"Setiap orang punya satu nama dari masa SMA yang tak pernah benar-benar hilang." Ini adalah suara kejujuran Satria untuk sosok di masa lalunya—tentang rahasia di balik seragam putih-abu-abu, luka yang mendewasakan, dan keberanian melepaskan demi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27- Kabar dari Angin Sore
Beberapa minggu berlalu sejak keputusanku mengakhiri hubungan singkat dengan Wulan. Suasana hatiku pelan-pelan mulai stabil. Aku belajar mengontrol emosi, membuang sisa-sisa ego, dan menuangkan seluruh energiku untuk persiapan seleksi kejuaraan silat tingkat pelajar.
Di kelas X IPA 2, aku masih konsisten menjaga jarak dari Nara. Aku tak lagi mencarinya di jam istirahat, tak lagi menunggunya di selasar, dan fokus duduk di bangku belakang bersama Diko. Namun, situasi di barisan depan kelas mendadak berubah aneh.
Riski yang biasanya selalu menempel di meja Nara atau bersikap manis di depan anak-anak, belakangan ini mendadak menghilang dari lingkarannya. Cowok itu lebih sering terlihat nongkrong di kelas IPS atau berada di kantin bersama gengnya. Sementara Nara, cewek paling pintar di kelas kami itu, lebih banyak duduk membisu di meja, memandangi buku catatannya tanpa banyak bicara.
Anak-anak kelas mulai berbisik-bisik. Suasana keharmonisan yang selama ini mereka tampilkan mendadak retak tanpa ada yang tahu pasti apa pemicunya.
Hari Selasa jam istirahat kedua, aku dan Diko baru saja kembali dari kantin belakang membawa dua bungkus keripik dan es teh manis.
Saat melangkah masuk ke pintu kelas, Diko mendadak menyikut lenganku keras.
"Sat, Sat, liat deh," bisik Diko dengan mata melirik ke arah lorong luar.
Aku menoleh. Di ujung lorong dekat tangga, Riski sedang berjalan bersama seorang cewek anak IPS. Mereka tertawa-tawa santai tanpa peduli kalau beberapa anak IPA 2 memperhatikan mereka.
"Gila si Riski," gumam Diko sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Udah gak canggung lagi tebar pesona. Lu tahu gak rumor yang lagi ramai di IPA 2?"
"Rumor apa?" tanyaku datar sambil mengunyah keripik.
Diko mendekatkan badannya, berbisik pelan. "Maknar sama Riski udah resmi putus, Sat! Katanya putusnya udah dari minggu kemarin!"
Langkah kakiku mendadak terhenti sejenak di ambang pintu kelas. Aku menatap Diko, memastikan pendengaranku tidak salah.
"Beneran?" tanyaku singkat.
"Seribu persen bener, Bro! Si Rina temen sebangku Maknar yang bocorin pas pelajaran Olahraga kemarin," jawab Diko mantap. "Ternyata tebakan orang-orang selama ini salah. Hubungan mereka yang kelihatan adem ayem itu cuma di luar doang. Di belakang, Maknar sering banget dibuat makan hati!"
Aku membisu. Di dalam dadaku, ada perasaan aneh yang campur aduk. Dulu, saat aku baru saja ditolak dan berdarah-darah menghafal Asmaul Husna, aku membayangkan kabar putusnya mereka bakal bikin aku senang atau merasa 'menang'. Tapi kenyataannya saat kabar itu benar-benar datang, tidak ada rasa puas atau dendam sedikit pun di hatiku. Yang ada cuma rasa prihatin yang jujur.
Aku mengalihkan pandanganku ke dalam kelas. Di sudut depan dekat jendela, Nara sedang duduk sendirian. Dia memandangi luar jendela dengan raut wajah yang sangat letih dan kosong. Tidak ada lagi sisa-sisa tatapan galak atau angkuh khas Maknar.
Mata kami tak sengaja beradu selama dua detik saat Nara menoleh ke arah pintu. Cewek itu terpaku, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan—ada rasa bersalah, canggung, dan luka yang tersembunyi rapat-rapat.
Aku tidak tersenyum, tapi juga tidak membuang muka dengan kasar. Aku cuma mengangguk pelan sebagai tanda sopan santan seorang teman sekelas, lalu berjalan menuju bangku belakang.
Sore harinya dari jam tiga sore sampai jam six sore, porsi latihan di aula bawah makin memuncak. Hari seleksi akhir kejuaraan silat tinggal menghitung hari, dan Mas Teguh tidak memberi ampun sedikit pun pada kami.
"Kuda-kuda rendah! Ayunkan tanganmu lebih cepat, Satria!" teriak Mas Teguh memantau dari sudut matras.
Tuk! Tuk! Bukk!
Suara benturan pelindung tulang kering dan pad tanding bergema di aula bawah yang mulai temaram. Keringat membasahi seluruh seragam silat hitamku hingga menetes ke matras. Setiap kali otot kakiku terasa pegal luar biasa, aku memaksa diriku melampaui batas.
Bagiku saat ini, gelanggang silat adalah tempat di mana aku membentuk kembali jati diriku. Rasa sakit hati dari masa lalu sudah selesai, dan yang tersisa cuma pembuktian bahwa aku adalah seorang petarung—baik di dalam maupun di luar arena.
Pukul enam sore lewat sedikit, latihan selesai. Usai membersihkan diri dan berganti pakaian di ruang ganti, aku menggendong tas ransel hitamku dan berjalan menelusuri selasar aula bawah menuju tangga naik.
Di atas tangga yang mengarah ke lapangan tengah, rintik hujan sore mulai turun menimpa daun-daun pohon kedondong di parkiran. Suasana sekolah sudah sangat sepi, cuma tersisa beberapa anak ekstrakulikuler yang berkemas pulang.
Saat aku melangkah menuju pendopo dekat tangga, aku melihat seorang cewek berdiri menepi di bawah atap pendopo. Dia menatap rintik hujan dengan kedua tangan memeluk tas sekolahnya rapat-rapat.
Itu Nara.
Langkah kakiku melambat. Sudah lama sekali aku tidak berada di jarak sedekat ini dengannya tanpa ada Diko atau teman-teman lain di sekitar kami.
Nara mendengar gesekan langkah sepatu catsku di lantai semen. Dia menoleh pelan.
"Satria..." panggil Nara sangat halus. Suaranya terdengar canggung dan agak bergetar di antara derus hujan sore.
Aku menghentikan langkahku dua meter dari posisinya, menatapnya tenang.
"Belum pulang, Ra?" tanyaku lugas, suaraku bernada santai tanpa ada intimidasi.
Nara mengusap lengan seragamnya yang agak basah oleh cipratan air hujan. "Belum... angkot depan gerbang lagi susah gara-gara hujan."
"Oh," jawabku singkat.
Suasana di antara kami mendadak hening. Cuma ada suara hujan sore yang makin deras menghantam atap seng pendopo. Dulu, momen berdua di tengah hujan seperti ini adalah momen yang paling kubanggakan dan kucari-cari. Tapi kini, ada tembok tipis berupa kenangan masa lalu yang membuat kami sama-sama menahan diri.
Nara menundukkan kepalanya, jemarinya meremas tali tas ranselnya erat-erat. Terlihat jelas kalau ada banyak kata yang ingin diucapkannya, tapi tertahan di tenggorokan.
"Satria..." panggil Nara lagi, kali ini tatapannya mendongak menatap mataku secara langsung.
"Ya, Ra?"
"Selamat ya... tak denger dari Pak Ridwan, kamu lolos seleksi utama buat wakil sekolah di kejuaraan silat besok," kata Nara dengan senyum tipis yang sangat halus—senyum tulus yang sudah lama tidak kulihat dari wajahnya.
Aku agak kaget mendengarnya, lalu tersenyum tipis membalas kebaikannya. "Makasih, Ra. Masih harus berjuang keras di babak utama nanti."
Nara mengangguk-angguk pelan. "Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu kan... cowok paling gigih yang pernah tak kenal."
Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Nara membuat udara sore itu terasa sedikit hangat. Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi di dalamnya tersimpan pengakuan mendalam atas segala perjuangan yang pernah kuberikan padanya dulu.
"Makasih pujiannya, Ra," balasku tenang. "Kamu juga semangat ya. Tak denger persiapan Olimpiade Fisikamu juga udah masuk tahap akhir."
Nara terpaku. Matanya agak berkaca-kaca mendengar aku masih mengetahui kabar perkembangannya walau kami sudah lama saling menjaga jarak.
"Iya, Sat..." bisik Nara pelan.
Dari arah gerbang depan, suara klakson angkot sayup-sayup terdengar di tengah hujan.
"Angkotnya udah nyampe tuh di depan gerbang, Ra. Mending langsung naik biar gak kemalaman," kataku menunjuk ke arah jalan luar.
"Kamu gak pulang sekalian, Sat?" tanya Nara menatapku.
"Masih nunggu Diko sebentar di aula," balasku berbohong pelan agar dia bisa pulang duluan tanpa merasa canggung denganku.
Nara mengangguk paham. Dia melangkah dua langkah menuju lorong hujan, lalu menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh padaku.
"Satria... makasih ya," ucap Nara tulus sebelum akhirnya berlari kecil menembus rintik hujan menuju gerbang sekolah.
Aku berdiri membatu di bawah atap pendopo, memperhatikan bayangan tubuhnya yang perlahan menghilang di balik tirai hujan sore.
Badai di antara kami perlahan-lahan mulai reda. Hubungannya dengan Riski sudah hancur, rasa sakit di hatiku sudah mereda, dan di bawah rintik hujan sore ini, benih-benih takdir baru di antara aku dan Nara mulai menunjukkan jalannya kembali.