Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Gagal Mediasi
Setelah mendapatkan surat panggilan mediasi dari Pengadilan Agama itu, Arman benar-benar mengurung diri di dalam kamar.
Seharian penuh ia tidak keluar, tidak makan, hanya duduk di pojok kamar sambil memandangi surat itu dan foto Nisa dan Raffi di ponselnya yang sudah retak. Wajahnya terlihat sangat pucat, matanya sembab karena terus menangis, jenggotnya mulai tumbuh tidak terurus.
"Man, keluar Man! Makan dulu, Man! Kamu mau sakit, Man?" teriak Bu Ratna dari luar pintu sambil menggedor-gedor pintu kamar Arman dengan keras.
Tapi Arman tidak menjawab. Ia hanya diam memeluk lututnya.
Di dalam hatinya, ia terus mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Apakah ia harus datang ke mediasi itu? Apakah ia harus mempertahankan Alya atau harus melepaskannya? Hatinya ingin sekali mempertahankan, tapi ia malu, ia takut melihat wajah kecewa Alya di depan hakim.
Di luar kamar, Bu Ratna justru merasa kesal melihat anaknya mengurung diri seperti itu.
"Dasar, gara-gara Alya itu anakku jadi seperti orang gila! Kalau begini terus, rencana perjodohan dengan Mbak Santi janda penjual emas itu bisa gagal," gerutu Bu Ratna kepada adiknya, Tante Yati yang masih menginap di rumahnya.
Malam harinya, Bu Ratna dan Tante Yati berbisik-bisik di ruang tamu dengan pelan.
"Yati, bagaimana caranya supaya Arman tidak datang ke mediasi itu, Yati? Kalau Arman datang dan malah memohon-mohon untuk rujuk sama Alya, kita bisa gagal dapat Mbak Santi. Mbak Santi itu kaya raya, Yati. Sayang kalau terlewatkan," bisik Bu Ratna.
Tante Yati berpikir sejenak, lalu matanya berbinar licik.
"Mbak, gampang, Mbak. Besok pagi-pagi sekali sebelum Arman berangkat ke pengadilan, kita kempesin saja ban motornya, Mbak. Kita tusuk pakai paku kecil, jadi bannya kempes pelan-pelan di jalan. Nanti Arman pasti oleng dan tidak jadi berangkat. Bilang saja bannya bocor, jadi tidak bisa mediasi."
Bu Ratna mengangguk setuju dengan senyum licik.
"Ide bagus, Yati! Biar dia tidak datang, biar mediasinya gagal, biar hakim langsung memutuskan cerai karena tergugat tidak hadir. Pintar kamu, Yati!"
Tanpa mereka sadari, Arman mendengar sedikit bisikan itu dari dalam kamarnya, tapi ia mengira ibunya hanya bercanda. Ia tidak menyangka ibunya tega melakukan itu kepada anaknya sendiri.
Pagi hari mediasi tiba. Hari Kamis jam 07.00 pagi.
Arman bangun dengan tekad yang sudah bulat. Malam tadi ia sudah sholat tahajud dan berdoa lama sekali. Ia memutuskan untuk datang ke mediasi. Ia ingin meminta maaf kepada Alya di depan mediator. Ia ingin meminta kesempatan terakhir untuk memperbaiki rumah tangganya.
Ia memakai kemeja putih yang bersih, celana hitam, dan sepatu yang sudah ia semir. Wajahnya masih pucat, tapi matanya terlihat mantap.
"Bu, Arman berangkat ke pengadilan dulu, Bu," ucap Arman sambil mengambil kunci motor.
Bu Ratna yang sedang di dapur langsung keluar dengan wajah panik tapi mencoba terlihat biasa saja.
"Oh, mau berangkat, Man? Hati-hati di jalan ya, Man," jawab Bu Ratna dengan senyum yang dipaksakan.
Arman tidak curiga sama sekali. Ia mendorong motornya keluar dari halaman dan langsung menyalakannya. Motornya melaju pelan membelah jalan desa yang masih sepi pagi itu. Udara pagi masih dingin dan berkabut.
Di sisi lain, di kebun mangga, Alya juga sudah bersiap dengan ditemani Mbak Rina, pengacaranya. Ia memakai gamis putih sederhana, kerudung cokelat muda, wajahnya terlihat tenang dan cantik. Ia sudah siap untuk menghadapi mediasi hari ini dengan hati yang mantap ingin berpisah.
"Semangat ya, Mbak Alya. Kita berangkat sekarang, biar tidak terlambat," ucap Mbak Rina.
Alya mengangguk. Mereka berangkat dengan motor menuju Pengadilan Agama.
Sementara itu, di jalan desa yang berbatu dan sedikit berlubang, Arman mulai merasakan keanehan pada motornya. Setang motornya terasa berat dan oleng ke kanan dan ke kiri.
"Lho, kenapa motornya oleng begini?" gumam Arman sambil mencoba mengendalikan setang.
Ia melihat ke bawah, ban depan motornya terlihat sudah kempes separuh. Anginnya keluar pelan-pelan. Motornya menjadi sangat sulit dikendalikan.
Saat melewati jalan tanah yang licin di dekat sawah, ban yang kempes itu akhirnya tidak bisa dikendalikan lagi. Motor Arman oleng hebat ke kanan.
"Ya Allah!"
BRAKK!
Motor Arman terguling dan jatuh ke dalam parit kecil di pinggir sawah yang penuh dengan lumpur. Tubuh Arman ikut terpental dan jatuh terseret di atas jalan batu. Lututnya berdarah, tangannya lecet, kemeja putihnya yang tadi bersih kini penuh dengan lumpur.
Warga yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan menolong Arman.
"Ya Allah, kecelakaan lagi! Tolong, tolong!"
Arman terbaring di pinggir parit dengan napas terengah-engah. Kakinya sakit sekali. Ia mencoba berdiri tapi tidak bisa. Ban motornya ternyata benar-benar kempes habis, ada bekas tusukan paku kecil di sampingnya.
Saat itulah Arman baru sadar, ini ulah ibunya. Ibunya sengaja mengempeskan ban motornya agar ia tidak bisa datang ke mediasi.
"Bu, kenapa Ibu tega, Bu..." bisik Arman dengan air mata yang jatuh bercampur dengan lumpur di wajahnya.
Karena kecelakaan itu, Arman tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Pengadilan Agama. Ia harus dibawa ke puskesmas untuk mengobati luka-lukanya yang berdarah.
Di Pengadilan Agama, jam sudah menunjukkan pukul 09.30 pagi.
Alya dan Mbak Rina sudah duduk rapi di dalam ruang mediasi bersama mediator.
"Baik, Ibu Alya, kita sudah menunggu setengah jam, tapi pihak tergugat, Bapak Arman, tidak hadir. Apakah ada kabar dari beliau?" tanya mediator dengan ramah.
Mbak Rina menjawab dengan tegas.
"Bu Mediator, klien saya sudah datang tepat waktu. Kami sudah menunggu sesuai jadwal. Karena pihak tergugat tidak hadir tanpa alasan yang jelas, kami mohon agar mediasi ini dinyatakan gagal dan proses gugatan bisa dilanjutkan ke sidang pembuktian."
Mediator mengangguk dan mencatat sesuatu di bukunya.
"Baik, karena pihak tergugat tidak hadir setelah dipanggil secara resmi, maka mediasi ini saya nyatakan gagal. Sidang akan dilanjutkan minggu depan dengan agenda pembuktian dari pihak penggugat. Jika tergugat kembali tidak hadir, maka sidang bisa diputuskan secara verstek."
Mendengar kata mediasi dinyatakan gagal, Alya tidak merasa sedih, ia justru merasa lega dan senang. Dadanya yang tadi sesak karena takut bertemu Arman kini terasa plong.
Artinya, proses gugatannya berjalan lancar. Selangkah lagi ia akan resmi berpisah dan bisa memulai hidup baru dengan tenang bersama Nisa dan Raffi tanpa bayang-bayang masa lalu.
"Alhamdulillah, terima kasih, Bu Mediator," ucap Alya dengan suara yang bergetar karena bahagia.
Setelah keluar dari ruang mediasi, Alya menatap langit yang cerah di atas gedung Pengadilan Agama. Ia tersenyum untuk pertama kalinya hari itu dengan senyum yang tulus.
Di dalam hatinya ia berkata, Ya Allah, terima kasih, prosesnya berjalan lancar.
Alya tidak tahu, bahwa di saat yang sama, Arman sedang terbaring di puskesmas dengan luka-luka di kaki dan tangan karena ulah ibunya sendiri yang sengaja mengempeskan ban motornya agar ia tidak bisa datang ke mediasi.
Bu Ratna yang ada di rumah menunggu kabar dengan cemas, tidak tahu bahwa perbuatannya justru membuat anaknya celaka.
Bersambung...