Istri Tersembunyi Dokter Pradikta

Istri Tersembunyi Dokter Pradikta

Episode 1 Kesalahan

Suara sirene ambulans memecah hiruk-pikuk malam yang mulai lengang. Lampu merah berputar cepat di atas kendaraan berwarna putih itu yang memantul di dinding kaca gedung rumah sakit yang menjulang tinggi.

Rumah sakit Citra Kasih tidak pernah berhenti dari pasien, rumah sakit tidak mengenal waktu istirahat, malam siang tetap sama saja.

Mobil ambulans meluncur masuk ke area Instalasi Gawat Darurat, remnya berdecit pelan saat berhenti tepat di depan pintu otomatis yang langsung terbuka lebar.

Pintu belakang terbuka dengan sigap. Dua petugas medis turun dengan wajah serius, mendorong brankar yang membawa seorang pasien dalam kondisi darurat.

Wajahnya dipenuhi dengan luka, pendarahan dari kepalanya terus saja keluar meski sudah ditangani sebelumnya saat berada di dalam mobil ambulance.

Beberapa perawat berlari dari dalam ruang IGD, dengan cepat menangani pasien tersebut sebelum memasuki ruang IGD, mengganti selang oksigen.

"Keadaan pasien menurun! Tekanan darah tidak stabil," salah satu perawat memberi informasi.

Keadaan pasien benar-benar parah dengan nafas yang tidak stabil, para perawat yang sudah bersiaga langsung menyambut, tangannya cetakan memindahkan brankar masuk ke dalam lorong IGD yang terang benderang.

Sepatu mereka berderap cepat di lantai, suara roda brankar beradu dengan keramik mengisi ruang yang dipenuhi ketegangan.

Beberapa tenaga medis lain ikut bergerak, membuka jalan, menyiapkan alat, dan saling bertukar instruksi dengan suara tegas namun terkontrol.

Aroma antiseptik yang khas semakin terasa ketika mereka melewati pintu menuju ruang tindakan.

"Dokter Zivanna, pasien datang dalam keadaan kritis," ucap salah satu perawat memberi laporan kepada Dokter yang baru saja meneguk air putih.

"Sudah di bawa ke IGD?" tanya Dokter wanita cantik menggunakan hijab tersebut.

"Sudah Dokter," jawab Suster.

Zivanna menghela nafas dan kemudian meninggalkan Tumbler tersebut berjalan memasuki ruang IGD.

Di dalam, suasana berubah semakin intens. Lampu putih menyinari setiap sudut ruangan, memantulkan wajah-wajah serius yang fokus pada satu tujuan.

Dalam hitungan detik, pasien sudah dipindahkan ke ranjang tindakan, alat-alat mulai bekerja, dan waktu seakan berjalan lebih cepat dari biasanya.

Di luar ruangan, pintu tertutup kembali. Suara sirene telah berhenti, tetapi ketegangan yang dibawanya masih tertinggal, menggantung di udara rumah sakit yang tak pernah benar-benar tidur.

"Dokter, pasien mengalami kecelakaan tunggal, mengalami pendarahan hebat dan tadi saat di mobil ambulans sudah diberikan penanganan darurat," salah satu perawat memberi informasi Zivanna yang masih berdiri di samping tempat tidur pasien tersebut tanpa melakukan tindakan apa-apa

"Serius hanya aku Dokter yang menangani pasien ini?" batin Zivanna tiba-tiba saja gelisah.

Bib.....

Suara dari monitor jantung mulai berbunyi menandakan pasien semakin darurat.

"Dokter bagaimana ini?" perawat mulai panik dan begitu juga dengan Zivanna.

Entah mengapa tiba-tiba saja dia menjadi gugup, tangannya gemetar dan bahkan tidak berani untuk memulai apapun pada pasien yang semakin darurat itu.

Sementara dua suster mencoba untuk membersihkan darah di bagian kepalanya.

"Berikan saya pompa jantung!" titah Zivanna terdengar ragu.

Perawat hanya menjalankan instruksi dan langsung memberikan kepada Zivanna.

Zivanna memegang kedua alat tersebut dengan kepanikan di wajahnya, antara harus melakukan dan tidak pada pasien dengan nafas tersengal-sengal tersebut.

"Bismillah....." ucapnya lirih

Saatnya memulai untuk memberi pertolongan kepada pasien tersebut dengan menempelkan alat mesin jantung tepat di dadanya.

"Zivanna....." belum sempat melakukan tindakan itu suara lancang berteriak membuatnya kaget dengan menoleh ke arah pintu gawat darurat.

Seorang Dokter tampan berjubah putih, memperlihatkan aura tajamnya dengan sorot mata menatap Zivanna seperti monster yang hendak menerkam. Zivanna perlahan mengangkat alat tersebut dengan tangan bergetar.

Langkah pria itu mendekatinya membuatnya semakin takut dengan kesulitan menelan ludah.

"Kau gila melakukan tindakan ini!" ucapnya terdengar marah, Zivanna sepertinya melakukan kesalahan.

"Minggir!" Dokter tersebut langsung mendekati pasien dan menyenggol tubuh Zivanna sampai tergeser ke belakang.

Dokter tampan itu kemudian terlihat menangani pasien

Mulai memeriksa tekanan darahnya, lalu memberi arahan kepada perawat untuk menghentikan pendarahan.

Zivanna di belakang Dokter yang memiliki tinggi di 178 itu terlihat mengintip-ngintip apa yang Dokter tersebut ternyata berhasil menangani pasien dengan kondisi stabil.

Setelah melakukan pemeriksaan secara intens pada pasien darurat tersebut, akhirnya dilanjutkan dengan beberapa prosedur yang dilanjutkan oleh perawat dan juga Dokter pengganti.

Saat ini Zivanna menunduk berada di lorong rumah sakit hampir bersandar pada tembok dengan keberadaan Dokter yang baru saja menegurnya berdiri di depannya. Dokter Pradikta yang biasa disebut Dokter Dikta. Dokter senior di rumah sakit merupakan Dokter spesialis bedah.

"Apa kau ingin jantung pasien berhenti?" Dikta menekan suaranya memarahi juniornya itu.

"Bagaimana mungkin kau bisa tiba-tiba melakukan RJP pada pasien yang masih memiliki nafas normal, masih sadar, apa yang ada dipikiran kamu saat melakukan tindakan seperti ini hah!" kemarahan yang besar semakin diperlihatkan pada Zivanna.

"Ma_ _ maaf Dokter," ucap Zivanna dengan lirih.

"Saya benar-benar tidak mengerti dengan kamu Zivanna, bagaimana mungkin kamu bisa lulus menjadi Dokter, untuk menangani pasien gawat darurat saja kamu tidak mampu, apa kamu tidak menyadari, kamu hampir saja membunuh pasien!" tegas Dikta .

"Saya minta maaf Dokter, saya hanya sendirian berada di ruang IGD, tidak ada Dokter lain, jadi saya kebingungan harus berbuat apa," jawab Zivanna.

"Ini rumah sakit dan menjadi Dokter tidak harus memiliki teman dalam setiap gawat darurat yang dihadapi. Kamu pikir Dokter-Dokter di rumah sakit ini harus mendampingi kamu dalam segala hal. Jika kamu tidak ingin berurusan dengan pasien sendirian, maka lebih baik kamu jangan pernah menjadi Dokter!" tegas Dikta.

Zivanna hanya menunduk dan tidak menjawab lagi. Apa yang dia lakukan ternyata merupakan kesalahan yang sangat fatal, tidak mudah dimaafkan begitu saja.

"Saya benar-benar tidak tahu harus berbicara apa dengan kamu. Kamu seperti anak kecil yang harus diawasi terus!" ucap Dikta geleng-geleng kepala dan kemudian langsung pergi.

Zivanna baru mengangkat kepala dan melihat kepergian dari Dokter senior itu.

"Setiap apa yang aku lakukan pasti selalu salah di matanya, tidak pernah sehari saja tidak dimarahi oleh Dokter Dikta," gumam Zivanna dengan sewot.

*****

Zivanna terlihat berjalan di koridor rumah sakit dengan wajahnya lesu dan lelah, bagaimana tidak tadi malam dia harus berjaga karena memang mendapatkan tugas pada shift malam, lumayan banyak pasien dan untung saja hanya melakukan 1 kesalahan dan langsung ditangani Dokter Dikta, selebihnya Zivanna hanya memeriksa pasien dengan biasa saja.

"Mungkin orang tuanya orang yang berpengaruh, makanya bisa menjadi Dokter tetapi tidak tahu apa-apa," suara bisik-bisik itu membuat Zivanna menoleh ke sebelahnya dan terlihat ada dua perawat yang tak lain ikut bersamanya berada di ruang IGD tadi malam.

"Bisa-bisa dia melakukan RJP pada pasien yang masih bernapas, untung saja pasien itu tidak mati di tangannya," wanita itu terus saja membicarakannya.

"Isss, gosip aja," batin Zivanna tanpa kesal dan memilih mempercepat langkahnya daripada telinganya semakin sakit mendengarkan gunjingan para perawat.

Zivanna meski menjadi Dokter, tetapi di rumah sakit itu dia bukanlah orang yang cukup disegani, karena selalu melakukan kesalahan dan bahkan sering dimarahi di depan banyak orang.

Zivanna sudah terbiasa dan lebih baik menerima karena memang kesalahannya cukup besar.

Bersambung....

...Para pembaca saya kembali memberikan karya terbaik, besar harapan saya karya terbaru saya dapat booming dan disukai banyak orang, tetapi semua tidak terlepas dari dukungan para pembaca yang selama ini setia membaca karya-karya saya, sedikit banyaknya dukungan dari kalian memberikan semangat yang luar biasa kepada saya. ...

...Jangan lupa untuk terus membaca dari bab 1 sampai bab akhir dan jangan menabung bab, setiap bab memiliki kejutan. ...

...Terima kasih para pembaca, salam cinta dari saya author....

Terpopuler

Comments

Sri Darwati

Sri Darwati

knp bisa lulus jdi dokter y??menghadapi pasien parah dh gemeter.🤦

2026-06-01

0

Erna Ladi Yanti

Erna Ladi Yanti

klu tidak bisa kenapa jadi dokter,heran deh author mc nya lembek

2026-05-29

0

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

dr Zifana ceroboh untung dr Difta datang klu ga lewat tuh pasen

2026-05-20

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kesalahan
2 Episode 2 Di rumah Berbeda
3 Episode 3 Di Anggap Spele
4 Episode 4 Ungkapan Yang Tertahan.
5 Episode 5 Bangga
6 Episode 6 Hal Tidak Terduga
7 Episode 7 Tentang Dia
8 Episode 8 Sama Saja
9 Episode 9 Bisa Melakukannya
10 Episode 10 Terus Ribut
11 Episode 11 Pertemuan Itu.
12 Episode 12 Tindakan
13 Episode 13 Diam-diam Memperhatikan
14 Episode 14 Posisi Yang Sulit.
15 Episode 15 Di Ospek Suami
16 Episode 16 Makan Malam
17 Episode 17 Ini Sudah Memuakkan
18 Episode 18 Insiden Buruk
19 Episode 19 Di Caci Maki
20 Episode 20 Entah Apa Lagi
21 Episode 21 Apa Lagi Ini
22 Episode 22 Ternyata Tidak Sepaham
23 Episode 23 Hal Serius
24 Episode 24 Pamit
25 Episode 25 Sabotase.
26 Episode 26 Gengsi
27 Episode 27 Lebih Di haragi
28 Episode 28 Penyesuaiannya
29 Episode 29 Nyaman Bersamanya
30 Episode 30 Darurat
31 Episode 31 Roboh
32 Episode 32 Saling Menyalahkan
33 Episode 33 Evakuasi
34 Episode 34 Masih Ada Kesempatan
35 Episode 35 Sama-Sama Terjebak.
36 Episode 36 Dekat
37 Episode 37 Siapa Laki-laki Itu
38 Episode 38 Cemburu
39 Episode 19 Dia Mulai Gelisah
40 Episode 40 Panas
41 Episode 41 Suami Cemburu
42 Episode 42 Terjebak Di Hutan.
43 Episode 43 Tingkat Gengsi Suami.
44 Episode 44 Banyak Moment
45 Episode 45 Berusaha Untuk Kembali
46 Episode 46 Suami Istri
47 Episode 47 Hampir Saja
48 Episode 48 Dia Istri Saya
49 Episode 49 Pergi Tanpa Berpamitan
50 Episode 50 Ada Kenyataan Yang Baru di ketahui
51 Episode 51 Pertentangan
52 Episode 52 Ternyata Kabar Bahagia.
53 Episode 53 Kembali Ke Jakarta.
54 Episode 54 Siapa Yang Di Beri Kejutan
55 Episode 55 Dingin
56 Episode 56 blak-blakan
57 Episode 57 Mungkin Ada Rahasia Besar
58 Episode 58 Siapa yang korban sebenarnya
59 Episode 59 Kemarahan Dikta
60 Episode 60 Ada Sesuatu
61 Episode 61 Kesempatan
62 Episode 62 Kamu Hanya Di peralat
63 Episode 63 Hal Yang Baru diketahui
64 Episode 64 Ada apa dengannya
65 Episode 65 Dia Tidak Sekuat Itu
66 Episode 67 Berada Di Sampingnya
67 Episode 67 Mereka Saling Memahami
68 Episode 68 Mengobrol Inti
69 Episode 69 Dukungan
70 Episode 70 Operasi besar
71 Episode 71 Kesempatan Untuknya
72 Episode 72 Apresiasi Untuknya
73 Episode 73 Kode Dari Zivanna
74 Episode 74 Dikta Terancam
75 Episode 76 Candaan Romantis
76 Episode 76 Dia Harus Tegas
77 Episode 77 Suami Yang Romantis
78 Episode 78 Keputusan Dikta
79 Episode 79
80 Episode
81 Episode 81 1 Bulan Kemudian
82 Episode 82 Bentuk Kemarahannya.
83 Episode 83 Meninggalkan Rumah
84 Episode 84 Tiba-tiba
85 Episode 84 Seperti Persaingan
86 Episode 86 Ada yang di sembunyikan
87 Episode 87 Apa yang terjadi
88 Episode 88 Saling Merindukan
89 Episode 89 Apa Ini Pertentangan
90 Episode 90 Nayla Terpojok
91 Episode 91 Ada Rahasia
92 Episode 92 Akhirnya Mengetahui
93 Episode 93 Mengetahui Semuanya.
94 Episode 94 Orang Tua Masih Egois
95 Episode 95 Terlambat
96 Episode 96 Pengungkapan
97 Episode 97 Saling Meluluhkan Hati
98 Episode 98 Kembali Memulai
99 Episode 99 Keromantisan
100 Episode 100 Di antara
101 Episode 101 Ada Apa Ini
102 Episode 102 Akhirnya Terbongkar
103 Episode 103 Lebih Memilihnya
104 Episode 104 Menyalahkan
105 Episode 105 Darurat
106 Episode 106 Putus Asa
107 Episode 107 Berjuang
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Episode 1 Kesalahan
2
Episode 2 Di rumah Berbeda
3
Episode 3 Di Anggap Spele
4
Episode 4 Ungkapan Yang Tertahan.
5
Episode 5 Bangga
6
Episode 6 Hal Tidak Terduga
7
Episode 7 Tentang Dia
8
Episode 8 Sama Saja
9
Episode 9 Bisa Melakukannya
10
Episode 10 Terus Ribut
11
Episode 11 Pertemuan Itu.
12
Episode 12 Tindakan
13
Episode 13 Diam-diam Memperhatikan
14
Episode 14 Posisi Yang Sulit.
15
Episode 15 Di Ospek Suami
16
Episode 16 Makan Malam
17
Episode 17 Ini Sudah Memuakkan
18
Episode 18 Insiden Buruk
19
Episode 19 Di Caci Maki
20
Episode 20 Entah Apa Lagi
21
Episode 21 Apa Lagi Ini
22
Episode 22 Ternyata Tidak Sepaham
23
Episode 23 Hal Serius
24
Episode 24 Pamit
25
Episode 25 Sabotase.
26
Episode 26 Gengsi
27
Episode 27 Lebih Di haragi
28
Episode 28 Penyesuaiannya
29
Episode 29 Nyaman Bersamanya
30
Episode 30 Darurat
31
Episode 31 Roboh
32
Episode 32 Saling Menyalahkan
33
Episode 33 Evakuasi
34
Episode 34 Masih Ada Kesempatan
35
Episode 35 Sama-Sama Terjebak.
36
Episode 36 Dekat
37
Episode 37 Siapa Laki-laki Itu
38
Episode 38 Cemburu
39
Episode 19 Dia Mulai Gelisah
40
Episode 40 Panas
41
Episode 41 Suami Cemburu
42
Episode 42 Terjebak Di Hutan.
43
Episode 43 Tingkat Gengsi Suami.
44
Episode 44 Banyak Moment
45
Episode 45 Berusaha Untuk Kembali
46
Episode 46 Suami Istri
47
Episode 47 Hampir Saja
48
Episode 48 Dia Istri Saya
49
Episode 49 Pergi Tanpa Berpamitan
50
Episode 50 Ada Kenyataan Yang Baru di ketahui
51
Episode 51 Pertentangan
52
Episode 52 Ternyata Kabar Bahagia.
53
Episode 53 Kembali Ke Jakarta.
54
Episode 54 Siapa Yang Di Beri Kejutan
55
Episode 55 Dingin
56
Episode 56 blak-blakan
57
Episode 57 Mungkin Ada Rahasia Besar
58
Episode 58 Siapa yang korban sebenarnya
59
Episode 59 Kemarahan Dikta
60
Episode 60 Ada Sesuatu
61
Episode 61 Kesempatan
62
Episode 62 Kamu Hanya Di peralat
63
Episode 63 Hal Yang Baru diketahui
64
Episode 64 Ada apa dengannya
65
Episode 65 Dia Tidak Sekuat Itu
66
Episode 67 Berada Di Sampingnya
67
Episode 67 Mereka Saling Memahami
68
Episode 68 Mengobrol Inti
69
Episode 69 Dukungan
70
Episode 70 Operasi besar
71
Episode 71 Kesempatan Untuknya
72
Episode 72 Apresiasi Untuknya
73
Episode 73 Kode Dari Zivanna
74
Episode 74 Dikta Terancam
75
Episode 76 Candaan Romantis
76
Episode 76 Dia Harus Tegas
77
Episode 77 Suami Yang Romantis
78
Episode 78 Keputusan Dikta
79
Episode 79
80
Episode
81
Episode 81 1 Bulan Kemudian
82
Episode 82 Bentuk Kemarahannya.
83
Episode 83 Meninggalkan Rumah
84
Episode 84 Tiba-tiba
85
Episode 84 Seperti Persaingan
86
Episode 86 Ada yang di sembunyikan
87
Episode 87 Apa yang terjadi
88
Episode 88 Saling Merindukan
89
Episode 89 Apa Ini Pertentangan
90
Episode 90 Nayla Terpojok
91
Episode 91 Ada Rahasia
92
Episode 92 Akhirnya Mengetahui
93
Episode 93 Mengetahui Semuanya.
94
Episode 94 Orang Tua Masih Egois
95
Episode 95 Terlambat
96
Episode 96 Pengungkapan
97
Episode 97 Saling Meluluhkan Hati
98
Episode 98 Kembali Memulai
99
Episode 99 Keromantisan
100
Episode 100 Di antara
101
Episode 101 Ada Apa Ini
102
Episode 102 Akhirnya Terbongkar
103
Episode 103 Lebih Memilihnya
104
Episode 104 Menyalahkan
105
Episode 105 Darurat
106
Episode 106 Putus Asa
107
Episode 107 Berjuang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!