Gue ngerti.”
Muthi’ah mengangguk meski Dina tidak bisa melihat.
“Jarak ini bukan hukuman, Din.”
“Terus?”
“Penjagaan.”
---
Di sisi lain, Jay juga menelepon Heeseung.
“Gue tadi ketemu Muthi’ah.”
Heeseung langsung tertawa.
“Terus?”
“Ngasih rekomendasi kamus.”
Hening dua detik.
Kemudian Heeseung tertawa semakin keras.
“Lu sudah kuliah S2, Jay. Masih saja kayak anak SMP.”
Jay ikut tertawa.
“Biarin.”
“Tidak ngajak makan?”
“Tidak.”
“Ngobrol lama?”
“Enggak.”
“Terus buat apa ketemu?”
Jay berpikir sebentar.
“Mungkin memang cuma buat mengingatkan kalau kami masih sama-sama di sini.”
Heeseung terdiam.
Jay melanjutkan.
“Dan mungkin buat mengingatkan juga kalau kami masih punya tujuan yang harus diselesaikan.”
Heeseung tersenyum.
“Lu berubah, Jay.”
“Kenapa?”
“Dulu lu mikir janji orang tua harus lu jalani. Sekarang lu sudah ngerti kalau hubungan itu harus dijaga sampai dua-duanya benar-benar siap.”
Jay tidak menjawab.
Dia hanya tersenyum.
---
Hari-hari di Malang terus berjalan.
Muthi’ah mulai terbiasa dengan kehidupan kampus.
Jay mulai terbiasa dengan pesantren cabangnya.
Muthi’ah belajar menjadi dirinya sendiri sebagai seorang mahasiswa.
Jay belajar menjadi dirinya sendiri sebagai seorang pengasuh.
Mereka tidak saling mengikat.
Tidak saling menuntut.
Tidak saling meminta kabar setiap saat.
Mereka hanya saling mendoakan.
Karena mereka tahu, suatu hari nanti mereka akan kembali bertemu di satu titik yang sama.
Bukan sebagai anak kecil yang dijodohkan.
Bukan sebagai dua orang yang terikat janji orang tua.
Tapi sebagai dua orang dewasa yang sudah memilih.
Malam itu, sebelum tidur, Muthi’ah membuka buku hariannya.
Dia menulis:
Dulu aku pikir jarak berarti kehilangan.
Sekarang aku tahu, tidak semua jarak dibuat untuk memisahkan.
Ada jarak yang justru membuat kita belajar bertumbuh tanpa saling memiliki terlalu cepat.
Di tempat lain, Jay menulis di jurnalnya:
Cinta tidak selalu harus dekat.
Kadang cinta adalah memberi ruang agar seseorang bisa tumbuh.
Kalau memang dia jodohku, aku tidak perlu mengejarnya dengan terburu-buru.
Aku hanya perlu memastikan ketika waktunya tiba, aku sudah cukup siap untuk berjalan bersamanya.
Malam semakin larut.
Di dua tempat berbeda di Malang, mereka kembali menunaikan tahajud.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Hanya dua doa yang tidak pernah mereka sampaikan satu sama lain.
Semoga kuliah selesai dengan baik.
Semoga mimpi mereka tercapai.
Semoga hati mereka tetap dijaga.
Dan kalau memang Allah menghendaki mereka bersama…
Semoga nanti mereka bertemu kembali bukan karena paksaan.
Bukan karena janji yang dibuat ketika mereka masih bayi.
Tapi karena keduanya sudah siap mengatakan hal yang sama:
“Aku memilihmu.”
Dan untuk sekarang, jarak itu tetap ada.
Bukan untuk memisahkan.
Tapi untuk menjaga.