NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5 di hina didepan umum

Setelah beberapa hari terkurung di dalam kemewahan Penthouse Lavender yang sunyi, Alya mulai merasa jenuh. Meskipun Baby El selalu menghiburnya dengan celotehan batin yang jenaka, Alya tetaplah manusia biasa yang butuh menghirup udara luar. Atas izin darurat dari Devan—yang diberikan setelah Baby El mengancam akan membuat ibunya mual sepanjang hari jika tidak diizinkan jalan-jalan—Alya akhirnya diperbolehkan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan elit di Jakarta Pusat.

Tentu saja, ia tidak dilepas begitu saja. Yudha menugaskan seorang sopir pribadi dan Bibi Nunung untuk mendampinginya.

Alya melangkah menyusuri koridor mal yang dilapisi marmer mengilat. Ia mengenakan kaos putih bersih berpotongan longgar yang dipadukan dengan celana jeans denim yang nyaman—pakaian yang dibelikan Bibi Nunung atas perintah Devan. Meski sederhana, bahan pakaian itu sangat premium hingga membuat penampilan Alya terlihat segar dan elegan secara natural.

> *[Ibu, coba lihat ke arah kanan. Toko perlengkapan bayi itu sepertinya sangat menarik. Aku ingin Ibu membelikanku beberapa pasang kaus kaki berlogo mahkota. Jiwa kaisarku menuntut kenyamanan sejak dini.]*

Alya terkekeh pelan dalam hati. "El, kamu bahkan belum sebesar buah lemon di dalam sana. Kaus kaki itu baru bisa kamu pakai berbulan-bulan lagi," jawabnya dalam batin.

> *[Persiapan awal adalah kunci kesuksesan, Ibu. Lagi pula, uang pria dingin itu tidak akan habis hanya untuk membeli seluruh isi toko itu.]*

Saat Alya sedang tersenyum sendiri memandangi etalase toko bayi, sebuah suara melengking yang sangat akrab di telinganya tiba-tiba memecah ketenangan.

"Heh! Sela, coba kamu lihat itu! Bukannya itu anak pembawa sial yang kabur dari kosan?"

Alya menghentikan langkahnya. Jantungnya berdesir tidak enak. Ia berbalik dan menemukan dua sosok yang sangat ingin ia hindari seumur hidup: Ratna, ibu tirinya, dan Sela, adik tirinya.

Keduanya tampak membawa beberapa tas belanjaan dari toko kosmetik menengah. Sela menatap Alya dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan yang amat kentara, sementara Ratna berkacak pinggang dengan wajah ketus.

"Wah, benar, Ibu! Ternyata si pelayan miskin ini bisa jalan-jalan di mal elit," sindir Sela dengan suara sengaja dikeraskan, memancing perhatian beberapa pengunjung mal yang sedang lewat. "Pakai baju baru pula. Dapat uang dari mana kamu, Kak? Apa jangan-jangan... kamu menjual dirimu setelah menipu kami?"

"Jaga bicara kalian," ucap Alya dingin, berusaha tetap tenang demi menjaga emosinya agar tidak memengaruhi janin di perutnya. "Aku di sini tidak ada urusannya dengan kalian."

"Tidak ada urusannya?!" Ratna melangkah maju, menunjuk wajah Alya dengan jari telunjuknya yang dipasangi cincin emas imitasi. "Kamu sudah berani menipu kami dengan surat kontrak palsu tempo hari! Kami sudah menyelidiki, tidak ada nama Alya Putri yang terdaftar sebagai sekretaris pribadi di kantor pusat Dirgantara Group! Kamu sengaja mengarang cerita itu agar tidak kami nikahkan dengan Tuan Handoko, kan?!"

Beberapa ibu-ibu sosialita yang sedang melintas mulai berhenti, berbisik-bisik sambil melirik ke arah Alya. Di mal se-elit ini, keributan keluarga seperti ini adalah tontonan yang sangat menarik.

Sela tertawa sinis, sengaja memanaskan suasana. "Aduh, Ibu, tentu saja dia berbohong! Mana mungkin CEO sekelas Devan Dirgantara mau melirik gadis kumuh dan tidak berpendidikan seperti dia? Paling-paling, dia ini cuma jadi simpanan pria hidung belang di luaran sana demi bisa bergaya pakai baju bermerek!"

Cemohan Sela membuat beberapa orang di sekitar mereka mulai menatap Alya dengan pandangan menghakimi. Bisik-bisik miring mulai terdengar.

"Kasihan ya, wajahnya padahal polos, tapi ternyata simpanan..."

"Zaman sekarang memang susah membedakan orang baik-baik..."

Mendengar hinaan yang begitu keji dilontarkan di depan umum, dada Alya terasa sesak. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia tidak peduli jika dirinya dihina, namun ia tidak terima jika calon anaknya harus mendengar semua kata-kata kotor ini.

Namun, sebelum air mata Alya sempat jatuh, sebuah gelombang kehangatan yang luar biasa kuat tiba-tiba menjalar dari perutnya. Kehangatan itu seketika menghapus rasa sedihnya, digantikan oleh gelombang keberanian yang dingin dan tajam.

Di dalam kepalanya, suara Baby El tidak lagi terdengar jenaka. Suara itu bergaung dengan nada dingin yang begitu pekat, memancarkan aura kegelapan yang mengerikan.

> *[Berani sekali kalian menyentuh batas kesabaranku. Ibu, diam di tempatmu. Biarkan anakmu ini meremukkan harga diri kedua parasit ini di depan umum.]*

*BZZZZT!*

Tiba-tiba, lampu gantung kristal di koridor mal di atas kepala mereka berkedip-kedip tidak stabil. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa sangat menekan dan dingin.

Ratna yang sedang bersiap untuk mencaci Alya lagi tiba-tiba terhenti. Lidahnya mendadak kaku, dan matanya membelalak lebar. Di dalam kepalanya dan kepala Sela, sebuah suara anak kecil yang sangat dingin dan berwibawa bergaung dengan kekuatan spiritual yang luar biasa kencang, membuat telinga mereka berdenging kesakitan.

> *[Tutup mulut kotor kalian, wahai manusia-manusia serakah!]*

"Argh!" Sela memegangi kepalanya, wajahnya mendadak pucat pasi. "I-Ibu... kepalaku sakit sekali! Suara apa ini?!"

Ratna juga terhuyung mundur, napasnya memburu. "Si-siapa... siapa yang bicara di dalam kepalaku?!"

Sebelum mereka sempat memahami apa yang terjadi, suara Baby El kembali bergema, memaksa memori-memori memalukan dan rahasia tergelap mereka berputar paksa di kepala mereka sendiri, seolah-olah sedang diputar di layar bioskop.

> *[Ratna... kau menggunakan uang taruhan judi suamimu yang sudah meninggal untuk membeli tas palsu ini. Dan Sela... kau berselingkuh dengan manajer tokomu demi mendapatkan diskon barang kosmetik murah. Apakah kalian ingin aku meneriakkan rahasia menjijikkan ini lewat mulut kalian sendiri di depan semua orang di sini?]*

"T-tidak! Jangan!" teriak Sela histeris, wajahnya kini benar-benar putih seperti kertas. Ia menatap Alya dengan pandangan horor yang teramat sangat, seolah-olah melihat monster paling mengerikan di dunia.

Orang-orang di sekitar mereka mulai bingung melihat tingkah laku Ratna dan Sela yang tiba-tiba berteriak ketakutan dan memegangi kepala mereka sendiri tanpa ada yang menyentuh mereka.

"Mereka kenapa, ya? Kesurupan?" bisik salah satu pengunjung mal.

> *[Ibu, sekarang lihatlah ke arah pintu masuk koridor. Ksatria berkuda hitam kita sudah tiba. Biarkan dia menyelesaikan sisanya.]*

Alya menoleh ke arah pintu masuk koridor toko. Di sana, kerumunan orang mendadak terbelah menjadi dua jalur.

Devan Dirgantara melangkah masuk dengan aura dominasi yang begitu pekat. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan. Di belakangnya, Yudha dan empat orang pengawal berbadan tegap berjas hitam mengikuti dengan langkah seirama. Tatapan mata Devan yang sedingin es langsung tertuju pada Ratna dan Sela yang masih gemetar ketakutan di lantai.

"Ada keributan apa di sini?" suara bariton Devan yang berat terdengar begitu berwibawa, seketika membungkam seluruh bisik-bisik di koridor mal.

Ratna yang mengenali Devan langsung mencoba bangkit, mengira ia bisa mencari perlindungan. "T-Tuan Devan! Tolong kami! Gadis sialan ini... dia membawa sial! Kami tiba-tiba sakit kepala hebat saat berada di dekatnya!"

Devan bahkan tidak melirik Ratna sedikit pun. Ia berjalan melewati wanita paruh baya itu seolah-olah dia hanyalah tumpukan debu tak berharga. Langkah kakinya berhenti tepat di depan Alya.

Dengan gerakan yang sangat lembut—yang mengejutkan semua orang yang berada di sana—Devan melepaskan jas abu-abunya dan menyampirkannya ke bahu Alya yang sedikit gemetar karena sisa ketegangan.

"Kenapa tidak meneleponku jika ada yang mengganggumu?" tanya Devan dengan nada suara yang melembut, meski matanya tetap memancarkan kilatan protektif yang tajam.

Alya mendongak, menatap mata abu-abu Devan. "Tuan Devan... mereka..."

Devan berbalik perlahan, menatap Ratna dan Sela yang kini terduduk lemas di lantai marmer. Aura membunuh terpancar jelas dari tubuh sang CEO.

"Kalian bilang... dia menipu kalian dengan kontrak palsu?" desis Devan dingin. "Asal kalian tahu, Alya Putri bukan sekretaris pribadiku. Dia adalah calon istriku. Wanita yang akan segera menjadi Nyonya Dirgantara yang sah."

*DEG!*

Pernyataan Devan bagaikan petir di siang bolong bagi semua orang yang berada di sana, terutama bagi Ratna dan Sela. Kerumunan pengunjung mal langsung heboh dan riuh berbisik penuh keterkejutan.

"Calon istri?! Gadis itu?!" Sela bergumam tidak percaya, matanya hampir keluar dari kelopaknya.

"Yudha," panggil Devan tanpa emosi. "Urus dua orang ini. Pastikan toko kosmetik yang mereka datangi membatalkan semua keanggotaan mereka, dan kirimkan surat tuntutan hukum atas pencemaran nama baik keluarga Dirgantara. Jika mereka berani mendekati Alya lagi... pastikan mereka tidak akan pernah bisa melihat matahari di kota ini lagi."

"Baik, Tuan Muda," jawab Yudha tegas, langsung memberi isyarat kepada para pengawal untuk menyeret Ratna dan Sela yang mulai menangis histeris memohon ampun.

Devan tidak memedulikan teriakan mereka. Ia kembali menatap Alya, lalu dengan santai merangkul pundak gadis itu, membimbingnya berjalan keluar dari kerumunan penonton yang menatap mereka dengan pandangan penuh rasa hormat dan iri.

> *[Hahaha! Kerja bagus, Ayah! Drama yang sangat luar biasa. Nilai proteksimu hari ini naik menjadi sembilan puluh persen!]*

Di dalam rangkulan hangat Devan, Alya tersenyum tipis, merasakan detak jantung Devan yang terasa begitu tenang namun protektif di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar aman.

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!