NovelToon NovelToon
Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.

​"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"

​"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"

​Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.

​Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak Dalam Kotak Piksel

​Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.

​"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"

​"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"

​Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.

​Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang sering ia baca di media sosial kini benar-benar nyata ia rasakan. Sudah seminggu penuh teman-teman sekelasnya—bahkan yang paling pendiam sekalipun—mendadak punya topik obrolan baru yang sama sekali tidak Naomy pahami. Istilah-istilah seperti "gank", "buff", "meta", hingga "AFK" berseliweran di udara seperti bahasa asing yang tidak terdaftar di kamus mana pun. Saat istirahat, Naomy sering kali hanya bisa tersenyum canggung di pinggir lingkaran pertemanan, menjadi penonton bisu yang asing di tengah kehangatan obrolan mereka.

​"Naom! Bengong aja lo. Sini ikutan," panggil Tasya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Seru banget asli. Lo harus coba unduh."

​"Gue... gak biasa main game kayak gitu, Sya. Kayaknya susah," jawab Naomy ragu, menyembunyikan jemarinya yang mendadak terasa kaku.

​"Gampang! Nanti kita ajarin. Nama gamenya Arena of Fate. Unduh sekarang, mumpung Wi-Fi sekolah lagi kencang," sahut salah satu teman Tasya, disusul tawa renyah yang membuat Naomy semakin merasa tertinggal.

​Malam harinya, di dalam kamar yang hanya diterangi lampu meja belajar, Naomy menatap layar ponselnya. Jari telunjuknya menggantung di atas tombol hijau bertuliskan 'Install' pada halaman Google Play Store. Ada keraguan kecil. Dia selalu menjadi siswi teladan yang menghabiskan malam dengan membaca novel atau mengerjakan latihan soal matematika. Apakah bermain game seperti ini hanya akan membuang-buang waktunya?

​Namun, bayangan dirinya yang terabaikan di kantin sekolah tadi siang akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Jari itu menekan layar. Indikator unduhan mulai berjalan. 0%... 15%... 50%... 100%.

​Saat aplikasi itu pertama kali terbuka, sebuah musik megah bergenre simfoni fantasi langsung memenuhi kamarnya. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan animasi karakter-karakter gagah berpedang dan penyihir cantik bergaun sutra. Naomy menarik napas dalam-dalam. Ia diminta memasukkan nama pengguna. Setelah berpikir sejenak, ia mengetikkan nama yang sederhana namun manis: @Nao_mii.

​"Oke, mari kita lihat sesulit apa permainan ini," gumamnya pada diri sendiri.

​Ternyata, dugaannya benar. Menit-menit pertama adalah bencana. Mode tutorial yang disediakan game terasa seperti instruksi merakit mesin jet bagi otak Naomy yang polos. Karakternya—seorang pemanah wanita bernama Lunaria—berkali-kali mati konyol karena Naomy salah mengarahkan analog virtual di layar. Alih-alih menembak musuh, ia justru berjalan lurus menabrak menara pertahanan lawan dan hancur seketika.

​"Ah! Kenapa susah banget sih jalannya?" gerutu Naomy, mengusap dahinya yang mulai berkeringat.

​Namun, di balik rasa frustrasi itu, ada letup adrenalin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali ia berhasil mengalahkan monster kecil di hutan virtual tersebut, ada kepuasan aneh yang menggelitik dadanya. Rasa penasaran itu mengalahkan rasa kantuknya. Malam itu, yang awalnya ia janjikan hanya untuk mencoba selama lima belas menit, berakhir dengan Naomy yang baru memejamkan mata pada pukul dua pagi.

​Keesokan harinya di sekolah, lingkaran pertemanan Naomy berubah. Begitu ia menunjukkan akun level satunya kepada Tasya, pekikan heboh langsung terdengar.

​"Wah, beneran diunduh! Sini, sini, gue tambahkan jadi teman. Kita main mode klasik bareng siang ini!" Tasya merebut ponsel Naomy dengan antusias.

​Hari itu menjadi tonggak sejarah baru dalam hidup Naomy. Ia tidak lagi menjadi penonton pasif. Meskipun di dalam permainan ia menjadi beban tim karena terus-menerus tereliminasi, teman-temannya tidak peduli. Mereka tertawa bersama, saling meledek, dan mengajari Naomy cara membaca peta mini di pojok layar. Untuk pertama kalinya, Naomy merasa benar-benar menjadi bagian dari kelompok itu. FOMO yang mengganggunya perlahan menguap, digantikan oleh kesenangan baru yang adiktif.

​Seiring berjalannya waktu, kelas 10 berganti menjadi kelas 11, dan kemudian kelas 12. Tekanan akademis semakin meningkat. Ujian nasional, bimbingan belajar intensif, dan persiapan masuk perguruan tinggi mulai menyita waktu para siswa. Satu per satu, teman-teman Naomy mulai menghapus game tersebut dari ponsel mereka dengan alasan ingin fokus belajar. Tasya bahkan sudah tidak pernah lagi membicarakan taktik permainan di sela-sela jam istirahat.

​Namun, tidak dengan Naomy.

​Game yang awalnya ia unduh hanya karena ikut-ikutan itu kini telah bermutasi menjadi ruang pelarian pribadinya. Di saat kepalanya hampir pecah memikirkan rumus fisika atau materi sejarah yang menumpuk, membuka Arena of Fate adalah satu-satunya cara baginya untuk bernapas. Karakter Lunaria-nya yang dulu sering mati konyol kini telah bertransformasi menjadi penembak jitu yang mematikan. Jemari Naomy tidak lagi kaku; mereka menari dengan lincah di atas layar kaca, mengeksekusi gerakan demi gerakan dengan presisi yang mengagumkan.

​"Naomy, kamu masih main game itu?" tanya ibunya suatu sore, menatap khawatir ke arah Naomy yang sedang bersandar di sofa ruang tamu dengan ponsel melintang.

​"Bentar lagi beres, Ma. Ini buat healing bentar habis pusing tryout," sahut Naomy tanpa mengalihkan pandangan.

​"Jangan sampai mengganggu belajarmu. Kamu kan mau masuk jurusan Desain Komunikasi Visual. Saingannya berat," nasihat ibunya lembut sebelum berjalan ke dapur.

​Naomy mengangguk pelan. Ia tahu batasannya. Game ini bukan lagi sekadar tren sosial baginya. Ini adalah dunia kecil di mana ia memegang kendali penuh, dunia di mana ia bisa menjadi pahlawan tangguh tanpa harus memikirkan ekspektasi orang lain.

​Hingga hari kelulusan SMA tiba, di saat teman-temannya sibuk mencoret-coret seragam dan menangis haru melepas masa remaja, Naomy duduk di sudut aula sekolah yang agak sepi setelah upacara penyerahan ijazah. Di tangannya, ponsel itu masih menyala menampilkan lobi permainan yang familier. Ia tersenyum tipis. Teman-teman yang dulu mengajaknya bermain kini sudah melangkah ke arah yang berbeda-beda, meninggalkan tren itu di belakang. Namun Naomy tahu, kotak piksel di dalam ponselnya ini akan tetap menemaninya, bahkan melangkah bersamanya melewati gerbang kehidupan yang baru: dunia perkuliahan.

1
dinda.glow
haloo izin mampir ya... saling mampir yuk
bsjelfjbrndsabdvr
nyimak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!