Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Terselamatkan
CIIIITTTTTT!
BRUK!
Bemper depan mobil sedan hitam itu menghantam tubuh Arya. Untungnya, pengemudi mobil tersebut sempat menginjak rem secara maksimal sehingga laju kendaraan sudah sangat lambat saat benturan terjadi.
Namun, daya dorong itu tetap cukup keras untuk melemparkan tubuh Arya sejauh dua meter hingga tersungkur di atas aspal dingin.
"Argh!"
Sakit yang luar biasa menghantam rusuk dan lutut Arya. Pandangannya berputar liar. Dunia seolah berguncang perlahan.
Di dalam mobil sedan tersebut, pengemudinya tersentak kaget bukan main. Pria itu memakai jaket kasual di atas kemeja kedinasan yang agak kusut. Ia adalah Iptu Farhan.
"Astaga! Nabrak orang!" seru Farhan panik.
Farhan dengan cepat mematikan mesin mobil, membuka pintu, dan berlari menerobos hujan deras mendekati tubuh korban yang tergeletak di tengah jalan raya.
"Pak! Pak! Anda tidak apa-apa?! Maafkan saya, Anda mendadak menyeberang!" ujar Farhan cemas seraya berlutut untuk memeriksa kondisi korban.
Arya yang setengah sadar merangkak pelan di atas aspal, dan mencoba menegakkan tubuhnya. Pikirannya yang kacau masih dipenuhi paranoid bahwa orang yang menabraknya adalah bagian dari anak buah Nusantara Utama Group.
"Ngg... tidak... aku... aku harus lari..." gumam Arya tidak jelas, suaranya parau dan terputus-putus. Ia mencoba berdiri dengan kaki gemetar, namun tubuhnya langsung limbung dan nyaris roboh kembali.
Farhan dengan sigap menahan kedua bahu pemuda itu. Saat cahaya lampu jalan menyinari wajah korban yang dipenuhi darah dari pelipisnya, mata Farhan membelalak lebar.
"Arya?!" pekik Farhan terkejut setengah mati. "Arya Pemulasara?!"
Arya menengadah perlahan. Pandangannya yang buram berusaha memfokuskan sosok di depannya. Suara Farhan terdengar samar di telinganya.
"Pak... Pak Iptu... Farhan...?" bisik Arya, dengan napas yang tersengal-sengal.
"Iya! Ini saya, Farhan!" tegas Farhan sambil menatap kondisi Arya yang mengenaskan, jaketnya robek-robek, tubuhnya dipenuhi lumpur, dan pelipisnya mengucurkan darah segar. "Kamu kenapa bisa begini, Arya?! Kenapa lari-lari di tengah jalan hujan-hujan begini?!"
Sebelum Arya sempat menjawab, mata Farhan menangkap pergerakan dua pria berbadan tegap yang baru saja keluar dari mulut gang sempit, sambil memegang bilah pisau dan celurit kecil.
Namun, saat melihat sebuah mobil dinas kepolisian dan sosok Iptu Farhan yang tegap memegang pinggang tempat sarung pistolnya berada, kedua penjahat itu mendadak menghentikan langkah mereka, berbalik arah, dan menghilang kembali ke dalam kegelapan gang.
Farhan menajamkan tatapannya ke arah gang tersebut, lalu kembali menatap Arya yang kian melemas dalam genggamannya.
"Ada yang mengejarmu, kan?" tanya Farhan dengan nada penyidik yang serius dan tegas.
Kesadaran Arya makin menurun. Kesakitan fisik dan keletihan ekstrem merenggut sisa-sisa tenaganya. "Pak... Farhan... tolong... Pak Bambang..." bisik Arya sebelum matanya terpejam sepenuhnya dan tubuhnya terkulai pingsan di pelukan Farhan.
Farhan tidak membuang waktu lagi. Ia merengkuh tubuh Arya, dan memapahnya dengan cepat masuk ke dalam kursi penumpang depan mobil sedannya. Ia menutup pintu rapat-rapat, mengunci seluruh pintu, lalu melompat ke kursi pengemudi.
Farhan menancap gas sekuat tenaga, membawa sedan hitamnya membelah hujan deras menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bina Husada.
**
Aroma antiseptik yang tajam dan denting lembut peralatan medis menyambut kesadaran Arya saat matanya perlahan terbuka.
Cahaya lampu neon putih di langit-langit terasa agak menyilaukan. Arya berkedip beberapa kali, dan mencoba mengusir rasa pening yang masih bersarang di kepalanya.
Ia merasakan perban tebal melilit bagian atas kepalanya, dan jarum infus menancap di punggung tangan kirinya.
Ia berada di sebuah kamar perawatan VIP RSUD Bina Husada. Suasananya sangat hening, hanya terdengar suara detak mesin pemantau denyut jantung.
Arya refleks meraba saku jaketnya, namun ia mendapati dirinya sudah mengenakan pakaian pasien rumah sakit berwarna biru muda.
"Mencari ini?"
Suara berat yang familiar terdengar dari sisi kanan tempat tidur. Arya menoleh dengan perlahan. Ia melihat Iptu Farhan yang duduk di bangku lipat, dengan mengenakan kemeja yang digulung hingga siku.
Di atas meja kecil di sebelah Farhan, tergeletak botol tembus pandang berisi tutup ampul racun, buku catatan hitam milik Arya, serta telepon genggam tuanya.
Arya menghela napas panjang, dan bersandar pasrah pada bantal rumah sakit. "Pak Iptu..."
"Dokter bilang kamu cuma mengalami guncangan ringan di kepala, beberapa memar di rusuk, dan lecet-lecet. Tidak ada tulang yang patah," ujar Farhan datar seraya menunjuk perban di kepala Arya. "Kamu beruntung saya menginjak rem tepat waktu malam tadi."
"Terima kasih sudah menyelamatkan saya, Pak," sahut Arya pelan dengan suara yang agak serak.
Farhan mengambil botol tembus pandang berisi ampul racun dan buku catatan hitam Arya, lalu menatap Arya dengan tatapan menyelidik yang sangat dalam.
"Sekarang, jelaskan padaku, Arya," kata Farhan dengan nada tegas namun tidak mengintimidasi. "Kenapa seorang petugas pemulasara jenazah dikejar-kejar oleh preman bayaran di tengah malam? Dan kenapa barang-barang ini... barang-barang terkait almarhum Bambang Gunawan ada di dalam saku jaketmu?"
Arya menelan ludahnya. Ia tahu saat ini adalah titik penentuan. Berbohong kepada penyidik berpengalaman seperti Farhan hanya akan merusak kepercayaannya dan membuat usahanya sia-sia. Namun mengungkapkan kemampuan magisnya juga bukan pilihan yang bijak.
Arya menarik napasnya dalam-dalam, seraya mengumpulkan keberaniannya.
"Pak Farhan..." mulai Arya dengan suara mantap. "Bambang Gunawan tidak meninggal karena serangan jantung biasa. Beliau dibunuh menggunakan racun pelumpuh saraf oleh pembunuh bayaran di Taman Kota."
Mata Farhan menyempit. "Bagaimana kamu bisa sedetail itu?"
Arya menggunakan penjelasan tertata yang sudah ia siapkan. "Saat saya membasuh jasad Pak Bambang dini hari itu, saya menemukan bekas titik injeksi mikro di leher kirinya yang terlewat dalam pemeriksaan awal. Karena penasaran, sore harinya saya datang ke lokasi kejadian di Taman Kota dan menemukan tutup ampul racun ini tersangkut di selokan dekat lokasi beliau ditemukan runtuh. Saya mencoba menelusuri kasus ini bersama Dian Pertiwi, jurnalis junior Pak Bambang."
Farhan terpaku mendengarkan penjelasan Arya. Polisi tegap itu menyandarkan punggungnya di kursi, seraya mengusap dagunya yang ditumbuhi brewok tipis.
"Jadi itu alasannya kamu dikejar malam tadi?" tanya Farhan.
"Iya, Pak. Orang-orang itu adalah utusan dari Nusantara Utama Group, pihak yang sedang diinvestigasi oleh Pak Bambang terkait dugaan suap proyek RSUD baru," jelas Arya seraya menatap lurus mata Farhan. "Pak Bambang menyembunyikan bukti kunci transaksi suap itu di suatu tempat di rumah sakit ini, di ruang arsip gedung tua lantai tiga."
Farhan berdiri secara mendadak dari kursinya, matanya berbinar tajam oleh naluri seorang detektif senior.
"Lantai tiga gedung tua...?" gumam Farhan.
"Benar, Pak," tegas Arya. "Tolong, Pak Farhan... bantu saya dan Dian untuk membongkar kebenaran ini. Jangan biarkan kematian Pak Bambang menguap begitu saja seperti kecelakaan biasa!"
Iptu Farhan menatap Arya cukup lama. Ada rasa hormat yang tumbuh di dalam dada polisi senior itu terhadap keberanian pemuda di depannya. Seorang pemulasara jenazah yang rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyuarakan keadilan bagi mereka yang telah mati.
Farhan mengangguk pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tegas.
"Pekerjaanmu merawat yang mati sudah selesai untuk kasus ini, Arya," ujar Farhan seraya merogoh ponselnya dan memasukkan botol ampul serta catatan ke dalam kantong bukti plastik. "Sekarang, biarkan kepolisian yang menangkap yang hidup."
Farhan melangkah ke pintu kamar, lalu menoleh sekilas ke arah Arya. "Istirahatlah. Saya akan panggil tim untuk mengamankan ruang arsip lantai tiga sekarang juga, dan saya akan pastikan jurnalis bernama Dian itu dalam perlindungan aman."
Pintu kamar VIP itu tertutup rapat. Arya memejamkan matanya, dan menghembuskan napas lega yang sangat panjang.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, rasa dingin di dalam dadanya perlahan berganti menjadi kehangatan harapan. Kebenaran akhirnya menemukan jalannya.
Bersambung...