Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 Di Ospek Suami
Pria yang di hindari Zivanna karena tidak pulang ke rumah dan ternyata memiliki tugas malam di rumah sakit, bahkan secara tidak sengaja mereka bertemu di koridor rumah sakit dengan jarak beberapa meter dan bahkan anehnya keduanya sama-sama menghentikan langkah.
"Ya ampun, kenapa dia ada di sini? Apa dia tidak pulang?" batin Zivanna.
Zivanna tidak ingin berurusan dengan Dikta membuatnya membelokkan langkahnya.
"Zivanna!" baru saja melangkahkan kaki dan harus berhenti kembali ketika Dikta memanggilnya membuat Zivanna menghela nafas.
"Kemari!" panggil Dikta.
Lagi-lagi Zivanna tidak punya pilihan lain dan langsung menghampiri Dikta.
"Iya. Dokter?" tanya Zivanna.
"Ikut saya!" ajak Dikta.
"Mau kemana?" tanya Zivanna kebingungan.
Dikta tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya membuat Zivanna mau tidak mau harus mengejar Dikta dengan langkahnya yang sangat cepat mengikuti suaminya itu dengan melangkah gagah.
Zivanna tetap saja tidak mengetahui kemana Dikta mengajaknya, tetapi tiba-tiba saja perasaannya tidak enak saat koridor yang mereka lewati semakin sepi dan akhirnya berhenti di depan salah satu ruangan Zivanna mengangkat kepala saat melihat tulisan tersebut kamar jenazah.
"Dokter untuk apa kita berada di sini?" tanya Zivanna.
Dikta tidak menjawab dengan membuka pintu kamar tersebut, Zivanna benar-benar panik, bulu kuduknya berdiri dan melihat di sekitarnya tidak ada siapa-siapa yang membuatnya sampai mengusap lengannya tertutup di jubah putih tersebut.
"Kenapa masih berdiri di sana? Ayo cepat?" ajak Dikta yang sudah masuk terlebih dahulu.
Zivanna tidak memiliki keberanian untuk menuruti permintaan Dikta.
"Apa perlu saya menarik kamu untuk masuk ke dalam?" tanya Dikta.
"I-iya," sahut Zivanna dengan terpaksa yang akhirnya memasuki ruang jenazah dengan beberapa mayat yang ternyata belum diambil oleh keluarganya.
Zivanna semakin merinding berada di tengah-tengah mayat tersebut, rumah sakit itu memang memiliki cukup banyak mayat yang belum diidentifikasi karena adanya kecelakaan mobil bus yang masuk ke jurang dan seluruh korban dilarikan ke rumah sakit Zivanna praktek.
"U- untuk apa Dokter mengajak saya ke kamar jenazah?" tanyanya.
"Selama menjadi Dokter kamu tidak memiliki keberanian apa-apa, kamu takut darah, takut mengambil tindakan, takut melakukan ini dan itu yang akhirnya membuat kamu tidak mengerti apa yang harus kamu lakukan dan akhirnya mengambil tindakan bodoh tanpa berpikir risikonya! Kamu harus menguji keberanian kamu berada di tempat ini, melihat secara jelas-jelas orang yang sudah tidak bernyawa, meneliti tubuh mereka dan anggap saja ini patung asli," tegas Dikta.
"Tetapi saya mengambil spesialis Dokter bedah onkologi, bukan forensik dan untuk apa juga saya berurusan dengan mayat-mayat ini?" tanyanya semakin gugup benar-benar merinding berada dalam situasi tersebut.
"Seperti apa yang telah saya katakan, kamu memerlukan keberani untuk memulai semuanya, di sudut itu adalah mayat yang baru saja dimasukkan ke dalam kamar jenazah ini. Dia tewas dalam kecelakaan dan membuat kepalanya pecah, kamu bisa melihat mayat tersebut dengan kepala yang ditutupi oleh perban, karena otak dan hal-hal lainnya yang berada di dalam kepalanya pecah membuat perawat memasukkan kapas ke dalam kepalanya, kamu lihatlah dengan jelas, saya yakin kamu akan mendapatkan ilmu dari apa yang kamu lihat," ucap Dikta.
"Saya nggak berani!" Zivanna menolak dengan cepat dan bahkan tidak berniat untuk melakukan.
"Belum mulai saja kamu sudah mengatakan tidak berani, hanya membuka kain penutupnya dan berdiri sekitar beberapa menit menatap mayat tersebut," ucap Dikta.
"Tetap saja saya tidak berani Dokter, saya gugup, saya takut tiba-tiba mayat itu bangun, dia pasti malu wajahnya ditatap seperti itu," ucap Zivanna.
"Lihatlah, ini yang membuat saya setiap hari harus marah kepada kamu, kenapa kamu tidak bisa sedikit saja menuruti apa yang saya katakan," ucap Dikta menghela nafas.
"Tetapi saya....." Zivanna tidak sempat protes Dikta benar-benar menarik tangannya Zivanna sangat takut karena mereka sudah berdiri di samping mayat yang dikatakan Dikta dan yang benar Zivanna dengan sangat kuat memegang Dikta dan seperti bersembunyi di belakang Dikta.
Dikta membuka penutup kain putih tersebut.
"Lihat Zivanna, bukan bersembunyi seperti itu? jika pada mayat saja kamu takut dan bagaimana kamu bisa menangani pasien, kamu pikir pasien hanya sekedar diperiksa diberi obat, bersikap ramah berbicara pada mereka, kamu akan menghadapi situasi parah situasi darurat di UGD dengan jenis orang sakit yang berbeda-beda,"
"Ayo cepat lihat!" Dikta benar-benar tegas Zivanna.
Zivanna tidak bisa mengatakan apapun lagi. Zivanna akhirnya menurut saja yang pada akhirnya setelah mengumpulkan keberaniannya dan akhirnya melihat mayat tersebut.
"Fokus dan hanya beberapa menit saja saya tidak menyuruh kamu untuk menginap di tempat ini! cepat lakukan!" tegas Dikta.
Zivanna akhirnya menurut, awal-awal dia masih mengalihkan tatapannya tetapi karena paksaan akhirnya menatap mayat tersebut sesuai perintah Dikta.
****
Zivanna menenangkan diri duduk di salah satu bangku dengan beberapa kali mengatur nafas, 10 menit berdiri di depan mayat tersebut membuat jantungnya hampir copot dan untunglah dia bisa melewati tahap tersebut yang membuatnya merasa lega.
"Seperti uji nyali, kenapa tidak menyuruhku melakukannya di kuburan saja, atau aku langsung saja menggali kubur, benar-benar menyeramkan dan untung saja aku tidak pingsan di kamar jenazah. Untung saja mereka juga tidak merasa terganggu dan tiba-tiba bangun," batin Zivanna.
Tiba-tiba di tengah pemikirannya yang masih saja mengatur nafasnya dengan menenangkan dirinya dan tiba-tiba sebotol minuman muncul di hadapan yang Zivanna mengangkat kepala dan siapa sangka orang yang telah memberikan itu adalah Dikta.
Zivanna kesulitan menelan ludah, cukup kaget mendapat perhatian tersebut, tetapi membuatnya mengambil minuman itu dan meneguknya. Zivanna ternyata kehausan yang membuatnya minuman itu bahkan hampir habis.
"Penakut!" kata-kata itu keluar dari mulut Dikta membuat Zivanna kembali mengangkat kepala.
"Kamu benar-benar penakut, kamu harus biasakan diri untuk melewati hal-hal seperti tadi," ucap Dikta.
"Perasaan saat kuliah kedokteran tidak ada hal-hal seperti itu dilakukan dan bahkan saat koas juga tidak melakukan hal seperti itu, kenapa saya di uji nyali di ruang jenazah?" tanyanya.
"Bagaimana tidak diuji nyali di ruang jenazah, karena keberanian kamu tidak ada dan untuk menjadi Dokter keberanian yang paling utama, bukan teori dan bukan praktek, semua itu berdasarkan keberanian dan juga ketulusan!" tegas Dikta memberi ceramah pada Zivanna.
"Jika benar-benar ingin sungguh-sungguh, maka harus lakukan hal-hal seperti itu. Jika kamu ingin berhasil dan berpikirlah sebelum bertindak!" Dikta secara tidak langsung memberi semangat dan saran kepada Zivanna.
Bersambung....