Lima tahun aku menikah dengan mas pramudia dan di karuniai anak satu laki laki yang sekarang berusia empat tahun, mas Pram adalah kakak angkatku lulusan teknik sipil, aku rela menjadi ibu rumah tangga setelah lulus kuliah demi menemani beliau mulai dari nol, aku meminta teman ku yang anak pengusaha untuk investasi ke perusahaan suamiku sehingga perusahaan properti mas Pram maju dan berkembang tapi setelah pamit kerja keluar kota, tiba tiba dia bawa madu untukku, kemudian dia pura pura bangkrut untuk mengurangi jatah nafkah ku dan tidak dapat harta gono gini bila menuntut cerai, dikira aku sangat mencintai dan bertahan, Karena aku tidak berpenghasilan, mereka meremehkan aku. ku bikin bangkrut beneran biar tahu rasa, laki laki seperti itu yang tidak tahu terima kasih yuk ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 undangan sidang
Hari demi hati ku jalani seperti biasa, pagi ngantar Zidan ke sekolah, ku biarkan mas Pram memberi perhatian kepada aku dan Zidan, setiap pagi dia minta kopi dan menyiapkan sepeda motorku, siang aku kerja di rumah Oma dan sore pulang, karena Zidan sekarang rajin mengaji.
" Dek Zidan sudah berangkat ngaji" tanya mas Pram tiba tiba.
" Sudah mas barusan" kata ku
" Ternyata kamu serius ya dek mau gugat cerai mas" tanya mas Pram.
" Aku minta cerai mas nggak mau, ya aku sudah memutuskan, aku saja yang gugat cerai, mas sudah dapat surat pangilan sidang?" tanya ku
" Iya, kamu yakin, terus kalian akan tinggal dimana dek, kamu nggak punya siapa siapa di sini, berani sekali kamu ambil keputusan, coba kamu pikirkan lagi mas masih sayang sama kamu dan Zidan" kata dia memohon.
" Tempat tinggal gampang mas, sementara, aku dan zidan akan tinggal bersama Oma, aku harus berani mengambil keputusan karena bahu tepat bersandarku, sudah di buat bersandar orang lain, dan aku nggak mau berebut tempat sandaran itu, Aku sudah berfikir keras, kalau aku bertahan dengan kamu, kasihan anakku dapat nafkah juga uang sisa, karena kamu mengutamakan istri sirimu dan keluarga nya, sedangkan kamu sekarang bangkrut" jawabku
" Dek percayalah mas labih sayang sama kamu dan Zidan jangan hancurkan keluarga kita ya " kata mas Pram
" Sayang tapi menyakiti, dan kamu jangan munafik, yang menghancurkan keluarga kita itu, bukan aku tapi kamu sendiri, kamu lupa kamu sendiri yang buka pintu dan memasukkan penghuni lain dalam bahtera kita, yang akhirnya tengelam" jawabku
" Mas kira akhir akhir ini kamu baik sama mas, mas kira adek sudah mau menerima keputusan mas, ternyata adek menyiapkan semuanya" kata dia putus asa
" Makanya jangan jadi lelaki egois, yang merasa paling di butuhkan sehingga kamu bisa berbuat sesuka hati mu, cinta bisa menjadi benci kalau di sakiti" Jawabku
" Dek bentar lagi aku beli rumah yang nyaman buat kamu sama Zidan" kata dia berjanji
" Sudah kamu, jangan halu, dengan janjimu, aku mau mandi, sana ke tempat Dewi nanti dia marah kalau kamu di sini" kata ku
. Aku pun segera mandi, selesai mandi aku masuk kamar dan ku kunci kamarku, aku tidak ke mushola karena aku datang bulan, ku buka tablet ku lanjut aku bekerja, Bayu telephon kalau mobilnya laku nanti uangnya di transfer dan aku dapat laba dua juta, lumayan bisa buat jajan aku sama Zidan.
Zidan mengetuk pintu, rupanya dia sudah pulang dari mengaji,
" Anak bunda yang ganteng sudah datang" sapa ku
" Bunda, Zidan lapar, ayo beli nasi Padang" ajak Zidan.
Rupanya dia lapar dan request nasi Padang,
" Nak ayo ayah belikan," kata mas pram, teryata dia masih berkeliaran di sekitar kamar,
" Aku beli sama bunda saja, kalau sama ayah takutnya nanti di belikan paket hemat lauknya cuma sedikit " jawab Zidan jujur.
Aku tersenyum mendengar jawaban Zidan, sudah tahu kebutuhan banyak, malah tambah istri, jadi di hina kan sama anaknya, lagi pula sekarang apa nggak keberatan, ngasih nafkah tiga keluarga, aku dan Zidan, Dewi, ibunya Dewi dan kadang memberi ibu mertua, itu semua yang bikin mas Pram miskin.
Aku segera melajukan motorku, dan kami ke warung Padang membeli satu bungkus nasi Padang dengan lauk rendang, tambah ayam dan telor dadar ala Padang. memang Zidan suka makan yang bayak lauknya nasi nya hanya sedikit.
Aku beli satu bungkus untuk makan kami berdua, seperti biasa, Sampai di kos, Zidan aku suapi, kami duduk di bawah.
" Pantesan nggak mau kalau ayah yang belikan nasi, Zidan kalau makan banyak lauknya sih" kata mas Pram masuk ke kamar lihat kami makan.
" Iya yah Zidan harus banyak makan protein dari pada karbohidrat, kata Bu guru biar Zidan jadi anak pintar" jawab Zidan,
" Ih Zidan kok pinter sih, ayah bangga sama Zidan" kata mas Pram
Mas Pram bercanda dengan anaknya, aku menyuapi Zidan dan aku juga sekalian makan, biar saja mas pram hanya Nelan ludah saja,
" Mas katanya beli makan, kok disini kamu nggak adil kenapa mbak Erin saja yang kamu belikan mana punya ku" kata dia sambil bibirnya nyolot.
" Mas masih nunggu orang jual nasi goreng lewat, itu lho nasi Padang Erin beli sendiri buat Zidan, mas hanya lihat saja meskipun ngiler nggak di kasih " jawab mas Pram, benar kan dugaan ku, sebenarnya nya dia pingin
" Mbak, kalau sudah cerai, aku pindah kesini kayaknya kamar nya lebih enak" kata Dewi
" Jangan sembarang ngomong kamu wi, Erina dan Zidan tetap tinggal di sini dan aku akan bayari kos ini tetap untuk Zidan dan ibunya, dan kamu Dewi tetap di sana, kalau kamu ngeyel, nggak aku kasih uang kamu ya" kata mas Pram sewot
Ku julurkan lidah ku ke Dewi, biar saja ku ejek dia sambil tersenyum, dia manyun
" Mbak awas kamu ya, nanti aku balas kamu" kata dia
"Apa wi kamu ngajak gelut ya, kan kamu yang jahat, ambil suamiku, sekarang pasti kamu bahagia karena mas Pram aku lepaskan, ambil saja dia, tapi ikuti prosesnya jangan lupa bikin status di medsos mu, terima kasih sudah memperjuangkan aku, ternyata memang sudah di buang sama istri sahnya" kata ku sambil terkekeh.
" Dek jangan ngejek Dewi, dia stress habis keguguran nanti nangis di kira di aniaya" kata mas Pram
" Bela terus saja istri siri kesayangan mu, aku bisa bela diriku sendiri, menyala istri sah yang siap otw janda" kataku sambil tertawa
Mas pram dan Dewi melotot padaku aku cuek saja, sambil membuang sampah bekas bungkus makan kami, sekarang sudah kenyang.
" Mang nasi goreng dua" kata mas Pram kepada penjual nasi goreng yang sedang lewat.
" Dek kamu dan Zidan mau ! aku pesankan ya ?" tanya mas Pram.
" Nggak ah aku sudah kenyang, kamu pesan dua saja di makan sama Dewi yang sedang kelaparan" jawabku masih menyindir
Mas Pram keluar dari kamar dan sekarang dia duduk bersama Dewi di bangku panjang nggak tahu dia ngomong apa sama Dewi, kelihatanya mereka berdebat, biar lah bukan urusanku, semoga perceraian ku lancar dan segera di kabulkan oleh pengadilan agama.
Aku sudah berusaha damai, dengan hatiku, cintaku lama lama pudar seiring berjalannya waktu, dan aku mantap ingin berkarier sendiri, biar rejeki buat Zidan di lewatkan aku saja, sehingga aku nggak ngemis nafkah ke bapak ya, tapi kalau memang dia mau tanggung jawab ngasih nafkah. biar saja, aku nggak akan nolak.
Zidan keluar kamar, katanya mau ngajak main lego dengan ayahnya, kulihat mereka bermain di bangku panjang, Dewi sudah nggak ada di sana, ku biarkan saja lah nanti kalau masuk kamar pasti dia ketok pintu.
Ku tutup pintu kamar dan lanjut aku kerja bikin desain.
Bersambung
terimakasih sudah update 😀👍
penasaran gmn nasib pram klo udah beneran bangkrut